Pernak-pernik atau trinkets. (Sumber: Qtpiestudio & Aerith)

Menengok Peluang hingga Tantangan Bisnis Trinkets yang Kreatif dan Personal

23 August 2025   |   09:55 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Pernak-pernik (trinkets) seperti gantungan kunci, stiker, perangko, pin, hingga lanyard, makin digemari oleh anak muda. Pernak-pernik memiliki nilai sentimen dan bersifat personal bagi mereka, sehingga bisnis trinkets pada masa sekarang relevan dan semakin populer.

Misalnya Qtpiestudio yang dikelola oleh Aldis (23) bersama timnya. Ide usaha ini berawal dari hobi Aldis untuk membeli dan mengoleksi pernak-pernik lucu. Akan tetapi, karena pernak-pernik itu kebanyakan dibelinya secara impor, akhirnya dia terpikir untuk membuat produk lokal dengan desain yang tak kalah unik.  

“Karena iseng-iseng dan memang suka mendesain, gitu. Awalnya kami lebih banyak bikin produk untuk (penggemar) K-Pop Idols. Tapi setelah memutuskan untuk lebih serius di bisnis ini, kami lebih fokus untuk mengembangkan produk-produk general yang bisa menjangkau lebih banyak orang,” katanya. 

Baca juga: 10 Ide Bisnis Rumahan dengan Modal Rp1 Jutaan  

Produk yang ditawarkan Qtpiestudio pun beragam, mulai dari gantungan kunci, pin, bag holder, cermin, hingga lanyard dan tersedia dengan bentuk-bentuk yang lucu dan beragam. Harganya pun bervariasi tergantung harga produksi dan keunikan dari masing-masing produk. 

Toko ini berusaha dengan konsisten mengunggah konten untuk promosi di media sosial dan mengikuti tren. Selain unggahan konten, Aldis juga memanfaatkan personalisasi yang menjadi nilai sentimen dari produk pernak-pernik ini sebagai materi promosi. Produk trinkets dibuat menggunakan konsep relatable & useful. 

“Bikin produk yang berguna juga jadi salah satu strategi yang kita pakai di Qtpiestudio, cute yet functional!” imbuhnya. 

Selain memperhatikan produk, Qtpiestudio juga selalu mencoba untuk meningkatkan kualitas dan mencoba hal baru dalam kemasannya. Merek ini biasanya menjual produk-produknya melalui art market dan toko konsinyasi yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Cirebon, dan Palembang. 
 

Selain Qtpiestudio, ada pula Aerith yang menyediakan produk pernak-pernik kreatif dan orisinil. Chelsea Roeny Antono (20), pemilik sekaligus pengelola Aerith, bercerita bahwa dirinya memulai usaha ini juga karena hobi. Aerith kemudian dikenal dengan produk-produknya yang banyak terinspirasi dari tomat. Dari gantungan kunci, pin, hingga stiker, mayoritas berbentuk tomat.

Produk-produk Aerith dapat dipesan melalui pre-order yang rutin diluncurkan dalam media sosialnya. Terakhir kali, Aerith meluncurkan produk pernak-pernik berupa stiker, pin, dan gantungan kunci yang menampilkan karakter orisinil dari toko Aerith. Harga produk disesuaikan dengan biaya produksi, jasa, dan administrasi aplikasi penjualan online.

Chelsea selaku pemilik toko, mengerjakan semuanya sendiri. Dimulai dari menggambar produk, melakukan mockup, membuat kerajinan atau mencari vendor percetakan, mengurus pre-order, menangani iklan dan promosi di media sosial, hingga pengiriman. Meski begitu, dia dibantu oleh seorang admin media sosial yang bertugas membalas pesan dan berinteraksi dengan pelanggan. 

Pekerjaan yang secara garis besar dilakukannya seorang diri menjadi tantangan terbesar bagi Chelsea. Dia mengaku kesulitan untuk mencari waktu dalam membuat produk baru karena dia juga memiliki pekerjaan pokok di sebuah perusahaan. 

“Yang paling aku khawatirkan itu… misalkan ada orang yang, bukan meniru, ya, tapi bikin sesuatu yang mirip banget sama produk kita, gitu,” kata Chelsea.

Selain waktu dan persaingan, kemiripan produk hingga hak cipta juga menjadi kekhawatiran yang cukup besar dari dalam dirinya. Dia menjelaskan bahwa hal ini timbul karena tak memiliki banyak waktu untuk menyediakan stok produk di tokonya sehingga produk terbatas. Hal ini memungkinkan pelanggan beralih membeli produk yang mirip persis dan tersedia di toko lain. 

Menurutnya, keunikan produk akan menjadi daya tarik bagi pelanggan. Produk Aerith sendiri belum banyak dijual di toko offline karena keterbatasan stok. Akan tetapi, terdapat beberapa produk yang tersedia di salah satu toko konsinyasi di Jakarta. Chelsea mengaku bahwa dirinya berminat untuk mengikuti art market dalam penjualan produknya.

“Menurut aku di masa depan bisa gede banget, karena semakin banyak orang bisa berkreasi. Terus juga, orang-orang sekarang butuh sesuatu yang lucu-lucu biar happy. Jadi, kayaknya nanti akan semakin banyak orang yang suka pernak-pernik,” tutupnya. 

Baca juga: Jasa MUA Bukan Sekadar Rias, tapi Bisnis Kreatif yang Terus Bertumbuh 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Vivo V60 Siap Meluncur di Indonesia, Bawa Kamera Telefoto Cocok Buat Ngonser

BERIKUTNYA

Tennis Whites, Gaya Klasik yang Masih Jadi Aturan Sakral Wimbledon

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga