Seniman Nana Yap berfoto di depan karya Axis (tengah) (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Lukisan Axis Karya Nana Yap, Kritik Poros Perempuan yang Terpantik Demo Agustus 2025

16 September 2025   |   15:32 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Di antara deretan karya yang ditampilkan di pameran Moonveils: If You Know You Know di Galeri Kendys, lukisan berjudul Axis karya Nana Yap jadi salah satu yang cukup menyita perhatian. Dengan komposisi warna yang meledak-ledak dan permainan simbolis yang kuat, ia mengunci perhatian siapa pun yang berdiri di depannya. 

Secara visual, Axis memang menyajikan ledakan warna yang berlapis-lapis, dengan dominasi merah, hijau, dan putih yang bertemu dalam bentuk abstrak. Ada kesan bahwa karya ini sedang mengisyaratkan pertemuan antara yang chaos dan yang harmoni, antara kerentanan dan kekuatan. 

Sapuan cat yang tebal berpadu dengan teknik drip paint yang mengalir bebas menciptakan dinamika visual yang kuat. Permainan warna apik membuat seolah karya ini berdenyut, hidup, dan bernapas memberi harapan baru di tengah kekacauan yang ada. 

Baca juga: Pameran Moonveils: If You Know, You Know, Mendedah Kode-kode Rahasia Perempuan 
 

Lukisan Axis (tengah) karya seniman Nana Yap (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Lukisan Axis (tengah) karya seniman Nana Yap (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Sang seniman, Nana Yap, memberi judul Axis atau juga berarti poros pada karyanya tersebut dengan alasan khusus. Dia menyebut poros ini sebagai simbol tentang posisi perempuan dalam dunia kontemporer, yang di satu sisi sudah punya ruang yang luas untuk mengembangkan pendidikan dan kariernya, tetapi di sisi lain tetap ada tanggung jawab untuk menjaga akar tradisi dan nilai. 

"Dalam lukisan ini, saya ingin berbicara mengenai perempuan kontemporer yang sekarang punya peluang sangat besar untuk meraih banyak hal, dari edukasi sampai karier, tetapi di sisi lain kita juga harus tetap menjaga poros kita," ungkap Nana Yap.

Dengan poros itu, Nana mengingatkan bahwa perempuan tidak hanya bergerak naik, tetapi juga perlu berpijak kuat ke bumi. Warna-warna tanah yang menyembul di bawah lukisan, berpadu dengan warna-warna terang di bagian atas, seolah menjadi metafora perjalanan dari akar menuju langit. Di sana, ada ketegangan, tapi juga keseimbangan. 

Nana mengatakan dia melukis karya ini dalam keadaan marah sekaligus prihatin. Lukisan ini, katanya, lahir pada akhir Agustus, bertepatan dengan situasi sosial-politik Indonesia yang sedang penuh gejolak. 

"Kejadian waktu malam 28 Agustus 2025, ketika banyak yang dibakar itu, saya mendengar langsung dari tempat tinggal saya. Kebetulan jaraknya dekat. Ini seperti ironi ya, baru saja kita merayakan 17 Agustus, perayaan yang ke-80, tapi kita masih mendengar kondisi seperti ini," jelasnya.

Perasaan marah, bimbang, dan prihatinnya itu kemudian menjadi energi bagi Nana untuk berkarya. Malam itu juga, dia segera mengambil kuas dan menuangkan segala keresahan, kritik, dan juga harapan. Pada akhirnya, lukisan ini tidak berhenti pada isu gender semata, melainkan melebar ke refleksi tentang kepemimpinan, kekuasaan, dan keberpihakan. Terlebih, lembaga legislatif Indonesia kini juga dipimpin oleh perempuan.

“Saya mengkritik beliau dan berharap beliau mengingat kembali porosnya sebagai wanita yang bisa menggerakkan dengan kekuasaannya itu, berpihak kepada rakyat yang telah memilihnya dengan berdarah-darah,” jelasnya.

Dengan begitu, Axis bisa dibaca sebagai dua lapisan sekaligus. Di satu sisi, ia adalah pernyataan personal tentang identitas dan posisi perempuan. Di sisi lain, ia merupakan kritik sosial yang diarahkan pada struktur kekuasaan, terutama ketika dipegang oleh figur perempuan yang seharusnya mampu lebih peka dengan akar kondisi yang ada.

Yang menarik, nuansa karya ini cukup berbeda dibandingkan karya-karya Nana yang lain di pameran ini, seperti Procreation System dan What Mirror Doesn't Tell. Dia sendiri mengakui ada pengaruh dari momen sosial-politik yang terjadi, yang membuat lukisannya lebih emosional, lebih berlapis, bahkan terasa lebih gelap meski tetap menghadirkan percikan harapan.

Meski demikian, lukisan itu tidak jatuh pada pesimisme. Justru dari riuh warna dan bentuk yang tak teratur, lahirlah optimisme bahwa poros itu masih bisa dijaga. Perempuan kontemporer tetap bisa bermimpi tinggi, sekaligus berakar pada nilai-nilai yang luhur dan tak lekang oleh waktu.

Akhirnya, Axis menjadi karya yang membuka ruang tafsir luas. Ia bisa dibaca sebagai renungan spiritual, kritik politik, atau juga refleksi pribadi. Akan tetapi yang jelas, karya ini menghadirkan pesan bahwa poros seorang perempuan, dan mungkin poros bangsa, perlu dijaga agar tidak kehilangan arah di tengah turbulensi zaman. 
 

Pengunjung melihat lukisan Axis (tengah) karya seniman Nana Yap  (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Pengunjung melihat lukisan Axis (tengah) karya seniman Nana Yap (Sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Moonveils: If You Know, You Know merupakan pameran yang diinisiasi oleh Atreyu Moniaga Project (AMP). Selain Nana Yap, ada dua seniman perempuan lain yang terlibat, mereka adalah Maria Solimin, dan Emira Bunga. 

Nama Moonveils lahir dari perbincangan intens tiga seniman yang berupaya menyingkap berbagai tabir yang kerap menyelimuti posisi peran perempuan. Isu-isu mengenai norma kehidupan, sosial budaya, hingga keintiman dalam percakapan antarperempuan yang kerap kali sarat dengan kode-kode khusus pun tak luput dibahas.

Dalam pameran ini, ketiga seniman mencoba membedah kode-kode solidaritas perempuan yang kerap hadir tanpa kata, atau seperti istilah populer saat ini, If You Know, You Know, tidaklah lahir dari ruang hampa. Ada konstruksi norma, sosial, maupun budaya yang membuat itu terjadi. 

Kode-kode tersebut pun akan mewujud dalam karya seni mereka, yang maknanya dapat dirasakan oleh mereka yang pernah mengalami juga. Pameran ini berlangsung dari 13 September hingga 12 Oktober 2025. 

Baca juga: Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Seperempat Abad Ramaikan Seni Rupa Indonesia, Nadi Gallery Gelar Pameran XXV Masih Bernadi

BERIKUTNYA

Cek Syarat & Jadwal Program PPG Bagi Guru Tertentu Tahap 3 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga