Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 (Sumber gambar: Hypeabis.id/Himawan L.N)

Daftar Pemenang Kategori Cerpen, Novel, dan Puisi Kusala Sastra Khatulistiwa 2025

29 June 2025   |   06:38 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Penyelenggara ajang sastra Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 telah memilih karya pemenang di kategori cerpen, novel, dan puisi. Para pemenang terpilih setelah juri melakukan proses pemilihan yang panjang dengan fokus utama penilaian terhadap kedaulatan dan otonomi teks sastra. Setiap karya memiliki kekuatannya sendiri. 
 
Ketua Dewan Juri Djoko Saryono mengatakan bahwa dewan juri telah bekerja maksimal dan sungguh-sungguh dalam ajang Kusala Sastra Khatulistiwa. Mereka sepakat mengedepankan penilaian kepakaran yang didasarkan pada pengalaman panjang dan pengetahuan di bidang karya sastra, untuk menilai dan memutuskan karya sastra yang terpilih dalam daftar panjang, daftar pendek, dan akhirnya pemenang,
 
"Dewan Juri juga bersepakat bahwa pertama-tama pembacaan dan penilaian berpusat pada teks, pada karya sastra, bukan pertimbangan gender, domisili sastrawan, penerbit, dan sebagainya. Kedaulatan dan otonomi teks sastra menjadi fokus utama," katanya di Jakarta, Sabtu malam (28/6/2025). 

Baca juga: Karya Sastra yang Masuk Daftar Panjang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 
 
Selain itu itu, dewan juri fokus terhadap intertekstualitas baik sinkronis maupun diakronis. Mereka juga bekerja secara personal dan kolektif untuk memutuskan karya-karya sastra yang lolos hingga menjadi pemenang.

Pada taraf personal, setiap juri menghayati, memahami, mencermati, menanggapi, dan menilai karya-karya sastra terbitan 2024 yang diterima oleh panitia maupun yang dipantau oleh Dewan Juri. 
 
Hasilnya, kemudian didiskusikan secara kolektif dalam forum-forum pertemuan yang digelar untuk menilai dan memutuskan
karya sastra yang layak lolos daftar panjang, daftar pendek, dan pemenang. Dengan cara demikian, penilaian dan pengambilan keputusan bisa memenuhi standar intersubjektivitas yang biasa digunakan dalam dunia humaniora. 
 
Secara lebih spesifik, penghargaan karya sastra terbaik sepanjang 2024 difokuskan untuk memilih karya-karya yang menunjukkan pengerahan kerja kreatif sastrawan Indonesia, pengembangan potensi estetis dalam penggunaan bahasa Indonesia, dan perluasan kemungkinan wilayah pertemuan antara imajinasi dan realitas. 
 
Buku kumpulan cerpen terbaik yang dipilih sebagai pemenang berjudul Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama. Juri menilai bahwa penulis mahir meramu ironi guna menyoroti masalah-masalah kesehatan mental ataupun menyingkap sisi lain dari realitas. Setiap cerita memiliki pusat yang tidak selalu manusia, sehingga menghadirkan dunia yang unik.
 
Juri juga menilai bahwa pemenang memiliki ketelitian yang tampak dalam ketangkasannya menggunakan bahasa, latar, dan konflik yang taut-menaut membangun dunia dalam cerpen-cerpennya. 
 
Kemudian, novel terbaik dalam ajang ini berjudul Duri dan Kutuk karya Cicilia Oday. Dewan juri melihat bahwa karya ini menampilkan kisah yang menempatkan jelajah batin karakter-karakternya sebagai poros. Kesegaran hadir dalam tema yang berlapis, sehingga menampilkan karakter yang tidak tunggal nilai didukung oleh cara bercerita yang mewakili keberagaman suara naratif. 
 
Dalam karya tersebut, sang penulis terlihat secara sadar memilih peristiwa-peristiwa yang merupakan metafora getirnya hubungan manusia dengan alam.

Cicilia Oday mengatakan bahwa novel tersebut bercerita tentang dorongan-dorongan seksual yang mulai muncul pada masa pra-remaja. Selain itu, bukunya mengangkat kisah seorang anak perempuan yang menjadi korban pelecehan. Akan tetapi, justru dituduh sebagai pelaku. Meskipun menjadi korban, sang wanita tetap menerima sanksi sosial.

Cerita ini mencerminkan kenyataan yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yakni perempuan yang menerima pelecehan justru kerap disalahkan, seperti cara berpakaian yang membuat wanita mengalami pelecehan. 
 
Adapun, buku puisi terbaik berjudul Hantu Padang karya Esha Tegar Putra. Karya ini mengolah beragam objek tanpa terkurung pola umum lirisisme, menghimpun puisi-puisi yang berdiri sendiri, tapi saling menyambung, merangkai elegi panjang yang menghamparkan lanskap emosional di setiap bagiannya.
 
Tidak hanya itu, lewat karyanya, penulis juga mampu menahan diri untuk tidak berlarat-larat dalam sentimental atau keharuan yang berlebihan. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Industri Gim Lokal Masih Sulit Pendanaan, Danantara Diminta Turun Tangan

BERIKUTNYA

Love Scamming Bikin Rugi Finansial Hingga Mental, Kenali Ciri-ciri Pelakunya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: