Doomscrolling Bikin Stres, Hopescrolling Bisa Jadi Solusi Sehat di Era Digital
26 August 2025 |
19:55 WIB
Berapa banyak screentime yang Genhype habiskan per harinya? Ponsel kini seolah jadi benda pertama yang dicari begitu orang bangun tidur. Kebiasaan scrolling media sosial pun sering kali membuat kita lupa waktu dan tidak produktif.
Aplikasi di ponsel dirancang untuk menarik perhatian kita selama mungkin. Scrolling aplikasi dapat melepaskan dopamin yang memicu perasaan menyenangkan. Sensasi dopamin ini bisa didapatkan melalui interaksi di media sosial, seperti mendapatkan like atau komentar. Oleh karenanya, kita terpicu untuk scrolling terus-menerus demi menemukan hal menarik lainnya yang membuat kita senang.
Namun, ternyata kebiasaan scrolling tak hanya memberikan kita hal-hal yang menyenangkan. Melakukan scrolling yang tak berujung dapat menstimulasi perasaan negatif, kita justru merasa sedih, panik, marah, bahkan kehilangan harapan. Apalagi, belakangan ini banyak berita buruk yang memicu emosi negatif di dalam diri. Kondisi ini disebut sebagai doomscrolling.
Baca Juga: Darurat Depresi di Asia Pasifik, Remaja Dewasa jadi Kelompok Paling Rentan
Kebiasaan doomscrolling tentu berakibat bagi kesehatan tubuh, baik secara fisik maupun mental. Bahkan, emosi yang dipicu melalui kebiasaan ini dapat memengaruhi hubungan kita dengan orang di sekitar.
Meskipun doomscrolling menjadi masalah baru di era digital, bukan berarti hal ini tak bisa diperbaiki. Banyak orang telah membicarakan tentang konsumsi media yang lebih mindful. Kita bisa mulai melakukan hopescrolling, dengan lebih banyak mengonsumsi dan memberikan atensi pada konten-konten yang positif dan membangun.
Melakukan hopescrolling bisa dimulai dari memangkas screentime kita menjadi lebih terbatas. Waktu yang terbatas akan memicu kita untuk tetap mengakses informasi-informasi penting tanpa merasa kewalahan. Biasanya, beberapa aplikasi dapat membantu untuk membatasi frekuensi screentime.
Pilih apa yang ingin kita lihat di media sosial, hal ini adalah kunci dari hopescrolling. Genhype bisa mengaturnya dengan mengikuti akun-akun dengan konten positif, seperti konten berkebun, konten dengan hewan peliharaan lucu, bahkan konten yang menawarkan motivasi hidup. Berinteraksi lebih banyak, seperti menyukai atau mengomentari unggahan positif, akan memicu algoritma media sosial untuk menampilkan unggahan serupa lebih banyak.
Menurut Kim Penberthy, seorang Profesor Psikiatri dan Ilmu Neurobehavioral di Universitas Virginia, mengatakan bahwa ketika kita melihat hal-hal baik, lucu, serta menawan hati, hal ini akan mengirimkan hormon ke dalam tubuh dan menciptakan rasa aman. Hal ini baik untuk tubuh karena dapat menghindari rasa stres sehingga tubuh terasa lebih rileks.
"Inti dari hope scrolling atau kindness scrolling adalah secara sengaja mencari konten positif. Apa pun yang membuatmu tersenyum. Saya pribadi suka menonton video orang yang tertangkap kamera melakukan kebaikan, karena menunjukkan sisi terbaik dari kemanusiaan. Saya sengaja mencari dan menyukai konten seperti itu, dan ternyata berhasil—algoritma kini lebih sering menampilkan hal serupa," ujar Penberthy,d ilansir dari UVAToday.
Mengatur notifikasi yang tak diperlukan juga bisa dilakukan. Jika semua hal di atas tidak bekerja untuk kebiasaan doomscrolling, mungkin Genhype perlu menghapus aplikasi dari ponsel dan melakukan social media detox. Dengan social media detox, Genhype dapat mengistirahatkan kondisi mental yang tidak stabil saat melakukan doomscrolling.
Berdasarkan keterangan Penberthy dalam University of Virginia News, beberapa penelitian ilmiah, seperti penelitian tentang konsumsi berita Covid-19 pada 2021 lalu juga membuktikan bahwa doomscrolling memberikan konsekuensi yang tidak baik secara emosional. Sebaliknya, hopescrolling tidak menunjukkan reaksi negatif tersebut.
Baca Juga: Pekerja Urban Wajib Tahu Penyebab dan Cara Mengatasi Commuting Stress
Aplikasi di ponsel dirancang untuk menarik perhatian kita selama mungkin. Scrolling aplikasi dapat melepaskan dopamin yang memicu perasaan menyenangkan. Sensasi dopamin ini bisa didapatkan melalui interaksi di media sosial, seperti mendapatkan like atau komentar. Oleh karenanya, kita terpicu untuk scrolling terus-menerus demi menemukan hal menarik lainnya yang membuat kita senang.
Namun, ternyata kebiasaan scrolling tak hanya memberikan kita hal-hal yang menyenangkan. Melakukan scrolling yang tak berujung dapat menstimulasi perasaan negatif, kita justru merasa sedih, panik, marah, bahkan kehilangan harapan. Apalagi, belakangan ini banyak berita buruk yang memicu emosi negatif di dalam diri. Kondisi ini disebut sebagai doomscrolling.
Baca Juga: Darurat Depresi di Asia Pasifik, Remaja Dewasa jadi Kelompok Paling Rentan
Kebiasaan doomscrolling tentu berakibat bagi kesehatan tubuh, baik secara fisik maupun mental. Bahkan, emosi yang dipicu melalui kebiasaan ini dapat memengaruhi hubungan kita dengan orang di sekitar.
Meskipun doomscrolling menjadi masalah baru di era digital, bukan berarti hal ini tak bisa diperbaiki. Banyak orang telah membicarakan tentang konsumsi media yang lebih mindful. Kita bisa mulai melakukan hopescrolling, dengan lebih banyak mengonsumsi dan memberikan atensi pada konten-konten yang positif dan membangun.
Melakukan hopescrolling bisa dimulai dari memangkas screentime kita menjadi lebih terbatas. Waktu yang terbatas akan memicu kita untuk tetap mengakses informasi-informasi penting tanpa merasa kewalahan. Biasanya, beberapa aplikasi dapat membantu untuk membatasi frekuensi screentime.
Pilih apa yang ingin kita lihat di media sosial, hal ini adalah kunci dari hopescrolling. Genhype bisa mengaturnya dengan mengikuti akun-akun dengan konten positif, seperti konten berkebun, konten dengan hewan peliharaan lucu, bahkan konten yang menawarkan motivasi hidup. Berinteraksi lebih banyak, seperti menyukai atau mengomentari unggahan positif, akan memicu algoritma media sosial untuk menampilkan unggahan serupa lebih banyak.
Menurut Kim Penberthy, seorang Profesor Psikiatri dan Ilmu Neurobehavioral di Universitas Virginia, mengatakan bahwa ketika kita melihat hal-hal baik, lucu, serta menawan hati, hal ini akan mengirimkan hormon ke dalam tubuh dan menciptakan rasa aman. Hal ini baik untuk tubuh karena dapat menghindari rasa stres sehingga tubuh terasa lebih rileks.
"Inti dari hope scrolling atau kindness scrolling adalah secara sengaja mencari konten positif. Apa pun yang membuatmu tersenyum. Saya pribadi suka menonton video orang yang tertangkap kamera melakukan kebaikan, karena menunjukkan sisi terbaik dari kemanusiaan. Saya sengaja mencari dan menyukai konten seperti itu, dan ternyata berhasil—algoritma kini lebih sering menampilkan hal serupa," ujar Penberthy,d ilansir dari UVAToday.
Mengatur notifikasi yang tak diperlukan juga bisa dilakukan. Jika semua hal di atas tidak bekerja untuk kebiasaan doomscrolling, mungkin Genhype perlu menghapus aplikasi dari ponsel dan melakukan social media detox. Dengan social media detox, Genhype dapat mengistirahatkan kondisi mental yang tidak stabil saat melakukan doomscrolling.
Berdasarkan keterangan Penberthy dalam University of Virginia News, beberapa penelitian ilmiah, seperti penelitian tentang konsumsi berita Covid-19 pada 2021 lalu juga membuktikan bahwa doomscrolling memberikan konsekuensi yang tidak baik secara emosional. Sebaliknya, hopescrolling tidak menunjukkan reaksi negatif tersebut.
Baca Juga: Pekerja Urban Wajib Tahu Penyebab dan Cara Mengatasi Commuting Stress
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.