Rizkya Batik Rilis Koleksi Busana MIMO di JF3 2025
29 July 2025 |
09:43 WIB
Karya busana dari desainer dan jenama alumni program PINTU Incubator berkolaborasi dengan para pelajar dari Ecole Duperré, dipersembahkan di JF3 Fashion Festival di Summarecon Mall Kelapa Gading yang berlangsung 25-27 Juli 2025.
Rizkya Batik, jenama yang merupakan alumni PINTU Incubator memperkenalkan koleksi terbarunya bertajuk MIMO. Setiap busana yang ditampilkan dirancang khusus untuk perempuan aktif, terutama para ibu menyusui.
Baca juga: Lawan Stigma Lewat Fesyen, TYGA Hadirkan Koleksi UNSTIGMATIZED
“Terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan, MIMO menggabungkan keindahan batik tradisional dengan potongan modern yang fungsional dan elegan," ujar Widya Chandra, Designer and Marketing Communications Rizkya Batik.
MIMO sendiri dimaknai sebagai panggilan seorang ibu dari anak tercinta. Busana yang ditampilkan terdiri dari 6 looks, merupakan refleksi dari keinginan perempuan untuk tetap tampil stylish tanpa mengesampingkan peran penting mereka sebagai ibu.
Rizkya Batik mengajak seluruh perempuan untuk merayakan fase baru dalam hidup mereka dengan busana yang berakar pada budaya namun tetap relevan secara modern.
Dalam proses kreatifnya, koleksi ini menggunakan batik tulis berbahan katun, hasil kolaborasi dengan para pengrajin batik di Solo. Motif batik tersebut merupakan pengembangan kontemporer dari motif buketan klasik.
"Batik tilis ini juga pakai pewarnaan alami dari tumbuh-tumbuhan seperti indigo untuk biru, coklat dari tanah, serta kuning dari buah jolawe, menjadi ciri khas dalam koleksi ini.
Tak ketinggalan, desainnya juga dilengkapi dengan fitur ramah busui, seperti bukaan tersembunyi, menghadirkan kenyamanan dan estetika sekaligus.
Keinginan untuk tampil modis membuat banyak orang mencari alternatif batik yang tak hanya sarat makna budaya, tapi juga relevan dengan selera mode masa kini. Rizkya Batik hadir sejak 2010 untuk menjawab kebutuhan itu, dengan menawarkan batik yang tak hanya indah secara estetika, tetapi juga nyaman dikenakan dalam berbagai kesempatan.
“Pada waktu itu, masih sedikit merek batik yang mampu menjawab kebutuhan akan pakaian batik yang berkualitas sekaligus modern," jelas Novana Sandra, Direktur Operasional Rizkya Batik.
Tak hanya fokus pada produksi pakaian, jenama ini juga memiliki misi pelestarian budaya batik Nusantara, serta ingin menjadikan batik sebagai bagian dari kebutuhan fesyen sehari-hari. Mereka juga berupaya menjaga keberlanjutan lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik serta memakai pewarna alami yang ramah lingkungan dalam proses membatik.
Saat ini sekitar 90 persen tenaga kerja Rizkya Batik terdiri dari perempuan. Dalam proses pembuatan produknya, mereka bekerja sama dengan ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas di sekitar Solo.
"Mereka semua berkontribusi aktif dalam proses produksi, dan kami memastikan bahwa pekerja disabilitas memiliki produktivitas yang setara,” tambah Novana..
Baca juga: Ramai Wastra sampai Ragam Bunga dalam Koleksi Desainer di JF3 2025
Dalam pengembangan bisnisnya, mereka terus menggandeng perajin dari berbagai daerah di Indonesi untuk memproduksi kain seperti katun, viscose, hingga kain ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), yang akan digunakan sebagai material desain koleksi busananya.
“Kami yakin bahwa kolaborasi dapat memperkuat merek dan memperpanjang umur bisnis," tutupnya.
Rizkya Batik, jenama yang merupakan alumni PINTU Incubator memperkenalkan koleksi terbarunya bertajuk MIMO. Setiap busana yang ditampilkan dirancang khusus untuk perempuan aktif, terutama para ibu menyusui.
Baca juga: Lawan Stigma Lewat Fesyen, TYGA Hadirkan Koleksi UNSTIGMATIZED
“Terinspirasi dari kekuatan dan kelembutan perempuan, MIMO menggabungkan keindahan batik tradisional dengan potongan modern yang fungsional dan elegan," ujar Widya Chandra, Designer and Marketing Communications Rizkya Batik.

Koleksi Rizkya Batik di JF3 (Sumber Foto: JF3)
MIMO sendiri dimaknai sebagai panggilan seorang ibu dari anak tercinta. Busana yang ditampilkan terdiri dari 6 looks, merupakan refleksi dari keinginan perempuan untuk tetap tampil stylish tanpa mengesampingkan peran penting mereka sebagai ibu.
Rizkya Batik mengajak seluruh perempuan untuk merayakan fase baru dalam hidup mereka dengan busana yang berakar pada budaya namun tetap relevan secara modern.
Dalam proses kreatifnya, koleksi ini menggunakan batik tulis berbahan katun, hasil kolaborasi dengan para pengrajin batik di Solo. Motif batik tersebut merupakan pengembangan kontemporer dari motif buketan klasik.
"Batik tilis ini juga pakai pewarnaan alami dari tumbuh-tumbuhan seperti indigo untuk biru, coklat dari tanah, serta kuning dari buah jolawe, menjadi ciri khas dalam koleksi ini.
Tak ketinggalan, desainnya juga dilengkapi dengan fitur ramah busui, seperti bukaan tersembunyi, menghadirkan kenyamanan dan estetika sekaligus.
Perjalanan Bisnis dan Proses Kreatif Desain Rizkya Batik
Keinginan untuk tampil modis membuat banyak orang mencari alternatif batik yang tak hanya sarat makna budaya, tapi juga relevan dengan selera mode masa kini. Rizkya Batik hadir sejak 2010 untuk menjawab kebutuhan itu, dengan menawarkan batik yang tak hanya indah secara estetika, tetapi juga nyaman dikenakan dalam berbagai kesempatan.“Pada waktu itu, masih sedikit merek batik yang mampu menjawab kebutuhan akan pakaian batik yang berkualitas sekaligus modern," jelas Novana Sandra, Direktur Operasional Rizkya Batik.
Tak hanya fokus pada produksi pakaian, jenama ini juga memiliki misi pelestarian budaya batik Nusantara, serta ingin menjadikan batik sebagai bagian dari kebutuhan fesyen sehari-hari. Mereka juga berupaya menjaga keberlanjutan lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik serta memakai pewarna alami yang ramah lingkungan dalam proses membatik.

Koleksi MIMO dari Rizkya Batik (Sumber Foto: JF3)
Saat ini sekitar 90 persen tenaga kerja Rizkya Batik terdiri dari perempuan. Dalam proses pembuatan produknya, mereka bekerja sama dengan ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas di sekitar Solo.
"Mereka semua berkontribusi aktif dalam proses produksi, dan kami memastikan bahwa pekerja disabilitas memiliki produktivitas yang setara,” tambah Novana..
Baca juga: Ramai Wastra sampai Ragam Bunga dalam Koleksi Desainer di JF3 2025
Dalam pengembangan bisnisnya, mereka terus menggandeng perajin dari berbagai daerah di Indonesi untuk memproduksi kain seperti katun, viscose, hingga kain ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), yang akan digunakan sebagai material desain koleksi busananya.
“Kami yakin bahwa kolaborasi dapat memperkuat merek dan memperpanjang umur bisnis," tutupnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.