Karya sastra Indonesia tidak hanya hidup dalam bentuk buku cetak baik itu novel, cerpen, atau puisi. Dalam perjalanannya, sastra Indonesia juga hadir dan ramai menjadi bahan diskusi di media massa, baik dalam bentuk kekaryaan, kritik maupun adu gagasan intelektual yang memperkaya khazanah pengetahuan pembaca.
Linimasa perjalanan sastra di media massa bisa Genhype simak di
Pameran Ruang Sastra Bicara, yang digelar hingga 31 Agustus 2025 di Galeri PDS H.B. Jassin TIM Cikini Jakarta Pusat. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Sastra H.B. Jassin, yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.
Dalam pameran ini, ditampilkan arsip koran, majalah, foto dan dokumentasi lain yang merekam peran media dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia. Dalam benang merah sastra dan media massa, pameran ini menampilkan arsip dan dokumen milik Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
Sejak awal kemunculannya, media massa menjadi ruang yang setia menemani pertumbuhan sastra Indonesia dari masa ke masa. Dalam perjalanannya, kerja-kerja kesusastraan dan kewartawanan tumbuh berkelindan. Ada masa ketika media massa diisi oleh wajah orang-orang berlatar belakang sastra.

Suasana Pameran Ruang Sastra Bicara, yang digelar hingga 31 Agustus 2025 di Galeri PDS H.B. Jassin TIM Cikini Jakarta Pusat. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Sebut saja H.B. Jassin, Mochtar Lubis, Leila S. Chudori, Sutan Takdir Alisjahbana, Yudhistira ANM. Massardi, Ahmad Tohari, Goenawan Mohamad, Arswendo Atmowiloto hingga Linda Christanty. Kala itu, mereka menjadi wartawan sekaligus sastrawan. Media massa menjadi ruang bagi mereka untuk mengendapkan pikiran dan menulis sastra.
Mochtar Lubis, misalnya, yang menulis sastra sekaligus menjadi pendiri harian Indonesia Raya, Leila S. Chudori yang mengawali kariernya sebagai jurnalis Tempo, Ahmad Tohari yang pernah menjadi redaktur harian Merdeka dan sejumlah media lain, Goenawan Mohamad yang merupakan pendiri majalah Tempo dan Kalam, hingga H.B. Jassin yang pernah berkecimpung di lebih dari 10 media sastra di Indonesia.

Arsip yang ditampilkan di pameran Ruang Sastra Bicara, yang digelar hingga 31 Agustus 2025 di Galeri PDS H.B. Jassin TIM Cikini Jakarta Pusat. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Perkembangan kesusastraan Tanah Air tidak dapat dilepaskan dari peranan koran yang secara khusus menghadirkan rubrik sastra. Beberapa penulis pun tenar dan mengawali jejaknya dengan menulis sastra di koran, sebut saja Seno Gumira Ajidarma, WS Rendra, Joko Pinurbo hingga Oka Rusmini.
Fenomena itu dinamai sebagai Sastra Koran, istilah yang biasa dipakai untuk mengacu pada prosa, puisi atau drama yang diterbitkan di koran. Halaman sastra dan budaya di koran pernah menjadi oase bagi penikmat cerita pendek, prosa, dan puisi. Bahkan, pada masanya, kolom sastra di koran menjadi ruang yang prestise bagi seorang wartawan.
Selain koran, pernah muncul juga sejumlah majalah sastra yang terbit sejak tahun 1930-an yakni Poedjangga Baroe. Setelah itu, diikuti oleh majalah Kisah, Kompas, Horison, Konfrontasi hingga Kalam.

Arsip-arsip majalah sastra di Pameran Ruang Sastra Bicara, yang digelar hingga 31 Agustus 2025 di Galeri PDS H.B. Jassin TIM Cikini Jakarta Pusat. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Kurator pameran Hammam Izzuddin mengatakan dalam perjalanannya, media massa menjadi ruang bagi sastra untuk dibicarakan, dikritik sekaligus dirayakan. Selama beberapa dekade, perkembangan sastra Indonesia terekam di media massa. Catatan kritis dari orang-orang yang ada di lingkaran sastra menjadi faktor penunjang perkembangan kesusastraan Tanah Air.
Selain itu, lanjutnya, sastra juga sesekali menjadi sajian utama (headline) dalam media massa. Di tengah hiruk pikuk berita politik dan isu besar nasional, media kadang menjadikan sastra Indonesia sebagai topik utama.
"Hal-hal yang disorot biasanya seputar kehidupan sastrawan, perkembangan puisi hingga media sastra, menggambarkan sedikit potret keberpihakan media terhadap perkembangan sastra," katanya dalam catatan kuratorialnya.

Suasana Pameran Ruang Sastra Bicara, yang digelar hingga 31 Agustus 2025 di Galeri PDS H.B. Jassin TIM Cikini Jakarta Pusat. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
Namun, seiring perkembangan media massa dan senjakala media cetak, turut berpengaruh pada kehidupan sastra. Sastra koran pun berangsur meredup meski beberapa media massa konvensional tetap mempertahankan kolom sastra ketika beralih ke digital.
Hammam mengatakan di tengah ketidakpastian, oase muncul lewat media-media siber alternatif yang memberikan ruang lebih banyak pada penulis untuk mengaktualisasi diri.
Sastra digital bermula pada akhir 90-an yang diawali dengan kemunculan sebuah situs bernama Cybersastra.net. Diikuti media-media lainnya seperti basabasi, bacapetra, dan omongomong. Mereka menjadi medium baru bagi sastra digital.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.