Pemukiman (Sumber Foto: Freepik/wirestock)

Hypereport: Model dan Skema Rumah Subsidi di Luar Negeri, Singapura sampai India

30 July 2025   |   21:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Krisis keterjangkauan perumahan menjadi isu global yang mendorong berbagai negara untuk merancang model rumah subsidi dengan model dan pendekatan yang berbeda-beda. Tujuannya supaya masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, tetap bisa mengakses hunian layak dengan harga yang sesuai kemampuan.

Masing-masing negara mengembangkan konsep rumah subsidi yang beragam, mulai dari unit mikro di kota-kota padat seperti Singapura, hingga rumah bertahap yang dapat diperluas secara mandiri seperti di Chile. 

Baca juga: Hypereport: Generasi Muda Mulai Minati Kepemilikan Rumah, tapi Dihantui Pesimisme

Meski tujuannya serupa, yakni menyediakan hunian layak bagi kelompok berpenghasilan rendah. Namun, desain, ukuran, dan strategi pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, ekonomi, dan geografis masyarakat setempat. Berikut model-model rumah subsidi di berbagai negara, informasi dikutip dari laman resmi pemerintah setempat dan sumber lainnya.


1. Singapura

Singapura dikenal luas sebagai negara dengan sistem perumahan rakyat paling sukses di dunia. Sekitar 80 persen warganya tinggal di rumah yang dibangun oleh pemerintah lewat lembaga Housing and Development Board (HDB), dan sebagian besar dari mereka memiliki rumah tersebut melalui skema kepemilikan jangka panjang. 

Pemerintah memberikan subsidi dalam bentuk hibah uang muka, pinjaman berbunga rendah, serta memfasilitasi penggunaan tabungan pensiun Central Provident Fund (CPF) untuk membeli rumah. 

Mengutip laman resmi pemerintahan Singapura, gov.sg, ukuran rumah subsidi di Singapura terdiri dari beberapa tipe, seperti 2 Room sekitar 35–47 m², 3 Room sekitar 65 m², 4 Room sekitar 90–95 m², dan 5 Room sekitar 107–118 m². Ada juga tipe 3-Gen untuk tiga generasi keluarga yang luasnya hingga 118 m².


2. Austria (Wina) 

Wina, ibu kota Austria, menjadi contoh ideal sistem perumahan sosial berbasis sewa yang dikembangkan oleh asosiasi nirlaba (limited-profit housing associations). Sekitar 60 persen penduduk Wina tinggal di rumah subsidi, dan setengah dari itu disediakan oleh pemerintah kota. 

Ukuran perumahan subsidi di Wina beragam, mulai dari MART Flats (unit compact) berukuran kurang dari 60 m², bahkan ada yang sekitar 50 m². Unit keluarga standar (jenis 1‑2‑3 kamar) rata-rata sekitar 80 m².

Bangunan subsidi di Wina dirancang oleh arsitek ternama dan dilengkapi fasilitas umum seperti taman bermain, pusat komunitas, dan ruang terbuka hijau. 


3. Jepang

Perumahan subsidi di Jepang terbagi dalam dua model utama, yakni Kōei Jūtaku (public housing) yang dikelola pemerintah lokal dan UR Housing yang dikelola oleh lembaga semipublik Urban Renaissance Agency. 

Public housing ditujukan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, lansia, penyandang disabilitas, hingga keluarga tunggal, dengan proses seleksi melalui sistem undian karena tingginya permintaan. Unit yang disediakan biasanya berukuran antara 33 hingga 60 meter persegi, dengan sewa jauh di bawah harga pasar. 

Sementara itu, UR Housing terbuka untuk semua kalangan, termasuk ekspatriat, tanpa persyaratan guarantor maupun biaya tambahan seperti key money. Unit UR umumnya lebih luas dan modern, dengan ukuran rata-rata sekitar 45-66 meter persegi. 


4. China

Perumahan subsidi di China dibagi menjadi tiga, perumahan sewa publik (public rental housing) untuk keluarga berpenghasilan rendah di perkotaan, perumahan sewa bersubsidi pemerintah untuk pendatang baru dan generasi muda, serta perumahan kepemilikan bersama (shared‑ownership homes) bagi penduduk berpenghasilan menengah yang belum mampu membeli rumah pasar. 

Baca juga: Hypereport: Tinggal di Kota Kian Sulit? Saatnya Cari Cara Baru Punya Rumah

Rumah sewa publik biasanya memiliki luas di bawah 60 m², dengan tarif sewa sekitar 360-720 RMB/bulan atau 30 persen lebih rendah dari pasar seperti di Changsha. Di Shanghai (distrik Yangpu), unit berukuran 50-64 m² disewakan pada harga 20 persen lebih rendah dari pasar, yakni sekitar RMB 3.900-5.500/bulan. 

Sementara unit shared‑ownership disediakan dengan ukuran hingga 70 m², dan dijual sekitar 10-20 persen di bawah harga pasar, di mana pembeli umumnya memiliki minimal 60 persen ekuitas dan pemerintah memegang sisanya. 


5. Swedia 

Rumah subsidi di Swedia dikelola melalui sistem Allmännyttan, yaitu perumahan sewa publik yang mencakup sekitar 20 persen dari total stok hunian nasional dan ditujukan untuk berbagai kalangan, mulai dari keluarga menengah hingga kelompok rentan. 

Mengutip The European Housing Coop, unit yang ditawarkan memiliki ukuran beragam, mulai dari studio 39 m² untuk individu lajang hingga apartemen 4-5 kamar yang luasnya lebih dari 100 m² untuk keluarga besar. Model lawas dari Million Programme juga masih banyak digunakan, menawarkan unit berukuran sekitar 75 m² untuk keluarga inti. 

Sistem sewa ditentukan melalui prinsip ongkos-biaya, sehingga tarifnya cenderung stabil dan terjangkau, sekitar 20-25 persen dari pendapatan bulanan. 


6. Chile 

Di Chile, perumahan bersubsidi terbagi menjadi beberapa model utama, termasuk bantuan pembelian rumah (subsidy DS-49, DS-1, DS-19) dan proyek perumahan sosial partisipatif seperti Quinta Monroy di Iquique hasil rancangan Alejandro Aravena. 

Dalam program DS-49 (untuk rumah tangga sangat miskin), ukuran minimum unit adalah sekitar 42 m² untuk 2 kamar tidur. Untuk kelompok menengah (DS‑1, DS‑19), unit 1‑2 kamar biasanya berkisar 37-58 m², dengan desain efisien sesuai regulasi pemerintah

Sementara itu, dalam proyek Quinta Monroy, pemerintah memberikan subsidi US $7.500 per keluarga yang hanya cukup membangun 36 m² (setengah unit rumah) di lahan seluas total sekitar 5000 m² untuk 93 keluarga. Struktur dasar tersebut mencakup rangka bangunan, tangga, plumbing, dan toilet/kitchen, sementara sisanya dirancang agar dapat dikembangkan sendiri oleh penghuni hingga mencapai total luas sekitar 72 m²


7. India

Rumah subsidi di India dirancang untuk memenuhi kebutuhan kelompok berpenghasilan rendah atau Economically Weaker Section (EWS) dan kelompok berpenghasilan menengah rendah atau Low Income Group (LIG). Skema ini dijalankan melalui program Pradhan Mantri Awas Yojana (PMAY), yang dibagi menjadi PMAY-Gramin (rural) dan PMAY-Urban (urban). 

PMAY-Urban (PMAY-U): Rumah untuk EWS memiliki luas bangunan hingga 30 meter persegi, sedangkan untuk LIG hingga 60 meter persegi (645 kaki persegi). Namun, di banyak proyek perkotaan, ukuran rata-rata adalah 25-30 meter persegi untuk menekan biaya.

Baca juga: Hypereport: Empat Fase Besar Jakarta Menuju 2045

Desainnya terdiri dari 1 kamar tidur, ruang tamu/dapur terintegrasi, dan kamar mandi kecil. Desain ini dioptimalkan untuk keluarga kecil dengan 2-3 anggota.

PMAY-Gramin (PMAY-G): Memiliki ukuran minimum 25 meter persegi, termasuk dapur higienis dan toilet. Hunian layak di pedesaan ini dibangun dengan biaya rendah, menggunakan material lokal seperti bata dan beton.

SEBELUMNYA

Tren Baru, Serangan Jantung di Usia Muda Meningkat Drastis

BERIKUTNYA

Praktik Judi Online Melalui Dompet Digital Makin Marak, Begini Cara Mencegahnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga