Artefak Batu Berusia 1 Juta Tahun Ditemukan di Sulawesi, Arkelog Duga Milik Kerabat Manusia “Hobbit”
09 August 2025 |
06:38 WIB
Pulau Sulawesi menyimpan sejarah menakjubkan tentang peradaban manusia zaman purba. Terbaru, para arkeolog menemukan peralatan yang terbuat dari batu dan disinyalir telah berusia 1 juta hingga 1,5 juta tahun.
Ditemukan di situs Calio, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, artefak ini terbuat dari rijang, batuan sedimen yang keras dan berbutir halus dan dibuat menggunakan teknik pengelupasan perkusi. Batuan inti dipukul dengan batu palu untuk menghasilkan alat serpih yang tajam.
Salah satu alat tersebut bahkan telah diretouch dengan memotong tepi alat serpih agar lebih tajam. “Ini adalah serpihan batu sederhana dengan tepi tajam yang berguna sebagai alat pemotong dan pengikis serbaguna," ujar Adam Brumm, profesor arkeologi di Griffith University Australia, dikutip dari Live Science, Sabtu (9/8/2025).
Baca Juga: Penelitian Situs Gunung Padang Berlanjut, Arkeolog Siapkan Data Penelitian
Adapun alat batu ini ditemukan saat para arkeolog melakukan penggalian di Calio antara 2019 dan 2022. Dengan menggunakan kombinasi metode penanggalan, para peneliti menentukan usia sedimen tempat ditemukannya perkakas tersebut antara 1,04 juta hingga 1,48 juta tahun yang lalu.
Bisa dikatakan peradaban manusia purba di Sulawesi hadir setalah adanya Homo erectus. Adapun Homo erectus mencapai Pulau Jawa sekitar 1,6 juta tahun yang lalu setelah pertama kali berevolusi di Afrika.
Brumm menyampaikan, sejauh ini, elemen kerangka manusia tertua yang ditemukan Sulawesi adalah fragmen rahang atas manusia modern yang berusia sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun. Sulawesi juga merupakan rumah bagi seni gua naratif tertua di dunia, yang berasal dari setidaknya 51.200 tahun yang lalu.
Sementara itu, alat batu tertua yang ditemukan di Sulawesi sebelumnya, berusia sekitar 194.000 tahun. Dengan demikian, artefak yang terbuat dari rijang tersebut mengungkapkan bahwa kerabat manusia mendiami Sulawesi jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Kemungkinan, mereka mendiami Sulawesi sebelum mencapai Pulau Luzon di utara dan Pulau Flores di selatan. Para peneliti belum bisa mengidentifikasi kelompok misterius di Sulawesi yang memakai alat batu tersebut.
Kendati demikian, bisa saja manusia purba di Sulawesi merupakan nenek moyang Homo luzonensis atau Homo floresiensis, yang keduanya merupakan kerabat manusia seukuran hobbit. “Sampai kita menemukan fosil hominin purba di Sulawesi, masih terlalu dini untuk menetapkan spesies hominin kepada para pembuat alat,” tutur Brumm.
Kendati demikian, skenario yang paling mungkin mengingat rentang waktunya, alat-alat tersebut dibuat Homo erectus atau spesies yang mirip dengan Homo floresiensis. “Kami menduga hominin Flores awalnya berasal dari Sulawesi," imbuhnya.
Masih belum jelas pula untuk apa hominin menggunakan alat tersebut. Namun menurut Brumm, Hominin mungkin menggunakannya untuk tugas-tugas yang melibatkan pengadaan makanan langsung atau untuk membuat peralatan dari kayu maupun bahan tanaman lain yang mudah rusak.
Anehnya, sejauh ini tidak ada tulang hewan yang ditemukan, atau fosil hewan yang memiliki bekas sayatan dan tanda-tanda lain dari pemotongan hewan. Adapun penelitian terbaru ini diposting di jurnal Nature pada 6 Agustus 2025.
Baca Juga: 5 Fakta Machu Picchu, Sisa Peradaban Suku Inca yang Menakjubkan di Pegunungan Andes
Ditemukan di situs Calio, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, artefak ini terbuat dari rijang, batuan sedimen yang keras dan berbutir halus dan dibuat menggunakan teknik pengelupasan perkusi. Batuan inti dipukul dengan batu palu untuk menghasilkan alat serpih yang tajam.
Salah satu alat tersebut bahkan telah diretouch dengan memotong tepi alat serpih agar lebih tajam. “Ini adalah serpihan batu sederhana dengan tepi tajam yang berguna sebagai alat pemotong dan pengikis serbaguna," ujar Adam Brumm, profesor arkeologi di Griffith University Australia, dikutip dari Live Science, Sabtu (9/8/2025).
Baca Juga: Penelitian Situs Gunung Padang Berlanjut, Arkeolog Siapkan Data Penelitian
Adapun alat batu ini ditemukan saat para arkeolog melakukan penggalian di Calio antara 2019 dan 2022. Dengan menggunakan kombinasi metode penanggalan, para peneliti menentukan usia sedimen tempat ditemukannya perkakas tersebut antara 1,04 juta hingga 1,48 juta tahun yang lalu.
Bisa dikatakan peradaban manusia purba di Sulawesi hadir setalah adanya Homo erectus. Adapun Homo erectus mencapai Pulau Jawa sekitar 1,6 juta tahun yang lalu setelah pertama kali berevolusi di Afrika.
Brumm menyampaikan, sejauh ini, elemen kerangka manusia tertua yang ditemukan Sulawesi adalah fragmen rahang atas manusia modern yang berusia sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun. Sulawesi juga merupakan rumah bagi seni gua naratif tertua di dunia, yang berasal dari setidaknya 51.200 tahun yang lalu.
Sementara itu, alat batu tertua yang ditemukan di Sulawesi sebelumnya, berusia sekitar 194.000 tahun. Dengan demikian, artefak yang terbuat dari rijang tersebut mengungkapkan bahwa kerabat manusia mendiami Sulawesi jauh lebih awal daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Kemungkinan, mereka mendiami Sulawesi sebelum mencapai Pulau Luzon di utara dan Pulau Flores di selatan. Para peneliti belum bisa mengidentifikasi kelompok misterius di Sulawesi yang memakai alat batu tersebut.
Kendati demikian, bisa saja manusia purba di Sulawesi merupakan nenek moyang Homo luzonensis atau Homo floresiensis, yang keduanya merupakan kerabat manusia seukuran hobbit. “Sampai kita menemukan fosil hominin purba di Sulawesi, masih terlalu dini untuk menetapkan spesies hominin kepada para pembuat alat,” tutur Brumm.
Kendati demikian, skenario yang paling mungkin mengingat rentang waktunya, alat-alat tersebut dibuat Homo erectus atau spesies yang mirip dengan Homo floresiensis. “Kami menduga hominin Flores awalnya berasal dari Sulawesi," imbuhnya.
Masih belum jelas pula untuk apa hominin menggunakan alat tersebut. Namun menurut Brumm, Hominin mungkin menggunakannya untuk tugas-tugas yang melibatkan pengadaan makanan langsung atau untuk membuat peralatan dari kayu maupun bahan tanaman lain yang mudah rusak.
Anehnya, sejauh ini tidak ada tulang hewan yang ditemukan, atau fosil hewan yang memiliki bekas sayatan dan tanda-tanda lain dari pemotongan hewan. Adapun penelitian terbaru ini diposting di jurnal Nature pada 6 Agustus 2025.
Baca Juga: 5 Fakta Machu Picchu, Sisa Peradaban Suku Inca yang Menakjubkan di Pegunungan Andes
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.