Ilustrasi minuman matcha latte. (Sumber foto: Freepik)

Minum Matcha Seminggu Sekali, Wanita di AS Alami Anemia dan Palpitasi Jantung

16 September 2025   |   10:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Matcha telah menjadi tren gaya hidup yang digemari banyak orang di berbagai belahan dunia. Minuman teh hijau khas Jepang ini tak hanya menarik karena warnanya cerah dan rasa manis alaminya, tetapi juga diklaim memiliki manfaat kesehatan, mulai dari antioksidan tinggi hingga potensi mendukung kesehatan jantung.

Tak heran, matcha kini hadir di kafe-kafe modern dalam berbagai bentuk, mulai dari latte hingga smoothie. Minuman ini menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menjalani gaya hidup sehat sekaligus mengikuti tren kuliner terbaru. Namun, belakangan ini muncul sejumlah efek samping yang dikaitkan dengan matcha.

Baca juga: Penggemar Matcha Wajib Tahu, Seberapa Banyak Kandungan Kafeinnya?

Lynn Shazeen, seorang perawat berusia 28 tahun dari Washington D.C., Amerika Serikat, mengalami anemia parah dan palpitasi jantung setelah rutin mengonsumsinya selama enam bulan. 

Diberitakan Newsweek, Shazeen mulai mengenal matcha pada Mei 2025 dan minuman ini langsung menjadi salah satu favoritnya. Dia sangat menyukai rasa manis alami dan aroma khas minuman hijau itu hingga bisa meneguk matcha latte dua kali seminggu. 

Terlebih minuman ini menawarkan sejumlah manfaat kesehatan, seperti kaya antioksidan, dapat mendukung kesehatan jantung, dan mengandung kafein lebih sedikit dibanding kopi.

Shazeen yang terbiasa memantau kesehatannya melalui berbagai aplikasi sebagai bagian dari “perjalanan transformasi kesehatan holistik”-nya, langsung menyadari ada yang tidak beres ketika dia mulai merasa lelah terus-menerus pada Juli.

“Aku mengalami kelelahan meningkat, rasa gatal, dan sering merasa kedinginan, aku selalu mencatat statistik kesehatan di jurnalku, jadi begitu gejala ini muncul, aku tahu sudah saatnya melakukan pemeriksaan lanjutan,” kata Shazeen.

Pemeriksaan darah yang dijalaninya kemudian menunjukkan fakta mengejutkan. Kadar zat besinya turun drastis dari 23 menjadi 13, hampir setengah dari kadar normal.

Kecintaannya pada matcha ternyata memperburuk kondisi anemianya yang sudah ada sebelumnya. Meskipun sebelumnya dia sempat menerima beberapa kali infus zat besi, kini dokter memberikannya pil zat besi yang dipadukan vitamin C.

Anemia sendiri adalah kondisi di mana tubuh kekurangan sel darah merah sehat untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kelelahan menjadi gejala paling umum, sementara gejala lainnya bisa meliputi nyeri dada, pusing, infeksi berulang, sakit kepala, sesak napas, hingga palpitasi jantung. 

Setelah kadar zat besinya turun drastis, Shazeen memutuskan berhenti minum matcha dan beralih ke teh biasa, memberi tubuhnya waktu untuk sembuh. 

“Aku tahu efeknya, makanya aku disiplin minum sekali atau dua kali seminggu, tapi ternyata itu pun terlalu banyak. Aku tidak bisa membayangkan mereka yang minum setiap saat sepanjang hari,” ujarnya. 

 
@lynnshazeen Lesson learnt #matcha #matchatok #anemic #lowiron #matchalover ♬ Originalton - vspseta

 
Kini energinya mulai pulih dan pengalaman itu kemudian dibagikan olehnya melalui video di TikTok (@lynnshazeen), yang memperlihatkan momen saat dia diambil darah di rumah sakit. Video itu viral, ditonton lebih dari 6,2 juta kali dan disukai lebih dari 315.000 pengguna.
 
Shazeen tak menyangka kisahnya bisa viral, tapi dia senang bisa meningkatkan kesadaran bahwa matcha, meski menyehatkan tetap memiliki risiko. Semua ini menunjukkan bahwa di balik tren populer, kesehatan tetap menjadi yang utama.


Kiat Mengonsumsi Matcha dengan Aman

Matcha memang terbukti memiliki sejumlah manfaat kesehatan, seperti kaya akan antioksidan dan senyawa antiinflamasi, serta mengandung kombinasi unik antara kafein dan L-theanine, yang memberikan energi untuk meningkatkan fokus sekaligus bisa menenangkan.

"Singkatnya, matcha memberi dorongan energi ringan tanpa bikin gelisah seperti kopi,” ujar Sapna Peruvemba, ahli diet bersertifikat dan mahasiswa doktoral nutrisi di California, kepada Health.

Satu sendok teh bubuk matcha yang merupakan jumlah standar untuk satu cangkir teh mengandung sekitar 70-80 mg kafein, sedikit lebih rendah dibanding secangkir kopi yang mengandung sekitar 90 mg.

Namun perlu diperhatikan, matcha menganung tannin yang dapat menghambat penyerapan zat besi, sehingga berisiko meningkatkan anemia defisiensi besi. Kondisi ini bisa menimbulkan gejala seperti kelelahan, pusing, sakit kepala, dan sesak napas.

Tannin tidak hanya ada di matcha mereka juga ditemukan dalam cokelat, beberapa sayuran hijau, kopi, teh, dan kacang-kacangan. Tapi dalam bubuk matcha, kandungannya sangat tinggi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa satu jenis tannin, epigallocatechin gallate (EGCG), terkonsentrasi 137 kali lebih tinggi dalam matcha dibanding teh hijau biasa.

Kirbie Daily, asisten direktur Olympic Nutrition dari University of Memphis menambahkan, minum matcha tidak langsung menyebabkan anemia defisiensi zat besi. Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan sering, serta dekat dengan waktu makan, maka bisa memengaruhi kemampuan tubuh menyerap zat besi secara efisien.

Meski begitu, bagi kebanyakan orang sehat, efek matcha terhadap zat besi biasanya sangat kecil dan jarang sekali bisa meningkatkan risiko anemia defisiensi zat besi. Namun bagi mereka yang sudah berisiko tinggi, seperti ibu hamil atau menyusui, perempuan dengan menstruasi berat, vegetarian atau vegan, orang yang sedang pemulihan pascaoperasi, atau mereka dengan gangguan pencernaan lebih baik berhati-hati.

Agar konsumsi minuman matcha tidak mengganggu penyerapan zat besi, perhatikan waktu konsumsinya. Jangan diminum bersamaan atau langsung setelah makan, karena itu bisa membuat tubuh menyerap zat besi lebih sedikit. Sebaiknya tunggu sekitar satu hingga dua jam setelah makan atau minum suplemen zat besi sebelum menikmati matcha. Dengan begitu, tubuh tetap bisa menyerap zat besi dengan baik.

Selain waktu, jumlah dan jenis matcha yang dikonsumsi juga penting. Misalnya, es krim matcha mengandung matcha jauh lebih sedikit dibanding secangkir teh matcha. Semakin banyak yang dikonsumsi setiap hari, semakin tinggi risiko penurunan penyerapan zat besi. Oleh karena itu, disarankan maksimal minum satu cangkir matcha per hari bagi yang khawatir soal kadar zat besi.

Selain itu, jangan fokus hanya pada satu minuman. Perhatikan pola makan secara keseluruhan. Pastikan cukup mengonsumsi makanan kaya zat besi seperti daging merah, ikan, lentil, oat, quinoa, dan kacang-kacangan dan kombinasikan dengan sumber vitamin C seperti brokoli, mangga, paprika, atau stroberi untuk meningkatkan penyerapan.

Baca juga: Tren Konsumsi Matcha Sebagai Superfood, Ini Manfaatnya Menurut Ahli Nutrisi

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Risiko Konten Negatif Hingga Kejahatan Siber Mengintai Anak-anak di Roblox

BERIKUTNYA

Rekomendasi Destinasi TMII yang Bisa Dikunjungi secara Gratis

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga