Suasana malam di kota Jakarta. (Sumber foto: Unsplash/Gede Suhendra)

Hypereport: Empat Fase Besar Jakarta Menuju 2045

09 July 2025   |   14:45 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Bayangkan Jakarta sebagai salah satu dari 20 kota paling berpengaruh di dunia pada 2045 bukan sekadar mimpi, tapi visi ambisius yang mulai dijalankan. Sebagai pusat perekonomian Indonesia, Jakarta bersiap melakukan lompatan besar lewat transformasi bertahap yang tak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tapi juga keberlanjutan dan inklusivitas.

Untuk mewujudkan hal itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merancang peta jalan bertajuk Jakarta Rise#20: Path Towards Top 20 Global City, yang memuat strategi 20 tahun ke depan dalam empat fase.

Mulai dari membangun fondasi, mendorong pertumbuhan inovatif, menjalankan transformasi berkelanjutan, hingga mengambil peran kepemimpinan global, semuanya diarahkan agar Jakarta tak sekadar menjadi kota megapolitan, tapi benar-benar berdiri sejajar dengan kota-kota kelas dunia.

Baca juga laporan terkait: 
1. Hypereport: 5 Abad Jakarta Masih Berkutat dengan Polusi Udara
2. Hypereport: Jakarta, Masihkah jadi Magnet Lapangan Kerja Para Pendatang dari Daerah

3. Hypereport: Jakarta di Simpang Sejarah Tenggelam, Tumbuh, dan Terus Bergerak
4. Hypereport: Membangun Budaya Baru Transportasi Publik di Jakarta

5. Hypereport: Mencari Solusi Tingkatkan Akses Hunian Layak di Jakarta

RISE merupakan singkatan dari empat fase strategis yang akan dijalankan untuk menjadikan Jakarta salah satu dari 20 kota global teratas dalam dua dekade ke depan.

Empat fase tersebut meliputi: Readiness & Foundation Building (Kesiapan & Pembangunan Fondasi), Innovative & Inclusive Growth (Pertumbuhan Inovatif dan Inklusif), Sustainable Transformation (Transformasi Berkelanjutan), serta Elevated Regional & Global Leadership (Peningkatan Kepemimpinan Regional dan Global).

Fase pertama, yaitu Kesiapan dan Pembangunan Fondasi, berlangsung pada 2025–2029. Fokusnya adalah menggerakkan mesin awal pembangunan dengan proyek seperti pengembangan pesisir utara, KEK Digital Ecopark, pemberdayaan UMKM, integrasi preferensi Gen Z, serta peningkatan pelatihan vokasi.

Selain itu, fase ini juga ditujukan untuk menuntaskan hambatan awal, mulai dari pembaruan kebijakan, penyesuaian regulasi, hingga penyederhanaan tata kelola lintas lembaga yang relevan di wilayah Jakarta.

Target fase pertama antara lain memperbaiki posisi Jakarta dalam Global City Index, dari peringkat 74 (2024) menjadi 58, serta meningkatkan indikator makro seperti PDB per kapita (Rp458 juta–Rp512 juta), indeks SDM (0,67), IPM (85,66), dan penurunan emisi GRK sebesar 24,65 persen.

Memasuki fase kedua (2030–2034), yakni Pertumbuhan Inovatif dan Inklusif, Jakarta mulai bertransformasi menjadi kota berbasis inovasi. Pemerintah akan mengakselerasi riset dan pengembangan industri utama, memperluas penciptaan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata.

Jakarta juga diarahkan menjadi pusat budaya dan kreativitas global dengan memperbanyak pusat seni dan hotspot kreatif. Peringkat GCI ditargetkan naik ke posisi 44, dengan PDB per kapita Rp738 juta–Rp894 juta dan penurunan emisi GRK hingga 39,65 persen.

Di fase ini, pembangunan SDM dan IPM juga ditingkatkan, masing-masing menjadi 0,72 dan 88,02, seiring fokus pemerintah terhadap kualitas hidup masyarakat urban.

Fase ketiga, Transformasi Berkelanjutan (2035–2039), berorientasi pada keseimbangan ekologi dan kemajuan. Pemerintah akan memperluas ruang terbuka hijau, memperkuat sistem daur ulang limbah, serta mendorong pemanfaatan energi terbarukan secara massif.

Langkah-langkah ini diiringi inovasi efisiensi agar pembangunan tidak membebani lingkungan. Target GCI naik ke peringkat 31, dengan PDB per kapita Rp1,095 miliar–Rp 1,39 miliar dan penurunan GRK mencapai 61,65 persen.
Selain itu, indeks SDM ditingkatkan menjadi 0,78 dan IPM ke angka 90,44, mencerminkan peningkatan kualitas manusia di tengah transformasi ekologis.

Fase terakhir, Peningkatan Kepemimpinan Regional dan Global (2040–2045), mengusung Jakarta sebagai pemain aktif dalam forum-forum internasional, memimpin diskusi ekonomi dan sosial, serta memperkuat pengaruh diplomatik kota ini di pentas dunia.

Di saat bersamaan, Jakarta akan membangun positioning global sebagai pusat talenta, budaya, dan inovasi, sembari menjaga prinsip keberlanjutan. Promosi global merek Jakarta juga menjadi agenda utama. Pada akhir fase ini, Jakarta ditargetkan masuk posisi 20 besar dalam GCI, dengan PDB per kapita Rp2,016 miliar–Rp 2,405 miliar, indeks SDM 0,85, IPM 92,93, serta pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 88,47 persen.

Untuk mendukung arah pembangunan ini, Jakarta telah merilis buku Jakarta Rise#20: Path Towards Top 20 Global City. Buku ini menjadi panduan strategis pembangunan kota yang inklusif, tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan menuju 2045.

Pemerintah berharap buku ini menjadi acuan lintas sektor, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat, dalam memahami transformasi yang harus ditempuh untuk bersaing di level global.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen mengimplementasikan strategi-strategi tersebut secara kolaboratif. Pembangunan akan didorong bersama pemangku kepentingan menuju Jakarta yang modern, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi.

Disusun oleh Bappeda DKI Jakarta bersama konsultan global A.T. Kearney, buku ini memuat delapan pilar utama: visi dan misi, ekonomi dan bisnis, tenaga kerja dan masyarakat, pariwisata dan branding, keberlanjutan lingkungan, infrastruktur, inovasi, serta tata kelola dan pembiayaan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Jadwal Lengkap & Link Streaming Festival Pacu Jalur di Riau

BERIKUTNYA

Rekor Pertemuan Real Madrid vs PSG Jelang Semifinal Piala Dunia Antarklub 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: