3 Jurus Ampuh Mengatur Gaji di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Menurut Ahli
13 August 2025 |
07:44 WIB
Mengatur gaji atau penghasilan tidak lah mudah, apalagi di tengah kondisi ketidakpastian global saat ini. Perekonomian Indonesia saat ini sedang menghadapi tekanan yang disebabkan sejumlah faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, inflasi, hingga kebijakan moneter berbagai negara.
Di tengah kondisi menantang tersebut, penting untuk bisa mengelola gaji dengan bijak agar seluruh kebutuhan hidup terpenuhi dan tidak terjebak dengan utang yang menjadi beban finansial. Apalagi, di tengah maraknya fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK), masyarakat harus lebih cerdas dalam mengelola serta mengamankan keuangan untuk jangka panjang.
Di tengah kondisi menantang tersebut, penting untuk bisa mengelola gaji dengan bijak agar seluruh kebutuhan hidup terpenuhi dan tidak terjebak dengan utang yang menjadi beban finansial. Apalagi, di tengah maraknya fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK), masyarakat harus lebih cerdas dalam mengelola serta mengamankan keuangan untuk jangka panjang.
Genhype mungkin bertanya-tanya bagaimana caranya mengelola gaji yang tepat untuk mengamankan keuangan di tengah situasi ekonomi menantang seperti saat ini? Jika ya, yuk simak informasi berikut ini.
1. Buat Skala Prioritas
Perencana Keuangan Muty Djuhari mengatakan langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengelola gaji dengan bijak ialah membuat skala prioritas. Dia menyarankan sebaiknya menggunakan proporsi 50-30-20 dalam pengelolaan gaji ataupun penghasilan.
Artinya, 50 persen dari gaji digunakan untuk membayar kebutuhan hidup dan cicilan, 30 persen untuk menabung, serta maksimal 20 persen untuk gaya hidup. Misalnya, Genhype punya gaji Rp10 juta, bisa dibuat pola pengeluaran yakni Rp5 juta untuk membayar biaya hidup dan cicilan, Rp3 juta untuk ditabung, sementara sisanya Rp2 juta bisa digunakan untuk gaya hidup.
Biaya kebutuhan hidup mencakup pengeluaran esensial sehari-hari seperti makan, transportasi, listrik, dan lain-lain. Sementara gaya hidup berkaitan dengan hal-hal yang kurang atau tidak esensial, seperti jalan-jalan, membeli barang yang sedang viral, dan sebagainya.
Muty menjelaskan dana darurat harus menjadi hal yang diprioritaskan dalam alokasi keuangan di situasi ekonomi yang tidak menentu saat ini, serta memiliki jaminan kesehatan (BPJS atau asuransi swasta). Setelah itu, barulah bisa mengalokasikan gaji untuk investasi guna mencapai tujuan-tujuan finansial tertentu seperti mengumpulkan dana DP rumah, asuransi pendidikan anak, dan sebagainya.
"Jadi enggak ada tuh ceritanya, kita beli saham dulu ya, tapi kita enggak punya dana darurat, atau enggak punya asuransi kesehatan, karena pasti akan habis terpakai juga dananya," katanya kepada Hypeabis.id di Jakarta, baru-baru ini.
2. Dana Darurat untuk 12 Bulan
Setiap individu biasanya disarankan untuk memiliki tabungan dana darurat sebanyak 3-6 kali rata-rata pengeluaran bulanan. Namun, di situasi ekonomi saat ini, Muty menyarankan sebaiknya punya dana darurat sebanyak 12 kali rata-rata pengeluaran bulanan.
Besaran itu dinilai bisa melindungi keuangan agar tetap sehat dan aman. Dengan asumsi, jika sewaktu-waktu kehilangan pekerjaan atau sumber pendapatan utama, kalian bisa tetap bertahan dan memenuhi kebutuhan dengan tabungan yang ada sampai mendapatkan pekerjaan baru.
"Dana darurat 1 sampai 2 kali gaji bisa cukup kalau orang yang kehilangan kerjaan bisa langsung masuk kerjaan lagi, langsung diincer sama perusahaan lain. Tapi in this economy kan mungkin enggak langsung dapat, 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan aja masih cari kerja gitu, sehingga semakin banyak dana daruratnya akan semakin sehat dan aman," tuturnya.
Agar dana darurat cepat terkumpul sesuai target, kalian juga bisa menambahkannya dengan bonus atau THR yang didapat. Selain itu, pastikan tabungan dana darurat disimpan di rekening atau kantong finansial terpisah dari rekening operasional sehari-hari.
"Makanya THR dan bonus itu jangan kita keluarkan sebagai uang yang harus habis saat itu juga, tapi anggap itu sebagai tambahan penghasilan buat kita alihkan ke dana darurat," ucap Muty.
3. Hindari Pengeluaran Berlebihan
Muty mengatakan di tengah situasi ekonomi yang menantang saat ini, sebaiknya tahan godaan untuk melakukan pengeluaran melebihi batas kemampuan finansial. Sebisa mungkin evaluasi gaya hidup saat ini, dan melakukan koreksi untuk mengeliminasi pengeluaran-pengeluaran yang bukan prioritas.
"Jangan boros, jangan FOMO, dan jangan punya prinsip yang penting beli sekarang tapi bayarnya belakangan. Hindarin pengeluaran hal-hal yang emang belum butuh, disiplin sama skala prioritas dan jangan lakukan pengeluaran secara asal-asalan," imbuhnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.