Ilustrasi photobooth. (Sumber: Freepik)

Bisnis Photobooth Jadi Tren Baru Gen Z, Raup Omzet hingga Puluhan Juta

15 September 2025   |   14:49 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Photobooth menjadi destinasi favorit muda-mudi Generasi Z, alias Gen Z, untuk mengabadikan momen. Biasanya, ketika pergi ke kafe atau acara tertentu, rasanya akan kurang kalau belum singgah dan berpose di depan kamera photobooth bersama teman-teman. Tidak hanya sebagai konsumen, kini sebagian Gen Z justru memanfaatkan ketenaran photobooth sebagai ide bisnis.

Sebut saja Hafidz Ardis Setiamihardja (22) yang kini sedang mengelola Morkhe Room di Bandung, Jawa Barat. Hafidz memulai karirnya dari bisnis production house, kemudian merealisasikan ide bisnis photobooth sebagai sumber pendapatan tambahan yang lebih pasif. Menurutnya, bisnis ini merupakan pilihan yang menarik karena relatif stabil dan simpel.

Baca Juga: Mengintip Perputaran Bisnis Jasa Maklon Skincare dan Kosmetik di Indonesia

Morkhe Room tentu menargetkan Gen Z sebagai kelompok konsumennya. Karakteristik generasi yang dekat dengan internet ini membuka peluang Hafidz untuk memasarkan bisnisnya di media sosial, terutama platform Instagram dan Tiktok. Ia juga menggandeng Key Opinion Leader (KOL) dan menjalin kerja sama dengan event organizer agar photobooth ini bisa hadir di lebih banyak acara.

Sejauh ini, Morkhe Room paling sering beroperasi di dalam kampus. Morkhe Room hadir memeriahkan acara-acara mahasiswa yang berisikan anak muda. Ke depannya, Hafidz berencana untuk semakin memperluas jaringan bisnis ini ke acara yang lebih umum, seperti ulang tahun, pernikahan, gathering perusahaan, hingga festival.

“Ternyata proses memindahkannya (box photobooth) tidak semudah yang dibayangkan, cukup melelahkan, tapi di sisi lain jadi pengalaman lucu dan menantang,” cerita Hafidz.

Pengalaman yang dilaluinya dalam menjalankan usaha ini membuatnya belajar dan melakukan evaluasi demi sistem kerja yang lebih baik. Aspek-aspek dimulai dari desain photobooth, pemasaran, hingga sistem transportasi ia perhatikan agar semakin efisien. Ia berusaha menghadirkan konsep photobooth yang kekinian, praktis, dan terjangkau.

“Saya juga fokus pada pengalaman terbaik, seperti hasil cetakan berkualitas, desain template menarik, dan pelayanan yang ramah,” ujarnya.

Fitur photobooth sedang naik daun sehingga permintaan bisnisnya tinggi. Hal ini menimbulkan persaingan yang ketat di antara pemilik bisnis. Hafidz juga mengakui bahwa persaingan menjadi tantangan terbesarnya dalam mengelola Morkhe Room. Meskipun demikian, ia berusaha menawarkan keunikan sehingga pelanggan bisa merasakan perbedaan yang jelas dibandingkan dengan kompetitor.

Hafidz juga memaparkan bahwa keuntungan yang bisa diraihnya dimulai dari Rp10.000.000 sampai Rp30.000.000 per bulan. Dengan keuntungan ini, bisnis photobooth menjadi cukup menjanjikan, terutama jika terus konsisten mengembangkan kualitas pelayanan dan kerja sama.

“Kebutuhan orang untuk mengabadikan momen spesial dengan cara yang berbeda dari sekadar foto digital akan terus ada. Dengan inovasi seperti template kreatif, integrasi ke media sosial, dan desain booth yang lebih ringkas, bisnis ini punya prospek jangka panjang,” terang Hafidz.

Ia berharap bisnis ini bisa terus berkembang dan memiliki jaringan yang lebih luas. Tidak hanya di lingkungan kampus atau kota tertentu, tetapi juga bisa tersebar di seluruh Indonesia. Dengan begitu, Morkhe Room bisa menjadi salah satu lini usaha yang stabil, berkelanjutan, dan membawa dampak positif bagi banyak acara.

Selain Hafidz, ada juga Yosua Manafee (21) yang juga mendirikan photobooth Pic To Snap bersama rekannya Muhammad Ravikasyah Budiarto (21) di Yogyakarta. Yosua mengaku bahwa dirinya tertarik dengan dunia bisnis. Setelah lama melalui brainstorming tentang bisnis apa yang sekiranya cocok ia jalani, akhirnya Yosua memutuskan untuk mendirikan usaha photobooth.

Meski berbasis di Yogyakarta, Yosua menyatakan bahwa Pic To Snap masih mungkin untuk bekerja sama dengan acara-acara yang dilangsungkan di daerah sekitarnya, seperti Solo dan Semarang. Asalkan, ada penambahan biaya akomodasi.

“Menurutku saat ada seminar atau acara lainnya, pasti ada photobooth. Semua orang juga nyari, kan,” ungkap Yosua.

Yosua merasakan tantangan yang sama seperti yang dirasakan Hafidz, yakni persaingan pasar photobooth yang cukup ketat. Demi menghadapi ini, Yosua berusaha memberikan kenyamanan pada pelanggannya. Dalam aspek pemasaran, selain lewat media sosial, Yosua juga memanfaatkan promosi usaha lewat relasi, alias mulut ke mulut.

Perjalanan Yosua dalam mengusahakan bisnis Pic To Snap memang tak selalu mulus. Di bulan pertama, ia bahkan mengalami defisit. Namun, di bulan berikutnya usaha dan tekad Yosua semakin tinggi untuk mengevaluasi bisnis ini sehingga melalui kolaborasi bersama acara-acara kampus, bisnis ini berhasil meraih keuntungan sebesar Rp28.000.000.

Menurut Yosua, bisnis photobooth bisa semakin berkembang mengikuti arus teknologi. Model-model kamera yang ditawarkan bertambah semakin bervariasi sehingga menciptakan kreasi-kreasi baru. Selain itu, Yosua juga merasa bahwa kecerdasan buatan atau AI juga bisa berpengaruh dalam bisnis ini, misalnya dengan membuat program foto yang menghasilkan gambar kartun.

“Siapa tahu, pas, modalnya, niatnya kepikiran buat (studio), sih,” ujar Yosua.

Dirinya berharap, berkembangnya Pic To Snap di masa depan nanti akan membuka peluang-peluang baru bagi bisnis ini. Yosua bercita-cita untuk membangun studio foto di dekat kafe yang bisa diakses oleh banyak orang.

Baca Juga: Waralaba Kuliner Makin Menjanjikan di Indonesia, Texas Chicken Ekspansif
 

SEBELUMNYA

Konser Mariah Carey di Sentul Makin Meriah dengan Kehadiran Keith Duffy & Brian McFadden

BERIKUTNYA

The Great Flood Rilis Teaser Perdana, Aksi Kim Dami sebagai Ibu menjadi Sorotan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga