Salah satu penulis Jilid 3, Usep Abdul Matin di Universitas Indonesia (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Buku Sejarah Indonesia Ungkap Temuan Baru Masuknya Islam di Nusantara

28 July 2025   |   13:41 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Hasil penulisan ulang Sejarah Nasional Indonesia (working title: Buku Sejarah Indonesia) mengungkap sejumlah temuan baru yang menarik. Salah satunya mengulas mengenai jejak awal masuknya Islam ke Nusantara sebagaimana dipaparkan dalam Jilid 3 dalam buku yang rencananya akan diresmikan pada peringatan 80 tahun Kemerdekaan RI.

Salah satu penulis Jilid 3, Usep Abdul Matin mengungkapkan bahwa buku ini akan menyajikan narasi baru tentang Islamisasi yang terjadi di wilayah Nusantara. Jilid 3, yang dinamai Nusantara Dalam Jaringan Global: Asia Barat ini akan mengungkap kajian proses masuknya Islam yang dimulai sejak abad ke-7.

Baca juga: Jilid 1 Buku Sejarah Indonesia Berubah, dari Sejarah Awal menjadi Akar Peradaban Nusantara

Menurut Usep, temuan baru ini sekaligus memperbarui pandangan yang selama ini diacu dari empat sumber sebelumnya, yakni The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith (1913), Sejarah Nasional Indonesia (1984), Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal (2002), dan Indonesia dalam Arus Sejarah (2012).

Tiga buku pertama cenderung hanya menduga bahwa proses Islamisasi sudah dimulai pada abad ke-7 atau ke-8 Masehi, tetapi tanpa disertai bukti arkeologis yang kuat. Sementara itu, IDAS justru menegaskan bahwa Islamisasi di Nusantara baru terjadi pada abad ke-12 hingga ke-13 Masehi, yang kemudian memunculkan kerajaan-kerajaan Islam awal di kawasan ini.

Berbeda dengan sumber-sumber sebelumnya, Jilid 3 Sejarah Indonesia mendasarkan kesimpulannya pada fakta arkeologis terbaru. Temuan penting berasal dari Situs Bongal yang diteliti pada periode 2021–2023.

"Koin ini dibuat di Basrah, Irak, pada tahun 76 hijriyah (698 M/akhir abad ke-7 M) di masa Dinasti Bani Umayyah. Artinya, Islam sudah masuk sejak akhir abad ke-1 Hijriah," ungkap Usep dalam Diskusi Publik Draf Penulisan Buku Sejarah Indonesia di Universitas Indonesia beberapa waktu lalu.

Menurutnya, fakta ini menunjukkan bahwa jejak Islam sudah hadir di Nusantara lebih awal daripada yang selama ini diyakini. Selain itu, temuan ini juga menunjukan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Asia Barat.

Kemudian, kata Usep, penemuan koin dirham di Situs Bongal juga tidak hanya akan menggeser batas waktu awal islamisasi, tetapi juga membuka kemungkinan bahwa hubungan dagang dan budaya antara Nusantara dan dunia Islam sudah terjadi lebih intensif pada abad ke-7 M.

Sebagai pelabuhan, Bongal diyakini pernah menjadi pusat pelayaran dan perdagangan penting di masa lalu. Sumber daya alam seperti getah dan kayu harum dari hutan tropis, termasuk cendana, gaharu, dan kapur (kaafuur), merupakan komoditas utama yang diperdagangkan, bahkan sejak sebelum masehi dan masih dapat diamati langsung di Bongal.

Kapur dari hutan Sumatera dikenal luas dan sangat diminati oleh bangsa-bangsa besar seperti Arab, Mesir, dan Mesopotamia. Hingga kini, jenis-jenis tanaman penghasil komoditas tersebut masih dapat ditemukan di wilayah Bongal.

Aktivitas perdagangan ini tidak hanya menunjukkan kekayaan sumber daya alam Nusantara (terutama kapur), tetapi juga membuktikan bahwa kawasan ini telah menjadi titik penting dalam jaringan maritim dunia kuno, bahkan setelah datangnya Islam ke kawasan ini (Bongal dan Barus).

Usep menyimpulkan bahwa kebaruan dari Jilid III ini menekankan bahwa Islam masuk ke Nusantara secara damai dan tidak menghilangkan budaya lokal. Hal ini berbeda dari narasi dalam Sejarah Nasional Indonesia (1984) dan Indonesia dalam Arus Sejarah (2012) yang baru menyebut proses Islamisasi terjadi pada abad ke-12 atau ke-13 M. 

Bukti arkeologis di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dari abad ke-7 M menunjukkan bahwa Islam telah hadir lebih awal, dan hal ini sejalan dengan peran para sufi yang pada abad ke-13 memperkokoh (memperkuat) ajaran Islam melalui pendekatan yang tenang, menghargai budaya setempat, dan tidak memaksakan meninggalkan keyakinan lama.

Menurutnya, substansi utama jilid III ini terletak pada narasinya mengenai jaringan dagang maritim di Samudera Hindia yang menjadi penghubung utama antara Nusantara dan pusat- pusat Islam di Asia Barat (Timur Tengah). 

Jalur maritim ini bukan sekedar membawa komoditas dagang dan teknologi, tetapi juga ajaran Islam, nilai-nilai sosial, dan cara pandang baru tentang masyarakat, yang kemudian membentuk komunitas Muslim awal di Nusantara.

Baca juga: Terdiri dari 10 Jilid, Begini Isi Draft Terbaru Buku Sejarah Indonesia

Melalui pengaruh hubungan lintas kawasan antara Nusantara dan pusat-pusat Islam di Asia Barat (Timur Tengah), sejumlah kerajaan Islam (kesultanan) muncul dan berkembang. Kesultanan ini menjadikan Islam tidak hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai kekuatan budaya, politik, dan hukum.

Berdasarkan tema dan ruang lingkup isinya, jilid III menjadi satu sajian sejarah penting untuk menjadi jembatan antara masa awal Islam masuk pada abad ke-7 M ke Nusantara dan masa perkembangan Islam yang lebih luas pada abad ke-13 M, terutama melalui peran para sufi dengan ajaran tasawuf mereka.

SEBELUMNYA

Arti Istilah Rojali dan Rohana, Julukan Lucu untuk Pengunjung Ritel dan Mal

BERIKUTNYA

Bahaya Konflik Bersenjata, Ini Kawasan di Thailand dan Kamboja yang Harus Dihindari Wisatawan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga