Ilustrasi perempuan mendengarkan musik (Sumber gambar: Freepik)

Musik Ternyata Bisa Menurunkan Tekanan Darah, Begini Penjelasannya

23 August 2025   |   06:00 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Pernah enggak, Genhype merasa lebih tenang setelah mendengarkan musik klasik atau alunan jaz yang lembut? Atau sebaliknya, merasa deg-degan setelah lama dengar musik EDM yang temponya cepat? Ternyata, reaksi itu bukan sekadar perasaan. Musik memang punya hubungan dengan tekanan darah dan cara kerja tubuh.

Menurut Verywell Health, meski musik tidak bisa dijadikan pengobatan utama hipertensi, mendengarkan musik bisa menjadi bagian dari rencana perawatan. Hubungan antara musik dan tekanan darah cukup kompleks. Musik bisa memengaruhi suasana hati, sementara suasana hati juga bisa berpengaruh pada tekanan darah, detak jantung, hingga pernapasan. 

Baca juga: Waspada 5 Komplikasi Hipertensi, Makanan Ini Bikin Tekanan Darah Naik 

Musik mengaktifkan sistem saraf otonom, yaitu sistem yang mengatur fungsi tubuh tanpa kita sadari, termasuk tekanan darah. Peran tempo musik antara lain. 
  • Musik cepat (lebih dari 120 BPM): mengaktifkan saraf simpatik yang berhubungan dengan respons stres tubuh. Saat terpicu, tubuh mengeluarkan hormon adrenalin yang membuat detak jantung dan tekanan darah naik.
  • Musik lambat (di bawah 60 BPM): menstimulasi saraf parasimpatik yang bekerja sebaliknya. Irama pelan ini mengaktifkan saraf vagus, yang terhubung ke jantung dan organ lain, sehingga tekanan darah serta detak jantung menurun. 
Tidak hanya tempo, gaya musik juga menentukan bagian sistem saraf mana yang lebih aktif. Genre dengan tempo cepat seperti EDM, pop, atau rock cenderung menaikkan tekanan darah, sedangkan musik lambat seperti chamber music atau jazz ambient cenderung menurunkannya. Meski begitu, efek ini tidak selalu sama untuk setiap orang. 

Ada beberapa faktor lain yang bisa memengaruhi hal tersebut yakni volume musik, preferensi pribadi, dan durasi mendengarkan. Sebuah studi pada 2024 menemukan bahwa volume sangat keras bisa meningkatkan tekanan darah, sementara volume lembut justru menurunkannya. Musik dengan volume sedang biasanya tidak banyak berpengaruh.

Terkait preferensi pribadi, sebuah studi pada 2015 menemukan bahwa orang yang tidak terbiasa dengan musik klasik bisa mengalami kenaikan tekanan darah dan penurunan detak jantung ketika mendengarkan musik klasik atonal. Adapun poin durasi mendengarkan terlihat dalam penelitian 2021 yang menunjukkan orang dewasa yang rutin mendengarkan musik relaksasi 30 menit sehari selama empat minggu mengalami penurunan tekanan darah sistolik hingga 7 persen.

Dampak musik terhadap tekanan darah biasanya kecil dan hanya bertahan sebentar. Angka tekanan darah cenderung kembali normal dalam beberapa menit. Akan tetapi, bila digunakan secara konsisten sebagai terapi musik, manfaatnya bisa lebih terasa terutama bagi penderita hipertensi (tekanan darah ≥ 140/90 mmHg) maupun pre-hipertensi (120/80–139/89 mmHg).

Sebuah studi menemukan bahwa orang dengan pre-hipertensi yang menjalani diet sehat (DASH diet) sekaligus terapi musik mengalami penurunan tekanan darah lebih signifikan dibanding yang hanya menjalani diet saja. Rata-rata, kelompok dengan terapi musik mengalami penurunan 8,73 mmHg pada sistolik dan 1,44 mmHg pada diastolik. Sementara kelompok diet saja hanya turun 0,21 mmHg pada sistolik dan 0,81 mmHg pada diastolik.

Artinya, meskipun musik tidak bisa menggantikan obat hipertensi, dia bisa jadi bagian penting untuk membantu mengurangi stres dan menjaga tekanan darah tetap terkendali.

Meski begitu, tidak semua orang merespons musik dengan cara yang sama. Studi dalam European Heart Journal menunjukkan bahwa orang dengan tekanan darah normal justru lebih reaktif terhadap musik cepat/keras maupun musik lambat/lembut, dibanding mereka yang sudah menderita hipertensi.

Hal ini juga didukung penelitian terbaru pada 2025, yang menyebutkan penderita hipertensi cenderung punya respons kardiovaskular lebih tumpul terhadap musik. Pada musik lambat, penurunan tekanan darah lebih terasa pada orang dengan tekanan darah normal ketimbang mereka yang hipertensi.

Meski begitu, bukan berarti terapi musik tidak bermanfaat. Justru, bagi orang dengan hipertensi, terapi musik sebaiknya dijalankan bersamaan dengan pola makan sehat, olahraga, pengelolaan stres, hingga obat antihipertensi. Untuk mereka yang masih berada di tahap pre-hipertensi, kombinasi terapi musik dan gaya hidup sehat bisa membantu menunda atau bahkan mencegah perkembangan ke hipertensi. 

Baca juga: Fitur Pengukur Tekanan Darah Smartwatch Belum Bisa Jadi Rujukan Medis, Ini Alasannya 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Indonesia Rawan Gempa, Ini Barang yang Wajib Ada di Tas Siaga Bencana

BERIKUTNYA

Vivo V60 Siap Meluncur di Indonesia, Bawa Kamera Telefoto Cocok Buat Ngonser

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: