Sasti Gotama adalah penulis novel Korpus Uterus (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Yudi Supriyanto)

Novel Korpus Uterus dan Realitas Kelam Kekerasan Seksual di Indonesia

05 August 2025   |   17:00 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Kekerasan seksual terhadap perempuan masih menjadi isu yang membayangi masyarakat dan sulit diberantas. Dampaknya bukan hanya fisik dan psikologis, tetapi bisa berujung pada kematian. Lewat Korpus Uterus, Sasti Gotama menghadirkan potret mendalam tentang luka, perjuangan, dan ketahanan perempuan korban kekerasan.

Novel ini mengikuti perjalanan seorang laki-laki bernama Panaluh, atau Luh. Ia lahir dari rahim Kalimah, seorang perempuan yang hamil akibat pemerkosaan. Karena menjadi simbol dari luka yang tak termaafkan, Luh ditolak dan ditelantarkan oleh ibunya. Hidupnya kemudian bergulir di antara berbagai perempuan, menjadikannya sosok yang ambigu lantaran dianggap pahlawan oleh sebagian, tetapi juga penjahat bagi yang lain.

Luh terlahir dengan telinga yang menyerupai kembang kol, yang membuatnya mampu mendengar hal-hal yang tidak terdengar oleh manusia biasa. Kemampuan ini menjadi fondasi profesinya, yakni seorang ahli aborsi yang sangat dihormati, tetapi sekaligus ditakuti.

Baca Juga: Sasti Gotama Angkat Isu Kekerasan Seksual & Hak Tubuh Perempuan Lewat Novel Korpus Uterus

Dia tergerak membantu perempuan-perempuan korban kekerasan seksual yang hamil akibat pemerkosaan dan mengalami penolakan oleh sistem medis, distigmatisasi oleh masyarakat, dan pada akhirnya terjebak dalam keputusasaan.

Di tengah tekanan sosial dan keterbatasan akses medis, banyak perempuan dalam cerita ini yang terpaksa menggugurkan kandungan secara diam-diam, bahkan ada yang mengakhiri hidup karena tidak kuat menanggung beban. Luh pernah melihat seorang perempuan muda yang memutuskan untuk lompat dari jembatan setelah bidan enggan melakukan aborsi dan menghinanya karena tidak percaya bahwa bayi yang dikandung merupakan hasil pemerkosaan.

Luh memperoleh pengetahuan tentang aborsi saat tinggal bersama seorang dokter Markus yang menemukannya sedang membaca buku kedokteran. 

Dia kerap menemani sang dokter saat praktik di rumahnya, meski pada akhirnya mereka berseberangan pandangan, yakni sang dokter memegang teguh prinsip bahwa rahim adalah bagian paling suci dari tubuh perempuan sehingga membenci praktik kuretase.

Sementara Luh memilih untuk membantu para wanita menggugurkan janin yang tidak diinginkan karena ingin menyelamatkan janin agar tidak memiliki nasib yang dialami - tidak dianggap oleh orang tua dan hanya diberi makan sehari 3 kali. 

Cerita dalam Korpus Uterus terbentang dari era 1965 hingga awal 2000-an, mencakup berbagai tragedi historis, termasuk pemerkosaan terhadap perempuan yang dituduh sebagai simpatisan partai terlarang dan kekerasan terhadap perempuan pada kerusuhan 1998 serta era yang lebih baru, yakni 2000an.

Rentang waktu yang panjang ini menyiratkan bahwa kekerasan seksual bukan hanya masalah individu, tetapi juga bagian dari kekerasan sistemik yang ada melintasi generasi. Tidak hanya itu, rentang yang panjang itu juga menggambarkan bahwa kekerasan terhadap wanita seolah sulit untuk dihilangkan.

Alur dalam novel disusun secara fragmentaris dengan setiap fragmen membangun lapisan-lapisan baru, memperlihatkan bagaimana hidup para tokoh saling bersinggungan dalam pusaran luka dan harapan.

Tidak hanya itu, fragmen-fragmen itu akan saling terkait satu sama lain yang membuat pembaca pada akhirnya tahu bahwa setiap tokoh memiliki peran dan kaitan erat terhadap perjalanan Luh—baik sebagai bagian dari masa lalunya maupun sebagai penentu arah hidupnya. Satu per satu hubungan antartokoh diurai dengan hati-hati, menciptakan efek “aha moment” ketika pembaca menyadari bagaimana jalan hidup mereka saling bersinggungan, baik secara langsung maupun tak langsung.

Dalam bercerita, Sasti juga menggunakan sudut pandang narator yang mahatahu. Namun, sudut pandang itu kerap dikombinasikannya dengan sudut orang pertama melalui kutipan-kutipan langsung.
 
Sasti juga memperkenalkan para tokohnya secara bergantian dari Kalimah, Nur, Dokter Markus, Kaluri, Lara, Maryam, dan sebagainya—dengan Luh sebagai poros yang menjadi benang merahnya.

Karakter-karakter dalam novel ini ditulis dengan kekhasan yang mencolok. Luh dengan telinga istimewanya, Dokter Markus yang bisa mencium aroma khas dari orang lain yang tengah menderita penyakit, hingga para perempuan dengan trauma dan keberanian masing-masing.

Deskripsi yang kaya dan detil membuat latar cerita terasa hidup, seolah pembaca ikut menyusuri jalan-jalan sempit, rumah-rumah, hingga ruang praktik Luh ketika mengaborsi janin dalam kandungan.

Sasti juga menyisipkan banyak istilah kedokteran dalam cerita, yang dijelaskan lewat catatan kaki di bagian bawah halaman, sehingga tak menghalangi pemahaman pembaca dan tetap dapat mengikuti cerita yang tersaji. Latar belakangnya sebagai dokter membuat penggambaran tentang prosedur aborsi dan anatomi tubuh terasa meyakinkan. Di samping itu, Sasti juga memasukkan istilah-istilah dalam bahasa Jawa, yang memperkaya nuansa lokal dalam cerita.

Dari sisi gaya bahasa, Korpus Uterus ditulis dengan narasi deskriptif yang sarat emosi. Kalimat-kalimatnya panjang, kompleks, tetapi tetap mengalir. Pada momen-momen tertentu, Sasti menggunakan kalimat pendek untuk menegaskan emosi atau peristiwa penting.

Pilihan katanya lugas dan tanpa basa-basi saat membahas kekerasan, tetapi juga puitis dan metaforis ketika menyentuh bagian-bagian tertentu. Penggunaan kata kerja aktif dan deskripsi indrawi membuat pengalaman membaca terasa imersif dan menggugah.

Bisa dikatakan bahwa novel Korpus Uterus bukan sekadar karya fiksi tentang kekerasan seksual yang dialami oleh wanita. Namun, gambaran tentang tubuh kaum hawa menjadi medan konflik moral, sosial, dan politik.

Karakter Luh bukan sekadar pusaran dalam cerita yang mengangkat beragam wanita sebagai karakter utamanya. Lewat telinganya yang berbentuk seperti kembang kol, sang penulis terasa sedang bermain dengan simbol bahwa ada luka yang sering tidak terdengar dan hanya mampu didengar oleh mereka yang memiliki kemampuan khusus – terlebih Luh adalah seorang pria.

Novel ini juga menggambarkan bahwa sistem yang ada justru tidak berpihak terhadap wanita korban kekerasan lantaran banyak hal meskipun aturan yang dibuat sudah benar.

Baca Juga: Resensi Novel Katri, Catatan Perempuan Korban Politik yang Bertahan Menantang Zaman

SEBELUMNYA

Hypereport: Jurus Mal Menjaga Transaksi Tetap Tinggi di Tengah Fenomena Rohana dan Rojali

BERIKUTNYA

Tayang di Netflix dan TvN, Ini Fakta Drama Korea Bon Appetit, Your Majesty

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga