Tren Konsumsi Matcha Sebagai Superfood, Ini Manfaatnya Menurut Ahli Nutrisi
25 June 2025 |
07:30 WIB
Dalam beberapa bulan terakhir, matcha kembali menjadi sorotan di berbagai platform media sosial. Di TikTok dan Instagram, matcha tampil sebagai resep minuman sehat dan kekinian. Warnanya yang hijau cerah serta citranya yang dianggap menyehatkan membuat matcha viral, terutama di kalangan pencinta gaya hidup alami dan clean eating.
Klaim manfaatnya pun ikut menjadi tren sebagai antioksidan tinggi, meningkatkan energi, hingga sebagai alternatif kopi. Matcha sendiri berasal dari Tiongkok pada abad ke-8. Pembuatan matcha ini dilakukan dari daun teh yang dikukus, dikeringkan, lalu digiling menjadi bubuk. Pada masanya, bubuk daun teh ini digunakan dalam praktik pengobatan tradisional di Tiongkok.
Baca juga: Mengenal Manfaat & Bahaya Face Ice Bath, Rendam Wajah dengan Air Es
Kini, budaya minum matcha makin tenar dan berkembang di Jepang. Di Jepang, matcha menjadi bagian penting dalam upacara minum teh, bahkan dikaitkan dengan simbol meditasi, ketenangan, dan penghormatan terhadap alam.
Dibalik nilai warisan budaya dan trennya saat ini, benarkah klaim matcha yang acap kali dianggap sebagai superfood ini didukung secara nutrisi?
Menurut Ahli Nutrisi dan Anti Aging Yovi Yoanita, matcha memang memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh. Namun, penting untuk memahami bahwa istilah superfood sendiri bukanlah istilah medis. “Superfood itu istilah kekinian untuk melabeli makanan yang katanya padat nutrisi. Jadi targetnya bisa memberi peningkatan kesehatan, imunitas, energi, atau pencegahan penyakit,” ujarnya.
Dengan kata lain, meski kandungannya menjanjikan, matcha tetap harus dipahami sebagai bagian dari pola makan yang menyeluruh. Artinya, matcha bukan pengganti makanan utama atau obat.
Matcha memang merupakan bubuk teh hijau murni yang diproses secara khusus, sehingga kandungan nutrisinya lebih terjaga. Salah satu senyawa yang menarik perhatian dari matcha adalah L-theanine yang dikenal mampu meningkatkan fokus dan menjaga kesehatan otak.
Senyawa ini juga dapat membantu menenangkan sistem saraf. Ini juga yang membuat konsumsi matcha tidak menimbulkan efek gugup seperti yang sering dirasakan setelah minum kopi.
Kafein dalam matcha pun lebih rendah, sehingga lebih stabil dalam memberi energi.
Selain itu, matcha mengandung antioksidan kuat seperti ECG-14 yang diklaim mampu mengurangi efek buruk dari paparan rokok dan bahkan memiliki potensi anti-kanker. Tak hanya itu, Yovi menyebut matcha juga kaya akan vitamin A, C, E, serta vitamin B kompleks dan berbagai mineral yang mendukung fungsi tubuh secara keseluruhan.
Namun, Yovi mengingatkan bahwa efek baik dari matcha hanya dapat diperoleh jika produk yang dikonsumsi berkualitas dan dikonsumsi secara konsisten. “Matcha itu makanan, bukan terapeutik. Tapi dengan dikonsumsi rutin, diharapkan kita bisa mendapat efek baiknya,” jelasnya.
Dia juga menekankan pentingnya tetap memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien dasar. Sebab, pada dasarnya, matcha hanya bisa menjadi pelengkap, bukan pengganti.
Sebagai superfood yang kini populer, Yovi tetap menyarankan agar harus bijak dalam pemilihan produk. Konsumen disarankan memilih produk yang terjamin kualitasnya dan tidak melupakan kebutuhan gizi harian. Yovi menyarankan, di tengah tren yang berkembang, konsumsi matcha tetap harus diiringi kesadaran akan gizi seimbang dan gaya hidup sehat secara keseluruhan.
Klaim manfaatnya pun ikut menjadi tren sebagai antioksidan tinggi, meningkatkan energi, hingga sebagai alternatif kopi. Matcha sendiri berasal dari Tiongkok pada abad ke-8. Pembuatan matcha ini dilakukan dari daun teh yang dikukus, dikeringkan, lalu digiling menjadi bubuk. Pada masanya, bubuk daun teh ini digunakan dalam praktik pengobatan tradisional di Tiongkok.
Baca juga: Mengenal Manfaat & Bahaya Face Ice Bath, Rendam Wajah dengan Air Es
Kini, budaya minum matcha makin tenar dan berkembang di Jepang. Di Jepang, matcha menjadi bagian penting dalam upacara minum teh, bahkan dikaitkan dengan simbol meditasi, ketenangan, dan penghormatan terhadap alam.
Dibalik nilai warisan budaya dan trennya saat ini, benarkah klaim matcha yang acap kali dianggap sebagai superfood ini didukung secara nutrisi?
Menurut Ahli Nutrisi dan Anti Aging Yovi Yoanita, matcha memang memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh. Namun, penting untuk memahami bahwa istilah superfood sendiri bukanlah istilah medis. “Superfood itu istilah kekinian untuk melabeli makanan yang katanya padat nutrisi. Jadi targetnya bisa memberi peningkatan kesehatan, imunitas, energi, atau pencegahan penyakit,” ujarnya.
Dengan kata lain, meski kandungannya menjanjikan, matcha tetap harus dipahami sebagai bagian dari pola makan yang menyeluruh. Artinya, matcha bukan pengganti makanan utama atau obat.
Matcha memang merupakan bubuk teh hijau murni yang diproses secara khusus, sehingga kandungan nutrisinya lebih terjaga. Salah satu senyawa yang menarik perhatian dari matcha adalah L-theanine yang dikenal mampu meningkatkan fokus dan menjaga kesehatan otak.
Senyawa ini juga dapat membantu menenangkan sistem saraf. Ini juga yang membuat konsumsi matcha tidak menimbulkan efek gugup seperti yang sering dirasakan setelah minum kopi.
Kafein dalam matcha pun lebih rendah, sehingga lebih stabil dalam memberi energi.
Selain itu, matcha mengandung antioksidan kuat seperti ECG-14 yang diklaim mampu mengurangi efek buruk dari paparan rokok dan bahkan memiliki potensi anti-kanker. Tak hanya itu, Yovi menyebut matcha juga kaya akan vitamin A, C, E, serta vitamin B kompleks dan berbagai mineral yang mendukung fungsi tubuh secara keseluruhan.
Namun, Yovi mengingatkan bahwa efek baik dari matcha hanya dapat diperoleh jika produk yang dikonsumsi berkualitas dan dikonsumsi secara konsisten. “Matcha itu makanan, bukan terapeutik. Tapi dengan dikonsumsi rutin, diharapkan kita bisa mendapat efek baiknya,” jelasnya.
Dia juga menekankan pentingnya tetap memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien dasar. Sebab, pada dasarnya, matcha hanya bisa menjadi pelengkap, bukan pengganti.
Sebagai superfood yang kini populer, Yovi tetap menyarankan agar harus bijak dalam pemilihan produk. Konsumen disarankan memilih produk yang terjamin kualitasnya dan tidak melupakan kebutuhan gizi harian. Yovi menyarankan, di tengah tren yang berkembang, konsumsi matcha tetap harus diiringi kesadaran akan gizi seimbang dan gaya hidup sehat secara keseluruhan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.