Manfaat Stevia untuk Pengidap Diabetes dan Efek Konsumsi Jangka Panjang
30 July 2025 |
19:27 WIB
Stevia adalah pemanis alami yang diekstrak dari daun tanaman *Stevia rebaudiana*. Pemanis ini dikenal karena rasanya yang sangat manis, namun hampir tidak mengandung kalori. Karena itu, stevia banyak digunakan sebagai alternatif gula, terutama oleh penderita diabetes atau mereka yang sedang menjaga berat badan.
Stevia dapat digunakan dalam berbagai cara, seperti ditambahkan ke dalam minuman panas atau dingin, serta ditaburkan di atas oatmeal atau potongan buah. Namun, perlu diketahui bahwa stevia tidak dapat menghasilkan efek karamelisasi seperti gula biasa, sehingga kurang cocok digunakan pada resep masakan atau kue yang membutuhkan proses tersebut.
Baca juga: 7 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Memutuskan Berhenti Konsumsi Gula
Menurut Medical News Today, kandungan glikosida steviol dalam stevia membuat rasanya 150–300 kali lebih manis dibandingkan gula biasa. Meski demikian, beberapa orang mungkin merasakan aftertaste pahit, terutama jika dikonsumsi dalam konsentrasi tinggi.
American Heart Association (AHA) dan American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa stevia dan pemanis serupa dapat bermanfaat bagi penderita diabetes, asalkan digunakan dengan bijak dan tidak diimbangi dengan konsumsi kalori tambahan di waktu makan berikutnya.
Mengacu pada studi yang dilakukan para peneliti dari Pennington Biomedical Research Center pada tahun 2018, mereka meneliti efek konsumsi jelly kelapa yang diberi pemanis stevia terhadap partisipan. Dalam penelitian ini, kadar gula darah partisipan dipantau selama 30 hingga 120 menit setelah mengonsumsi jelly, dengan pengukuran dilakukan setiap setengah jam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar gula darah mulai menurun dalam rentang waktu 60-120 menit, bahkan sebelum tubuh memproduksi insulin. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa stevia memiliki sejumlah manfaat bagi penderita diabetes, antara lain:
Stevia saja mungkin tidak cukup untuk mengontrol kadar gula darah secara signifikan. Namun, penggunaannya dapat menjadi bagian yang mendukung jika dikombinasikan dengan pengobatan medis dan perubahan gaya hidup yang sehat.
Saat memilih produk stevia, penting untuk selalu memeriksa label komposisinya guna memastikan tidak ada bahan tambahan yang berpotensi memengaruhi kadar gula darah. Bila ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, ahli gizi, atau langsung menghubungi produsen pemanis tersebut.
Mengutip Very Well Health, stevia umumnya aman dikonsumsi, namun orang yang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu atau memiliki kondisi kesehatan khusus sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi stevia dalam jumlah banyak. Berikut sejumlah efek sampingnya.
Masalah pencernaan: Beberapa produk stevia mengandung alkohol gula (sugar alcohol), yang bisa menyebabkan mual, muntah, diare, perut kembung, dan sakit perut pada orang yang sensitif terhadap zat ini. Namun, stevia murni sendiri tidak diketahui menyebabkan gangguan pencernaan.
Tekanan darah rendah: Stevia terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi (tekanan darah tinggi). Meski begitu, tidak ada bukti bahwa stevia bisa menurunkan tekanan darah sampai ke tingkat yang berbahaya pada orang dengan tekanan darah normal. Namun, jika sedang mengonsumsi obat penurun tekanan darah, sebaiknya waspada karena stevia bisa memperkuat efek obat tersebut.
Gula darah rendah: Stevia juga dapat menurunkan kadar gula darah, terutama pada penderita diabetes. Namun, jika digunakan bersamaan dengan obat diabetes, kadar gula bisa turun terlalu rendah, sehingga perlu pemantauan lebih ketat.
Efek pada hati: Penelitian tentang dampak stevia terhadap fungsi hati masih dalam tahap awal dan hasilnya belum bisa disimpulkan secara pasti. Sebuah studi pada tikus menemukan bahwa kombinasi stevia dan sucralose dapat meningkatkan enzim hati. Namun, studi lain pada manusia justru menunjukkan bahwa stevia bisa membantu menurunkan indikator penyakit hati berlemak (fatty liver).
Alergi: Orang yang memiliki alergi terhadap tanaman dari keluarga ragweed dan kerabatnya, seperti krisan, marigold, dan bunga aster, mungkin juga sensitif terhadap stevia. Jika memiliki alergi jenis ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan stevia.
Sejumlah orang juga mengaitkan efek samping stevia terhadap kanker. Penelitian awal mengenai stevia sempat menunjukkan kemungkinan kaitannya dengan kanker, yang membuat FDA melarang penggunaannya pada 1991. Namun, penelitian-penelitian berikutnya menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kanker akibat konsumsi stevia. Karena itu, FDA mencabut larangan tersebut setelah meninjau ratusan studi yang menunjukkan bahwa stevia aman dikonsumsi.
Baca juga: Konsumsi Gula Indonesia Mengkhawatirkan, Pemerintah Siap Ambil Langkah Ini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Stevia dapat digunakan dalam berbagai cara, seperti ditambahkan ke dalam minuman panas atau dingin, serta ditaburkan di atas oatmeal atau potongan buah. Namun, perlu diketahui bahwa stevia tidak dapat menghasilkan efek karamelisasi seperti gula biasa, sehingga kurang cocok digunakan pada resep masakan atau kue yang membutuhkan proses tersebut.
Baca juga: 7 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Memutuskan Berhenti Konsumsi Gula
Menurut Medical News Today, kandungan glikosida steviol dalam stevia membuat rasanya 150–300 kali lebih manis dibandingkan gula biasa. Meski demikian, beberapa orang mungkin merasakan aftertaste pahit, terutama jika dikonsumsi dalam konsentrasi tinggi.
American Heart Association (AHA) dan American Diabetes Association (ADA) menyatakan bahwa stevia dan pemanis serupa dapat bermanfaat bagi penderita diabetes, asalkan digunakan dengan bijak dan tidak diimbangi dengan konsumsi kalori tambahan di waktu makan berikutnya.
Mengacu pada studi yang dilakukan para peneliti dari Pennington Biomedical Research Center pada tahun 2018, mereka meneliti efek konsumsi jelly kelapa yang diberi pemanis stevia terhadap partisipan. Dalam penelitian ini, kadar gula darah partisipan dipantau selama 30 hingga 120 menit setelah mengonsumsi jelly, dengan pengukuran dilakukan setiap setengah jam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar gula darah mulai menurun dalam rentang waktu 60-120 menit, bahkan sebelum tubuh memproduksi insulin. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa stevia memiliki sejumlah manfaat bagi penderita diabetes, antara lain:
- Membantu mengontrol kadar gula darah, baik saat berpuasa maupun setelah makan
- Memberikan rasa kenyang lebih lama dan mengurangi rasa lapar
- Menekan keinginan untuk makan berlebihan di kemudian hari
- Melindungi fungsi hati dan ginjal dari kerusakan
- Menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol
- Memiliki potensi sebagai antioksidan untuk melawan penyakit
Stevia saja mungkin tidak cukup untuk mengontrol kadar gula darah secara signifikan. Namun, penggunaannya dapat menjadi bagian yang mendukung jika dikombinasikan dengan pengobatan medis dan perubahan gaya hidup yang sehat.
Saat memilih produk stevia, penting untuk selalu memeriksa label komposisinya guna memastikan tidak ada bahan tambahan yang berpotensi memengaruhi kadar gula darah. Bila ragu, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, ahli gizi, atau langsung menghubungi produsen pemanis tersebut.
Risiko dan efek penggunaan jangka panjang
Sejumlah studi terkait stevia menunjukkan bahwa pemanis ini tidak menimbulkan efek samping yang merugikan selama dikonsumsi dalam batas wajar. Menurut Food and Drug Administration (FDA), batas maksimal konsumsi harian adalah 4 miligram per kilogram berat badan. Ini setara dengan sekitar 12 mg/kg ekstrak stevia per hari.Mengutip Very Well Health, stevia umumnya aman dikonsumsi, namun orang yang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu atau memiliki kondisi kesehatan khusus sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi stevia dalam jumlah banyak. Berikut sejumlah efek sampingnya.
Masalah pencernaan: Beberapa produk stevia mengandung alkohol gula (sugar alcohol), yang bisa menyebabkan mual, muntah, diare, perut kembung, dan sakit perut pada orang yang sensitif terhadap zat ini. Namun, stevia murni sendiri tidak diketahui menyebabkan gangguan pencernaan.
Tekanan darah rendah: Stevia terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi (tekanan darah tinggi). Meski begitu, tidak ada bukti bahwa stevia bisa menurunkan tekanan darah sampai ke tingkat yang berbahaya pada orang dengan tekanan darah normal. Namun, jika sedang mengonsumsi obat penurun tekanan darah, sebaiknya waspada karena stevia bisa memperkuat efek obat tersebut.
Gula darah rendah: Stevia juga dapat menurunkan kadar gula darah, terutama pada penderita diabetes. Namun, jika digunakan bersamaan dengan obat diabetes, kadar gula bisa turun terlalu rendah, sehingga perlu pemantauan lebih ketat.
Efek pada hati: Penelitian tentang dampak stevia terhadap fungsi hati masih dalam tahap awal dan hasilnya belum bisa disimpulkan secara pasti. Sebuah studi pada tikus menemukan bahwa kombinasi stevia dan sucralose dapat meningkatkan enzim hati. Namun, studi lain pada manusia justru menunjukkan bahwa stevia bisa membantu menurunkan indikator penyakit hati berlemak (fatty liver).
Alergi: Orang yang memiliki alergi terhadap tanaman dari keluarga ragweed dan kerabatnya, seperti krisan, marigold, dan bunga aster, mungkin juga sensitif terhadap stevia. Jika memiliki alergi jenis ini, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan stevia.
Sejumlah orang juga mengaitkan efek samping stevia terhadap kanker. Penelitian awal mengenai stevia sempat menunjukkan kemungkinan kaitannya dengan kanker, yang membuat FDA melarang penggunaannya pada 1991. Namun, penelitian-penelitian berikutnya menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kanker akibat konsumsi stevia. Karena itu, FDA mencabut larangan tersebut setelah meninjau ratusan studi yang menunjukkan bahwa stevia aman dikonsumsi.
Baca juga: Konsumsi Gula Indonesia Mengkhawatirkan, Pemerintah Siap Ambil Langkah Ini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.