Suasana pameran arsip di festival literasi Parade Masa. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Menyusuri Jejak Arsip Karya Sastra Indonesia Klasik di Parade Masa

20 May 2025   |   19:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Buat Genhype yang suka membaca buku-buku sastra Indonesia, tentu pernah mendengar penerbit Balai Pustaka. Penerbit milik negara yang telah berdiri selama satu abad lebih ini punya peran penting dalam menerbitkan karya-karya sastra era 1920-an. Setelah sempat 'mati suri', Balai Pustaka kini menunjukkan eksistensinya kembali.
 
Balai Pustaka tengah menggelar festival literasi bertajuk Parade Masa. Acara yang berlangsung hingga 1 Juni 2025 di Gedung Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur itu dibuat untuk memperkenalkan buku-buku bacaan sastra Indonesia klasik kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
 
Mengusung tema “Jelajah Jejak Literasi dari Masa ke Masa”, Parade Masa menampilkan berbagai koleksi karya sastrawan legendaris Indonesia dan arsip lainnya yang diterbitkan Balai Pustaka dalam satu abad terakhir. Selain itu, ada juga bazar buku murah, serta berbagai kegiatan lainnya seperti panggung apresiasi sastra, diskusi sastra, bedah buku, hingga pertunjukan seni budaya. 
 
Hypeabis.id baru-baru ini mengunjungi festival literasi Parade Masa. Di acara ini, Genhype bisa mengunjungi pameran arsip bertajuk Litera-See yang menghadirkan buku-buku sastra klasik terbitan 1920-an, dengan cover klasik dan tulisan yang masih menggunakan ejaan lama.  

Baca juga: Berburu Buku Bacaan Sastra Indonesia Klasik Terbitan Balai Pustaka di Parade Masa
 

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Di pameran ini, pengunjung bisa menjumpai buku-buku cetakan awal dari sastrawan-sastrawan Angkatan Balai Pustaka, seperti Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar, Siti Nurbaya (1922) karya Marah Rusli, dan Salah Asuhan (1926) karya Abdoel Moeis. Termasuk, buku legendaris Habis Gelap Terbitlah Terang yang ditulis oleh RA. Kartini.
 
Selain itu, ada pula beberapa buku bacaan anak karya Muhammad Kasim seperti terjemahan karya Cornelis Johannes Kieviet berjudul Niki Bahtera (1920), Bertengkar dan Berbisik (1929), Bual di Kedai Kopi (1930), dan terjemahan karya Lew Wallace dalam Pangeran Hindi (1931).
 
Sastrawan Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20 adalah kelompok yang aktif ketika Balai Pustaka (BP) mulai terbentuk tahun 1917. BP dibentuk pemerintah kolonial Belanda kala itu sebagai lembaga penyaring bacaan masyarakat, yang harus mendidik, tidak memihak atau mencela agama, serta tidak mengandung muatan politik.
 
Meski demikian, hal-hal itu tidak mengurangi nilai kesusastraan yang terbit di BP. Karya-karya dari para sastrawan kala itu justru dinilai sebagai sastra modern karena menunjukkan perbedaan dari sastra Melayu lama, baik dari segi bentuk, tema, maupun isi bacaannya. Adapun, karya sastra yang banyak diproduksi oleh Angkatan Balai Pustaka antara lain roman, drama, dan sajak. 
 

V

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Selain itu, pameran Litera-See juga memberikan ruang khusus untuk menyajikan arsip-arsip buku cetakan pertama dari sejumlah sastrawan. Pengunjung bisa melihat buku-buku terkenal dari sang penulis versi cetakan pertama seperti Salah Asuhan yang membicarakan tentang pertentangan antara Barat dan Timur berbalut isu kawin campur, termasuk novel Surapati dan Robert Anak Surapati.
 
Lalu ditampilkan juga karya-karya klasik Pramoedya Ananta Toer yang terbit di BP seperti Perburuan (1950), Bukan Pasar Malam (1951), Tjerita Tjalon Arang, dan Tjerita dari Blora. Diketahui, penulis yang akrab disapa Pram itu pernah bekerja sebagai redaktur di Balai Pustaka tahun 1950-1951.
 

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Ada pula karya-karya dari penulis asal Sumatera Barat, Aman Dt. Madjoindo, yang juga pernah menjadi redaktur di Balai Pustaka pada 1920. Sang penulis terkenal berkat buku Si Doel Anak Jakarta. Selain itu, Aman juga telah menulis banyak buku cerita anak serta terjemahan, seperti Tjita-Tjia Moestapa dan Sjair Silindoeng Delima.
 

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Tak ketinggalan, ditampilkan pula karya-karya sastra terkenal dari para penulis perempuan yang terbit di Balai Pustaka, seperti Kalau Tak Untung karya Selasih, Taman Sanjak Si Kecil (S. Rukiah), Kehilangan Mestika (Hamidah), Rumahku adalah Istanaku (Marga T), dan Ingin Jadi Wartawan (Sri Walujati Sandi). 
 
Tak hanya karya sastra, pameran ini juga menampilkan arsip-arsip dari Pandji Poestaka, majalah yang terbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1923. Majalah ini dibuat untuk mempublikasikan informasi sekaligus kejadian dan program-program positif yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda.
 
Selain itu, majalah ini juga memuat karya-karya sastra dalam bentuk cerita bersambung, puisi, syair, pantun, cerita pendek, termasuk kritik sastra, yang beberapa diantaranya telah dicetak dalam bentuk novel. Pandji Poestaka bertahan hingga 1945, yakni sampai berakhirnya penjajahan Jepang. 
 

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Bukan cuma pameran, Parade Masa juga menghadirkan bazar buku murah untuk buku-buku yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, dengan diskon hingga 95 persen. Mulai dari sastra klasik, sejarah, biografi, fiksi, pendidikan, agama, buku anak hingga komik. Harganya dibanderol mulai dari Rp2.999 hingga paket All You Can Read seharga Rp125.000.
 
Di bazar ini, pengunjung bisa mendapat novel-novel sastra klasik terkenal dengan harga terjangkau, seperti Atheis karya Achdiat K. Mihardja seharga Rp68.000 dari harga normal Rp104.000, novel Awal dan Mira karya Utuy Tatang Sontani seharga Rp8.000, serta novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar seharga Rp49.000 dari harga normal Rp81.000.
 
Sementara novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana dibanderol seharga Rp58.000 dari harga normal Rp88.000, novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli seharga Rp82.000, dan novel Salah Asuhan karya Abdul Muis dengan versi cetakan baru seharga Rp81.000. 

Baca juga: Balai Pustaka Gelar Festival Literasi Parade Masa, Cek Rangkaian Acaranya

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Girl Group K-Pop KISS OF LIFE Comeback dan Rilis Mini Album 224

BERIKUTNYA

Profil Ibrahim Sjarief Assegaf, Suami Najwa Shihab yang Tutup Usia di RS PON Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga