Saroengan Kreasikan Sarung dalam Wajah Fesyen Modern Lewat Koleksi Bayang
06 August 2025 |
20:11 WIB
Sarung merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat. Dikenakan dalam berbagai momen, dari ibadah hingga aktivitas sehari-hari, sarung pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat Indonesia.
Namun seiring berjalannya waktu, penggunaan sarung mulai tergeser oleh tren fesyen baru. Sarung kini lebih sering tersimpan di lemari daripada dikenakan, menjadi semacam bayang-bayang masa lalu yang akrab tetapi perlahan terlupakan.
Siapa sangka, dari kain yang sederhana itu, lahir sebuah inovasi fesyen yang segar dan penuh makna. Adalah Saroengan, brand fesyen yang digagas oleh Gizza Hummaira dan Yaafi Yulio ini mengambil langkah berani untuk menghidupkan kembali sarung sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Baca juga: Menggali Potensi Cuan Bisnis Sarung Motif Kekinian
Salah satu langkah nyatanya terlihat dalam koleksi bertajuk Bayang, yang tampil mencuri perhatian dalam gelaran JF3 Fashion Festival 2025 di Summarecon Mall Serpong. Koleksi ini membawa pesan kuat bahwa sarung bukan sekadar pakaian tradisional, tapi juga bisa menjadi simbol ekspresi, gaya, dan identitas masa kini.
Dalam koleksi Bayang, Saroengan menampilkan 18 look berbeda untuk 18 model, yang semuanya dirancang dengan siluet dan gaya yang beragam namun tetap berpijak pada akar budaya sarung. Kain yang biasanya hanya dikenakan di bagian bawah tubuh, kini diolah menjadi berbagai jenis busana seperti kemeja, vest, rok, celana panjang, bahkan aksesoris seperti dasi.
Desainnya dibuat lebih casual dan timeless, sehingga bisa dipadukan dengan berbagai gaya dan mudah dikenakan dalam berbagai suasana. “Sarung bukan lagi tradisi yang dilupakan, tapi pernyataan gaya. Kami ingin sarung menjadi bagian dari gaya hidup modern fungsional, keren, dan membumi,” ujar Yaafi Yulio, pendiri Saroengan.
Yaafi menjelaskan bahwa koleksi ini menafsirkan tema rebirth bukan hanya sebagai kelahiran kembali secara fisik, melainkan juga kelahiran kembali makna dan memori budaya. Bayang merepresentasikan sarung sebagai sesuatu yang selalu ada, meski kadang luput dari perhatian.
Menggunakan bahan-bahan sarung dari berbagai daerah, koleksi ini menyasar generasi muda yang ingin tampil beda tanpa meninggalkan akar budayanya. Desainnya dibuat dengan pendekatan yang segar, agar terasa relevan bagi anak muda masa kini, baik pria maupun wanita.
“Kami ingin generasi muda kembali percaya diri mengenakan kain tradisional seperti sarung, tapi dengan desain yang lebih kekinian. Sarung bisa jadi sesuatu yang membanggakan sekaligus menyenangkan untuk dipakai,” tutur Yaafi.
Koleksi “Bayang” sudah tersedia dan bisa dibeli di gerai Lakon maupun secara online. Harga produknya cukup beragam, mulai dari Rp300.000 untuk aksesori, hingga Rp600.000 sampai lebih dari Rp1 juta untuk atasan dan bawahan.
Namun, Saroengan tak sekadar menjual busana. Melalui setiap jahitan dan potongannya, mereka ingin menyampaikan pesan bahwa budaya akan terus hidup ketika ada yang berani memakainya bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional.
“Bayang itu bukan sesuatu yang hilang, tetapi selalu ada. Dan kami ingin sarung menjadi bagian dari hidup kita yang melekat, hadir, dan tetap relevan,” tutup Yaafi.
Baca juga: Daftar Sarung Termahal di Indonesia, Bisa Jadi Inspirasi Untuk Salat Idul Fitri
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun seiring berjalannya waktu, penggunaan sarung mulai tergeser oleh tren fesyen baru. Sarung kini lebih sering tersimpan di lemari daripada dikenakan, menjadi semacam bayang-bayang masa lalu yang akrab tetapi perlahan terlupakan.
Siapa sangka, dari kain yang sederhana itu, lahir sebuah inovasi fesyen yang segar dan penuh makna. Adalah Saroengan, brand fesyen yang digagas oleh Gizza Hummaira dan Yaafi Yulio ini mengambil langkah berani untuk menghidupkan kembali sarung sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Baca juga: Menggali Potensi Cuan Bisnis Sarung Motif Kekinian
Salah satu langkah nyatanya terlihat dalam koleksi bertajuk Bayang, yang tampil mencuri perhatian dalam gelaran JF3 Fashion Festival 2025 di Summarecon Mall Serpong. Koleksi ini membawa pesan kuat bahwa sarung bukan sekadar pakaian tradisional, tapi juga bisa menjadi simbol ekspresi, gaya, dan identitas masa kini.
Dalam koleksi Bayang, Saroengan menampilkan 18 look berbeda untuk 18 model, yang semuanya dirancang dengan siluet dan gaya yang beragam namun tetap berpijak pada akar budaya sarung. Kain yang biasanya hanya dikenakan di bagian bawah tubuh, kini diolah menjadi berbagai jenis busana seperti kemeja, vest, rok, celana panjang, bahkan aksesoris seperti dasi.
Desainnya dibuat lebih casual dan timeless, sehingga bisa dipadukan dengan berbagai gaya dan mudah dikenakan dalam berbagai suasana. “Sarung bukan lagi tradisi yang dilupakan, tapi pernyataan gaya. Kami ingin sarung menjadi bagian dari gaya hidup modern fungsional, keren, dan membumi,” ujar Yaafi Yulio, pendiri Saroengan.
Yaafi menjelaskan bahwa koleksi ini menafsirkan tema rebirth bukan hanya sebagai kelahiran kembali secara fisik, melainkan juga kelahiran kembali makna dan memori budaya. Bayang merepresentasikan sarung sebagai sesuatu yang selalu ada, meski kadang luput dari perhatian.
Menggunakan bahan-bahan sarung dari berbagai daerah, koleksi ini menyasar generasi muda yang ingin tampil beda tanpa meninggalkan akar budayanya. Desainnya dibuat dengan pendekatan yang segar, agar terasa relevan bagi anak muda masa kini, baik pria maupun wanita.
“Kami ingin generasi muda kembali percaya diri mengenakan kain tradisional seperti sarung, tapi dengan desain yang lebih kekinian. Sarung bisa jadi sesuatu yang membanggakan sekaligus menyenangkan untuk dipakai,” tutur Yaafi.
Koleksi “Bayang” sudah tersedia dan bisa dibeli di gerai Lakon maupun secara online. Harga produknya cukup beragam, mulai dari Rp300.000 untuk aksesori, hingga Rp600.000 sampai lebih dari Rp1 juta untuk atasan dan bawahan.
Namun, Saroengan tak sekadar menjual busana. Melalui setiap jahitan dan potongannya, mereka ingin menyampaikan pesan bahwa budaya akan terus hidup ketika ada yang berani memakainya bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional.
“Bayang itu bukan sesuatu yang hilang, tetapi selalu ada. Dan kami ingin sarung menjadi bagian dari hidup kita yang melekat, hadir, dan tetap relevan,” tutup Yaafi.
Baca juga: Daftar Sarung Termahal di Indonesia, Bisa Jadi Inspirasi Untuk Salat Idul Fitri
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.