Putu Fajar Arcana Tampilkan 34 Lukisan Hasil Healing di Pameran Chromatica
20 August 2025 |
10:53 WIB
Penulis Putu Fajar Arcana menggelar pameran tunggal bertajuk Chromatica, yang berlangsung hingga 21 Agustus 2025 di The Gallery, The Dharmawangsa Jakarta. Ekshibisi ini menampilkan sederet karya lukisan sang penulis dalam masa healing yang dihadapi selama dua tahun terakhir.
Pameran Chromatica digelar oleh Arcana Artworks yang bekerja sama dengan The Dharmawangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation, serta didukung oleh In-lite, Sango, dan Sababay. Pameran ini dikuratori oleh Trianzani Sulshi, seorang arsitek muda yang banyak menjadi kurator dalam berbagai pameran dan pementasan seni.
Pria yang akrab disapa Bli Can itu menggunakan aktivitas melukis sebagai metode healing bagi batinnya yang terluka. Tumpahan cat dan warna-warna yang berpendar di atas kanvas, telah membuatnya seperti memasuki alam meditasi. Proses melukis membimbingnya menjadi lebih rileks dan perlahan menemukan ketenteraman batin.
Hasilnya, sebanyak 34 karya tercipta yang dikerjakan selama dua tahun terakhir yakni 2024-2025. "Karena pada fase inilah pelukisnya merasa perlahan menuju kesembuhan dan menemukan jalan kesenirupaan yang berbeda,” kata Project Manager Chromatica, Angelina Arcana.
Baca juga: Karya-Karya Henk Ngantung Era Kemerdekaan Tampil di Pameran Seni dan Diplomasi Museum Proklamasi
Baca juga: Karya-Karya Henk Ngantung Era Kemerdekaan Tampil di Pameran Seni dan Diplomasi Museum Proklamasi

Boundless Enlightenment, Acrylics on canvas, 100x100 cm, 2025. (Sumber gambar: Arcana Artworks).
Angel menambahkan karya-karya yang ditampilkan di pameran Chromatica juga merupakan hasil dari Bli Can mendalami teknik melukis fluid art selama masa pandemi Covid-19, yang dianggap mampu mengalirkan kegundahan batinnya. Menurutnya, teknik tersebut seperti art moment, seni yang tidak bisa diduplikasi.
"Ia hanya terjadi pada momen tertentu dan karena itu sangat dekat dengan kondisi kebatinan senimannya," imbuhnya.
Sementara itu, Putu Fajar Arcana mengatakan kata “chromatica” dinilai mampu mewakili pencariannya dalam dunia seni rupa. Warna-warna, katanya, sesungguhnya tercipta dari satu gelombang cahaya yang dipantulkan oleh sumber cahaya.
“Ini hukum yang dicetuskan oleh Isaac Newton, di mana setiap warna tercipta tergantung dari panjang pendeknya gelombang,” ujar Bli Can.
Seniman kelahiran Bali ini menempatkan warna sebagai wujud nyata dari gelombang cahaya, dan warna itu terpadatkan lewat lukisan. "Karena itu, lukisan bersumber dari cahaya yang dibutuhkan dalam proses healing,” katanya.

Garden of the Veiled Moon, Acrylics on canvas, 100x100 cm, 2025. (Sumber gambar: Arcana Artworks).
Saat melukis, Bli Can melakukan proses yang berbeda dibandingkan dengan proses melukis pada umumnya. Dia mengaku sama sekali tidak menggunakan kuas sebagai alat utama dalam melukis, tapi menggunakan tiupan angin, panas api, dan tumpahan air untuk membentuk lapis demi lapis warna di atas kanvas.
Teknik itu dieksplorasinya saat mendalami teknik melukis dutch pour dengan menggunakan alat-alat melukis tak biasa. Bli Can kemudian memperkaya teknik ini dengan mengembangkan konsep melukis berdasarkan lima unsur alam, yakni padat, cair, api, angin, dan gas. Oleh sebab itu, dia menyebutnya karya-karyanya tercipta dengan mengeksplorasi elemen-elemen alam.
“Dan itu sangatlah dekat dengan meditasi, di mana kita menyadari keberadaan kita sebagai makhluk di tengah-tengah semesta yang maha besar ini. Penyadaran diri ini penting dalam proses healing,” tuturnya.
Pameran Chromatica digelar oleh Arcana Artworks yang bekerja sama dengan The Dharmawangsa dan Bakti Budaya Djarum Foundation, serta didukung oleh In-lite, Sango, dan Sababay. Pameran ini dikuratori oleh Trianzani Sulshi, seorang arsitek muda yang banyak menjadi kurator dalam berbagai pameran dan pementasan seni.
Adapun, selama pameran berlangsung, akan digelar beberapa aktivitas seperti artist tour dan art for healing. Saat artist tour, pelukis akan menarasikan proses penciptaan pada setiap lukisan, termasuk berbagai pengalaman spiritual yang menyertainya.
Putu Fajar Arcana ialah jurnalis dan penulis kelahiran Negara, Bali tahun 1965. Dia menjadi jurnalis harian Kompas Jakarta pada 1994-2022, dan aktif menulis di luar profesinya. Buku-buku tunggalnya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas berupa novel, cerpen, puisi, drama, dan esai.
Selama masa Covid-19, Putu mulai mendalami teknik melukis, lalu pertama kali berpameran saat membantu para petani di Gianyar dengan mengikuti pameran Lukisan Bukan Pelukis (1999) di Bali Mangsi Denpasar.
Kemudian menggelar pameran Mencuri Waktu (2000) di kantor Kompas Biro Denpasar, pameran seni rupa Lindu (2006) di Bentara Budaya Yogyakarta, dan Grateful Dead (2013) di Bentara Budaya Jakarta. Pada 2024 dan 2025, dia menyumbangkan karya dalam lelang Sidharta Auctioneer Jakarta untuk mendukung Indonesian Dance Festival (IDF).
Baca juga: Memahami Makna Motif Batik di Pameran 80 Kain Indonesia Koleksi Dewi Motik
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Baca juga: Memahami Makna Motif Batik di Pameran 80 Kain Indonesia Koleksi Dewi Motik
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.