Koleksi Desainer École Duperré Paris: Estetika Memori, Anjing, sampai Mafia dalam Busana
01 September 2025 |
06:00 WIB
Fashion show kolaboratif desainer Indonesia dan Paris bertajuk Echoes of the Future by PINTU Incubator featuring École Duperré ditampilkan di ajang mode JF3 Fashion Festival 2025. Enam brand lokal bersama tiga desainer sekolah mode Prancis itu menampilkan karya yang memadukan nilai tradisional akar budaya negara masing-masing.
École Duperré Paris menampilkan tiga siswa berbakat mereka, yakni Pierre Pinget, Bjorn Backes, dan Mathilde Reneaux. Ketiga desainer membawa perspektif segar dari lanskap mode Prancis, dengan memadukan teknik tradisional dan estetika kontemporer.
Baca juga: Motif Bunga dan Metamorfosis Kupu-Kupu dalam Koleksi Nona Rona dan Dya Sejiwa
Desainer aksesori luxury ready-to-wear, Björn Backes, menampilkan koleksi terbarunya bertajuk REQUIEM. Dikenal atas keahliannya dalam bordir dan teknik chainmail yang memadukan logam dan kulit, Backes bereksperimen dalam proses kreatif desainnya dengan menggabungkan sejarah, arsitektur, dan memori personal.
Koleksi REQUIEM lahir dari gagasan memuliakan dan melestarikan kenangan melalui keberadaan fisik benda-benda sehari-hari seperti tiket kereta, struk belanja, atau potongan kertas yang sering kali terabaikan.
Backes mengubah fragmen-fragmen ini menjadi relik emosional yang disematkan dalam desain pakaian dan aksesori, menjadikan busana sebagai wadah kenangan yang bisa dikenakan.
“Saya mencoba menghargai kenangan, dengan menyimpan benda-benda yang seharusnya dibuang, seperti tiket kereta atau kotak korek api dari restoran. Saya ingin memamerkannya, seperti relikui di Gereja Katolik,” ujar Backes.
Koleksi ini terinspirasi dari arsitektur Gotik dan seni gerejawi, dengan menambahkan lengkungan dan struktur bahu yang arsitektural. Backes mencoba menerjemahkan vertikalitas, kompleksitas, dan nuansa spiritualnya ke dalam konstruksi tekstil modular yang bisa dilepas pasang.
Pakaian dirancang dengan kantong, kompartemen, atau ruang tersembunyi untuk menyimpan suvenir, sehingga kenangan bisa muncul secara dramatis bahkan jatuh saat pemakainya bergerak. Layaknya sebuah kenangan terlupakan yang bisa tiba-tiba kembali muncul.
Koleksi REQUIEM terdiri dari 10 tampilan lengkap dengan tas, perhiasan, dan sabuk, termasuk 10 celana, 3 jaket, 4 atasan, dan 5 tas.
Desainer lainnya ada Mathilde Reneaux yang menghadirkan koleksi Syrius, it dog. Karya busananya sarat makna, menarasikan kehidupan Anjing. Awalnya, koleksi ini terinspirasi oleh hubungan pribadi Reneaux dengan anjingnya, Syrius.
Namun, seiring berkembangnya konsep, koleksi ini mengeksplorasi fenomena sosial di mana masyarakat perlahan mengubah makhluk hidup, dalam hal ini anjing menjadi objek konsumsi.
“Koleksi ini menelusuri perjalanan anjing dari hewan bebas menjadi teman, lalu menjadi aksesori, citra, hingga akhirnya direduksi menjadi karakteristik yang paling diinginkan,” jelas Reneaux.
Melalui lima siluet dan satu lini aksesori, Syrius, it dog sepenuhnya dibuat secara handmade yang menonjolkan keahlian desain Reneaux. Material yang dipilih berupa kulit dan logam, serta teknik bordir, mengacu pada bahasa visual produk kulit dan perhiasan untuk menyoroti mekanisme fetisisasi.
Tas-tas koleksi ini berbentuk tubuh anjing yang terdistorsi secara hipertipikal akibat pembiakan selektif, menggambarkan bagaimana estetika sering kali lebih diprioritaskan daripada kesehatan. “Dari ‘it-bag’ menjadi ‘it-dog’, setiap objek menjadi simbol status yang lentur dan diproduksi massal,” ujar Reneaux.
Lewat Syrius, it dog, Reneaux mengajak orang-orang untuk merenungkan hubungan antara manusia dan makhluk hidup, terutama hewan.
Terakhir ada, desainer Pierre Pinget yang menafsirkan ulang sosok mafia Italia melalui perspektif tailoring kontemporer yang elegan untuk perempuan.
Koleksi ini berakar dari tradisi sartorial Italia atau seni membuat pakaian secara manual yang dipelajari Pinget secara mendalam selama program pertukaran Erasmus enam bulan di Napoli. Di bawah bimbingan Master Tailor Antonelli Lello, dia mempelajari pembuatan pakaian fully canvassed yang 95 persen dibuat sepenuhnya dengan tangan.
"Terinspirasi oleh sinema The Godfather, Casino, Borsalino, The Penguin, saya meneliti jas tailored sebagai alat untuk dominasi, intimidasi, dan penyamaran," katanya.
Simbol-simbol ini ditafsirkan ulang melalui perspektif kontemporer dan feminin. Benang jahit kasar dibiarkan terlihat secara sengaja, sebagai cerminan dari jaringan mafia yang tak kasat mata. Orang yang mengenakannya, dapat memilih untuk melepasnya sebagai gestur untuk melepaskan diri dari sistem atau membiarkannya sebagai tanda kesetiaan.
Koleksi ini dirancang untuk perempuan yang mengambil peran sebagai Don, mewarisi jas milik suami dan mengubahnya menjadi simbol kekuasaan, rekonstruksi, dan otoritas. Topi dan aksesori ikonik memperkuat anonimitas serta kontrol diri pemakainya.
Secara teknis, koleksi ini dibangun dengan material premium berupa wol flanel berkualitas tinggi, kancing dan benang premium, beludru ungu iridescent 100 persen alami, dan organza sutra. Siluetnya meliputi jas double-breasted dengan kerah lebar, celana high-waist, kemeja fitted, mantel bervolume, dan rok tailoring. Seluruh pakaian dibuat fully canvassed, dijahit tangan (hand-basted), dan 95 persen dikerjakan dengan metode handmade tradisional Neapolitan.
Koleksi ini juga mengusung filosofi slow Fashion, setiap karya dibuat berdasarkan pesanan untuk menghindari overproduksi dan meminimalkan penggunaan mesin untuk mengurangi dampak lingkungan. Koleksi Pierre Pinget terdiri dari 7 siluet lengkap, termasuk jas, celana, kemeja, mantel, dan aksesori.
"Melalui koleksi ini, saya berupaya melampaui fantasi sinematik untuk menawarkan sebuah realitas yang nyata, yakni sosok perempuan kuat, tegas, dan bisa mengendalikan citra serta posisinya," katanya.
Tahun ini, kolaborasinya dengan sekolah mode École Duperré Paris serta berbagai mitra strategis lainnya, membawa misi untuk membina desainer muda Indonesia agar siap bersaing di pasar global melalui proses kurasi, mentoring, dan eksposur internasional.
Mereka memperkenalkan Residency Program, yang membuka kesempatan bagi desainer muda Prancis untuk terjun langsung melihat kekayaan wastra dan budaya Indonesia.
Selama tiga bulan, para peserta menjalani residensi di dua wilayah berbeda: mempelajari teknik batik di Jawa dan mengeksplorasi tenun dari wilayah timur Indonesia. Tahun ini, Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud menjadi dua desainer muda dari Prancis yang terpilih mengikuti program ini.
“Saya harap program ini bisa memberikan ilmu yang membuat para partisipan mengeksekusi karya mereka dengan lebih baik ke depannya. Kita perlu pandangan internasional yang bisa dibawa ke Indonesia, tidak hanya untuk partisipan PINTU, tetapi juga untuk semua pelaku industri,” jelas Thresia Mareta, Co-initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, dalam sesi konferensi pers.
Baca juga: LAKON Indonesia Bawa Koleksi Tenun NTB ke Osaka World Expo 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
École Duperré Paris menampilkan tiga siswa berbakat mereka, yakni Pierre Pinget, Bjorn Backes, dan Mathilde Reneaux. Ketiga desainer membawa perspektif segar dari lanskap mode Prancis, dengan memadukan teknik tradisional dan estetika kontemporer.
Baca juga: Motif Bunga dan Metamorfosis Kupu-Kupu dalam Koleksi Nona Rona dan Dya Sejiwa

Koleksi Björn Backes (Sumber Foto: JF3)
Koleksi REQUIEM lahir dari gagasan memuliakan dan melestarikan kenangan melalui keberadaan fisik benda-benda sehari-hari seperti tiket kereta, struk belanja, atau potongan kertas yang sering kali terabaikan.
Backes mengubah fragmen-fragmen ini menjadi relik emosional yang disematkan dalam desain pakaian dan aksesori, menjadikan busana sebagai wadah kenangan yang bisa dikenakan.
“Saya mencoba menghargai kenangan, dengan menyimpan benda-benda yang seharusnya dibuang, seperti tiket kereta atau kotak korek api dari restoran. Saya ingin memamerkannya, seperti relikui di Gereja Katolik,” ujar Backes.
Koleksi ini terinspirasi dari arsitektur Gotik dan seni gerejawi, dengan menambahkan lengkungan dan struktur bahu yang arsitektural. Backes mencoba menerjemahkan vertikalitas, kompleksitas, dan nuansa spiritualnya ke dalam konstruksi tekstil modular yang bisa dilepas pasang.
Pakaian dirancang dengan kantong, kompartemen, atau ruang tersembunyi untuk menyimpan suvenir, sehingga kenangan bisa muncul secara dramatis bahkan jatuh saat pemakainya bergerak. Layaknya sebuah kenangan terlupakan yang bisa tiba-tiba kembali muncul.
Koleksi REQUIEM terdiri dari 10 tampilan lengkap dengan tas, perhiasan, dan sabuk, termasuk 10 celana, 3 jaket, 4 atasan, dan 5 tas.
Desainer lainnya ada Mathilde Reneaux yang menghadirkan koleksi Syrius, it dog. Karya busananya sarat makna, menarasikan kehidupan Anjing. Awalnya, koleksi ini terinspirasi oleh hubungan pribadi Reneaux dengan anjingnya, Syrius.
Namun, seiring berkembangnya konsep, koleksi ini mengeksplorasi fenomena sosial di mana masyarakat perlahan mengubah makhluk hidup, dalam hal ini anjing menjadi objek konsumsi.
“Koleksi ini menelusuri perjalanan anjing dari hewan bebas menjadi teman, lalu menjadi aksesori, citra, hingga akhirnya direduksi menjadi karakteristik yang paling diinginkan,” jelas Reneaux.

Koleksi Mathilde Reneaux (Sumber Foto: JF3)
Tas-tas koleksi ini berbentuk tubuh anjing yang terdistorsi secara hipertipikal akibat pembiakan selektif, menggambarkan bagaimana estetika sering kali lebih diprioritaskan daripada kesehatan. “Dari ‘it-bag’ menjadi ‘it-dog’, setiap objek menjadi simbol status yang lentur dan diproduksi massal,” ujar Reneaux.
Lewat Syrius, it dog, Reneaux mengajak orang-orang untuk merenungkan hubungan antara manusia dan makhluk hidup, terutama hewan.
Terakhir ada, desainer Pierre Pinget yang menafsirkan ulang sosok mafia Italia melalui perspektif tailoring kontemporer yang elegan untuk perempuan.
Koleksi ini berakar dari tradisi sartorial Italia atau seni membuat pakaian secara manual yang dipelajari Pinget secara mendalam selama program pertukaran Erasmus enam bulan di Napoli. Di bawah bimbingan Master Tailor Antonelli Lello, dia mempelajari pembuatan pakaian fully canvassed yang 95 persen dibuat sepenuhnya dengan tangan.
"Terinspirasi oleh sinema The Godfather, Casino, Borsalino, The Penguin, saya meneliti jas tailored sebagai alat untuk dominasi, intimidasi, dan penyamaran," katanya.

Koleksi Pierre Pinget (Sumber Foto: JF3)
Koleksi ini dirancang untuk perempuan yang mengambil peran sebagai Don, mewarisi jas milik suami dan mengubahnya menjadi simbol kekuasaan, rekonstruksi, dan otoritas. Topi dan aksesori ikonik memperkuat anonimitas serta kontrol diri pemakainya.
Secara teknis, koleksi ini dibangun dengan material premium berupa wol flanel berkualitas tinggi, kancing dan benang premium, beludru ungu iridescent 100 persen alami, dan organza sutra. Siluetnya meliputi jas double-breasted dengan kerah lebar, celana high-waist, kemeja fitted, mantel bervolume, dan rok tailoring. Seluruh pakaian dibuat fully canvassed, dijahit tangan (hand-basted), dan 95 persen dikerjakan dengan metode handmade tradisional Neapolitan.
Koleksi ini juga mengusung filosofi slow Fashion, setiap karya dibuat berdasarkan pesanan untuk menghindari overproduksi dan meminimalkan penggunaan mesin untuk mengurangi dampak lingkungan. Koleksi Pierre Pinget terdiri dari 7 siluet lengkap, termasuk jas, celana, kemeja, mantel, dan aksesori.
"Melalui koleksi ini, saya berupaya melampaui fantasi sinematik untuk menawarkan sebuah realitas yang nyata, yakni sosok perempuan kuat, tegas, dan bisa mengendalikan citra serta posisinya," katanya.
Kolaborasi Indonesia dan Prancis di Bidang Mode
Memasuki tahun keempatnya, PINTU Incubator tak hanya menegaskan eksistensinya sebagai program bilateral Indonesia-Prancis, tetapi juga memperkuat perannya sebagai penghubung budaya, kreativitas, dan bisnis global. Sejak diresmikan pada 2022, mereka telah menjaring lebih dari 10.000 brand, melibatkan 51 peserta, dan 86 mentor dari Indonesia dan Prancis.Tahun ini, kolaborasinya dengan sekolah mode École Duperré Paris serta berbagai mitra strategis lainnya, membawa misi untuk membina desainer muda Indonesia agar siap bersaing di pasar global melalui proses kurasi, mentoring, dan eksposur internasional.
Mereka memperkenalkan Residency Program, yang membuka kesempatan bagi desainer muda Prancis untuk terjun langsung melihat kekayaan wastra dan budaya Indonesia.
Selama tiga bulan, para peserta menjalani residensi di dua wilayah berbeda: mempelajari teknik batik di Jawa dan mengeksplorasi tenun dari wilayah timur Indonesia. Tahun ini, Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud menjadi dua desainer muda dari Prancis yang terpilih mengikuti program ini.
“Saya harap program ini bisa memberikan ilmu yang membuat para partisipan mengeksekusi karya mereka dengan lebih baik ke depannya. Kita perlu pandangan internasional yang bisa dibawa ke Indonesia, tidak hanya untuk partisipan PINTU, tetapi juga untuk semua pelaku industri,” jelas Thresia Mareta, Co-initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, dalam sesi konferensi pers.
Baca juga: LAKON Indonesia Bawa Koleksi Tenun NTB ke Osaka World Expo 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.