Koleksi Dubois Kembali ke Tanah Air, Indonesia Bangun Narasi ‘Out of Nusantara’
25 October 2025 |
11:30 WIB
Setelah lebih dari satu abad berada di Belanda, koleksi peninggalan Eugene Dubois akhirnya pulang ke Indonesia. Sebanyak 28.000 objek warisan budaya Indonesia koleksi Dubois akan direpatriasi dari Belanda ke Tanah Air. Koleksi ini dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia.
Koleksi Dubois mencakup temuan Eugène Dubois di Trinil, Jawa Timur, pada 1891–1892. Salah satunya adalah fosil manusia purba Pithecanthropus erectus yang kini diklasifikasikan sebagai Homo erectus. Temuan itu selama lebih dari satu abad tersimpan di Belanda dan menjadi rujukan penting dalam studi evolusi manusia.
Nantinya, setelah koleksi tersebut direpatriasi, pemerintah Indonesia berencana menata ulang koleksi tersebut di Museum Nasional dengan konsep pameran bertajuk “Re-Civilization.” Tema itu bukan sekadar penataan ulang, melainkan upaya membangun narasi baru tentang asal-usul manusia dari perspektif Nusantara.
Baca Juga: Urgensi Rencana Strategis Nasional Pengelolaan Koleksi Repatriasi Benda Bersejarah
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, repatriasi koleksi Dubois bukan hanya soal pengembalian benda bersejarah. “Koleksi Dubois ini menurut saya akan menjadi semacam rehabilitasi terhadap segala narasi tentang peradaban,” ujarnya dalam acara Setahun Kementerian Kebudayaan di Jakarta.
Narasi yang dimaksud Fadli adalah gagasan “Out of Nusantara”, sebuah upaya untuk menempatkan Indonesia dalam peta besar sejarah manusia. Dia menyebut, selama ini dunia hanya mengenal teori Out of Africa, yang menyatakan bahwa manusia modern berasal dari Afrika lalu menyebar ke seluruh dunia.
Dia menjelaskan, gagasan Out of Nusantara bukan dimaksudkan untuk menandingi teori lain, melainkan untuk memperkaya perspektif dunia. Dia menegaskan bahwa Indonesia memiliki bukti arkeologis yang kuat, dari Trinil dan Sangiran di Jawa, hingga Liang Bua di Flores dan gua prasejarah di Sulawesi.
Pameran “Re-Civilization” juga akan menjadi ruang untuk menarasikan hal itu secara visual dan ilmiah. Kementerian Kebudayaan menyiapkan kurator lintas disiplin yang melibatkan arkeolog, antropolog, ahli geologi, serta penulis sejarah. Koleksi Dubois akan menjadi titik awal dari perjalanan manusia dan kebudayaan di kepulauan ini.
Secara simbolik, kepulangan koleksi Dubois juga menjadi momentum kebangkitan arkeologi Indonesia. Selama bertahun-tahun, banyak koleksi penting berada di luar negeri tanpa konteks sejarah yang utuh. Kini, pemerintah ingin menghadirkan kembali artefak-artefak tersebut di tanah air agar dapat diakses publik dan ilmuwan Indonesia.
Koleksi Dubois tidak hanya berisi fosil manusia purba, tetapi juga fragmen batu, tulang hewan, dan peralatan yang digunakan pada masa itu. Semuanya merekam cara hidup manusia awal di Jawa. Jika disusun ulang secara naratif, koleksi ini mampu menunjukkan kontinuitas budaya dan evolusi di kepulauan Nusantara.
Menurut Fadli, tahap pertama pameran direncanakan akan dimulai setelah proses kurasi, restorasi, dan digitalisasi selesai. Seluruh artefak akan dilengkapi dengan data penelitian terbaru agar pengunjung memahami konteks ilmiahnya, bukan sekadar melihat benda fosil.
Melalui langkah ini, Indonesia ingin mengajak dunia melihat sejarah manusia dari sudut yang lebih luas. “Narasi besarnya adalah Indonesia merupakan peradaban yang terkuat di dunia ini yang ingin kita challenge kepada teori yang sudah ada,” katanya.
Selain menyoroti repatriasi artefak, Fadli juga memaparkan berbagai upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat global, salah satunya lewat forum internasional Culture, Art, Heritage, Diplomacy, Innovation (CANDI), yang menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku kebudayaan, peneliti, dan diplomat dari berbagai negara.
Baca Juga: Lebih dari Satu Abad Disimpan di Belanda, Fosil ‘Java Man’ Akhirnya Pulang Kampung
Koleksi Dubois mencakup temuan Eugène Dubois di Trinil, Jawa Timur, pada 1891–1892. Salah satunya adalah fosil manusia purba Pithecanthropus erectus yang kini diklasifikasikan sebagai Homo erectus. Temuan itu selama lebih dari satu abad tersimpan di Belanda dan menjadi rujukan penting dalam studi evolusi manusia.
Nantinya, setelah koleksi tersebut direpatriasi, pemerintah Indonesia berencana menata ulang koleksi tersebut di Museum Nasional dengan konsep pameran bertajuk “Re-Civilization.” Tema itu bukan sekadar penataan ulang, melainkan upaya membangun narasi baru tentang asal-usul manusia dari perspektif Nusantara.
Baca Juga: Urgensi Rencana Strategis Nasional Pengelolaan Koleksi Repatriasi Benda Bersejarah
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, repatriasi koleksi Dubois bukan hanya soal pengembalian benda bersejarah. “Koleksi Dubois ini menurut saya akan menjadi semacam rehabilitasi terhadap segala narasi tentang peradaban,” ujarnya dalam acara Setahun Kementerian Kebudayaan di Jakarta.
Narasi yang dimaksud Fadli adalah gagasan “Out of Nusantara”, sebuah upaya untuk menempatkan Indonesia dalam peta besar sejarah manusia. Dia menyebut, selama ini dunia hanya mengenal teori Out of Africa, yang menyatakan bahwa manusia modern berasal dari Afrika lalu menyebar ke seluruh dunia.
Dia menjelaskan, gagasan Out of Nusantara bukan dimaksudkan untuk menandingi teori lain, melainkan untuk memperkaya perspektif dunia. Dia menegaskan bahwa Indonesia memiliki bukti arkeologis yang kuat, dari Trinil dan Sangiran di Jawa, hingga Liang Bua di Flores dan gua prasejarah di Sulawesi.
Pameran “Re-Civilization” juga akan menjadi ruang untuk menarasikan hal itu secara visual dan ilmiah. Kementerian Kebudayaan menyiapkan kurator lintas disiplin yang melibatkan arkeolog, antropolog, ahli geologi, serta penulis sejarah. Koleksi Dubois akan menjadi titik awal dari perjalanan manusia dan kebudayaan di kepulauan ini.
Secara simbolik, kepulangan koleksi Dubois juga menjadi momentum kebangkitan arkeologi Indonesia. Selama bertahun-tahun, banyak koleksi penting berada di luar negeri tanpa konteks sejarah yang utuh. Kini, pemerintah ingin menghadirkan kembali artefak-artefak tersebut di tanah air agar dapat diakses publik dan ilmuwan Indonesia.
Koleksi Dubois tidak hanya berisi fosil manusia purba, tetapi juga fragmen batu, tulang hewan, dan peralatan yang digunakan pada masa itu. Semuanya merekam cara hidup manusia awal di Jawa. Jika disusun ulang secara naratif, koleksi ini mampu menunjukkan kontinuitas budaya dan evolusi di kepulauan Nusantara.
Menurut Fadli, tahap pertama pameran direncanakan akan dimulai setelah proses kurasi, restorasi, dan digitalisasi selesai. Seluruh artefak akan dilengkapi dengan data penelitian terbaru agar pengunjung memahami konteks ilmiahnya, bukan sekadar melihat benda fosil.
Melalui langkah ini, Indonesia ingin mengajak dunia melihat sejarah manusia dari sudut yang lebih luas. “Narasi besarnya adalah Indonesia merupakan peradaban yang terkuat di dunia ini yang ingin kita challenge kepada teori yang sudah ada,” katanya.
Selain menyoroti repatriasi artefak, Fadli juga memaparkan berbagai upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat global, salah satunya lewat forum internasional Culture, Art, Heritage, Diplomacy, Innovation (CANDI), yang menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku kebudayaan, peneliti, dan diplomat dari berbagai negara.
Baca Juga: Lebih dari Satu Abad Disimpan di Belanda, Fosil ‘Java Man’ Akhirnya Pulang Kampung
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.