Multitasking. (Sumber: Freepik)

Kebiasaan Multitasking Sebabkan Stres, Bagaimana Cara Mengubahnya?

03 August 2025   |   13:00 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Kita semua pasti pernah mengalami situasi yang mengharuskan perhatian menjadi terbelah ke berbagai fokus. Misalnya, membalas pesan ketika sedang berbicara dengan orang lain hingga makan siang sembari mengikuti online meeting. Beberapa orang bahkan tetap bekerja saat mereka sedang pergi liburan.

Di dunia yang serba cepat, melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan atau multitasking menjadi kemampuan yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Namun, apakah multitasking efisien?

Baca juga: Begini Cara Meditasi Spirit, Self Healing yang Bikin Hidup Lebih Produktif

Orang-orang yang tetap mengerjakan pekerjaannya ketika berlibur menciptakan batas yang buram antara bekerja dan beristirahat. Batas yang buram ini membuat kita kesulitan untuk memulihkan dan menyegarkan otak apabila terjadi overload secara kognitif.

Otak yang menerima informasi terlalu banyak ini mengakibatkan dampak yang semakin bercabang, seperti burnout, brain fog, hingga gangguan ingatan.

Salah satu artikel dalam Jurnal Psychoneuroendocrinology telah melakukan uji coba secara terkontrol dan acak tentang respons stres biologis terhadap multitasking dan work interruption. Temuan dari penelitian tersebut mengatakan bahwa tubuh kita dapat beradaptasi dengan stres yang timbul akibat melakukan aktivitas multitasking. Namun, hingga batas tertentu, ada konsekuensi berbahaya yang dapat timbul apabila melakukan multitasking ekstrim.

Jika Genhype mengalami tanda-tanda burnout, brain fog, serta gangguan ingatan, mungkin kamu harus berhenti melakukan multitasking.

Pada dasarnya, manusia tumbuh sebagai monotasker, alias berfokus pada satu hal dalam satu waktu. Ketika kita masih anak-anak, kita memiliki kemampuan alamiah untuk melakukan dan fokus untuk menyelesaikan satu hal. Mengubah kebiasaan multitasking menjadi monotasking akan membantu kita untuk mengurangi stres, memperbaiki hubungan dengan diri sendiri ataupun orang lain, serta meningkatkan kualitas dari tugas yang kita kerjakan.

Kebiasaan melakukan pekerjaan multitasking mungkin akan membuat kita sulit untuk berubah menjadi monotasking. Namun, perubahan ini bisa dimulai dari melatih otot monotasking kita dengan aktivitas-aktivitas ringan. Misalnya, membaca, berjalan, tidur, belajar, dan lainnya. Ketika melakukan aktivitas ini, kita perlu menjauhkan ponsel dari jangkauan.

Alat-alat lain seperti pomodoro timer juga bisa dimanfaatkan. Sistem pomodoro memungkinkan kita untuk fokus dan menyediakan waktu jeda di sela-sela waktu fokus tersebut. Alat ini bisa dimanfaatkan ketika belajar atau membaca, tetapi mengalami kesulitan fokus.

Selain pomodoro, kebiasaan lain yang bisa dilakukan untuk memulai monotasking adalah berjalan kaki. Merasakan gerakan badan tanpa mendengarkan musik atau podcast, tanpa melakukan aktivitas lain. Hanya fokus berjalan selama 10 menit dan fokus pada tubuh serta lingkungan di sekeliling kita akan membantu otot untuk berlatih monotasking.

Kebiasaan makan sembari menonton atau online meeting juga perlu berhenti. Mengunyah makanan pelan-pelan dan merasakan kelezatan makanan dengan hikmat merupakan salah satu latihan monotasking. Dengan ini, makanan juga dapat dicerna dengan baik oleh tubuh.

Selain itu, fokus mengamati fenomena alam dan karya seni juga dapat membantu kita untuk mengubah kebiasaan multitasking.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Cerita Sutradara Pritagita Visualisasikan Proses Bayi Tabung di Film Lyora: Penantian Buah Hati

BERIKUTNYA

Pemerintah Tetapkan 18 Agustus 2025 sebagai Hari Libur Nasional

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga