Ilustrasi penyakit (Sumber gambar: Unsplash)

Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat, Ini Kata Kemenkes dan Dokter

31 July 2025   |   08:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Penyakit leptospirosis masih mengepung Indonesia. Penyakit ini memang kerap muncul saat musim hujan tiba. Hujan menimbulkan genangan, kemudian bisa terkontaminasi dengan urin tikus yang menyebabkan zoonosis yang berbahaya.

Leptospirosis juga banyak ditemukan saat banjir bahkan genangan air di pasar-pasar tradisional. Sebagaimana yang dijelaskan, penularannya disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dikeluarkan melalui urin tikus ke lingkungan sekitar. Masyarakat umum sering menyebutnya sebagai penyakit kencing tikus.
 
Dari sisi lingkungan, Indonesia tergolong sebagai daerah endemis leptospirosis. Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI Ina Agustina Isturini menyebutkan laporan riset khusus vektor dan reservoir penyakit pada 2018 menunjukkan bahwa tikus positif leptospira ditemukan di 29 provinsi di Indonesia. Faktor risiko utama berasal dari populasi tikus yang tinggi, lingkungan yang buruk, dan banjir yang makin meluas.

Baca Juga: Sindrom Stevens-Johnson (SJS), Penyakit Langka yang Menyerang Kulit
 
Sepanjang Januari hingga 23 Juni 2025 sendiri, setidaknya telah tercatat 884 kasus leptospirosis dan 117 kematian. Angka kematiannya mencapai 13,24 %, dimana ini meningkat dibanding periode yang sama pada 2024. Lonjakan kasus tertinggi tercatat pada Januari dan Februari. Sebagian besar kasus berasal dari 13 provinsi dan 77 kabupaten dan kota, dengan diagnosis terbanyak melalui rapid test yakni sebanyak 63%.
 
Provinsi dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi adalah Jawa Tengah dengan 114 kasus dan 73 kematian. Kemudian disusul Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten. Kematian juga tercatat di provinsi lain seperti Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur.
 
“Sebagian besar kematian terjadi karena keterlambatan diagnosis yang menyebabkan penanganan pun tidak optimal,” ujar Ina.
 
Keterlambatan diagnosis akibat gejala yang tidak spesifik seringkali membuat terjadi salah diagnosis. Selain itu, pelaporan kasus masih belum merata di semua provinsi. Banyak kasus tidak tercatat secara resmi sehingga data belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.
 
Ina menyabut, kini surveilans sentinel telah dibentuk di berbagai daerah seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan sejak 2017. Sistem ini diharapkan diperkuat pada 2025 agar pemetaan masalah leptospirosis bisa dilakukan secara berkelanjutan. Selain itu, edukasi publik dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan terus dilakukan termasuk melalui webinar nasional dan penyebaran informasi lewat media sosial.
 
Dalam pandangan Ina, deteksi dini dan pengobatan cepat dianggap sebagai langkah kunci dalam menurunkan angka kematian. Penemuan kasus secara aktif, promosi kesehatan, dan pencegahan lingkungan menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian penyakit ini.
 
Karena penularan terjadi melalui  urin hewan pembawa yang  mencemari lingkungan, bakteri ini begitu mudah berkembang di medium seperti air, tanah, atau lumpur. Dokter Spesialis Penyakit Dalam I Ketut Agus Somia mengatakan, penularan kepada manusia terjadi saat bakteri memasuki tubuh melalui luka terbuka, kulit lecet, atau membran mukosa seperti mata dan mulut. Genangan air akibat banjir, irigasi sawah, atau aktivitas di selokan menjadi media penularan yang paling umum.
 
“Leptospira ini bisa tidak menimbulkan gejala, tetapi pada orang dengan daya tahan tubuh rendah, infeksinya bisa berkembang menjadi berat dan berakibat fatal,” ujar I Ketut Agus Somia.
 
Meski gejalanya umum, kata Agus, gejala leptospirosis bisa sangat bervariasi tergantung pada jumlah bakteri yang masuk ke dalam tubuh serta respons imun individu. Infeksi bisa terjadi tanpa gejala. Namun pada sebagian besar kasus, pasien akan mengalami gejala mirip flu seperti demam mendadak, nyeri otot, nyeri sendi, dan lemas.
 
Pada fase lanjut, infeksi dapat berkembang menjadi  bentuk berat leptospirosis yang ditandai dengan gagal ginjal, gangguan fungsi hati, perdarahan akibat turunnya trombosit, hingga keterlibatan sistem saraf seperti meningitis atau ensefalitis. Komplikasi ini berpotensi memicu  kondisi sistemik yang bisa berujung pada kematian jika tidak segera ditangani.
 
“Gejala ringan seperti demam atau nyeri sendi kadang dianggap sepele. Padahal jika tidak dikenali lebih awal, leptospirosis bisa merusak organ-organ vital dan menimbulkan kematian mendadak,” kata Agus.
 
Selain komplikasi akut, pasien juga bisa mengalami gejala sisa jangka panjang pasca sembuh. Misalnya seperti gangguan penglihatan, penurunan fungsi otak, atau radang mata akibat reaksi imun yang berlebihan terhadap infeksi.
 
Dari segi faktor risiko, leptospirosis erat kaitannya dengan paparan air atau lingkungan yang telah terkontaminasi urin hewan pembawa. Aktivitas seperti bekerja di sawah, memperbaiki saluran air, berenang di danau atau kolam yang tidak terawat, atau menangani hewan ternak di fasilitas pemotongan tanpa perlindungan yang memadai menjadi penyebab umum penularan.
 
Selain petugas kebersihan dan petani, pemilik hewan peliharaan seperti anjing atau kucing yang tidak divaksinasi leptospira juga masuk dalam kelompok rentan. Pasalnya, selain tikus, anjing, kucing, bahkan sapi dan kuda juga dapat menjadi pembawa bakteri tersebut.
 
Genangan air pascabanjir pun menjadi perhatian besar karena air kotor bisa membawa bakteri dari tempat yang jauh. Tanpa perlindungan seperti sepatu boots atau sarung tangan, orang yang berjalan di air banjir sangat berisiko terpapar.
 
Diagnosis penyakit ini ditegakkan melalui wawancara medis terkait riwayat paparan, gejala, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan darah dan uji mikroskopis terhadap bakteri Leptospira.
 
Jika diagnosis ditegakkan pada fase awal, pemberian antibiotik secara tepat bisa menghentikan perkembangan penyakit tanpa perlu rawat inap. Namun pada kasus berat, pasien harus dirawat secara intensif, dengan terapi antibiotik intravena dan dukungan organ vital yang sudah terdampak.
 
Penanganan yang terlambat akan meningkatkan risiko kematian dan biaya perawatan yang tinggi. Sebab, selain infeksi bakteri, dokter juga harus menangani komplikasi organ yang telah terjadi.
 
Agus tetap menyarankan  pencegahan leptospirosis utamanya di musim hujan dan banjir saat ini. Masyarakat baiknya berupaya menghindari kontak langsung dengan air atau tanah yang berpotensi terkontaminasi terutama pada musim hujan atau saat banjir.

Penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu karet, sarung tangan tahan air, serta menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan limbah yang baik menjadi cara efektif menurunkan risiko. Bagi yang memiliki hewan peliharaan, vaksinasi juga penting dilakukan untuk mencegah mereka menjadi pembawa bakteri. Sayangnya hingga saat ini, belum ada vaksin penyakit ini untuk manusia.

Baca Juga: Waspada Saat Musim Hujan, Ini Gejala & Pencegahan Penyakit Leptospirosis

SEBELUMNYA

Cek Jadwal & Cara Penukaran Tiket Wristband KOSTCON 2025

BERIKUTNYA

Manfaat Stevia untuk Pengidap Diabetes dan Efek Konsumsi Jangka Panjang

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga