Dewi Motik (Sumber Foto: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Memahami Makna Motif Batik di Pameran 80 Kain Indonesia Koleksi Dewi Motik

14 August 2025   |   19:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Menyambut HUT Ke-80 Kemerdekaan Indonesia, Galeri Demono menggelar pameran bertajuk 80 Kain Indonesia yang merupakan koleksi Dewi Motik yang dikenal sebagai seorang pengusaha dan salah satu tokoh perempuan di Indonesia. Pameran berlangsung sejak 1 hingga 31 Agustus 2025 di Galeri Demono, Jakarta Pusat.

Dewi Motik Pramono merupakan sosok perempuan berpengaruh di Indonesia yang dikenal sebagai pengusaha, aktivis, dan pemerhati sosial-budaya. Sepanjang kiprahnya, dia aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan serta pelestarian warisan budaya Nusantara, terutama kain tradisional Indonesia seperti batik.

Baca juga: Jarang Disorot! Hariyadi B. Sukamdani, Pengusaha yang Totalitas Dukung Musik Lokal

Batik bukan sekadar kain bermotif indah yang memanjakan mata, tetapi juga warisan budaya yang menyimpan makna dan nilai kehidupan. Setiap motifnya diciptakan dengan filosofi mendalam yang mencerminkan harapan, nasihat, hingga panduan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Sayangnya, tidak sedikit orang yang mengenakan batik hanya karena tampilannya indah, tanpa mengetahui pesan yang tersimpan di balik pola-pola tersebut.
 

Dewi Motik (Sumber

Dewi Motik (Sumber Foto: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)


Memahami makna motif batik merupakan bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya bangsa. Selain itu, kita juga bisa lebih nyaman memilih batik yang sesuai dengan suasana, nilai, atau pesan yang ingin disampaikan. Bayangkan mengenakan batik bermakna semangat perjuangan di acara pernikahan yang seharusnya membawa kedamaian, tentu akan terasa kurang tepat.

Pameran 80 Kain Indonesia menjadi kesempatan untuk mengagumi keindahan batik, sekaligua memahami filosofi di balik setiap motifnya. Berikut makna motif-motif batik dalam koleksi Pameran 80 Kain Indonesia.


1. Batik Megamendung

Motif awan khas dari Cirebon ini menyimpan filosofi mendalam tentang kesabaran, ketenangan hati, dan kemampuan mengendalikan emosi. Megamendung juga dipercaya melambangkan keberuntungan serta ketenangan batin, sehingga kerap dipilih untuk acara formal maupun momen penting lainnya.


2. Batik Wadasan

Terinspirasi dari bentuk batu karang yang kuat dan kokoh, motif Wadasan melambangkan kekuatan iman dan akidah sebagai fondasi kehidupan. Posisi bentuknya yang tegak vertikal mengarah ke atas melambangkan hubungan dengan Allah SWT atau hablum minallah dalam ajaran Islam.


3. Batik Parang

Motif Parang sering dikaitkan dengan bentuk pedang atau gelombang laut selatan Yogyakarta. Maknanya meliputi kekuatan, keberanian, dan semangat pantang menyerah. Namun karena energinya yang sangat kuat, motif ini sering dihindari dalam pernikahan, mengingat momen sakral tersebut diharapkan membawa ketenangan, bukan semangat perjuangan.


4. Batik Parang Sawunggaling

Mirip dengan motif Parang, Parang Sawunggaling juga melambangkan kekuatan, keberanian, dan daya juang. Bedanya, motif ini memiliki detail yang lebih rumit dan dinamis. Sama seperti Parang biasa, motif ini biasanya tidak dikenakan dalam pernikahan untuk menjaga nuansa damai pada acara tersebut.


5. Batik Kawung

Terinspirasi dari bentuk buah kawung (aren atau kolang-kaling) yang disusun simetris, motif ini bermakna kesempurnaan, kemurnian hati, dan persatuan. Kawung cocok dikenakan di berbagai acara adat, pemakaman, hingga pernikahan. Namun, di lingkungan keraton, motif ini dulunya hanya diperuntukkan bagi raja dan putri keraton, sehingga penggunaannya memiliki aturan khusus.


6. Batik Encim Buketan Parang

Motif bunga pada batik ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna. Kata “Buketan” berasal dari bahasa Belanda bouquet, melambangkan keanggunan, cinta, dan harapan baik.

Coraknya biasanya dihiasi bunga krisan, mawar, atau anggrek dengan warna cerah dan feminin, cocok untuk acara spesial seperti lamaran, tunangan, atau kumpul keluarga. Batik Encim kerap disebut memiliki “rasa Tionghoa” karena pengaruh budaya Peranakan.


7. Batik Ceplok

Motif Ceplok menonjolkan pola hias berulang yang melambangkan keteraturan dan keseimbangan hidup. Dahulu, motif ini digunakan oleh aparat pemerintahan dengan harapan mereka dapat bertugas dengan benar dan jujur. Pola yang teratur dan simetris juga dianggap membawa ketenangan bagi pemakainya.

SEBELUMNYA

Wastra Nusantara Koleksi Dewi Motik di Pameran 80 Kain Indonesia

BERIKUTNYA

Kenali Ciri-ciri Rambut Rontok yang Normal atau Berisiko Kebotakan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga