Tren Fashion 2025: Tone Warna Hangat, Gaya Maksimalis, dan Konsep Sustainable
25 June 2025 |
21:00 WIB
Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Poppy Dharsono, mengungkapkan sejumlah prediksi tren fesyen yang akan populer sepanjang 2025. Beberapa di antaranya mulai dari warna, material pakaian, sampai teknik produksi yang mengusung nilai-nilai keberlanjutan.
Dari segi warna, akan didominasi oleh warna-warna hangat seperti hijau, orange, maroon, hingga gradasi dari mocha ke coffee. Selain itu, rentang warna merah dari red blood hingga red wine juga diprediksi kuat akan muncul dalam berbagai koleksi para desainer ternama.
Baca juga: Ikut Tren Kamis Pakai Lokal, Cek Inspirasi Outfit ke Kantor yang Modis
“Akan ada warna hijau, orange, mocha sampai ke coffee, lalu dari red blood sampai ke red wine,” ujar Poppy pada Hypeabis.id.
Selain warna, material seperti denim dan kulit juga disebut akan kembali menjadi bagian dari tren. Poppy menyebut bahwa arah mode akan bergeser dari gaya minimalis ke maksimalis. Menurutnya, masyarakat sudah mulai bosan dengan tampilan sederhana dan kini menginginkan sesuatu yang lebih menonjol dan ekspresif.
Lebih lanjut dia juga menyoroti makin besarnya minat orang-orang terhadap fesyen berkelanjutan, terutama di kalangan generasi muda. Dia melihat bahwa kepedulian ini adalah bagian dari kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Sebagai bentuk kontribusi terhadap keberlanjutan, Poppy tengah mempromosikan bahan benang Bemberg dari Yogyakarta. Benang ini terbuat dari biji kapas dan menghasilkan tenunan yang mengilap serta lembut seperti sutra.
“Benang Bemberg dari Jogja ini harganya di bawah katun tapi hasilnya shining dan soft seperti sutra, selain itu juga tidak ditambahkan unsur kimia,” katanya.
Benang Bemberg sendiri terbuat dari serat pendek biji kapas yang dikenal memiliki karakter lembut, berkilau seperti sutra, namun lebih ringan dan mudah menyerap warna.
Benang ini merupakan hasil kerja sama antara Asahi Kasei, lembaga riset Jepang, dan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta sejak 2018, benang Bemberg diujicobakan oleh para perajin lokal untuk pembuatan batik dan tenun. Hasilnya, kain dari benang ini dinilai lentur dan nyaman dipakai.
Harganya pun, lebih murah dibandingkan sutra yakni sekitar Rp400.000 per kilogram, jauh di bawah harga sutra yang bisa mencapai Rp1,3 juta. Tidak hanya unggul secara estetis, Bemberg juga memenuhi prinsip keberlanjutan karena berasal dari limbah kapas dan diproduksi melalui sistem tertutup (closed-loop process) yang ramah lingkungan, di mana limbah, air, dan bahan kimia yang digunakan dapat dipulihkan, didaur ulang, dan digunakan kembali.
Terakhir Poppy berpesan kepada para generasi muda, untuk lebih peduli lingkungan dan mencintai bumi dengan memilih bahan pakaian berkualitas tinggi supaya awet dan menghindari plastik yang bisa mencemari lingkungan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dari segi warna, akan didominasi oleh warna-warna hangat seperti hijau, orange, maroon, hingga gradasi dari mocha ke coffee. Selain itu, rentang warna merah dari red blood hingga red wine juga diprediksi kuat akan muncul dalam berbagai koleksi para desainer ternama.
Baca juga: Ikut Tren Kamis Pakai Lokal, Cek Inspirasi Outfit ke Kantor yang Modis

Tren warna fesyen 2025 (Sumber Foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)
Selain warna, material seperti denim dan kulit juga disebut akan kembali menjadi bagian dari tren. Poppy menyebut bahwa arah mode akan bergeser dari gaya minimalis ke maksimalis. Menurutnya, masyarakat sudah mulai bosan dengan tampilan sederhana dan kini menginginkan sesuatu yang lebih menonjol dan ekspresif.
Lebih lanjut dia juga menyoroti makin besarnya minat orang-orang terhadap fesyen berkelanjutan, terutama di kalangan generasi muda. Dia melihat bahwa kepedulian ini adalah bagian dari kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Material kulit yang menjadi tren fesyen 2025 (Sumber Foto: Hypeabis.id/Himawan L Nugraha)
“Benang Bemberg dari Jogja ini harganya di bawah katun tapi hasilnya shining dan soft seperti sutra, selain itu juga tidak ditambahkan unsur kimia,” katanya.
Benang Bemberg sendiri terbuat dari serat pendek biji kapas yang dikenal memiliki karakter lembut, berkilau seperti sutra, namun lebih ringan dan mudah menyerap warna.
Benang ini merupakan hasil kerja sama antara Asahi Kasei, lembaga riset Jepang, dan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta sejak 2018, benang Bemberg diujicobakan oleh para perajin lokal untuk pembuatan batik dan tenun. Hasilnya, kain dari benang ini dinilai lentur dan nyaman dipakai.
Harganya pun, lebih murah dibandingkan sutra yakni sekitar Rp400.000 per kilogram, jauh di bawah harga sutra yang bisa mencapai Rp1,3 juta. Tidak hanya unggul secara estetis, Bemberg juga memenuhi prinsip keberlanjutan karena berasal dari limbah kapas dan diproduksi melalui sistem tertutup (closed-loop process) yang ramah lingkungan, di mana limbah, air, dan bahan kimia yang digunakan dapat dipulihkan, didaur ulang, dan digunakan kembali.
Terakhir Poppy berpesan kepada para generasi muda, untuk lebih peduli lingkungan dan mencintai bumi dengan memilih bahan pakaian berkualitas tinggi supaya awet dan menghindari plastik yang bisa mencemari lingkungan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.