Cerita Anak Muda Bangun Bisnis Event Organizer, Modal Kreativitas & Budaya
15 September 2025 |
21:00 WIB
Acara yang sukses membutuhkan pengelolaan yang baik dari suatu tim profesional. Anak-anak muda biasanya sudah terlatih merancang hingga mengeksekusi acara yang sukses sejak di bangku sekolah. Oleh karenanya, peluang bisnis event organizer (EO) yang bertanggung jawab untuk merencanakan serta menyukseskan sebuah acara menjadi terbuka semakin lebar.
Misalnya saja Putu Elissa (23) dan Dewa Alit Wisnu Adhi Kusuma (26) yang membangun Yuk Corp berawal dari rasa iseng. Yuk Corp telah berdiri selama kurang lebih 7 bulan. Mulanya, jasa ini hanya berfokus untuk membantu klien dalam acara pernikahan, khususnya pernikahan adat Bali.
“Karena ternyata setelah 3 bulan berjalan terlalu sempit, akhirnya kita menjadi EO,” kata Ica saat menjelaskan perkembangan variasi acara yang dapat dilayani Yuk Corp.
Baca Juga: Kisah Mahasiswa Jatinangor Bangun Usaha Laundry Sepatu dengan Omzet Jutaan
Yuk Corp menawarkan paket harga yang beragam untuk acara pernikahan. Mulai dari planner only yang ditawarkan dari harga Rp3.000.000 sampai Rp4.000.000, hingga full package yang dibanderol mulai dari Rp7.000.000 sampai Rp15.000.000.
Mulanya, perempuan yang akrab dipanggil Ica ini berkecimpung di sanggar seni tari Bali sehingga familiar dengan kostum-kostum khas Bali. Sementara itu, Wisnu, pasangannya, sejak lama menggeluti bidang fotografi dan videografi. Latar belakang inilah yang menjadi keberangkatan awal mereka dalam membangun Yuk Corp.
Jasa EO ini menjadikan budaya Bali sebagai identitas mereka. Menurut Ica, budaya Bali memiliki potensi yang besar untuk diperkenalkan ke banyak orang. Wisnu juga menambahkan bahwa budaya Bali bisa digunakan oleh siapa saja. Meskipun demikian, identitas ini tak menjadi hal yang dapat mempersempit pasar Yuk Corp. Mereka bisa melayani orang-orang yang tertarik dengan kebudayaan secara nasional yang bertempat di Jabodetabek.
Oleh karena itulah, Yuk Corp sedang menyiapkan sebuah festival untuk diselenggarakan saat hari raya Nyepi di tahun depan. Kedua perintis Yuk Corp tidak banyak membocorkan tentang acara ini, tetapi pastinya akan menampilkan nuansa Nyepi yang semarak dengan budaya Bali. Festival ini nantinya akan menjadi langkah baru bagi Yuk Corp untuk menunjukkan keseriusan mereka.
Sejauh ini, Yuk Corp telah mencoba untuk aktif di media sosial. Selain itu, mereka juga berusaha memperkenalkan jasa ini melalui mulut ke mulut. Berdasarkan keterangan Ica, strategi yang paling membantu selama ini adalah melalui Instagram Ads. Fitur ini membuat orang-orang mulai berkonsultasi dengan Yuk Corp dan mengenali jasa ini.
Ica dan Wisnu juga menceritakan pengalaman-pengalaman yang telah mereka lalui selama menjalani bisnis ini. Pengalaman baru mereka hadapi bersama-sama dengan tim. Ada beberapa hal yang mulanya terasa sulit, tetapi mereka berhasil melewatinya.
“Itu yang membuat kita tahan banting sebagai pengusaha UMKM muda. Mungkin itulah yang harus dialami oleh setiap pengusaha, dan kita baru mengalaminya sedikit,” ujar Wisnu.
Menurut mereka, jasa EO ini tak akan lekang waktu. Pendapat ini diutarakan atas landasan tim pelaksana acara harus terdiri dari sekelompok orang. Tim yang menyusun dan melaksanakan acara tak akan tergantikan oleh AI sebab sebuah acara perlu dilakukan dengan hati.
Usaha yang sama dilakoni oleh Muhammad Raihan Dwi (21) dengan tajuk Afeloniya. Usaha yang telah berjalan selama kurang lebih 1 hingga 1,5 tahun ini didirikan Raihan bersama dengan rekan-rekannya atas dasar pengalaman yang telah mereka lalui saat menyelenggarakan acara di sekolah.
Meski telah memiliki dinamika organisasi yang jelas, Afeloniya bermula dari cerita mengharukan. Usaha ini bermula dari beban anggaran dari acara yang diselenggarakan oleh Raihan dan kawan-kawan. Dari sana, mereka melangkah untuk mendirikan EO demi menutupi beban anggaran yang harus ditanggung.
Meski berfokus di bidang entertainment seperti festival musik, Afeloniya juga bisa memberikan jasa untuk acara-acara yang lebih formal. Usaha Afeloniya berpusat di Bandung, Jawa Barat, tetapi tak menutup kemungkinan bagi usaha ini untuk melayani acara-acara di seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Raihan membocorkan bahwa Afeloniya tengah dalam proses negosiasi untuk membantu acara di Magelang.
“Meskipun memang di sana (bidang usaha EO) memang banyak kebutuhan, cuma yang namanya merintis atau UMKM, kita butuh wadah yang bisa membantu untuk menemukan klien yang membutuhkan jasa EO,” tutur Raihan ketika ditanya mengenai tantangan bisnis.
Sejauh ini, Afeloniya menawarkan jasanya melalui mulut ke mulut sebab strategi pemasaran masih menjadi tantangan yang perlu dipecahkan. Raihan dan tim awalnya hanya berfokus pada pelunasan beban anggaran sehingga tak terlalu fokus pada strategi marketing. Namun, tim Afeloniya telah berencana untuk lebih serius menjalankan usaha ini setelah menyelesaikan kuliah mereka.
Afeloniya menawarkan 3 paket dengan harga yang berbeda-beda. Harga paket untuk jasa pengelolaan acara yang ditawarkan pun bisa didiskusikan dalam proses negosiasi bersama klien. Hal ini disesuaikan dengan budget hingga ekspektasi klien.
“Di mana pun itu dan kapan pun itu, event organizer pasti akan dibutuhkan,” ucap Raihan.
Menurutnya, pasar bagi bisnis ini akan semakin besar. Dari acara non formal hingga formal, semuanya membutuhkan EO sehingga tren ini akan kian populer dan kebutuhan di kalangan masyarakat pun akan meningkat.
Baca Juga: Bisnis Photobooth Jadi Tren Baru Gen Z, Raup Omzet hingga Puluhan Juta
Misalnya saja Putu Elissa (23) dan Dewa Alit Wisnu Adhi Kusuma (26) yang membangun Yuk Corp berawal dari rasa iseng. Yuk Corp telah berdiri selama kurang lebih 7 bulan. Mulanya, jasa ini hanya berfokus untuk membantu klien dalam acara pernikahan, khususnya pernikahan adat Bali.
“Karena ternyata setelah 3 bulan berjalan terlalu sempit, akhirnya kita menjadi EO,” kata Ica saat menjelaskan perkembangan variasi acara yang dapat dilayani Yuk Corp.
Baca Juga: Kisah Mahasiswa Jatinangor Bangun Usaha Laundry Sepatu dengan Omzet Jutaan
Yuk Corp menawarkan paket harga yang beragam untuk acara pernikahan. Mulai dari planner only yang ditawarkan dari harga Rp3.000.000 sampai Rp4.000.000, hingga full package yang dibanderol mulai dari Rp7.000.000 sampai Rp15.000.000.
Mulanya, perempuan yang akrab dipanggil Ica ini berkecimpung di sanggar seni tari Bali sehingga familiar dengan kostum-kostum khas Bali. Sementara itu, Wisnu, pasangannya, sejak lama menggeluti bidang fotografi dan videografi. Latar belakang inilah yang menjadi keberangkatan awal mereka dalam membangun Yuk Corp.
Jasa EO ini menjadikan budaya Bali sebagai identitas mereka. Menurut Ica, budaya Bali memiliki potensi yang besar untuk diperkenalkan ke banyak orang. Wisnu juga menambahkan bahwa budaya Bali bisa digunakan oleh siapa saja. Meskipun demikian, identitas ini tak menjadi hal yang dapat mempersempit pasar Yuk Corp. Mereka bisa melayani orang-orang yang tertarik dengan kebudayaan secara nasional yang bertempat di Jabodetabek.
Oleh karena itulah, Yuk Corp sedang menyiapkan sebuah festival untuk diselenggarakan saat hari raya Nyepi di tahun depan. Kedua perintis Yuk Corp tidak banyak membocorkan tentang acara ini, tetapi pastinya akan menampilkan nuansa Nyepi yang semarak dengan budaya Bali. Festival ini nantinya akan menjadi langkah baru bagi Yuk Corp untuk menunjukkan keseriusan mereka.
Sejauh ini, Yuk Corp telah mencoba untuk aktif di media sosial. Selain itu, mereka juga berusaha memperkenalkan jasa ini melalui mulut ke mulut. Berdasarkan keterangan Ica, strategi yang paling membantu selama ini adalah melalui Instagram Ads. Fitur ini membuat orang-orang mulai berkonsultasi dengan Yuk Corp dan mengenali jasa ini.
Ica dan Wisnu juga menceritakan pengalaman-pengalaman yang telah mereka lalui selama menjalani bisnis ini. Pengalaman baru mereka hadapi bersama-sama dengan tim. Ada beberapa hal yang mulanya terasa sulit, tetapi mereka berhasil melewatinya.
“Itu yang membuat kita tahan banting sebagai pengusaha UMKM muda. Mungkin itulah yang harus dialami oleh setiap pengusaha, dan kita baru mengalaminya sedikit,” ujar Wisnu.
Menurut mereka, jasa EO ini tak akan lekang waktu. Pendapat ini diutarakan atas landasan tim pelaksana acara harus terdiri dari sekelompok orang. Tim yang menyusun dan melaksanakan acara tak akan tergantikan oleh AI sebab sebuah acara perlu dilakukan dengan hati.
Usaha yang sama dilakoni oleh Muhammad Raihan Dwi (21) dengan tajuk Afeloniya. Usaha yang telah berjalan selama kurang lebih 1 hingga 1,5 tahun ini didirikan Raihan bersama dengan rekan-rekannya atas dasar pengalaman yang telah mereka lalui saat menyelenggarakan acara di sekolah.
Meski telah memiliki dinamika organisasi yang jelas, Afeloniya bermula dari cerita mengharukan. Usaha ini bermula dari beban anggaran dari acara yang diselenggarakan oleh Raihan dan kawan-kawan. Dari sana, mereka melangkah untuk mendirikan EO demi menutupi beban anggaran yang harus ditanggung.
Meski berfokus di bidang entertainment seperti festival musik, Afeloniya juga bisa memberikan jasa untuk acara-acara yang lebih formal. Usaha Afeloniya berpusat di Bandung, Jawa Barat, tetapi tak menutup kemungkinan bagi usaha ini untuk melayani acara-acara di seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Raihan membocorkan bahwa Afeloniya tengah dalam proses negosiasi untuk membantu acara di Magelang.
“Meskipun memang di sana (bidang usaha EO) memang banyak kebutuhan, cuma yang namanya merintis atau UMKM, kita butuh wadah yang bisa membantu untuk menemukan klien yang membutuhkan jasa EO,” tutur Raihan ketika ditanya mengenai tantangan bisnis.
Sejauh ini, Afeloniya menawarkan jasanya melalui mulut ke mulut sebab strategi pemasaran masih menjadi tantangan yang perlu dipecahkan. Raihan dan tim awalnya hanya berfokus pada pelunasan beban anggaran sehingga tak terlalu fokus pada strategi marketing. Namun, tim Afeloniya telah berencana untuk lebih serius menjalankan usaha ini setelah menyelesaikan kuliah mereka.
Afeloniya menawarkan 3 paket dengan harga yang berbeda-beda. Harga paket untuk jasa pengelolaan acara yang ditawarkan pun bisa didiskusikan dalam proses negosiasi bersama klien. Hal ini disesuaikan dengan budget hingga ekspektasi klien.
“Di mana pun itu dan kapan pun itu, event organizer pasti akan dibutuhkan,” ucap Raihan.
Menurutnya, pasar bagi bisnis ini akan semakin besar. Dari acara non formal hingga formal, semuanya membutuhkan EO sehingga tren ini akan kian populer dan kebutuhan di kalangan masyarakat pun akan meningkat.
Baca Juga: Bisnis Photobooth Jadi Tren Baru Gen Z, Raup Omzet hingga Puluhan Juta
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.