Hypereport: Menciptakan Rumah yang Layak untuk Pulang dalam Keterbatasan Ruang
01 August 2025 |
21:17 WIB
Rumah bukan sekadar bangunan tempat berlindung dari panas, hujan, atau bahaya fisik. Rumah menyimpan banyak makna psikologis yang memengaruhi cara seseorang membentuk identitas, rssa aman, hingga ikatan emosional dengan anggota keluarga yang tinggal berdampingan di dalamnya.
Sebagai upaya menyediakan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pemerintah telah lama menggulirkan program rumah subsidi. Namun, di tengah krisis lahan dan tingginya harga properti, banyak rumah subsidi dibangun dengan ukuran yang sangat kecil, bahkan dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi fungsi ideal sebagai sebuah hunian.
“Rumah itu mewakili banyak nilai psikologis, salah satu fungsi paling mendasar adalah sebagai penanda sense of identity dan sense of self, dua hal penting dalam pembentukan jati diri seseorang," kata psikolog klinis, Istiana Tajuddin kepada Hypeabis.id.
Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Tinggal di Kota Kian Sulit? Saatnya Cari Cara Baru Punya Rumah
2. Hypereport: Generasi Muda Mulai Minati Kepemilikan Rumah, tapi Dihantui Pesimisme
3. Hypereport: Model dan Skema Rumah Subsidi di Luar Negeri, Singapura sampai India
4. Hypereport: Saat Kepemilikan Tempat Tinggal di Tengah Kota Makin Tak Masuk Akal
Menurutnya, identitas seseorang sering kali terkait dengan di mana dan bagaimana dia tinggal. Misalnya, kalau dia bilang rumahnya di kawasan tertentu yang dikenal elit, kita bisa langsung menebak kondisi ekonominya. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang tinggal di rumah susun atau rumah subsidi. Hal ini menunjukkan bahwa rumah juga menjadi cerminan status sosial sekaligus identitas diri.
Namun di balik aspek identitas, fungsi rumah sebagai ruang aman yang memenuhi aspek security dan comfort, justru menjadi krusial. Setiap orang butuh ruang pribadi, kalau dalam rumah tidak ada ruang untuk mengurus diri sendiri, misalnya tak punya kamar sendiri, maka rasa aman dan privasinya bisa terancam. Ruang pribadi penting bagi setiap individu untuk merasa memiliki kontrol, melakukan aktivitas personal, hingga beristirahat tanpa gangguan.
"Namun pada kenyataannya, banyak rumah subsidi berukuran sangat terbatas. Misalnya, rumah 4x4 m (16 m²) dihuni 4-5 orang. Ruang yang sempit akan meningkatkan frekuensi interaksi dan itu rentan konflik jika tak dikelola dengan baik," ujar Istiana.
Sebab, fungsi rumah juga harus bisa mendukung interaksi sosial dan nilai-nilai yang dibentuk anggota keluarga. Dalam satu rumah yang dihuni oleh tiga generasi misalnya, kakek-nenek, ayah ibu, dan anak, konflik kerap kali muncul dari perbedaan nilai yang dianut masing-masing pihak.
Dia mencontohkan situasi di mana seseorang tinggal bersama mertuanya. Hubungan antara orang tua dan anak kandung biasanya telah terbentuk sejak lama dan kuat, sementara menantu membawa nilai dan kebiasaan dari keluarga asalnya.
“Kalau terus-menerus tinggal di situ, secara tidak langsung rumah akan didominasi oleh nilai keluarga yang memang tinggal lebih dulu di sana,” jelasnya.
Dalam situasi ini, menantu bisa merasa kesulitan mempertahankan kebiasaan atau nilai yang selama ini dia jalani. Misalnya, dia terbiasa makan bersama setiap hari karena menganggap itu penting dalam menjaga kedekatan keluarga.
Namun, di rumah mertuanya, semua orang terbiasa makan sendiri-sendiri. Ketika ingin menerapkan kebiasaan makan bersama di rumah itu, dia akan kesulitan. Perbedaan ini bisa menimbulkan tekanan emosional dan pada akhirnya berdampak pada pola asuh serta nilai yang diturunkan ke anak-anak.
Agar rumah tetap menjadi tempat yang nyaman bagi semua anggota keluarga, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami kebutuhan masing-masing. “Setiap orang perlu memahami dulu apa yang mereka butuhkan, lalu saling memahami kebutuhan satu sama lain,” kata Istiana.
Setelah itu, penting untuk menyepakati aturan hidup bersama yang berakar pada nilai keluarga yang ingin dibangun. Misalnya, jika nilai utama dalam rumah adalah respect, maka bentuk konkretnya bisa berupa kebiasaan mengetuk pintu sebelum masuk kamar atau tidak memakai barang tanpa izin.
Komunikasi pun penting dalam pengaturan aktivitas harian, terutama jika ruangan sangat terbatas. Jadwal penggunaan kamar mandi misalnya, perlu disepakati agar tidak menimbulkan konflik di pagi hari saat semua orang bersiap beraktivitas.
Terakhir Istiana menekankan pentingnya peran pemerintah tidak hanya sebatas menyediakan rumah. Namun, juga perlu memberi edukasi bagaimana mengatur ruang, menciptakan sirkulasi udara yang cukup, hingga mengelola relasi dalam rumah kecil. Ini penting agar masyarakat tidak hanya punya tempat tinggal, tetapi juga tempat yang sehat secara fisik dan mental.
Ukuran rumah bukan satu-satunya penentu kebahagiaan dan keharmonisan keluarga. Dengan pengelolaan ruang yang cermat, komunikasi yang terbuka, serta kesadaran akan nilai dan kebutuhan bersama, rumah sempit pun bisa menjadi tempat tumbuh yang ideal bagi anak-anak dan tempat pulang yang hangat bagi seluruh keluarga.
"Efektivitas rumah sebagai ruang beristirahat dan membangun kehidupan keluarga yang sehat bergantung pada jumlah penghuni, kebutuhan penghuni dan efisiensi penataan ruang," katanya pada Hypeabis.id.
Berdasarkan SNI 03-1733-2004, rumah seluas 36 m² dinilai cukup untuk keluarga dengan empat anggota, yaitu sekitar 9 m² per jiwa. Namun, penelitian oleh Puslitbang permukiman pada 2011 menunjukkan bahwa kenyamanan ruang gerak dan aktivitas dasar keluarga seperti tidur, makan, dan MCK idealnya memerlukan luas rumah sekitar 47,56 m² atau 11,89 m² per jiwa.
Dengan luasnya yang terbatas, maka ruang-ruang fungsional yang bisa dibuat dalam rumah subsidi yakni sebagai berikut:
Untuk memanfaatkan ukuran tanah 60-200 m², jika halaman belakang maupun depan cukup luas, area ini dapat difungsikan lebih fleksibel, seperti menjadi dapur semi-outdoor, area kerja terbuka, atau ruang serbaguna keluarga yang bisa digunakan untuk aktivitas fisik di bagian belakang. Sementara di halaman depan bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam, bahkan edukasi anak di rumah.
Dengan memindahkan sebagian fungsi pendukung ke halaman misalnya ruang cuci, taman, area bermain, interior rumah yang sempit dapat lebih fokus untuk ruang utama, seperti kamar tidur dan ruang keluarga. Strategi ini tidak hanya membuat rumah lebih efisien dan sehat, tetapi juga lebih nyaman untuk keluarga muda dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, Syarifah membagikan kiat-kiat mengenai bagaimana cara mengatur zona aktivitas dalam rumah yang terbatas, seperti area tidur, bermain anak, bekerja, dan menerima tamu, agar tidak tumpang tindih.
"Salah satu pendekatan dalam mengatur zona aktivitas dalam rumah yang terbatas adalah dengan optimalisasi ruang berdasarkan zonanya," paparnya.
Perlu diterapkan konsep zona waktu supaya ruang bisa digunakan secara bergantian sesuai waktu aktivitas. Misalnya, di pagi hari ruang tengah dapat difungsikan sebagai area kerja, siang sebagai tempat bermain anak, dan malam sebagai ruang tidur tambahan. Hal ini memungkinkan ruang yang sempit tetap memenuhi berbagai kebutuhan tanpa harus menambah luas bangunan.
Jika jumlah anggota keluarga bertambah di kemudian hari, berikut penataan ruang yang bisa diterapkan agar rumah kecil bisa tetap nyaman dan fungsional untuk seluruh anggota keluarga. Simak kiat-kiatnya.
Terapkan Prinsip Rumah Tumbuh
Rancang rumah dengan struktur yang memungkinkan perluasan ke atas atau ke samping di kemudian hari. Misalnya, struktur fondasi dibuat untuk dua lantai meski awalnya hanya dibangun satu lantai. Ruang depan bisa disiapkan sebagai carport, yang nantinya dapat ditutup dan diubah menjadi kamar baru jika jumlah anggota keluarga bertambah.
Terapkan Zona Fleksibel
Tidak membagi ruang dengan tembok, melainkan dengan zona fungsional terbuka yang dapat berubah kegunaannya sepanjang hari. Misalnya, ruang tamu di pagi hari dapat menjadi ruang kerja atau ruang tidur tambahan di malam hari. Gunakan partisi non-permanen, seperti tirai, rak buku terbuka, atau panel geser untuk menciptakan privasi yang fleksibel.
Perhatikan Sirkulasi Udara dan Cahaya
Penambahan ruang atau furnitur tidak boleh mengorbankan ventilasi dan pencahayaan alami. Gunakan jendela tinggi, lubang angin, atau void agar ruangan tetap terang dan sejuk meski semakin padat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sebagai upaya menyediakan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pemerintah telah lama menggulirkan program rumah subsidi. Namun, di tengah krisis lahan dan tingginya harga properti, banyak rumah subsidi dibangun dengan ukuran yang sangat kecil, bahkan dinilai belum sepenuhnya mampu memenuhi fungsi ideal sebagai sebuah hunian.
“Rumah itu mewakili banyak nilai psikologis, salah satu fungsi paling mendasar adalah sebagai penanda sense of identity dan sense of self, dua hal penting dalam pembentukan jati diri seseorang," kata psikolog klinis, Istiana Tajuddin kepada Hypeabis.id.
Baca juga laporan terkait:
1. Hypereport: Tinggal di Kota Kian Sulit? Saatnya Cari Cara Baru Punya Rumah
2. Hypereport: Generasi Muda Mulai Minati Kepemilikan Rumah, tapi Dihantui Pesimisme
3. Hypereport: Model dan Skema Rumah Subsidi di Luar Negeri, Singapura sampai India
4. Hypereport: Saat Kepemilikan Tempat Tinggal di Tengah Kota Makin Tak Masuk Akal
Menurutnya, identitas seseorang sering kali terkait dengan di mana dan bagaimana dia tinggal. Misalnya, kalau dia bilang rumahnya di kawasan tertentu yang dikenal elit, kita bisa langsung menebak kondisi ekonominya. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang tinggal di rumah susun atau rumah subsidi. Hal ini menunjukkan bahwa rumah juga menjadi cerminan status sosial sekaligus identitas diri.
Namun di balik aspek identitas, fungsi rumah sebagai ruang aman yang memenuhi aspek security dan comfort, justru menjadi krusial. Setiap orang butuh ruang pribadi, kalau dalam rumah tidak ada ruang untuk mengurus diri sendiri, misalnya tak punya kamar sendiri, maka rasa aman dan privasinya bisa terancam. Ruang pribadi penting bagi setiap individu untuk merasa memiliki kontrol, melakukan aktivitas personal, hingga beristirahat tanpa gangguan.
"Namun pada kenyataannya, banyak rumah subsidi berukuran sangat terbatas. Misalnya, rumah 4x4 m (16 m²) dihuni 4-5 orang. Ruang yang sempit akan meningkatkan frekuensi interaksi dan itu rentan konflik jika tak dikelola dengan baik," ujar Istiana.
Sebab, fungsi rumah juga harus bisa mendukung interaksi sosial dan nilai-nilai yang dibentuk anggota keluarga. Dalam satu rumah yang dihuni oleh tiga generasi misalnya, kakek-nenek, ayah ibu, dan anak, konflik kerap kali muncul dari perbedaan nilai yang dianut masing-masing pihak.
Dia mencontohkan situasi di mana seseorang tinggal bersama mertuanya. Hubungan antara orang tua dan anak kandung biasanya telah terbentuk sejak lama dan kuat, sementara menantu membawa nilai dan kebiasaan dari keluarga asalnya.
“Kalau terus-menerus tinggal di situ, secara tidak langsung rumah akan didominasi oleh nilai keluarga yang memang tinggal lebih dulu di sana,” jelasnya.
Dalam situasi ini, menantu bisa merasa kesulitan mempertahankan kebiasaan atau nilai yang selama ini dia jalani. Misalnya, dia terbiasa makan bersama setiap hari karena menganggap itu penting dalam menjaga kedekatan keluarga.
Namun, di rumah mertuanya, semua orang terbiasa makan sendiri-sendiri. Ketika ingin menerapkan kebiasaan makan bersama di rumah itu, dia akan kesulitan. Perbedaan ini bisa menimbulkan tekanan emosional dan pada akhirnya berdampak pada pola asuh serta nilai yang diturunkan ke anak-anak.
Agar rumah tetap menjadi tempat yang nyaman bagi semua anggota keluarga, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami kebutuhan masing-masing. “Setiap orang perlu memahami dulu apa yang mereka butuhkan, lalu saling memahami kebutuhan satu sama lain,” kata Istiana.
Setelah itu, penting untuk menyepakati aturan hidup bersama yang berakar pada nilai keluarga yang ingin dibangun. Misalnya, jika nilai utama dalam rumah adalah respect, maka bentuk konkretnya bisa berupa kebiasaan mengetuk pintu sebelum masuk kamar atau tidak memakai barang tanpa izin.
Komunikasi pun penting dalam pengaturan aktivitas harian, terutama jika ruangan sangat terbatas. Jadwal penggunaan kamar mandi misalnya, perlu disepakati agar tidak menimbulkan konflik di pagi hari saat semua orang bersiap beraktivitas.
Terakhir Istiana menekankan pentingnya peran pemerintah tidak hanya sebatas menyediakan rumah. Namun, juga perlu memberi edukasi bagaimana mengatur ruang, menciptakan sirkulasi udara yang cukup, hingga mengelola relasi dalam rumah kecil. Ini penting agar masyarakat tidak hanya punya tempat tinggal, tetapi juga tempat yang sehat secara fisik dan mental.
Ukuran rumah bukan satu-satunya penentu kebahagiaan dan keharmonisan keluarga. Dengan pengelolaan ruang yang cermat, komunikasi yang terbuka, serta kesadaran akan nilai dan kebutuhan bersama, rumah sempit pun bisa menjadi tempat tumbuh yang ideal bagi anak-anak dan tempat pulang yang hangat bagi seluruh keluarga.
Pengaturan Ruang dalam Rumah yang Ideal untuk Keluarga
Syarifah Syaukat, pengamat properti dari Knight Frank Indonesia menyampaikan, rumah subsidi dengan luas kisaran 21-36 m² dapat memenuhi fungsi dasar sebagai tempat berlindung. Namun, belum tentu bisa memenuhi fungsi untuk istirahat dan membangun keluarga yang sehat."Efektivitas rumah sebagai ruang beristirahat dan membangun kehidupan keluarga yang sehat bergantung pada jumlah penghuni, kebutuhan penghuni dan efisiensi penataan ruang," katanya pada Hypeabis.id.
Berdasarkan SNI 03-1733-2004, rumah seluas 36 m² dinilai cukup untuk keluarga dengan empat anggota, yaitu sekitar 9 m² per jiwa. Namun, penelitian oleh Puslitbang permukiman pada 2011 menunjukkan bahwa kenyamanan ruang gerak dan aktivitas dasar keluarga seperti tidur, makan, dan MCK idealnya memerlukan luas rumah sekitar 47,56 m² atau 11,89 m² per jiwa.
Dengan luasnya yang terbatas, maka ruang-ruang fungsional yang bisa dibuat dalam rumah subsidi yakni sebagai berikut:
- Rumah subsidi ukuran 21 m²: Terdiri dari 1 ruang serbaguna (gabungan ruang keluarga, ruang makan, dapur) dengan luas 12 - 14 m², 1 kamar mandi (2 m²), dan 1 kamar tidur (5 m²). Total terdapat 3 ruang fungsional.
- Rumah subsidi ukuran 36 m²: Terdiri dari 2 kamar tidur (utama ±8 m², anak ±6 m²), 1 ruang keluarga + ruang makan (8 - 10 m²), 1 dapur (6 m²), 1 kamar mandi (3 - 4 m²), dan 1 ruang teras (3 - 4 m²). Total terdapat 5 ruang fungsional.
Untuk memanfaatkan ukuran tanah 60-200 m², jika halaman belakang maupun depan cukup luas, area ini dapat difungsikan lebih fleksibel, seperti menjadi dapur semi-outdoor, area kerja terbuka, atau ruang serbaguna keluarga yang bisa digunakan untuk aktivitas fisik di bagian belakang. Sementara di halaman depan bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam, bahkan edukasi anak di rumah.
Dengan memindahkan sebagian fungsi pendukung ke halaman misalnya ruang cuci, taman, area bermain, interior rumah yang sempit dapat lebih fokus untuk ruang utama, seperti kamar tidur dan ruang keluarga. Strategi ini tidak hanya membuat rumah lebih efisien dan sehat, tetapi juga lebih nyaman untuk keluarga muda dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, Syarifah membagikan kiat-kiat mengenai bagaimana cara mengatur zona aktivitas dalam rumah yang terbatas, seperti area tidur, bermain anak, bekerja, dan menerima tamu, agar tidak tumpang tindih.
"Salah satu pendekatan dalam mengatur zona aktivitas dalam rumah yang terbatas adalah dengan optimalisasi ruang berdasarkan zonanya," paparnya.
- Zona istirahat dapat diletakkan di sudut ruang dengan bantuan partisi ringan atau tirai.
- Zona sosial di dekat pintu masuk untuk menerima tamu, menggunakan sofa lipat atau dudukan rendah yang fleksibel dapat dipindahkan atau disimpan jika tidak digunakan.
- Zona bermain anak di area terbuka atau di bagian tengah rumah yang dapat dirapikan saat tidak digunakan.
- Zona kerja di sudut dinding dengan meja lipat atau rak dinding agar tidak memakan banyak tempat.
Perlu diterapkan konsep zona waktu supaya ruang bisa digunakan secara bergantian sesuai waktu aktivitas. Misalnya, di pagi hari ruang tengah dapat difungsikan sebagai area kerja, siang sebagai tempat bermain anak, dan malam sebagai ruang tidur tambahan. Hal ini memungkinkan ruang yang sempit tetap memenuhi berbagai kebutuhan tanpa harus menambah luas bangunan.
Jika jumlah anggota keluarga bertambah di kemudian hari, berikut penataan ruang yang bisa diterapkan agar rumah kecil bisa tetap nyaman dan fungsional untuk seluruh anggota keluarga. Simak kiat-kiatnya.
Terapkan Prinsip Rumah Tumbuh
Rancang rumah dengan struktur yang memungkinkan perluasan ke atas atau ke samping di kemudian hari. Misalnya, struktur fondasi dibuat untuk dua lantai meski awalnya hanya dibangun satu lantai. Ruang depan bisa disiapkan sebagai carport, yang nantinya dapat ditutup dan diubah menjadi kamar baru jika jumlah anggota keluarga bertambah.
Terapkan Zona Fleksibel
Tidak membagi ruang dengan tembok, melainkan dengan zona fungsional terbuka yang dapat berubah kegunaannya sepanjang hari. Misalnya, ruang tamu di pagi hari dapat menjadi ruang kerja atau ruang tidur tambahan di malam hari. Gunakan partisi non-permanen, seperti tirai, rak buku terbuka, atau panel geser untuk menciptakan privasi yang fleksibel.
Perhatikan Sirkulasi Udara dan Cahaya
Penambahan ruang atau furnitur tidak boleh mengorbankan ventilasi dan pencahayaan alami. Gunakan jendela tinggi, lubang angin, atau void agar ruangan tetap terang dan sejuk meski semakin padat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.