Sasti Gotama Angkat Isu Kekerasan Seksual & Hak Tubuh Perempuan Lewat Novel Korpus Uterus
26 July 2025 |
20:39 WIB
Penulis Sasti Gotama resmi meluncurkan novel terbarunya berjudul Korpus Uterus di Gramedia Jalma, Jakarta, pada Sabtu, 26 Juli 2025. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, novel ini terinspirasi dari berbagai kasus kekerasan dan ketidakadilan yang dialami perempuan di Indonesia.
Korpus Uterus mengikuti karakter bernama Luh yang sangat ingin kembali ke rahim. Sebagai anak hasil pemerkosaan yang berulang kali berusaha digugurkan, dia merasa bahwa dunia fana yang dijalaninya begitu kejam. Dia tidak merasakan kasih sayang sang ibu lantaran dipelihara seperti hewan ternak yang cukup diberikan makan sebanyak 3 kali dalam satu hari.
Baca juga: Ilustrator Emte Luncurkan Buku Life As I Know It, Eksplorasi Soal Perayaan Kesendirian
Sikap sang ibu membuat Luh memutuskan untuk pergi dari rumah. Dia pun bertemu dengan banyak wanita dengan kehamilan yang tidak diinginkan. Kondisi tersebut mendorongnya menjadi ahli aborsi yang sangat mumpuni.
Luh memandang aborsi merupakan jalan agar janin dalam rahim yang tidak diharapkan tidak menemui kenestapaan. Selain itu, aborsi adalah solusi agar para wanita memiliki otonomi atas pilihan. Niat baik menjadi ahli aborsi membuat Luh diburu oleh bahaya. Bersama rahim dalam stoples yang dibawa, dia berkelana sambil menanyakan kembali makna rahim.
Sasti mengungkapkan bahwa novel Korpus Uterus terinspirasi dari kasus pemerkosaan terhadap seorang pelajar perempuan di bawah umur yang terjadi di salah satu daerah di Indonesia pada 2018. Korban yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) mengalami kehamilan akibat kekerasan seksual yang dialaminya.
Dalam kondisi tertekan, korban memutuskan melakukan aborsi ilegal. Tindakannya itu justru memicu stigma dari lingkungan sekitar, dan alih-alih mendapatkan perlindungan, dia malah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan.
Menurut Sasti, kasus ini menggambarkan bagaimana ketidaktahuan, tekanan sosial, dan rumitnya prosedur hukum membuat korban tidak bisa mengakses aborsi legal yang seharusnya menjadi haknya. Dari pengalaman itu, dia merasa terdorong untuk menyuarakan kembali hak atas tubuh dan keadilan bagi perempuan melalui karya fiksi.
“Membaca itu, hati saya dicakar-cakar. Kenapa perempuan mengalami ketidakadilan. Dia kehilangan impian. Dalam kasus ini, banyak perempuan dikeluarkan dari sekolah, kehilangan otonomi atas tubuh. Kehilangan impian,” katanya.
Kasus tersebut memperlihatkan bagaimana trauma dialami oleh korban yang masih di bawah umur. Sasti juga ingin menekankan bahwa akses terhadap aborsi ilegal sebenarnya ada, meski berjalan secara diam-diam dan tidak terpantau. Di sisi lain, prosedur untuk mendapatkan aborsi legal bagi korban pemerkosaan masih terbilang rumit dan tidak mudah diakses.
Melalui novel Korpus Uterus, Sasti berharap lebih banyak perempuan menyadari bahwa solusi-solusi itu ada, meskipun belum banyak diketahui. Ketidaktahuan tersebut sering kali disebabkan oleh kuatnya tabu di masyarakat terhadap isu reproduksi dan kesehatan seksual.
Akibatnya, banyak perempuan mencari informasi secara mandiri dan sering kali keliru dalam menemukan sumber yang tepat. Melalui tokoh-tokoh fiksi dalam novelnya, Sasti menyisipkan pesan penting mengenai pentingnya pendidikan seksual dan akses yang aman terhadap layanan kesehatan reproduksi.
“Sebelum akses aborsi legal, ada juga kontrasepsi darurat. Namun, banyak yang tidak tahu. Harusnya hal-hal seperti itu diketahui oleh banbyak orang. Itu pentingnya buku ini, menyebarkan informasi ini,” ujarnya.
Sasti juga berpikir bahwa novel Korpus Uterus dapat memberikan pelajaran bagi siapa saja yang membaca agar memiliki empati kepada korban pemerkosaan. Trauma berat akan sulit hilang, tidak jarang sampai bertahun-tahun atau dibawa hingga akhir hayat.
Editor penerbit Gramedia Pustaka Utama Ruth Priscilia Angelina mengatakan bahwa novel Korpus Uterus menyimpan banyak hal menarik yang membuatnya layak dibaca. Salah satunya adalah bagaimana pengalaman dan perspektif perempuan ditampilkan secara mendalam.
Menariknya, tokoh utama dalam novel ini, Luh, justru digambarkan sebagai seorang pria. Karakter ini memiliki ketertarikan seksual terhadap dirinya sendiri, bukan kepada orang lain, yang menjadi bagian dari eksplorasi identitas dan tubuh dalam cerita.
Dalam proses penyuntingan Korpus Uterus, Ruth mengungkapkan bahwa revisi yang dilakukan tidak terlalu banyak. Sasti, yang memang sudah berpengalaman, menyampaikan naskah awal yang cukup rapi. Ruth hanya memintanya untuk memeriksa ulang beberapa detail, seperti kecocokan unsur hukum, serta akurasi gaya rambut atau musik yang disebutkan dalam cerita.
Permintaan itu bukan tanpa alasan, karena novel ini menghadirkan latar waktu yang cukup luas, mulai dari tahun 1965 hingga 1998. Keakuratan detail menjadi penting agar alur cerita terasa utuh dan dapat dipercaya. Setelah proses penyuntingan rampung, Gramedia Pustaka Utama mencetak 2.000 eksemplar Korpus Uterus untuk cetakan pertamanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Korpus Uterus mengikuti karakter bernama Luh yang sangat ingin kembali ke rahim. Sebagai anak hasil pemerkosaan yang berulang kali berusaha digugurkan, dia merasa bahwa dunia fana yang dijalaninya begitu kejam. Dia tidak merasakan kasih sayang sang ibu lantaran dipelihara seperti hewan ternak yang cukup diberikan makan sebanyak 3 kali dalam satu hari.
Baca juga: Ilustrator Emte Luncurkan Buku Life As I Know It, Eksplorasi Soal Perayaan Kesendirian
Sikap sang ibu membuat Luh memutuskan untuk pergi dari rumah. Dia pun bertemu dengan banyak wanita dengan kehamilan yang tidak diinginkan. Kondisi tersebut mendorongnya menjadi ahli aborsi yang sangat mumpuni.
Luh memandang aborsi merupakan jalan agar janin dalam rahim yang tidak diharapkan tidak menemui kenestapaan. Selain itu, aborsi adalah solusi agar para wanita memiliki otonomi atas pilihan. Niat baik menjadi ahli aborsi membuat Luh diburu oleh bahaya. Bersama rahim dalam stoples yang dibawa, dia berkelana sambil menanyakan kembali makna rahim.

Buku Korpus Uterus karya Sasti Gotama (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Yudi Supriyanto)
Sasti mengungkapkan bahwa novel Korpus Uterus terinspirasi dari kasus pemerkosaan terhadap seorang pelajar perempuan di bawah umur yang terjadi di salah satu daerah di Indonesia pada 2018. Korban yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) mengalami kehamilan akibat kekerasan seksual yang dialaminya.
Dalam kondisi tertekan, korban memutuskan melakukan aborsi ilegal. Tindakannya itu justru memicu stigma dari lingkungan sekitar, dan alih-alih mendapatkan perlindungan, dia malah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan.
Menurut Sasti, kasus ini menggambarkan bagaimana ketidaktahuan, tekanan sosial, dan rumitnya prosedur hukum membuat korban tidak bisa mengakses aborsi legal yang seharusnya menjadi haknya. Dari pengalaman itu, dia merasa terdorong untuk menyuarakan kembali hak atas tubuh dan keadilan bagi perempuan melalui karya fiksi.
“Membaca itu, hati saya dicakar-cakar. Kenapa perempuan mengalami ketidakadilan. Dia kehilangan impian. Dalam kasus ini, banyak perempuan dikeluarkan dari sekolah, kehilangan otonomi atas tubuh. Kehilangan impian,” katanya.
Kasus tersebut memperlihatkan bagaimana trauma dialami oleh korban yang masih di bawah umur. Sasti juga ingin menekankan bahwa akses terhadap aborsi ilegal sebenarnya ada, meski berjalan secara diam-diam dan tidak terpantau. Di sisi lain, prosedur untuk mendapatkan aborsi legal bagi korban pemerkosaan masih terbilang rumit dan tidak mudah diakses.
Melalui novel Korpus Uterus, Sasti berharap lebih banyak perempuan menyadari bahwa solusi-solusi itu ada, meskipun belum banyak diketahui. Ketidaktahuan tersebut sering kali disebabkan oleh kuatnya tabu di masyarakat terhadap isu reproduksi dan kesehatan seksual.
Akibatnya, banyak perempuan mencari informasi secara mandiri dan sering kali keliru dalam menemukan sumber yang tepat. Melalui tokoh-tokoh fiksi dalam novelnya, Sasti menyisipkan pesan penting mengenai pentingnya pendidikan seksual dan akses yang aman terhadap layanan kesehatan reproduksi.
“Sebelum akses aborsi legal, ada juga kontrasepsi darurat. Namun, banyak yang tidak tahu. Harusnya hal-hal seperti itu diketahui oleh banbyak orang. Itu pentingnya buku ini, menyebarkan informasi ini,” ujarnya.
Sasti juga berpikir bahwa novel Korpus Uterus dapat memberikan pelajaran bagi siapa saja yang membaca agar memiliki empati kepada korban pemerkosaan. Trauma berat akan sulit hilang, tidak jarang sampai bertahun-tahun atau dibawa hingga akhir hayat.
Editor penerbit Gramedia Pustaka Utama Ruth Priscilia Angelina mengatakan bahwa novel Korpus Uterus menyimpan banyak hal menarik yang membuatnya layak dibaca. Salah satunya adalah bagaimana pengalaman dan perspektif perempuan ditampilkan secara mendalam.
Menariknya, tokoh utama dalam novel ini, Luh, justru digambarkan sebagai seorang pria. Karakter ini memiliki ketertarikan seksual terhadap dirinya sendiri, bukan kepada orang lain, yang menjadi bagian dari eksplorasi identitas dan tubuh dalam cerita.
Dalam proses penyuntingan Korpus Uterus, Ruth mengungkapkan bahwa revisi yang dilakukan tidak terlalu banyak. Sasti, yang memang sudah berpengalaman, menyampaikan naskah awal yang cukup rapi. Ruth hanya memintanya untuk memeriksa ulang beberapa detail, seperti kecocokan unsur hukum, serta akurasi gaya rambut atau musik yang disebutkan dalam cerita.
Permintaan itu bukan tanpa alasan, karena novel ini menghadirkan latar waktu yang cukup luas, mulai dari tahun 1965 hingga 1998. Keakuratan detail menjadi penting agar alur cerita terasa utuh dan dapat dipercaya. Setelah proses penyuntingan rampung, Gramedia Pustaka Utama mencetak 2.000 eksemplar Korpus Uterus untuk cetakan pertamanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.