Pengunjung melihat koleksi fashion di gerai New Era dalam media preview New Era Grand Indonesia di Jakarta, Selasa (24/10/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Suselo Jati)

Hypereport: Jurus Mal Menjaga Transaksi Tetap Tinggi di Tengah Fenomena Rohana dan Rojali

05 August 2025   |   18:33 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Istilah Rohana dan Rojali dalam sepekan terakhir ramai diperbincangkan publik. Rohana adalah akronim dari rombongan hanya nanya dan Rojali adalah rombongan jarang beli. Istilah tersebut belakangan ramai dipakai untuk menggambarkan pengunjung pusat perbelanjaan yang meningkat, tetapi hanya suka melihat-lihat ketimbang membeli.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tampak turut mengamini tren tersebut. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) per Maret 2025 menunjukkan bahwa konsumsi dari kelompok masyarakat kelas atas memang mengalami penurunan, meskipun kondisi ini belum secara langsung memengaruhi tingkat kemiskinan.

Rohana dan Rojali bisa dibilang sebagai fenomena sosial yang diduga banyak pihak bisa jadi indikasi kondisi perekonomian masyarakat sekarang, yakni daya beli yang sedang turun. Namun, benarkah demikian?

Baca Juga: Arti Istilah Rojali dan Rohana, Julukan Lucu untuk Pengunjung Ritel dan Mal

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan fenomena rombongan orang pergi ke mal dan jarang beli sebenarnya bukanlah hal baru. Menurutnya, dari tahun ke tahun, kelompok seperti ini memang ada dan tak ada salahnya juga. 

Namun, belakangan kelompok ini menjadi ramai karena dibeli label, yakni Rohana dan Rojali. Padahal, sejatinya fenomena ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu.

Menurut Alphonzus, hal yang perlu diperhatikan dari fenomena ini ialah soal intensitasnya dan faktor yang memengaruhinya. Keduanya selalu punya alasan yang berbeda-beda tergantung konteks sosial pada zamannya.

"Sekarang ini kan memang intensitasnya cukup meningkat. Faktor pertama ini dikarenakan daya beli masyarakat ya, khususnya di kalangan menengah bawah," ungkap Alphonzus kepada Hypeabis.id.

 

Pengunjung melihat koleksi fashion di gerai New Era dalam media preview New Era Grand Indonesia di Jakarta, Selasa (24/10/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Suselo Jati)

 

 

Pengunjung melihat koleksi fashion di gerai New Era dalam media preview New Era Grand Indonesia di Jakarta, Selasa (24/10/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Suselo Jati)

Pengunjung melihat koleksi fashion di gerai New Era dalam media preview New Era Grand Indonesia di Jakarta, Selasa (24/10/2023). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Suselo Jati)

 


Alphonzus mencermati bahwa daya beli kelas menengah bawah ini sudah mulai terganggu sejak tahun lalu. Kondisi ini kemudian yang membuat fenomena Rohana dan Rojali pun mulai meningkat beberapa waktu terakhir.

Faktor kedua yang juga dinilainya turut memengaruhi ialah perihal durasi low season industri retail di Indonesia sedang cukup panjang. Alphonzus mengatakan dalam industri retail, high season biasanya terjadi pada momen Ramadan-Idulfitri dan Natal-Tahun Baru. Di luar itu, biasanya mal akan masuk ke mode low season.

"Nah, tahun ini low season-nya itu kan bertambah panjang. Sebab, Ramadan dan Idulfitrinya kan datang lebih awal sekitar di kuartal pertama," imbuhnya.

Alphonzus menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pola musiman di sektor ritel cenderung berulang. Periode ramai atau high season biasanya terjadi di akhir tahun, kemudian bergeser ke masa sepi atau low season pada kuartal pertama. Aktivitas belanja kembali meningkat menjelang Idulfitri dan libur sekolah, sebelum kembali melandai hingga memasuki high season berikutnya di penghujung tahun.

Namun, situasi sekarang memang tengah berubah. Pada tahun ini, karena Idulfitri datang lebih awal, maka April, Mei, da pertengahan Juni menjadi tambahan baru yang memperpanjang low season. Durasi panjang ini jadi salah satu penyebab fenomena ini.

Alphonzus menilai bahwa fenomena Rohana dan Rojali memberi dampak nyata terhadap performa pusat perbelanjaan. Sebab, pada tahun ini, saat seharusnya industri retail memasuki periode high season, target penjualan justru belum tercapai secara maksimal.

Dia menduga kondisi ini tak lepas dari efek lanjutan kebijakan pengetatan anggaran pemerintah yang mulai diterapkan sejak akhir 2024. Saat ada kebijakan itu, sektor yang pertama kali terdampak adalah perhotelan, transportasi, serta makanan dan minuman. 

Ketika industri-industri tersebut mulai melambat, imbasnya kemudian dirasakan oleh sektor ritel yang turut mengalami penurunan daya beli. Alphonzus mencatat bahwa dampak nyata terhadap ritel terjadi saat Ramadan, yang idealnya menjadi masa puncak penjualan tahunan. 

Namun, karena tekanan ekonomi tersebut, periode Ramadan hingga Idulfitri tahun ini dirasa tidak mencapai potensi maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya.

"Kalau kinerja pada saat peak season yaitu Ramadhan dan Idulfitri itu sudah tidak maksimal, tentunya ini akan mempengaruhi kinerja 2025 secara keseluruhan. Sebab, puncaknya saja tidak tercapai. Namun, kami masih optimistis kinerja tahun ini bisa tetap lebih baik dari 2024 meski mungkin tidak terlalu signifikan," jelasnya.

Oleh karena itu, pihaknya memperkirakan pertumbuhannya hanya akan berada di kisaran satu digit, atau kurang dari 10 persen. Artinya, laju pertumbuhan tahun ini relatif terbatas dan tidak mencapai dua digit.
 

Pengunjung berfoto bersama karakter Disney saat acara The Grand Adventure with Disney Cruise Land di mal Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (4/7/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P)

Pengunjung berfoto bersama karakter Disney saat acara The Grand Adventure with Disney Cruise Land di mal Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (4/7/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Arief Hermawan P)


Alphonzus menjelaskan bahwa ada dua hal penting yang perlu dilakukan. Pertama dan yang paling utama adalah meningkatkan daya beli masyarakat, khususnya di kalangan kelas menengah ke bawah. Itu menjadi langkah mendasar yang harus segera diupayakan.

Kedua, perlu ada upaya untuk “memperpendek” masa sepi belanja atau low season yang cenderung semakin panjang setiap tahunnya. Caranya adalah dengan rutin menggelar program-program promo belanja agar masa sepi tersebut tidak terlalu lama.

Menurutnya, promo belanja ini tidak hanya menambah daya tarik, tapi juga bisa membantu menopang daya beli masyarakat karena membuat harga barang menjadi lebih terjangkau.

Namun, lantaran upaya pemulihan daya beli masyarakat membutuhkan waktu dan tidak bisa instan, sambil menunggu proses itu berjalan, pelaku industri ritel dan pusat perbelanjaan akan fokus mengadakan lebih banyak promo hingga memasuki musim ramai belanja berikutnya, yakni menjelang Natal dan Tahun Baru.


Strategi Pusat Perbelanjaan

General Manager Mal Ciputra Jakarta, Ferry Irianto, mengatakan bahwa fenomena Rohana dan Rojali sebenarnya bukanlah hal yang baru. Dia menyebut dulu istilah yang dipakai untuk fenomena ini adalah window shopping. Seiring waktu, istilahnya hanya berubah menjadi lebih kekinian, terutama di kalangan Gen Z dan milenial.

Menanggapi anggapan bahwa Rohana dan Rojali membuat transaksi di mal menjadi minim, Ferry memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, kehadiran pengunjung di mal tidak selalu harus diartikan sebagai upaya belanja. Saat ini, relasi antara kunjungan ke mal dan transaksi tidak selalu berjalan seiring.

Ferry menjelaskan bahwa mal di Indonesia punya karakteristik tersendiri dibanding pusat perbelanjaan di negara maju. Mal kini lebih memosisikan diri sebagai social hub atau pusat kegiatan sosial, tempat masyarakat berkumpul, bersosialisasi, dan menikmati berbagai pengalaman, tidak melulu untuk berbelanja.

"Kalau kita bisa lihat sebagai pusat community ya. Jadi ibaratnya banyak hal yang bisa dikerjakan di mall. Mall bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan untuk berbelanja saja," katanya kepada Hypeabis.id
 

Pengunjung berfoto dengan kucing di HARU VILLAGE di Jakarta, Sabtu (21/6/2025).  (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Abdurachman)

Pengunjung berfoto dengan kucing di HARU VILLAGE di Jakarta, Sabtu (21/6/2025). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Abdurachman)


Menurutnya, mal kini telah berfungsi sebagai ruang serbaguna. Mal bisa dimanfaatkan untuk meeting, kegiatan komunitas, hingga kegiatan edukasi keluarga. Hal ini mencerminkan perbedaan konsep mal di Indonesia dibanding negara lain, yang mana fungsi mal lebih luas dan fleksibel sebagai pusat aktivitas sosial.

Di Mal Ciputra sendiri, setiap tahun selalu ada empat momen tematik utama yang menjadi dasar untuk berbagai aktivitas, yakni Tahun Baru Imlek, Ramadan dan Idul Fitri, Back to School, serta akhir tahun. 

Setiap periode itu selalu disiapkan berbagai konsep dan kegiatan khusus, mulai dari dekorasi, acara, hingga promosi, untuk menarik pengunjung dan menciptakan suasana yang berbeda di tiap musim. Lebih lanjut, Ferry menyebut bahwa mal juga menjadi pusat kuliner dan hiburan, seperti restoran, kafe, dan bioskop. 

"Ini berbeda dengan di luar negeri yang memisahkan fungsi-fungsi tersebut dalam bangunan terpisah, di Indonesia semua bisa dijumpai dalam satu bangunan," imuhnya.

Sejauh ini, katanya, jumlah kunjungan pun tergolong stabil, dengan rata-rata 35.000–40.000 orang di hari biasa, dan meningkat menjadi 45.000–55.000 saat akhir pekan atau ada kegiatan khusus. 

Adapun, untuk menyiasati fenomena Rohana dan Rojali, pihaknya rutin membuat berbagai promosi seperti diskon, buy one get one, sistem poin, hingga kegiatan interaktif guna mendorong masyarakat agar tertarik untuk belanja.

Sementara itu, Corporate Communications Grand Indonesia Annisa Hazarini juga menyebut istilah seperti Rojali dan Rohana sebenarnya bukan hal baru. Menurutnya, fenomena orang pergi ke mal dan hanya melihat terlebih dahulu bukanlah suatu hal yang perlu dipermasalahkan.

"Meskipun banyak pengunjung yang hanya melihat-lihat, tetap ada juga yang melakukan pembelian," ucap Annisa kepada Hypeabis.id.

Sebagai pengelola mal, Annisa menegaskan bahwa Grand Indonesia tetap berupaya menciptakan suasana yang nyaman bagi semua pengunjung. Tujuan utamanya tentu agar pelanggan merasa betah dan terdorong untuk berbelanja. Namun, jika ada pengunjung yang hanya datang untuk melihat-lihat tanpa membeli pun tetap dipersilakan.

Terkait tren peningkatan pengunjung tipe Rohana dan Rojali, pihaknya belum memiliki data spesifik yang menunjukkan adanya lonjakan signifikan. Secara umum, Annisa menjelaskan bahwa demografi pengunjung Grand Indonesia sangat beragam.

Pada hari kerja, mayoritas pengunjung Grand Indonesia adalah pekerja kantoran dan profesional. Lalu, saat akhir pekan, profil pengunjung lebih banyak didominasi oleh keluarga. Adapun pada musim libur sekolah, jumlah anak-anak yang datang juga meningkat.
 

Penyanyi Lyodra Ginting tampil pada acara perayaan ulang tahun ke-32 Mal Ciputra di Jakarta, Rabu (26/2/2025). (Sumber gambar: Bisnis/Himawan L Nugraha)

Penyanyi Lyodra Ginting tampil pada acara perayaan ulang tahun ke-32 Mal Ciputra di Jakarta, Rabu (26/2/2025). (Sumber gambar: Bisnis/Himawan L Nugraha)


Annisa menjelaskan bahwa sektor makanan dan minuman (F&B) masih menjadi daya tarik utama bagi pengunjung mal. Hal ini terlihat dari tingginya minat masyarakat terhadap tenant-tenant kuliner yang terus bertambah di Grand Indonesia.

Dia menambahkan, banyak dari tenant F&B tersebut selalu dipadati pengunjung, terutama saat akhir pekan. Hal ini membuktikan bahwa Robeli atau rombongan benar-benar beli masih ada.

Kemudian, Annisa menjelaskan bahwa salah satu strategi Grand Indonesia dalam menarik minat pengunjung adalah melalui penyelenggaraan event dan program belanja berhadiah yang selalu ditunggu oleh pelanggan setia.

Lewat program ini, pelanggan bisa menikmati pengalaman berbelanja yang menyenangkan sekaligus berkesempatan mendapatkan hadiah langsung, sehingga menciptakan suasana yang lebih interaktif dan menarik.

Baca Juga: Tak Sekadar Tempat Belanja, Ini 5 Strategi Mall Agar Tetap Eksis

SEBELUMNYA

Rayakan 10 Tahun Anniversary, DAY6 Umumkan Album Ke-4 dan Tur

BERIKUTNYA

Novel Korpus Uterus dan Realitas Kelam Kekerasan Seksual di Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga