Merasa Gaji Cepat Habis? Saatnya Lakukan Detoks Keuangan Melalui Piramida Finansial
18 July 2025 |
05:11 WIB
1
Like
Like
Like
Genhype pernah ngga merasa gaji selalu habis tanpa tahu ke mana perginya? Setiap bulan, begitu uang masuk, dalam hitungan hari saldo rekening kembali menyusut. Bukan karena pendapatan yang kecil, tetapi karena pengelolaan keuangan yang belum tepat.
Widya Yuliarti, financial planner Ruang Menyala OCBC menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena ketidakmampuan dalam mengatur keuangan. Sebetulnya, ada beberapa kebiasaan yang membuat Genhype kerap merasa gagal dalam mengatur keuangan.
Baca juga: Nicholas Saputra Ungkap Strategi Mengelola Keuangan dan Berbisnis
1. Tidak memiliki anggaran keuangan – Mungkin kita pernah mencoba membuat anggaran, tapi biasanya hanya bertahan satu atau dua bulan saja dan setelah itu kembali ke pola lama.
2. Tidak tahu prioritas keuangan – Kadang kita sering merasa semua hal sebagai sesuatu yang penting harus dilakukan sekarang, mulai dari bayar utang hingga menyiapkan dana pensiun, tanpa ada urutan yang jelas.
3. Merasa selalu ada gaji bulan depan – Karena masih bekerja dan mendapatkan gaji, kita kerap merasa semua akan aman sehingga menunda untuk menabung dan mengatur keuangan.
4. Tidak menerapkan mindful spending – Terkadang seseorang membelanjakan sesuatu tanpa berpikir panjang. "Saya kerja keras, masa gak boleh jajan?" adalah pembenaran yang umum terjadi.
5. Belum bisa mengatur emosi saat berbelanja – Aktivitas belanja dijadikan terapi murah dibanding konsultasi psikolog, padahal bisa berdampak panjang pada kondisi finansial.
6. Tidak punya tujuan keuangan yang jelas – Menabung tanpa tahu tujuannya membuat seseorang mudah tergoda untuk menggunakannya sewaktu-waktu.
Nah jika Genhype merasa beberapa hal di atas sering terjadi, mungkin sudah waktunya melakukan detoks keuangan. Menurut Widya, langkah pertama dari proses ini adalah dengan memahami konsep dasar pengelolaan keuangan yang disebut sebagai piramida keuangan.
Piramida keuangan ini merupakan panduan bertahap dalam mengatur dan merencanakan keuangan. Layaknya membangun rumah, keuangan yang kuat harus dimulai dari fondasi. Ada empat tahap utama dalam piramida ini:
“Kalau bikin rumah, yang dibangun dulu pastinya fondasinya. Begitu juga dengan keuangan, untuk membuat keuangan lebih kokoh maka harus diperkuat dulu fondasinya," ujar Widya dalam kelas literasi financial bersama Ruang MeNyala by OCBC yang diselenggarakan di Wisma Bisnis Indonesia, Kamis (17/7/2025).
1. Financial Basic: Mulai dari Budgeting dan Cash Flow
Tahap pertama ini adalah pondasi dari semua perencanaan keuangan. Di sinilah seseorang mulai menyusun budgeting, atau perencanaan pengeluaran bulanan. Menurutnya, budgeting ini menjadi peta jalan keuangan. Tanpa itu, kita tidak tahu ke mana arah uang mengalir, dan sulit menentukan langkah selanjutnya.
“Budgeting dimulai dengan mencatat semua pendapatan baik yang aktif, pasif, hingga investasi. Kemudian catat semua pengeluaran, utang, hingga asset yang dimiliki,” jelasnya.
Ada prinsip sederhana yang bisa digunakan dalam budgeting ini yakni menyisihkan 20 persen pendapatan untuk pengeluaran produktif ( mulai dari tabungan, investasi, donasi, hingga pengembangan diri).
Kemudian 50 persen diantaranya untuk pengeluaran kebutuhan pokok mulai dari transportasi, jajan, makan, dan lain sebagainya. Sementara 30 persen lainnya digunakan untuk membayar utang dan gaya hidup. “Kalau cicilan melebihi 30 persen, besar kemungkinan akan kesulitan menabung atau berinvestasi. Sebaliknya, jika tidak punya cicilan, maka bisa meningkatkan porsi tabungan dan investasi,” tuturnya.
Dengan memahami financial basic ini maka seseorang bisa tetap berbelanja tanpa menganggu rencana keuangan jangka panjang.
2. Financial Safety: Bangun Perlindungan dengan Dana Darurat
Setelah memiliki fondasi yang kuat, tahap selanjutnya adalah membangun keamanan keuangan dengan menyediakan dana darurat dan asuransi. Dana darurat berfungsi sebagai perlindungan saat terjadi hal tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kondisi medis darurat.
Secara ideal besaran dana darurat sangat bergantung pada status hidup seseorang. Misalnya seseorang yang masih lajang atau belum berkeluarga, maka dana darurat yang harus dipersiapkan adalah 6 kali dari pengeluaran rutin.
"Ketika sudah menikah dana daruratnya harus lebih besar. Jika belum memiliki anak maka 9 kali dari pengeluaran bulanan dan jika sudah memiliki anak, jumlahnya harus 12 kali dari pengeluaran bulanan," jelasnya.
Dana darurat tersebut harus diletakkan disimpan di tempat yang aman dan mudah dicairkan terutama pada tabungan. Boleh di deposito, atau reksa dana pasar uang tetapi hanya 50 persen saja.. Tujuannya agar tidak perlu berutang saat krisis terjadi.
Namun dana ini tidak boleh dipergunakan untuk hal yang sifatnya konsumtif. Ketika dana darurat tersebut sudah digunakan, maka harus diisi kembali sesuai dengan besaran ideanya.
3. Financial Growth: Waktunya Investasi dan Menyiapkan Masa Depan
Setelah memiliki budgeting yang rapi dan dana darurat yang aman, maka bisa masuk ke tahap pertumbuhan kekayaan. Di sinilah pentingnya investasi.
Banyak orang menunda investasi karena merasa belum cukup modal. Padahal semakin cepat kita mulai, semakin ringan usaha yang dibutuhkan. Misalnya, untuk mencapai Rp1 miliar dengan imbal hasil 7 persen per tahun maka jika sudah ditabung dalam waktu 20 tahun maka hanya perlu menyisihkan 1,9 juta per bulan, tetapi jika hanya punya waktu 5 tahun, butuh dana sebesar Rp13,9 juta per bulan
Instrumen investasi pun beragam dan bisa disesuaikan dengan jangka waktu serta tingkat risiko. Bagi yang konservatif untuk tujuan keuangan 0 hingga 2 tahun, maka bisa memilih deposito, tabungan berjangka, dan reksa dana pasar uang.
Bagi yang moderat dengan tujuan keuangan 3 hingga 5 tahun, boleh memilih obligasi, reksa dana campuran, dan reksa dana pendapatan tetap. Sementara itu, untuk yang agresif dengan tujuan jangka panjang, maka saham atau reksa dana saham bisa menjadi pilihan.
“Kuncinya adalah menyesuaikan instrumen dengan tujuan keuangan. Jangan asal ikut tren, tapi pahami kebutuhan dan jangka waktu penggunaan uang tersebut,” terangnya.
4. Financial Freedom: Tujuan Akhir Keuangan
Tahap tertinggi dari piramida ini adalah financial freedom yaitu kondisi ketika pendapatan pasif cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus terus bekerja. Untuk sampai ke tahap ini tentu harus melalui semua tahapan sebelumnya secara konsisten.
“Financial freedom bukan hanya mimpi orang kaya. Siapa pun bisa mencapainya asal mulai lebih awal, disiplin, dan paham strategi keuangannya,” terangnya.
Ternyata, banyak orang gagal mengatur keuangan bukan karena penghasilannya kurang, tapi karena tidak tahu cara mengelolanya. Dengan mengenali kebiasaan buruk, melakukan detoks finansial, dan mengikuti langkah dalam piramida keuangan, Genhype bisa membangun masa depan finansial yang lebih stabil.
Baca juga: 6 Jurus Atur Keuangan Keluarga Anti Boncos saat Momen Liburan Sekolah
Widya Yuliarti, financial planner Ruang Menyala OCBC menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena ketidakmampuan dalam mengatur keuangan. Sebetulnya, ada beberapa kebiasaan yang membuat Genhype kerap merasa gagal dalam mengatur keuangan.
Baca juga: Nicholas Saputra Ungkap Strategi Mengelola Keuangan dan Berbisnis
1. Tidak memiliki anggaran keuangan – Mungkin kita pernah mencoba membuat anggaran, tapi biasanya hanya bertahan satu atau dua bulan saja dan setelah itu kembali ke pola lama.
2. Tidak tahu prioritas keuangan – Kadang kita sering merasa semua hal sebagai sesuatu yang penting harus dilakukan sekarang, mulai dari bayar utang hingga menyiapkan dana pensiun, tanpa ada urutan yang jelas.
3. Merasa selalu ada gaji bulan depan – Karena masih bekerja dan mendapatkan gaji, kita kerap merasa semua akan aman sehingga menunda untuk menabung dan mengatur keuangan.
4. Tidak menerapkan mindful spending – Terkadang seseorang membelanjakan sesuatu tanpa berpikir panjang. "Saya kerja keras, masa gak boleh jajan?" adalah pembenaran yang umum terjadi.
5. Belum bisa mengatur emosi saat berbelanja – Aktivitas belanja dijadikan terapi murah dibanding konsultasi psikolog, padahal bisa berdampak panjang pada kondisi finansial.
6. Tidak punya tujuan keuangan yang jelas – Menabung tanpa tahu tujuannya membuat seseorang mudah tergoda untuk menggunakannya sewaktu-waktu.
Nah jika Genhype merasa beberapa hal di atas sering terjadi, mungkin sudah waktunya melakukan detoks keuangan. Menurut Widya, langkah pertama dari proses ini adalah dengan memahami konsep dasar pengelolaan keuangan yang disebut sebagai piramida keuangan.
Piramida keuangan ini merupakan panduan bertahap dalam mengatur dan merencanakan keuangan. Layaknya membangun rumah, keuangan yang kuat harus dimulai dari fondasi. Ada empat tahap utama dalam piramida ini:
“Kalau bikin rumah, yang dibangun dulu pastinya fondasinya. Begitu juga dengan keuangan, untuk membuat keuangan lebih kokoh maka harus diperkuat dulu fondasinya," ujar Widya dalam kelas literasi financial bersama Ruang MeNyala by OCBC yang diselenggarakan di Wisma Bisnis Indonesia, Kamis (17/7/2025).
1. Financial Basic: Mulai dari Budgeting dan Cash Flow
Tahap pertama ini adalah pondasi dari semua perencanaan keuangan. Di sinilah seseorang mulai menyusun budgeting, atau perencanaan pengeluaran bulanan. Menurutnya, budgeting ini menjadi peta jalan keuangan. Tanpa itu, kita tidak tahu ke mana arah uang mengalir, dan sulit menentukan langkah selanjutnya.
“Budgeting dimulai dengan mencatat semua pendapatan baik yang aktif, pasif, hingga investasi. Kemudian catat semua pengeluaran, utang, hingga asset yang dimiliki,” jelasnya.
Ada prinsip sederhana yang bisa digunakan dalam budgeting ini yakni menyisihkan 20 persen pendapatan untuk pengeluaran produktif ( mulai dari tabungan, investasi, donasi, hingga pengembangan diri).
Kemudian 50 persen diantaranya untuk pengeluaran kebutuhan pokok mulai dari transportasi, jajan, makan, dan lain sebagainya. Sementara 30 persen lainnya digunakan untuk membayar utang dan gaya hidup. “Kalau cicilan melebihi 30 persen, besar kemungkinan akan kesulitan menabung atau berinvestasi. Sebaliknya, jika tidak punya cicilan, maka bisa meningkatkan porsi tabungan dan investasi,” tuturnya.
Dengan memahami financial basic ini maka seseorang bisa tetap berbelanja tanpa menganggu rencana keuangan jangka panjang.
2. Financial Safety: Bangun Perlindungan dengan Dana Darurat
Setelah memiliki fondasi yang kuat, tahap selanjutnya adalah membangun keamanan keuangan dengan menyediakan dana darurat dan asuransi. Dana darurat berfungsi sebagai perlindungan saat terjadi hal tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kondisi medis darurat.
Secara ideal besaran dana darurat sangat bergantung pada status hidup seseorang. Misalnya seseorang yang masih lajang atau belum berkeluarga, maka dana darurat yang harus dipersiapkan adalah 6 kali dari pengeluaran rutin.
"Ketika sudah menikah dana daruratnya harus lebih besar. Jika belum memiliki anak maka 9 kali dari pengeluaran bulanan dan jika sudah memiliki anak, jumlahnya harus 12 kali dari pengeluaran bulanan," jelasnya.
Dana darurat tersebut harus diletakkan disimpan di tempat yang aman dan mudah dicairkan terutama pada tabungan. Boleh di deposito, atau reksa dana pasar uang tetapi hanya 50 persen saja.. Tujuannya agar tidak perlu berutang saat krisis terjadi.
Namun dana ini tidak boleh dipergunakan untuk hal yang sifatnya konsumtif. Ketika dana darurat tersebut sudah digunakan, maka harus diisi kembali sesuai dengan besaran ideanya.
3. Financial Growth: Waktunya Investasi dan Menyiapkan Masa Depan
Setelah memiliki budgeting yang rapi dan dana darurat yang aman, maka bisa masuk ke tahap pertumbuhan kekayaan. Di sinilah pentingnya investasi.
Banyak orang menunda investasi karena merasa belum cukup modal. Padahal semakin cepat kita mulai, semakin ringan usaha yang dibutuhkan. Misalnya, untuk mencapai Rp1 miliar dengan imbal hasil 7 persen per tahun maka jika sudah ditabung dalam waktu 20 tahun maka hanya perlu menyisihkan 1,9 juta per bulan, tetapi jika hanya punya waktu 5 tahun, butuh dana sebesar Rp13,9 juta per bulan
Instrumen investasi pun beragam dan bisa disesuaikan dengan jangka waktu serta tingkat risiko. Bagi yang konservatif untuk tujuan keuangan 0 hingga 2 tahun, maka bisa memilih deposito, tabungan berjangka, dan reksa dana pasar uang.
Bagi yang moderat dengan tujuan keuangan 3 hingga 5 tahun, boleh memilih obligasi, reksa dana campuran, dan reksa dana pendapatan tetap. Sementara itu, untuk yang agresif dengan tujuan jangka panjang, maka saham atau reksa dana saham bisa menjadi pilihan.
“Kuncinya adalah menyesuaikan instrumen dengan tujuan keuangan. Jangan asal ikut tren, tapi pahami kebutuhan dan jangka waktu penggunaan uang tersebut,” terangnya.
4. Financial Freedom: Tujuan Akhir Keuangan
Tahap tertinggi dari piramida ini adalah financial freedom yaitu kondisi ketika pendapatan pasif cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus terus bekerja. Untuk sampai ke tahap ini tentu harus melalui semua tahapan sebelumnya secara konsisten.
“Financial freedom bukan hanya mimpi orang kaya. Siapa pun bisa mencapainya asal mulai lebih awal, disiplin, dan paham strategi keuangannya,” terangnya.
Ternyata, banyak orang gagal mengatur keuangan bukan karena penghasilannya kurang, tapi karena tidak tahu cara mengelolanya. Dengan mengenali kebiasaan buruk, melakukan detoks finansial, dan mengikuti langkah dalam piramida keuangan, Genhype bisa membangun masa depan finansial yang lebih stabil.
Baca juga: 6 Jurus Atur Keuangan Keluarga Anti Boncos saat Momen Liburan Sekolah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.