Arti Istilah Rojali dan Rohana, Julukan Lucu untuk Pengunjung Ritel dan Mal
28 July 2025 |
12:30 WIB
Istilah Rojali dan Rohana menjadi perbincangan di dunia ritel dan pusat perbelanjaan. Meski terdengar jenaka, keduanya mencerminkan perubahan perilaku konsumen urban yang datang ke mal hanya untuk jalan-jalan, bersantai, atau membuat konten tanpa melakukan banyak transaksi.
Rojali merupakan akronim dari Rombongan Jarang Beli, merujuk pada kelompok pengunjung yang datang beramai-ramai ke mal atau ritel tanpa membeli. Sementara itu, Rohana diartikan sebagai Rombongan Hanya Nanya-nanya, yakni pengunjung yang terlihat antusias menanyakan produk namun akhirnya tidak jadi beli.
Baca juga: Tak Sekadar Tempat Belanja, Ini 5 Strategi Mall Agar Tetap Eksis
Karakteristik Rojali (Rombongan Jarang Beli)
Karakteristik Rohana (Rombongan Hanya Nanya-nanya)
Fenomena ini dinilai berkaitan erat dengan kondisi daya beli masyarakat yang sedang lesu. Banyak orang masih ingin menikmati suasana mal, walau hanya untuk sekadar melihat-lihat. Tujuan kunjungan pun bergeser, dari berbelanja menjadi pencarian pengalaman, hiburan, dan eksistensi sosial.
Aktivitas macam ini sebetulnya memang sah-sah saja. Namun, dari kacamata pelaku usaha, kehadiran Rojali dan Rohana tidak memberikan keuntungan signifikan. Meski mereka membuat mal terlihat ramai, tapi nyatanya tidak berdampak apapun pada peningkatan penjualan.
Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) bersama tSurvey mengungkapkan sejumlah aktivitas yang paling sering dilakukan masyarakat Indonesia saat mengunjungi mal pada awal 2025.
Aktivitas yang paling dominan adalah makan di restoran atau kafe, yang dipilih oleh 68 persen responden. Sebagian besar dari mereka sebelumnya bahkan tidak mengunjungi mal pada akhir 2024.
Aktivitas populer lainnya termasuk menonton film di bioskop (49 persen) dan berbelanja pakaian, gadget, elektronik, furnitur, dan produk lainnya (34 persen). Selain itu, ada pula yang mengunjungi tempat hiburan atau permainan seperti playground (28 persen), toko buku atau pusat edukasi (15 persen), photobox (5 persen), hingga berolahraga di gym (4 persen). Sementara, sebanyak 7 persen responden menyebutkan aktivitas lainnya.
Survei ini juga menunjukkan bahwa faktor sosial menjadi alasan utama seseorang datang ke mal. Sebanyak 65 persen responden mengaku berkunjung karena ajakan teman atau keluarga. Faktor lain yang memengaruhi adalah adanya acara atau kegiatan komunitas yang menarik (35 persen), serta perubahan kualitas fasilitas di pusat perbelanjaan (27 persen).
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Rojali merupakan akronim dari Rombongan Jarang Beli, merujuk pada kelompok pengunjung yang datang beramai-ramai ke mal atau ritel tanpa membeli. Sementara itu, Rohana diartikan sebagai Rombongan Hanya Nanya-nanya, yakni pengunjung yang terlihat antusias menanyakan produk namun akhirnya tidak jadi beli.
Baca juga: Tak Sekadar Tempat Belanja, Ini 5 Strategi Mall Agar Tetap Eksis
Karakteristik Rojali (Rombongan Jarang Beli)
- Datang beramai-ramai biasanya dalam kelompok teman, keluarga, atau komunitas, sering terlihat jalan beriringan di lorong mal.
- Jarang membawa kantong belanja. Meski berkeliling banyak toko, hampir tak ada transaksi yang dilakukan.
- Lebih banyak foto-foto atau bikin konten. Tujuan utama mereka biasanya untuk OOTD, vlog, atau unggahan media sosial
- Sering nongkrong berjam-jam di area publik mal seperti food court, taman indoor, spot estetik, atau dekat colokan listrik dan Wi-Fi
Karakteristik Rohana (Rombongan Hanya Nanya-nanya)
- Antusias bertanya soal detail produk, mulai dari harga, warna, ukuran yang tersedia, bahkan stok di cabang lain, tapi akhirnya tidak membeli.
- Sering mencoba barang tapi batal beli. Mulai dari coba-coba baju di fitting room, tester makeup, hingga duduk di sofa display, tapi hanya untuk 'lihat-lihat dulu'.
- Punya alasan klasik untuk menunda beli. Biasanya kalimat seperti “nanti balik lagi ya, Kak”, “mau lihat-lihat dulu”, atau “diskusi dulu sama teman” jadi andalan.
- Sering kali mereka membuat staf toko sibuk, memberi harapan akan membeli, tapi akhirnya pergi tanpa jejak transaksi.
Fenomena ini dinilai berkaitan erat dengan kondisi daya beli masyarakat yang sedang lesu. Banyak orang masih ingin menikmati suasana mal, walau hanya untuk sekadar melihat-lihat. Tujuan kunjungan pun bergeser, dari berbelanja menjadi pencarian pengalaman, hiburan, dan eksistensi sosial.
Aktivitas macam ini sebetulnya memang sah-sah saja. Namun, dari kacamata pelaku usaha, kehadiran Rojali dan Rohana tidak memberikan keuntungan signifikan. Meski mereka membuat mal terlihat ramai, tapi nyatanya tidak berdampak apapun pada peningkatan penjualan.
Hasil survei Katadata Insight Center (KIC) bersama tSurvey mengungkapkan sejumlah aktivitas yang paling sering dilakukan masyarakat Indonesia saat mengunjungi mal pada awal 2025.
Aktivitas yang paling dominan adalah makan di restoran atau kafe, yang dipilih oleh 68 persen responden. Sebagian besar dari mereka sebelumnya bahkan tidak mengunjungi mal pada akhir 2024.
Aktivitas populer lainnya termasuk menonton film di bioskop (49 persen) dan berbelanja pakaian, gadget, elektronik, furnitur, dan produk lainnya (34 persen). Selain itu, ada pula yang mengunjungi tempat hiburan atau permainan seperti playground (28 persen), toko buku atau pusat edukasi (15 persen), photobox (5 persen), hingga berolahraga di gym (4 persen). Sementara, sebanyak 7 persen responden menyebutkan aktivitas lainnya.
Survei ini juga menunjukkan bahwa faktor sosial menjadi alasan utama seseorang datang ke mal. Sebanyak 65 persen responden mengaku berkunjung karena ajakan teman atau keluarga. Faktor lain yang memengaruhi adalah adanya acara atau kegiatan komunitas yang menarik (35 persen), serta perubahan kualitas fasilitas di pusat perbelanjaan (27 persen).
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.