Kenali Jenis & Ciri-ciri Gangguan Kecemasan yang Dapat Berakibat Fatal
29 July 2025 |
10:30 WIB
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mencatat sekitar 4 persen dari populasi global memiliki gangguan kecemasan. Masalah kesehatan mental ini dapat berujung pada kematian, sehingga penting untuk mengetahui ciri-cirinya, termasuk pada remaja.
Dikutip dari laman WHO, 301 juta orang di dunia mengalami gangguan kecemasan pada 2019, sehingga menjadikannya sebagai gangguan mental yang paling umum dialami oleh banyak orang. WHO juga mencatat bahwa hanya 1 dari 4 orang yang menerima pengobatan.
Kesadaran bahwa gangguan kecemasan dapat diobati, kurangnya investasi dalam layanan kesehatan mental, kurangnya tenaga kesehatan terlatih, dan stigma sosial menjadi hambatan seseorang dalam mendapatkan perarawatan yang dibutuhkan.
Baca juga: Genhype Alami Kecemasan Berlebih Karena Gadget? Kenali Ciri Nomophobia
WHO menungkapkan, ada beberapa jenis gangguan kecemasan. Salah satunya adalah gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder, yakni kondisi kekhawatiran yang terus-menerus dan berlebihan tentang aktivitas atau kejadian sehari-hari.
Berdasarkan klasifikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jenis-jenis gangguan kecemasan (anxiety disorders) umumnya meliputi:
1. Gangguan Kecemasan Umum (Generalized Anxiety Disorder/GAD)
Ditandai dengan kekhawatiran yang berlebihan dan persisten terhadap berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari (pekerjaan, kesehatan, keuangan, dll.), meskipun tidak ada ancaman yang jelas. Kekhawatiran ini sulit dikendalikan dan sering disertai gejala fisik seperti ketegangan otot, mudah lelah, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, dan gangguan tidur.
2. Gangguan Panik (Panic Disorder)
Ditandai dengan serangan panik yang berulang dan tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas. Serangan panik melibatkan rasa takut yang intens atau ketidaknyamanan ekstrem yang mencapai puncaknya dalam beberapa menit, disertai gejala fisik seperti jantung berdebar kencang, sesak napas, nyeri dada, pusing, berkeringat, gemetar, hingga merasa akan mati atau kehilangan kendali. Seringkali penderita juga merasa cemas akan serangan panik berikutnya.
3. Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder/Social Phobia)
Ditandai dengan ketakutan atau kecemasan yang signifikan dan persisten dalam situasi sosial di mana individu merasa akan diamati, dinilai negatif, dipermalukan, atau dihakimi oleh orang lain. Hal ini dapat menyebabkan penghindaran situasi sosial atau dihadapi dengan penderitaan yang hebat.
4. Fobia Spesifik (Specific Phobia)
Ditandai dengan ketakutan yang intens, tidak rasional, dan berlebihan terhadap objek atau situasi spesifik tertentu (misalnya, ketinggian, hewan tertentu seperti ular atau laba-laba, terbang, darah, jarum suntik). Ketakutan ini menyebabkan penghindaran yang signifikan terhadap pemicu fobia tersebut.
5. Agorafobia (Agoraphobia)
Merupakan ketakutan atau kecemasan berlebihan terhadap situasi yang sulit untuk melarikan diri atau mendapatkan bantuan jika terjadi serangan panik atau gejala lain yang memalukan. Situasi ini bisa meliputi berada di keramaian, tempat terbuka, tempat tertutup, menggunakan transportasi umum, atau berada di luar rumah sendirian.
6. Gangguan Kecemasan Perpisahan (Separation Anxiety Disorder)
Meskipun lebih sering didiagnosis pada anak-anak, gangguan ini juga bisa terjadi pada orang dewasa. Ditandai dengan kecemasan berlebihan dan tidak realistis mengenai perpisahan dari figur kelekatan atau rumah.
Selain jenis-jenis di atas, penting juga untuk dicatat bahwa Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD) dan Gangguan Stres Pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD), telah dikelompokkan dalam kategori tersendiri karena memiliki karakteristik yang lebih spesifik di luar kecemasan murni. Namun, gejala kecemasan tetap menjadi komponen signifikan dari gangguan-gangguan ini.
WHO secara berkelanjutan memperbarui klasifikasi penyakit, termasuk gangguan mental, melalui International Classification of Diseases (ICD).
Seseorang dapat mengalami lebih dari satu gangguan kecemasan secara bersamaan. Tidak hanya itu, gejalanya juga sering kali dimulai sejak masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut hingga dewasa. Anak perempuan dan wanita dewasa lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dibandingkan anak laki-laki dan pria dewasa.
Gangguan kecemasan, seperti kondisi kesehatan mental lainnya, merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor sosial, psikologis, dan biologis. Siapa saja dapat mengalami gangguan kecemasan, tetapi orang yang pernah mengalami kekerasan, kehilangan berat badan, atau pengalaman buruk lainnya lebih mungkin kondisi medis tersebut.
Individu dengan gangguan kecemasan tidak menutup kemungkinan mengalami ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan terhadap situasi tertentu atau kegiatan sehari-hari. Selain itu, gejala lain yang muncul dalam diri seseorang dengan gangguan kecemasan adalah kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan.
Orang dengan gangguan kecemasan juga memiliki gejala merasa mudah tersinggung, tegang atau gelisah; mengalami mual atau gangguan perut; mengalami palpitasi jantung; berkeringat, gemetar atau gemetar; kesulitan tidur; dan memiliki perasaan akan datangnya bahaya, kepanikan, atau malapetaka.
Individu dengan gejala gangguan kecemasan sebaiknya mencari pertolongan agar dapat mengatasinya mengingat kondisi medis ini dapat diobati. Pertama adalah intervensi psikologis.
Intervensi itu dapat membantu orang mempelajari cara berpikir, mengatasi, atau berhubungan dengan kecemasan yang dimiliki sendiri, orang lain, atau dunia. Intervensi ini dapat mengajarkan orang cara menghadapi situasi, peristiwa, orang, atau tempat yang memicu kecemasan mereka.
Baca juga: Waduh, 60% Mahasiswa FISIP UI Mengidap Gangguan Kecemasan
Intervensi psikologis dapat diberikan kepada individu maupun kelompok, secara langsung maupun daring. Intervensi ini juga dapat diakses melalui panduan swadaya, situs web, dan aplikasi. Intervensi psikologis yang paling terbukti efektif dalam menangani berbagai gangguan kecemasan adalah yang didasarkan pada prinsip-prinsip terapi kognitif-perilaku.
Selain itu, seseorang juga mempelajari keterampilan manajemen stres, seperti keterampilan relaksasi dan keterampilan perhatian. Obat antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), juga dapat bermanfaat dalam mengobati orang dewasa dengan gangguan kecemasan.
Dikutip dari laman WHO, 301 juta orang di dunia mengalami gangguan kecemasan pada 2019, sehingga menjadikannya sebagai gangguan mental yang paling umum dialami oleh banyak orang. WHO juga mencatat bahwa hanya 1 dari 4 orang yang menerima pengobatan.
Kesadaran bahwa gangguan kecemasan dapat diobati, kurangnya investasi dalam layanan kesehatan mental, kurangnya tenaga kesehatan terlatih, dan stigma sosial menjadi hambatan seseorang dalam mendapatkan perarawatan yang dibutuhkan.
Baca juga: Genhype Alami Kecemasan Berlebih Karena Gadget? Kenali Ciri Nomophobia
WHO menungkapkan, ada beberapa jenis gangguan kecemasan. Salah satunya adalah gangguan kecemasan umum atau generalized anxiety disorder, yakni kondisi kekhawatiran yang terus-menerus dan berlebihan tentang aktivitas atau kejadian sehari-hari.
Berdasarkan klasifikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jenis-jenis gangguan kecemasan (anxiety disorders) umumnya meliputi:
1. Gangguan Kecemasan Umum (Generalized Anxiety Disorder/GAD)
Ditandai dengan kekhawatiran yang berlebihan dan persisten terhadap berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari (pekerjaan, kesehatan, keuangan, dll.), meskipun tidak ada ancaman yang jelas. Kekhawatiran ini sulit dikendalikan dan sering disertai gejala fisik seperti ketegangan otot, mudah lelah, sulit konsentrasi, mudah tersinggung, dan gangguan tidur.
2. Gangguan Panik (Panic Disorder)
Ditandai dengan serangan panik yang berulang dan tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas. Serangan panik melibatkan rasa takut yang intens atau ketidaknyamanan ekstrem yang mencapai puncaknya dalam beberapa menit, disertai gejala fisik seperti jantung berdebar kencang, sesak napas, nyeri dada, pusing, berkeringat, gemetar, hingga merasa akan mati atau kehilangan kendali. Seringkali penderita juga merasa cemas akan serangan panik berikutnya.
3. Gangguan Kecemasan Sosial (Social Anxiety Disorder/Social Phobia)
Ditandai dengan ketakutan atau kecemasan yang signifikan dan persisten dalam situasi sosial di mana individu merasa akan diamati, dinilai negatif, dipermalukan, atau dihakimi oleh orang lain. Hal ini dapat menyebabkan penghindaran situasi sosial atau dihadapi dengan penderitaan yang hebat.
4. Fobia Spesifik (Specific Phobia)
Ditandai dengan ketakutan yang intens, tidak rasional, dan berlebihan terhadap objek atau situasi spesifik tertentu (misalnya, ketinggian, hewan tertentu seperti ular atau laba-laba, terbang, darah, jarum suntik). Ketakutan ini menyebabkan penghindaran yang signifikan terhadap pemicu fobia tersebut.
5. Agorafobia (Agoraphobia)
Merupakan ketakutan atau kecemasan berlebihan terhadap situasi yang sulit untuk melarikan diri atau mendapatkan bantuan jika terjadi serangan panik atau gejala lain yang memalukan. Situasi ini bisa meliputi berada di keramaian, tempat terbuka, tempat tertutup, menggunakan transportasi umum, atau berada di luar rumah sendirian.
6. Gangguan Kecemasan Perpisahan (Separation Anxiety Disorder)
Meskipun lebih sering didiagnosis pada anak-anak, gangguan ini juga bisa terjadi pada orang dewasa. Ditandai dengan kecemasan berlebihan dan tidak realistis mengenai perpisahan dari figur kelekatan atau rumah.
Selain jenis-jenis di atas, penting juga untuk dicatat bahwa Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD) dan Gangguan Stres Pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD), telah dikelompokkan dalam kategori tersendiri karena memiliki karakteristik yang lebih spesifik di luar kecemasan murni. Namun, gejala kecemasan tetap menjadi komponen signifikan dari gangguan-gangguan ini.
WHO secara berkelanjutan memperbarui klasifikasi penyakit, termasuk gangguan mental, melalui International Classification of Diseases (ICD).
Seseorang dapat mengalami lebih dari satu gangguan kecemasan secara bersamaan. Tidak hanya itu, gejalanya juga sering kali dimulai sejak masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut hingga dewasa. Anak perempuan dan wanita dewasa lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dibandingkan anak laki-laki dan pria dewasa.
Gangguan kecemasan, seperti kondisi kesehatan mental lainnya, merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor sosial, psikologis, dan biologis. Siapa saja dapat mengalami gangguan kecemasan, tetapi orang yang pernah mengalami kekerasan, kehilangan berat badan, atau pengalaman buruk lainnya lebih mungkin kondisi medis tersebut.
Individu dengan gangguan kecemasan tidak menutup kemungkinan mengalami ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan terhadap situasi tertentu atau kegiatan sehari-hari. Selain itu, gejala lain yang muncul dalam diri seseorang dengan gangguan kecemasan adalah kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan.
Orang dengan gangguan kecemasan juga memiliki gejala merasa mudah tersinggung, tegang atau gelisah; mengalami mual atau gangguan perut; mengalami palpitasi jantung; berkeringat, gemetar atau gemetar; kesulitan tidur; dan memiliki perasaan akan datangnya bahaya, kepanikan, atau malapetaka.
Individu dengan gejala gangguan kecemasan sebaiknya mencari pertolongan agar dapat mengatasinya mengingat kondisi medis ini dapat diobati. Pertama adalah intervensi psikologis.
Intervensi itu dapat membantu orang mempelajari cara berpikir, mengatasi, atau berhubungan dengan kecemasan yang dimiliki sendiri, orang lain, atau dunia. Intervensi ini dapat mengajarkan orang cara menghadapi situasi, peristiwa, orang, atau tempat yang memicu kecemasan mereka.
Baca juga: Waduh, 60% Mahasiswa FISIP UI Mengidap Gangguan Kecemasan
Intervensi psikologis dapat diberikan kepada individu maupun kelompok, secara langsung maupun daring. Intervensi ini juga dapat diakses melalui panduan swadaya, situs web, dan aplikasi. Intervensi psikologis yang paling terbukti efektif dalam menangani berbagai gangguan kecemasan adalah yang didasarkan pada prinsip-prinsip terapi kognitif-perilaku.
Selain itu, seseorang juga mempelajari keterampilan manajemen stres, seperti keterampilan relaksasi dan keterampilan perhatian. Obat antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), juga dapat bermanfaat dalam mengobati orang dewasa dengan gangguan kecemasan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.