Hypereport: Tinggal di Kota Kian Sulit? Saatnya Cari Cara Baru Punya Rumah
28 July 2025 |
17:46 WIB
Krisis lahan dan makin tingginya harga properti menjadi dua tantangan utama masyarakat untuk memiliki hunian di perkotaan. Di tengah tantangan tersebut, terdapat beberapa konsep hunian yang dapat diterapkan untuk bisa membuka akses masyarakat untuk punya tempat tinggal di perkotaan.
Menurut Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Georgius Budi Yulianto, ada dua alternatif yang bisa digunakan untuk menghadirkan hunian di perkotaan dengan lahan yang semakin terbatas. Pertama, pemerintah bisa membangun rumah tapak dengan konsep rumah tumbuh. Sementara yang kedua yakni hunian vertikal.
Baca juga: Hypereport: Mencari Solusi Tingkatkan Akses Hunian Layak di Jakarta
Rumah tersebut bisa dibangun dengan mengoptimalkan ruang bawah atap sebagai area tumbuhnya. Misalnya, membangun modul 6 x 6 meter persegi dengan satu kamar tidur, satu ruangan besar (untuk ruang keluarga atau ruang makan), satu dapur dan kamar mandi.
Nantinya, penghuni bisa mengembangkan rumah mereka pada bagian atas dengan memanfaatkan ruang bawah atap. "Dengan catatan lantai, struktur, dan tangganya sudah dipersiapkan, jadi nanti penghuni tinggal menambahkan dinding, partisi pintu dan jendela saja," katanya kepada Hypeabis.id.
Rumah tumbuh dapat diartikan sebagai hunian yang bisa dibangun bertahap sesuai pertumbuhan keperluan anggota keluarga, pertimbangan anggaran pemilik rumah, serta skala prioritas.
Pertumbuhan tersebut bisa berupa penambahan massa dan luas bangunan ke samping bila tanah cukup luas (jenis rumah tumbuh horizontal), ataupun peningkatan lantai bangunan terutama untuk bangunan di lahan terbatas (jenis rumah tumbuh vertikal).
Salah satu arsitek yang telah mendesain sejumlah proyek rumah tumbuh ialah Yu Sing dari Akar Anomali (Akanoma) Studio. Sejak tahun 2007, biro desain yang berbasis di Bandung itu telah melayani berbagai desain rumah murah, dengan anggaran klien mulai dari Rp100 juta-Rp200 jutaan.
Misalnya, rumah mikro dengan total luas 15 meter persegi yang dibangun tahun 2019. Rumah itu terdiri dari 2 kamar tidur, pantry yang ada di bawah tangga, kamar mandi, dan ruang multifungsi. Selain itu, ada juga bangku/bench bawah berukuran 60 cm x 200 cm yang bisa juga dipakai tidur, sehingga maksimal bisa untuk tidur 4 orang.
Lalu hadir ruangan mezanin dengan tinggi lantai 220 cm, dengan 6 anak tangga yang masing-masing lebarnya 60 cm. Untuk lantai, digunakan panel kalsit tebal 12-20 mm. Untuk membangun rumah tersebut, dibutuhkan lahan minimal 3 meter x 6 meter, agar ada sisa taman samping dan ruang jemur di belakang sekitar 1 meter.
"Rumah ukuran 15 meter persegi itu kalau untuk keluarga pasti akan kurang ya, lebih cocok untuk pasangan yang tidak punya anak atau single. Tapi kami buat juga beberapa tipe rumah tumbuh lain yang bisa lebih untuk keluarga," katanya.
Yu Sing mengusulkan, di tengah tantangan keterbatasan lahan khususnya di wilayah perkotaan, sebaiknya pengembang menjual rumah dengan luas tanah 72 meter persegi, namun dengan konsep rumah mikro sehingga menyisakan lahan kosong yang luas. Dengan begitu, nantinya bisa ditambah 1-2 unit rumah mikro lagi di lahan yang sama seiring bertambahnya anggota keluarga.
Konsep itu juga pernah dibuat oleh Yu Sing bersama rekan-rekan di Akanoma, dengan mendesain 2 rumah mikro yang menempel di atas lahan 49 meter persegi. "Selain bisa tumbuh, rumah mikro juga bisa didesain khusus, tidak standar, tidak pasaran, dibikin unik, dan sebagainya, tergantung anggaran tentunya," imbuhnya.
Selain rumah tapak tumbuh, hunian vertikal juga bisa menjadi opsi tempat tinggal di perkotaan. Yu Sing mengatakan alih-alih menghadirkan rumah kecil di lahan sempit, pemerintah sebaiknya membangun hunian vertikal khususnya di wilayah perkotaan, yang bisa memberikan kemudahan aksesibilitas serta dekat dengan berbagai fasilitas umum dan sosial yang bisa dijangkau oleh masyarakat.
Misalnya, di lahan seluas 100 meter persegi, bisa dibangun sebuah bangunan hunian vertikal dengan pendekatan rumah mikro plus mezanin. Huniannya bisa dibuat menjadi dua tipe denah yakni 2,4 meter x 5,9 meter plus mezanin, dan 3,4 meter x 4,6 meter dengan mezanin.
Untuk tata ruang, fasilitas seperti kamar tidur orang tua, dapur, ruang cuci-jemur, kamar mandi, dan ruang multifungsi berada di bawah, sementara untuk kamar anak-anak dan ruang belajar di ruang mezanin. Lalu, dibuat desain satu tangga bersama, parkir motor bersama, dan 3 blok massa panggung. Masing-masing blok terdiri dari 3 unit 3 lantai, sehingga total ada 9 unit rumah dengan 4 lantai.
Menurut Yu Sing, blok-blok kecil rumah flat seperti ini akan jauh lebih murah daripada tipologi rumah susun dengan koridor panjang. Juga lebih mudah untuk konsolidasi lahan kecil-kecil, memungkinkan vertikalisasi kampung-kampung kota, serta dibuat lebih padat tapi skala ruangnya lebih longgar plus ada ruang hijau.
"Semua rumah dapat cahaya dan ventilasi alami. Lebih baik juga tersedia ruang-ruang ekonomi dalam kampungnya seperti kafe, toko roti, potong rambut, toko sayur, toko alat tulis, warung makan, dan lain-lain sesuai kebutuhan warga dan wisatawan kota," katanya.
Namun, katanya, pembangunan tersebut harus sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah alih-alih pengembang. Jika dipegang pengembang, hunian vertikal yang ada nantinya akan dibanderol dengan harga mahal dan hanya bisa dibeli oleh masyarakat menengah ke atas, sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan untuk memberikan hunian pada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Itu yang terjadi pada apartemen komersial. Angka kepemilikan apartemen komersial di Indonesia sangat rendah. Di Jakarta sekitar 3 persen, sementara di Tokyo itu sekitar 60 sampai 70 persen, orang itu tinggal di hunian vertikal," papar Yu Sing.
Konsep desain ini menawarkan fleksibilitas yang tinggi, memungkinkan pengguna untuk menciptakan berbagai konfigurasi sesuai dengan ruang yang tersedia dan preferensi pribadi. Misalnya, sofa modular dapat diubah menjadi berbagai bentuk seperti L atau U, atau bahkan dipisahkan menjadi kursi individual.
Contoh lain, sofa dengan sisi kanan dan kirinya yang bisa difungsikan sebagai tempat penyimpanan. Furnitur modular juga biasanya menawarkan fleksibilitas luas yang bisa diatur sesuai dengan kebutuhan penggunaan, sehingga tidak terlalu besar mengambil ruang di rumah.
Eko menilai penerapan furnitur modular bukan hanya memaksimalkan fungsinya yang bisa memenuhi berbagai kebutuhan di rumah hanya dengan satu desain, tetapi juga membuat suasana hunian tercipta selaras dan harmoni sehingga meminimalisir tampilan yang berantakan dan semakin membuat rumah tampak sempit.
"Rumah kecil kadang-kadang bisa lebih estet dan punchy, kalau kita tahu cara menatanya," ucapnya.
Selain itu, penataan desain interior pada rumah sempit juga harus dilakukan secara esensial. Eko menuturkan penataannya tidak bisa mengikuti rumah dengan ukuran yang lebih luas. Misalnya, penggunaan sofa tidak melulu harus dengan coffee table, tapi bisa memilih alternatif side table yang lebih kecil. Atau, memilih sofa bed yang bisa difungsikan sekaligus sebagai tempat tidur.
"Jadi esensial itu adalah pemilihan furnitur yang paling penting di rumah, jangan nambah-nambah lagi. Yang enggak penting seperti dekorasi itu lain hal gitu," katanya.
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah hindari untuk menghadirkan beberapa tema desain pada rumah yang sempit. Eko menyampaikan penting untuk membuat desain pada rumah yang kecil tetap terlihat simpel. Sebaliknya, jika terlalu banyak tema, akan mengaburkan aksentuasi ruang lantaran banyaknya konsep.
Eko menegaskan rumah kecil bukan berarti hanya bisa menggunakan furnitur yang kecil. Tapi bisa juga mengaplikasikan furnitur-furnitur yang besar namun dengan desain modular dan esensial, sehingga beberapa kebutuhan dapat terakomodir dalam satu desain. "Jadi berpikirnya itu enggak bisa kita berpikir seperti rumah biasa," terangnya.
Arsitek Andesha Hermintomo menilai persoalan krisis hunian di kota-kota besar seperti Jakarta tidak bisa diselesaikan dengan solusi tunggal. Dalam hal ini, dia menyoroti pemerintah yang cenderung lebih sering menawarkan opsi hunian vertikal seperti rusun, alih-alih memberikan beberapa pilihan.
Menurutnya, setiap masyarakat memiliki kebutuhan tipologi hunian yang berbeda-beda. Dia menilai sebagian besar masyarakat di Indonesia memiliki kecenderungan untuk membangun hunian secara swadaya atau swakelola. Hal tersebut ditandai dengan masih eksisnya sejumlah kampung kota di perkotaan.
Alih-alih menawarkan solusi tunggal hunian vertikal seperti rusun, pemerintah juga bisa memberikan opsi dukungan untuk meningkatkan kualitas kampung kota yang telah dibangun masyarakat. Misalnya, meningkatkan kualitas infrastruktur dan fasilitas publik seperti drainase, kesehatan, akses air bersih hingga kelistrikan. Termasuk, menyediakan standar bangunan hunian bagi rumah-rumah masyarakat.
Andesh berpendapat hunian vertikal tidak serta merta bisa mengakomodir kebutuhan tipologi hunian dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Hunian vertikal dianggap cocok hanya untuk sebagian kalangan misalnya kalangan pekerja formal. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang bergantung pada usaha informal seperti berdagang atau membuka toko.
"Hunian warga yang dibuat secara swadaya dan swakelola dalam bentuk kampung kota diganti dengan opsi rusun yang justru akan menimbulkan penolakan, karena tipologinya enggak sesuai. Karena ini bukan cuma masalah hunian, tapi juga usaha. Jadi ada kesalahan penerjemahan kebutuhan," ujarnya.
Andesh menuturkan pemerintah sebaiknya melakukan pemetaan atau klasifikasi terlebih dahulu terkait berbagai permasalahan hunian di perkotaan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui mana yang memang betul-betul menjadi permasalahan, mana yang justru bisa menjadi potensi yang justru perlu dikembangkan atau ditingkatkan.
Menurutnya, jika ingin mengambil alih peran penyediaan hunian untuk masyarakat sepenuhnya dengan menyediakan hunian vertikal dalam bentuk rusun seperti di Singapura, pemerintah harus memastikan bahwa konsep tersebut cocok dengan kebutuhan tipologi hunian masyarakat.
Atau, pemerintah juga bisa membangun kampung susun kota dengan bangunan setinggi empat lantai misalnya yang kepemilikan tanah dan bangunannya dikelola secara swadaya oleh masyarakat dalam sistem koperasi.
"Memang perlu menghindari adanya solusi tunggal untuk semua permasalahan yang ada, karena masalahnya itu tidak bisa disederhanakan seperti itu," katanya.
Menurutnya, menghadirkan lebih banyak pilihan hunian akan jauh lebih baik, karena setiap orang memiliki kebutuhan dan preferensi tempat tinggal yang berbeda. Ada yang lebih cocok tinggal di lingkungan kampung, sementara yang lain merasa lebih sesuai di hunian sosial seperti rusun.
Oleh karena itu, penting bagi perencana kota dan pemerintah untuk mempertimbangkan tipologi hunian yang beragam dan tidak menyamaratakan solusi bagi semua orang.
Baca juga: Rumah Tapak Tumbuh & Hunian Vertikal Jadi Opsi Ideal untuk Tempat Tinggal di Perkotaan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menurut Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Georgius Budi Yulianto, ada dua alternatif yang bisa digunakan untuk menghadirkan hunian di perkotaan dengan lahan yang semakin terbatas. Pertama, pemerintah bisa membangun rumah tapak dengan konsep rumah tumbuh. Sementara yang kedua yakni hunian vertikal.
Baca juga: Hypereport: Mencari Solusi Tingkatkan Akses Hunian Layak di Jakarta
Rumah tersebut bisa dibangun dengan mengoptimalkan ruang bawah atap sebagai area tumbuhnya. Misalnya, membangun modul 6 x 6 meter persegi dengan satu kamar tidur, satu ruangan besar (untuk ruang keluarga atau ruang makan), satu dapur dan kamar mandi.
Nantinya, penghuni bisa mengembangkan rumah mereka pada bagian atas dengan memanfaatkan ruang bawah atap. "Dengan catatan lantai, struktur, dan tangganya sudah dipersiapkan, jadi nanti penghuni tinggal menambahkan dinding, partisi pintu dan jendela saja," katanya kepada Hypeabis.id.
Rumah tumbuh dapat diartikan sebagai hunian yang bisa dibangun bertahap sesuai pertumbuhan keperluan anggota keluarga, pertimbangan anggaran pemilik rumah, serta skala prioritas.
Pertumbuhan tersebut bisa berupa penambahan massa dan luas bangunan ke samping bila tanah cukup luas (jenis rumah tumbuh horizontal), ataupun peningkatan lantai bangunan terutama untuk bangunan di lahan terbatas (jenis rumah tumbuh vertikal).
Salah satu arsitek yang telah mendesain sejumlah proyek rumah tumbuh ialah Yu Sing dari Akar Anomali (Akanoma) Studio. Sejak tahun 2007, biro desain yang berbasis di Bandung itu telah melayani berbagai desain rumah murah, dengan anggaran klien mulai dari Rp100 juta-Rp200 jutaan.
Misalnya, rumah mikro dengan total luas 15 meter persegi yang dibangun tahun 2019. Rumah itu terdiri dari 2 kamar tidur, pantry yang ada di bawah tangga, kamar mandi, dan ruang multifungsi. Selain itu, ada juga bangku/bench bawah berukuran 60 cm x 200 cm yang bisa juga dipakai tidur, sehingga maksimal bisa untuk tidur 4 orang.
Lalu hadir ruangan mezanin dengan tinggi lantai 220 cm, dengan 6 anak tangga yang masing-masing lebarnya 60 cm. Untuk lantai, digunakan panel kalsit tebal 12-20 mm. Untuk membangun rumah tersebut, dibutuhkan lahan minimal 3 meter x 6 meter, agar ada sisa taman samping dan ruang jemur di belakang sekitar 1 meter.
"Rumah ukuran 15 meter persegi itu kalau untuk keluarga pasti akan kurang ya, lebih cocok untuk pasangan yang tidak punya anak atau single. Tapi kami buat juga beberapa tipe rumah tumbuh lain yang bisa lebih untuk keluarga," katanya.
Yu Sing mengusulkan, di tengah tantangan keterbatasan lahan khususnya di wilayah perkotaan, sebaiknya pengembang menjual rumah dengan luas tanah 72 meter persegi, namun dengan konsep rumah mikro sehingga menyisakan lahan kosong yang luas. Dengan begitu, nantinya bisa ditambah 1-2 unit rumah mikro lagi di lahan yang sama seiring bertambahnya anggota keluarga.
Konsep itu juga pernah dibuat oleh Yu Sing bersama rekan-rekan di Akanoma, dengan mendesain 2 rumah mikro yang menempel di atas lahan 49 meter persegi. "Selain bisa tumbuh, rumah mikro juga bisa didesain khusus, tidak standar, tidak pasaran, dibikin unik, dan sebagainya, tergantung anggaran tentunya," imbuhnya.
Hunian Vertikal
20250630055903582_crop.jpg)
Warga beraktivitas di balkon salah satu apartemen di Bandung, Jawa Barat. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Rachman)
Selain rumah tapak tumbuh, hunian vertikal juga bisa menjadi opsi tempat tinggal di perkotaan. Yu Sing mengatakan alih-alih menghadirkan rumah kecil di lahan sempit, pemerintah sebaiknya membangun hunian vertikal khususnya di wilayah perkotaan, yang bisa memberikan kemudahan aksesibilitas serta dekat dengan berbagai fasilitas umum dan sosial yang bisa dijangkau oleh masyarakat.
Misalnya, di lahan seluas 100 meter persegi, bisa dibangun sebuah bangunan hunian vertikal dengan pendekatan rumah mikro plus mezanin. Huniannya bisa dibuat menjadi dua tipe denah yakni 2,4 meter x 5,9 meter plus mezanin, dan 3,4 meter x 4,6 meter dengan mezanin.
Untuk tata ruang, fasilitas seperti kamar tidur orang tua, dapur, ruang cuci-jemur, kamar mandi, dan ruang multifungsi berada di bawah, sementara untuk kamar anak-anak dan ruang belajar di ruang mezanin. Lalu, dibuat desain satu tangga bersama, parkir motor bersama, dan 3 blok massa panggung. Masing-masing blok terdiri dari 3 unit 3 lantai, sehingga total ada 9 unit rumah dengan 4 lantai.
Menurut Yu Sing, blok-blok kecil rumah flat seperti ini akan jauh lebih murah daripada tipologi rumah susun dengan koridor panjang. Juga lebih mudah untuk konsolidasi lahan kecil-kecil, memungkinkan vertikalisasi kampung-kampung kota, serta dibuat lebih padat tapi skala ruangnya lebih longgar plus ada ruang hijau.
"Semua rumah dapat cahaya dan ventilasi alami. Lebih baik juga tersedia ruang-ruang ekonomi dalam kampungnya seperti kafe, toko roti, potong rambut, toko sayur, toko alat tulis, warung makan, dan lain-lain sesuai kebutuhan warga dan wisatawan kota," katanya.
Namun, katanya, pembangunan tersebut harus sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah alih-alih pengembang. Jika dipegang pengembang, hunian vertikal yang ada nantinya akan dibanderol dengan harga mahal dan hanya bisa dibeli oleh masyarakat menengah ke atas, sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan untuk memberikan hunian pada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
"Itu yang terjadi pada apartemen komersial. Angka kepemilikan apartemen komersial di Indonesia sangat rendah. Di Jakarta sekitar 3 persen, sementara di Tokyo itu sekitar 60 sampai 70 persen, orang itu tinggal di hunian vertikal," papar Yu Sing.
Furnitur Modular
Konsep hunian di perkotaan yang kebanyakan berdiri di lahan dan luas bangunan yang terbatas juga perlu disiasati dengan pendekatan desain interior yang tepat. Desainer interior Eko Priharseno salah satu yang bisa diterapkan ialah furnitur modular, jenis furnitur yang terdiri dari unit-unit atau modul terpisah yang dapat disusun, dibongkar, dan diatur ulang sesuai dengan kebutuhan pengguna.Konsep desain ini menawarkan fleksibilitas yang tinggi, memungkinkan pengguna untuk menciptakan berbagai konfigurasi sesuai dengan ruang yang tersedia dan preferensi pribadi. Misalnya, sofa modular dapat diubah menjadi berbagai bentuk seperti L atau U, atau bahkan dipisahkan menjadi kursi individual.
Contoh lain, sofa dengan sisi kanan dan kirinya yang bisa difungsikan sebagai tempat penyimpanan. Furnitur modular juga biasanya menawarkan fleksibilitas luas yang bisa diatur sesuai dengan kebutuhan penggunaan, sehingga tidak terlalu besar mengambil ruang di rumah.
Eko menilai penerapan furnitur modular bukan hanya memaksimalkan fungsinya yang bisa memenuhi berbagai kebutuhan di rumah hanya dengan satu desain, tetapi juga membuat suasana hunian tercipta selaras dan harmoni sehingga meminimalisir tampilan yang berantakan dan semakin membuat rumah tampak sempit.
"Rumah kecil kadang-kadang bisa lebih estet dan punchy, kalau kita tahu cara menatanya," ucapnya.
Selain itu, penataan desain interior pada rumah sempit juga harus dilakukan secara esensial. Eko menuturkan penataannya tidak bisa mengikuti rumah dengan ukuran yang lebih luas. Misalnya, penggunaan sofa tidak melulu harus dengan coffee table, tapi bisa memilih alternatif side table yang lebih kecil. Atau, memilih sofa bed yang bisa difungsikan sekaligus sebagai tempat tidur.
"Jadi esensial itu adalah pemilihan furnitur yang paling penting di rumah, jangan nambah-nambah lagi. Yang enggak penting seperti dekorasi itu lain hal gitu," katanya.
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah hindari untuk menghadirkan beberapa tema desain pada rumah yang sempit. Eko menyampaikan penting untuk membuat desain pada rumah yang kecil tetap terlihat simpel. Sebaliknya, jika terlalu banyak tema, akan mengaburkan aksentuasi ruang lantaran banyaknya konsep.
Eko menegaskan rumah kecil bukan berarti hanya bisa menggunakan furnitur yang kecil. Tapi bisa juga mengaplikasikan furnitur-furnitur yang besar namun dengan desain modular dan esensial, sehingga beberapa kebutuhan dapat terakomodir dalam satu desain. "Jadi berpikirnya itu enggak bisa kita berpikir seperti rumah biasa," terangnya.
Jangan Solusi Tunggal
Arsitek Andesha Hermintomo menilai persoalan krisis hunian di kota-kota besar seperti Jakarta tidak bisa diselesaikan dengan solusi tunggal. Dalam hal ini, dia menyoroti pemerintah yang cenderung lebih sering menawarkan opsi hunian vertikal seperti rusun, alih-alih memberikan beberapa pilihan.Menurutnya, setiap masyarakat memiliki kebutuhan tipologi hunian yang berbeda-beda. Dia menilai sebagian besar masyarakat di Indonesia memiliki kecenderungan untuk membangun hunian secara swadaya atau swakelola. Hal tersebut ditandai dengan masih eksisnya sejumlah kampung kota di perkotaan.
Alih-alih menawarkan solusi tunggal hunian vertikal seperti rusun, pemerintah juga bisa memberikan opsi dukungan untuk meningkatkan kualitas kampung kota yang telah dibangun masyarakat. Misalnya, meningkatkan kualitas infrastruktur dan fasilitas publik seperti drainase, kesehatan, akses air bersih hingga kelistrikan. Termasuk, menyediakan standar bangunan hunian bagi rumah-rumah masyarakat.
Andesh berpendapat hunian vertikal tidak serta merta bisa mengakomodir kebutuhan tipologi hunian dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Hunian vertikal dianggap cocok hanya untuk sebagian kalangan misalnya kalangan pekerja formal. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang bergantung pada usaha informal seperti berdagang atau membuka toko.
"Hunian warga yang dibuat secara swadaya dan swakelola dalam bentuk kampung kota diganti dengan opsi rusun yang justru akan menimbulkan penolakan, karena tipologinya enggak sesuai. Karena ini bukan cuma masalah hunian, tapi juga usaha. Jadi ada kesalahan penerjemahan kebutuhan," ujarnya.
Andesh menuturkan pemerintah sebaiknya melakukan pemetaan atau klasifikasi terlebih dahulu terkait berbagai permasalahan hunian di perkotaan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui mana yang memang betul-betul menjadi permasalahan, mana yang justru bisa menjadi potensi yang justru perlu dikembangkan atau ditingkatkan.
Menurutnya, jika ingin mengambil alih peran penyediaan hunian untuk masyarakat sepenuhnya dengan menyediakan hunian vertikal dalam bentuk rusun seperti di Singapura, pemerintah harus memastikan bahwa konsep tersebut cocok dengan kebutuhan tipologi hunian masyarakat.
Atau, pemerintah juga bisa membangun kampung susun kota dengan bangunan setinggi empat lantai misalnya yang kepemilikan tanah dan bangunannya dikelola secara swadaya oleh masyarakat dalam sistem koperasi.
"Memang perlu menghindari adanya solusi tunggal untuk semua permasalahan yang ada, karena masalahnya itu tidak bisa disederhanakan seperti itu," katanya.
Menurutnya, menghadirkan lebih banyak pilihan hunian akan jauh lebih baik, karena setiap orang memiliki kebutuhan dan preferensi tempat tinggal yang berbeda. Ada yang lebih cocok tinggal di lingkungan kampung, sementara yang lain merasa lebih sesuai di hunian sosial seperti rusun.
Oleh karena itu, penting bagi perencana kota dan pemerintah untuk mempertimbangkan tipologi hunian yang beragam dan tidak menyamaratakan solusi bagi semua orang.
Baca juga: Rumah Tapak Tumbuh & Hunian Vertikal Jadi Opsi Ideal untuk Tempat Tinggal di Perkotaan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.