Gelombang Pembatalan Konser di Indonesia, Ada Indikasi Bubble?
24 August 2025 |
12:28 WIB
Geliat festival musik dan konser di Indonesia pada 2025 terasa berbeda dari biasanya. Meski acara musik masih ramai digelar di berbagai kota, tak bisa ditutup-tutupi juga bahwa ada sejumlah event penting tahun ini yang batal dan menimbulkan tanda tanya di kalangan penikmat musik.
Tidak hanya sekali, beberapa kali pencinta konser mendapat kabar mengecewakan. Pertunjukan dari musisi yang telah lama mereka nantikan harus dibatalkan mendadak. Pembatalan bahkan berlangsung saat tiket sudah terjual terlebih dahulu.
Baca juga: Joyland Festival 2025 Batal Digelar, Begini Cara Refund Tiketnya
Salah satunya adalah We The Fest. Festival yang sudah berlangsung selama satu dekade tersebut tahun ini memutuskan untuk rehat, sehingga tidak akan menggelar edisi 2025. Joyland Festival 2025 juga mengikuti jejak serupa. Festival ini bahkan sempat membuka penjualan tiket pre-sale.
Gelombang pembatalan juga melanda konser internasional. Billlie World Tour Our FLOWERLD yang dijadwalkan 13 Februari 2025 batal digelar. Promotor Studio PAV Asia Pacific hanya menyebutkan pembatalan tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga Bangkok dan Kuala Lumpur.
Konser Taeyang BIGBANG di Jakarta juga terpaksa tak digelar. Pertunjukan yang rencananya digelar 25 Januari 2025 di Beach City International Stadium itu dibatalkan hanya 15 hari sebelum pelaksanaan.
Girl group asal Korea Selatan, TripleS, pun membatalkan konser mereka di The Kasablanka Hall, Jakarta Selatan. Agenda yang seharusnya berlangsung 18 Januari 2025 itu resmi ditiadakan setelah agensi Modhaus mengumumkannya pada 31 Desember 2024.
Tak berhenti di situ, Ujin Entertainment juga mengumumkan fan meeting aktor Lee Joon Gi di Jakarta tidak jadi digelar. Acara ini awalnya dijadwalkan 2 November 2024, kemudian diundur ke 19 Januari 2025, tetapi kemudian akhirnya benar-benar dibatalkan.
Menanggapi situasi yang terjadi, pengamat musik Nuran Wibisono menilai masih terlalu dini menyebut adanya krisis di industri musik Indonesia. Menurutnya, masih banyak festival dan konser yang tetap direncanakan berlangsung.
Namun, dirinya tak menampik bahwa tantangan penyelenggaraan konser setiap tahun memang makin besar, terutama dari sisi pembiayaan. Dia enjelaskan bahwa kenaikan biaya produksi dan fluktuasi daya beli masyarakat menjadi dua faktor yang paling sering membebani promotor. Kondisi ini membuat penyelenggara harus berhitung lebih cermat sebelum benar-benar mengeksekusi acara.
"Sebenarnya kalau dalam konteks Indonesia, ini harus ditanya ke penyelenggara festival. Tapi di seluruh dunia, festival musik memang mengalami banyak tantangan. Mulai dari soal biaya produksi yang meroket hingga daya beli yang menurun [terutama di Indonesia]. Di Indonesia, tantangannya mungkin malah lebih banyak," ungkap Nuran kepada Hypeabis.id.
Nuran juga menyinggung soal fenomena bubble. Setelah pandemi, jumlah festival musik melonjak tajam. Namun, sejak 2023, sempat terlihat banyak yang batal di tengah jalan. Ekor efek tersebut bisa jadi masih terjadi hingga kini.
"Mungkin tahun ini waktu penyesuaian. Setiap festival mungkin lagi mulai berhitung kembali dan menyesuaikan ini dan itu, menyiapkan strategi baru," imbuhnya.
Namun, jika dampak lanjutan terjadi, Nuran menilai perlu ada strategi baru yang diterapkan dalam penyelenggaraan konser. Sebab, dampak dari pembatalan juga tidak hanya dirasakan oleh penonton.
Vendor, penyedia jasa, hingga pekerja lepas yang biasanya terlibat dalam produksi konser kehilangan peluang ekonomi. Hal ini, menurutnya, memperlihatkan bagaimana pembatalan konser dapat berimbas lebih luas pada ekosistem industri musik.
Nuran juga menyinggung peran pemerintah yang idealnya dapat memberi insentif, baik dalam bentuk kebijakan pajak maupun dukungan produksi. Namun, menurutnya, saat ini hal itu sulit terwujud lantaran perhatian pemerintah sedang tersita pada urusan lain.
"Kalau bicara ideal, ya pemerintah bisa memberi subsidi ataupun insentif [mulai soal pajak sampai insentif ke beberapa elemen produksi]. Tapi itu kan kalau bicara ideal. Saat ini kayaknya pemerintah lagi sibuk dengan hal-hal yang mereka anggap lebih penting," pungkasnya.
Baca juga: DJKI Tegaskan Aturan Main Persoalan Izin Penggunaan Lagu di Konser Musik
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tidak hanya sekali, beberapa kali pencinta konser mendapat kabar mengecewakan. Pertunjukan dari musisi yang telah lama mereka nantikan harus dibatalkan mendadak. Pembatalan bahkan berlangsung saat tiket sudah terjual terlebih dahulu.
Baca juga: Joyland Festival 2025 Batal Digelar, Begini Cara Refund Tiketnya
Salah satunya adalah We The Fest. Festival yang sudah berlangsung selama satu dekade tersebut tahun ini memutuskan untuk rehat, sehingga tidak akan menggelar edisi 2025. Joyland Festival 2025 juga mengikuti jejak serupa. Festival ini bahkan sempat membuka penjualan tiket pre-sale.
Gelombang pembatalan juga melanda konser internasional. Billlie World Tour Our FLOWERLD yang dijadwalkan 13 Februari 2025 batal digelar. Promotor Studio PAV Asia Pacific hanya menyebutkan pembatalan tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga Bangkok dan Kuala Lumpur.
Konser Taeyang BIGBANG di Jakarta juga terpaksa tak digelar. Pertunjukan yang rencananya digelar 25 Januari 2025 di Beach City International Stadium itu dibatalkan hanya 15 hari sebelum pelaksanaan.
Girl group asal Korea Selatan, TripleS, pun membatalkan konser mereka di The Kasablanka Hall, Jakarta Selatan. Agenda yang seharusnya berlangsung 18 Januari 2025 itu resmi ditiadakan setelah agensi Modhaus mengumumkannya pada 31 Desember 2024.
Tak berhenti di situ, Ujin Entertainment juga mengumumkan fan meeting aktor Lee Joon Gi di Jakarta tidak jadi digelar. Acara ini awalnya dijadwalkan 2 November 2024, kemudian diundur ke 19 Januari 2025, tetapi kemudian akhirnya benar-benar dibatalkan.
Menanggapi situasi yang terjadi, pengamat musik Nuran Wibisono menilai masih terlalu dini menyebut adanya krisis di industri musik Indonesia. Menurutnya, masih banyak festival dan konser yang tetap direncanakan berlangsung.
Namun, dirinya tak menampik bahwa tantangan penyelenggaraan konser setiap tahun memang makin besar, terutama dari sisi pembiayaan. Dia enjelaskan bahwa kenaikan biaya produksi dan fluktuasi daya beli masyarakat menjadi dua faktor yang paling sering membebani promotor. Kondisi ini membuat penyelenggara harus berhitung lebih cermat sebelum benar-benar mengeksekusi acara.
"Sebenarnya kalau dalam konteks Indonesia, ini harus ditanya ke penyelenggara festival. Tapi di seluruh dunia, festival musik memang mengalami banyak tantangan. Mulai dari soal biaya produksi yang meroket hingga daya beli yang menurun [terutama di Indonesia]. Di Indonesia, tantangannya mungkin malah lebih banyak," ungkap Nuran kepada Hypeabis.id.

Ilustrasi konser musik (Sumber gambar: JIBI/Hypeabis.id/Yayus Yuswoprihanto)
"Mungkin tahun ini waktu penyesuaian. Setiap festival mungkin lagi mulai berhitung kembali dan menyesuaikan ini dan itu, menyiapkan strategi baru," imbuhnya.
Namun, jika dampak lanjutan terjadi, Nuran menilai perlu ada strategi baru yang diterapkan dalam penyelenggaraan konser. Sebab, dampak dari pembatalan juga tidak hanya dirasakan oleh penonton.
Vendor, penyedia jasa, hingga pekerja lepas yang biasanya terlibat dalam produksi konser kehilangan peluang ekonomi. Hal ini, menurutnya, memperlihatkan bagaimana pembatalan konser dapat berimbas lebih luas pada ekosistem industri musik.
Nuran juga menyinggung peran pemerintah yang idealnya dapat memberi insentif, baik dalam bentuk kebijakan pajak maupun dukungan produksi. Namun, menurutnya, saat ini hal itu sulit terwujud lantaran perhatian pemerintah sedang tersita pada urusan lain.
"Kalau bicara ideal, ya pemerintah bisa memberi subsidi ataupun insentif [mulai soal pajak sampai insentif ke beberapa elemen produksi]. Tapi itu kan kalau bicara ideal. Saat ini kayaknya pemerintah lagi sibuk dengan hal-hal yang mereka anggap lebih penting," pungkasnya.
Baca juga: DJKI Tegaskan Aturan Main Persoalan Izin Penggunaan Lagu di Konser Musik
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.