Self reward merupakan salah satu fenomena yang populer terutama di kalangan anak muda. (Sumber gambar: Borevina/Pexels)

Sering Self Reward? Yuk Simak Saran Penting dari Perencana Keuangan

12 August 2025   |   08:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Self reward merupakan salah satu fenomena yang populer terutama di kalangan anak muda. Hal ini erat kaitannya dengan kegiatan mengeluarkan uang demi mengapresiasi diri dengan berbagai macam bentuk, seperti membeli barang mewah, menikmati kuliner favorit, hingga melancong ke luar negeri.
 
Praktik self reward pada dasarnya merujuk pada cara seseorang menghargai dirinya sendiri, baik melalui apresiasi maupun pemberian hadiah, sebagai wujud penghargaan terhadap upaya yang telah dilakukan hingga berhasil mencapai suatu tujuan.

Baca juga: 62% Generasi Sandwich Pernah Berutang, Ini 4 Solusi Finansial yang Direkomendasikan
 
Di satu sisi, self reward mungkin dapat meningkatkan motivasi serta memberikan kepuasan emosional. Namun di sisi lain, banyak individu yang menggunakan konsep ini sebagai pembenaran untuk melakukan pembelian barang atau jasa yang sebenarnya tidak dibutuhkan, hingga memicu perilaku konsumtif yang tidak terkendali.
 
Perencana Keuangan Muty Djuhari mengatakan self reward sah-sah saja dilakukan asalkan ada bujetnya. Hal itu bisa ditentukan setelah seseorang telah menyelesaikan skala prioritas keuangannya, mulai dari kebutuhan hidup, membayar cicilan, dan menabung. Setelah itu semua terbayar, barulah sisihkan uang untuk gaya hidup yang menjadi urutan terakhir.
 
Misalnya, Genhype punya gaji Rp10 juta. Sebaiknya prioritaskan terlebih dahulu untuk membayar cicilan, misal sebesar Rp2 juta. Lalu, usahakan untuk menabung utamanya untuk dana darurat misalnya Rp2 juta. Nah, sisa uang Rp6 juta itulah yang harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus gaya hidup.
 
"Sisa Rp6 juta itu harus dibagi untuk empat minggu, jadi tiap minggu kamu punya Rp1,5 juta untuk dikeluarkan untuk biaya hidup dan gaya hidup. Jadi gaya hidup itu terakhir," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, Minggu (10/8/2025).
 
Muty tak menampik bahwa saat ini banyak orang yang gampang tergiur untuk menggunakan fitur pinjaman online (pinjol) dan paylater untuk memenuhi gaya hidup. Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena beberapa faktor, mulai dari penghasilan yang kurang, gaya hidup yang tidak bisa dikendalikan, hingga tekanan biaya hidup yang besar.
 
"Self reward itu kan gaya hidup, yang sebenarnya kalau gaya hidup itu tidak dikerjakan enggak akan bikin mati. Tapi kalau biaya hidup, itu esensial. Kita harus makan, transport, bayar listrik, bayar segala kebutuhan anak. Tapi kalau gaya hidup, itu bisa ditekan," imbuhnya.
 
Muty menyarankan sebaiknya untuk menghindari pinjaman online (pinjol) ataupun paylater hanya untuk self reward yang merupakan gaya hidup semata. Menurutnya, ketika seseorang sudah pinjol atau paylater, biasanya akan ketagihan dan semakin berani untuk meminjam dengan nominal yang makin besar.
 
Dia pun mengingatkan agar masyarakat tidak tergoda dengan beragam penawaran seperti potongan harga atau cashback yang biasanya ditawarkan oleh platform pinjol atau fitur paylater. Dua fitur tersebut, katanya, pasti akan selalu menyertakan biaya administrasi dan bunga yang tanpa disadari akan menjadi beban finansial.
 
"Contoh aja gitu ya, misalnya bunga kartu kredit itu 1,75 persen per bulan, tapi bunga paylater itu bisa misalnya 0,3 persen per hari, sehingga itu setara dengan 9 persen per bulan. Nah pertanyaannya apakah kalian sanggup termakan dengan beban bunga yang sadis itu?" ucapnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Hadapi Beban Penyakit Tidak Menular, Indonesia Perluas Akses Cathlab ke 38 Provinsi

BERIKUTNYA

7 Kelompok Spionase di Asia Pasifik, Salah Satunya Targetkan Infratruktur Nuklir di Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga