Peneliti BRIN Ungkap Tikus Hutan Baru dari Gunung Tompotika, Apa Keunikannya?
28 August 2025 |
22:00 WIB
Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mencatat penemuan penting dengan berhasil mengidentifikasi spesies baru tikus hutan endemik Sulawesi, Crunomys tompotika. Kehadirannya menambah panjang daftar mamalia khas Sulawesi yang terus bertambah seiring upaya eksplorasi di lapangan.
Riset yang melandasi penemuan ini merupakan bagian dari kajian sistematika dan biogeografi mamalia Asia Tenggara. Dari penelitian tersebut, Sulawesi sekali lagi menegaskan keistimewaannya sebagai pulau di jantung Wallacea yang menyimpan cerita penting bagi dunia sains.
Baca juga: Penemuan Kuil Zaman Perunggu Berusia 4.000 Tahun di Kuwait Ungkap Sejarah Peradaban Dilmun
Garis Wallacea merupakan garis imajiner yang membentang di antara Kalimantan dan Sulawesi di sebelah barat, dan memisahkan flora serta fauna tipe Asia di sebelah barat dari flora dan fauna tipe Australia-New Guinea di sebelah timur.
Anang Setiawan Achmadi, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan bahwa Crunomys tompotika dideskripsikan dari spesimen yang dikoleksi di kawasan Gunung Tompotika, Sulawesi Tengah. Tikus hutan ini berukuran tubuh sedang, dengan ekor relatif pendek, serta bulu rapat yang khas kelompok Crunomys.
Ciri fisiknya menunjukkan keunikan tersendiri di antara satwa sejenis. Habitat alaminya berada di hutan pegunungan dengan vegetasi lebat yang masih terjaga, lingkungan yang sehat dan ideal bagi keberlangsungan spesies baru ini.
Selain memperkenalkan spesies baru, penelitian ini juga merombak taksonomi penting dengan menyatukan seluruh anggota Maxomys atau tikus berduri ke dalam genus Crunomys. Perubahan ini menegaskan bahwa klasifikasi ilmiah selalu berkembang mengikuti temuan baru.
Langkah tersebut bukan semata soal nama, melainkan cara memahami sejarah panjang evolusi satwa kecil penghuni hutan tropis Asia Tenggara. Dia menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan terus menyesuaikan diri agar lebih akurat membaca perjalanan evolusi.
“Analisis ribuan penanda DNA mengungkap bahwa Maxomys tidak membentuk kelompok utuh bila dipisahkan dari Crunomys. Karena itu penyatuan keduanya dianggap paling sesuai dengan hubungan evolusinya,” ujar Anang dalam taklimat resmi.
Anang menambahkan, penemuan Crunomys tompotika sekaligus menyoroti pentingnya eksplorasi lapangan yang berkelanjutan serta kolaborasi internasional dalam menyingkap keragaman mamalia Sulawesi. Dalam riset ini, BRIN menggandeng mitra penelitian dari Amerika Serikat, Australia, Prancis, hingga Malaysia.
Kolaborasi lintas negara ini memungkinkan pemanfaatan teknologi genomik mutakhir serta memperluas cakupan data biogeografi. Hasilnya, pemahaman mengenai sejarah evolusi mamalia di Asia Tenggara menjadi lebih utuh dan menyeluruh.
“Hasil ini menjadi bukti nyata bahwa kekayaan hayati Indonesia masih menyimpan banyak cerita yang menunggu untuk digali lebih dalam,” tambahnya.
Baca juga: 7 Penemuan Hebat Einstein untuk Mengenal Alam Semesta
Sejak 2012, lebih dari 20 spesies mamalia baru berhasil dideskripsikan dari Sulawesi. Jumlah tersebut menjadi penanda betapa kayanya fauna endemik pulau ini dan memperkuat pentingnya eksplorasi biodiversitas di kawasan Wallacea.
Menurut Anang, penemuan Crunomys tompotika juga membuka jendela baru untuk memahami sejarah evolusi hewan kecil di Wallacea. Temuan ini menegaskan bahwa klasifikasi ulang di tingkat genus menjadi langkah penting agar gambaran keanekaragaman mamalia Indonesia semakin akurat.
“Perubahan taksonomi semacam ini sangat penting karena menjadi fondasi bagi penelitian-penelitian berikutnya,” jelas Anang.
Riset yang melandasi penemuan ini merupakan bagian dari kajian sistematika dan biogeografi mamalia Asia Tenggara. Dari penelitian tersebut, Sulawesi sekali lagi menegaskan keistimewaannya sebagai pulau di jantung Wallacea yang menyimpan cerita penting bagi dunia sains.
Baca juga: Penemuan Kuil Zaman Perunggu Berusia 4.000 Tahun di Kuwait Ungkap Sejarah Peradaban Dilmun
Garis Wallacea merupakan garis imajiner yang membentang di antara Kalimantan dan Sulawesi di sebelah barat, dan memisahkan flora serta fauna tipe Asia di sebelah barat dari flora dan fauna tipe Australia-New Guinea di sebelah timur.
Anang Setiawan Achmadi, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan bahwa Crunomys tompotika dideskripsikan dari spesimen yang dikoleksi di kawasan Gunung Tompotika, Sulawesi Tengah. Tikus hutan ini berukuran tubuh sedang, dengan ekor relatif pendek, serta bulu rapat yang khas kelompok Crunomys.
Ciri fisiknya menunjukkan keunikan tersendiri di antara satwa sejenis. Habitat alaminya berada di hutan pegunungan dengan vegetasi lebat yang masih terjaga, lingkungan yang sehat dan ideal bagi keberlangsungan spesies baru ini.
Selain memperkenalkan spesies baru, penelitian ini juga merombak taksonomi penting dengan menyatukan seluruh anggota Maxomys atau tikus berduri ke dalam genus Crunomys. Perubahan ini menegaskan bahwa klasifikasi ilmiah selalu berkembang mengikuti temuan baru.
Langkah tersebut bukan semata soal nama, melainkan cara memahami sejarah panjang evolusi satwa kecil penghuni hutan tropis Asia Tenggara. Dia menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan terus menyesuaikan diri agar lebih akurat membaca perjalanan evolusi.
“Analisis ribuan penanda DNA mengungkap bahwa Maxomys tidak membentuk kelompok utuh bila dipisahkan dari Crunomys. Karena itu penyatuan keduanya dianggap paling sesuai dengan hubungan evolusinya,” ujar Anang dalam taklimat resmi.
Anang menambahkan, penemuan Crunomys tompotika sekaligus menyoroti pentingnya eksplorasi lapangan yang berkelanjutan serta kolaborasi internasional dalam menyingkap keragaman mamalia Sulawesi. Dalam riset ini, BRIN menggandeng mitra penelitian dari Amerika Serikat, Australia, Prancis, hingga Malaysia.
Kolaborasi lintas negara ini memungkinkan pemanfaatan teknologi genomik mutakhir serta memperluas cakupan data biogeografi. Hasilnya, pemahaman mengenai sejarah evolusi mamalia di Asia Tenggara menjadi lebih utuh dan menyeluruh.
“Hasil ini menjadi bukti nyata bahwa kekayaan hayati Indonesia masih menyimpan banyak cerita yang menunggu untuk digali lebih dalam,” tambahnya.
Baca juga: 7 Penemuan Hebat Einstein untuk Mengenal Alam Semesta
Sejak 2012, lebih dari 20 spesies mamalia baru berhasil dideskripsikan dari Sulawesi. Jumlah tersebut menjadi penanda betapa kayanya fauna endemik pulau ini dan memperkuat pentingnya eksplorasi biodiversitas di kawasan Wallacea.
Menurut Anang, penemuan Crunomys tompotika juga membuka jendela baru untuk memahami sejarah evolusi hewan kecil di Wallacea. Temuan ini menegaskan bahwa klasifikasi ulang di tingkat genus menjadi langkah penting agar gambaran keanekaragaman mamalia Indonesia semakin akurat.
“Perubahan taksonomi semacam ini sangat penting karena menjadi fondasi bagi penelitian-penelitian berikutnya,” jelas Anang.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.