Emma Raducanu, atlet tenis (Sumber gambar: Instagram/wimbledon)

Tennis Whites, Gaya Klasik yang Masih Jadi Aturan Sakral Wimbledon

23 August 2025   |   12:07 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Pakaian serba putih sudah lama identik dengan tenis. Tradisi ini bukan cuma membuat olahraga raket itu terlihat khas, tapi menjadi gaya berpakaian di luar lapangan. Meski sebagian besar turnamen besar sudah melonggarkan aturan warna, Wimbledon tetap keras kepala mempertahankan kebijakan all-white yang dipegang sejak lama.

Dilansir dari CNN Style, turnamen bergengsi itu bahkan memperketat aturan lebih dari 10 tahun lalu. Warna-warna mencolok tidak lagi ditoleransi setelah Roger Federer sempat turun dengan sepatu sol oranye pada 2013, yang langsung dilarang. Sebelum aturan baru, seragam pemain hanya diwajibkan “didominasi putih”, sehingga masih ada ruang untuk eksperimen seperti Serena Williams dengan busana terinspirasi stroberi dan krim pada 2010.

Akan tetapi, sejak diperbarui, aturannya jelas. Hampir seluruhnya putih, tanpa off-white, tanpa panel warna, bahkan sepatu pun harus senada. Satu-satunya kelonggaran datang pada 2023, ketika perempuan diizinkan mengenakan celana pendek gelap untuk mengurangi kekhawatiran soal kebocoran menstruasi. 

Baca juga: Labubu dan Fenomena Bag Charm, Ketika Gantungan Tas Jadi Simbol Gaya Baru 

Lalu, mengapa serba putih jadi standar? Alasan praktis seperti memantulkan panas dan menyamarkan keringat memang sering disebut. Meski demikian, menurut Kevin Jones, kurator di ASU Fashion Institute of Design & Merchandising Museum, sejarahnya jauh lebih kental dengan soal status sosial.

Pada era Victoria, ketika tenis jadi olahraga rekreasi kaum elite Inggris, pakaian putih mencerminkan eksklusivitas. “Pakaian putih itu sulit dirawat. Kain seperti linen dan katun mudah kusut, jadi butuh perhatian ekstra untuk tetap tampak segar,” ujarnya.

Seiring waktu, gaya tenis banyak berubah. Awalnya, pakaian lebih mirip baju santai abad ke-19 dengan rok panjang, korset, topi lebar untuk perempuan, dan celana wol dengan kemeja untuk laki-laki. Dari sinilah kemudian tenis dan mode saling memengaruhi. 

Banyak momen ikonik lahir dari skandal busana di lapangan. Suzanne Lenglen, misalnya, muncul di Wimbledon 1919 dengan rok selutut dan lengan pendek yang dianggap provokatif kala itu. Dia bahkan menjadi ikon mode dengan syal khas dan gaya modernnya. Hal serupa dialami Lilí de Álvarez yang tampil dengan culottes rancangan Elsa Schiaparelli pada 1931. 

Nama-nama besar seperti Serena dan Venus Williams juga terus mendorong batas aturan. Serena pernah mengenakan catsuit hitam di French Open 2018 demi alasan kesehatan pasca-melahirkan, meski akhirnya dilarang. Akan tetapi, gaya itu diadopsi lagi di turnamen lain, menandai babak baru busana tenis yang lebih fungsional. 

Sebagian besar Grand Slam sudah meninggalkan aturan serba putih demi menarik penonton televisi dan sponsor. Warna dianggap penting untuk menonjolkan logo brand. Akan tetapi, Wimbledon tetap teguh dengan tradisinya. Bahkan kasus-kasus sepele, seperti celana dalam berwarna atau bra yang tak sesuai, bisa jadi masalah. 

Menurut jurnalis olahraga Ben Rothenberg, sikap ini memang disengaja. “Wimbledon melihat keanehan aturannya sebagai bagian dari identitas dan nilai merek,” ujarnya. Dengan cara itu, turnamen ini terlihat berbeda dari yang lain. 

Meski menuai kritik, khususnya terhadap aturan yang dianggap lebih membatasi perempuan, Wimbledon tetap konsisten. Sementara itu, kreativitas mode di tenis tak pernah berhenti.

Dari rok yang makin pendek, kaos polo klasik, sampai tren celana pendek super ketat para atlet pria belakangan ini, busana tenis terus berkembang, seringkali dimulai dari satu kontroversi di lapangan. 

Baca juga: Tren Fashion 2025: Tone Warna Hangat, Gaya Maksimalis, dan Konsep Sustainable 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Menengok Peluang hingga Tantangan Bisnis Trinkets yang Kreatif dan Personal

BERIKUTNYA

Serunya Menyusuri Kantor Balai Pustaka di Acara Jalan Bareng Genhype

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga