Terdiri dari 10 Jilid, Begini Isi Draft Terbaru Buku Sejarah Indonesia
26 July 2025 |
13:37 WIB
Proses penulisan ulang Buku Sejarah Nasional Indonesia masih terus berjalan dan kini memasuki tahap diskusi publik. Agenda diskusi sebelum buku ini dirilis bakal digelar di empat tempat berbeda untuk mewakili luasnya wilayah Indonesia.
Diskusi publik pertama dimulai pada 25 Juli 2025 lalu di Universitas Indonesia (UI). Setelah itu, kegiatan serupa dijadwalkan berlangsung di Universitas Lambung Mangkurat pada 28 Juli 2025, Universitas Negeri Padang pada 31 Juli 2025, serta Universitas Negeri Makassar pada 4 Agustus 2025.
Baca juga: Uji Publik Penulisan Buku Sejarah Nasional Indonesia Mulai Digelar
Tahap uji publik ini bertujuan memberi kesempatan bagi masyarakat akademik maupun umum untuk memberikan saran dan masukan yang bersifat konstruktif terhadap rancangan naskah buku tersebut.
Menurut Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, hingga saat ini penyusunan Buku Sejarah Indonesia telah menghasilkan naskah setebal 5.536 halaman yang terbagi dalam sepuluh jilid.
Proses ini melibatkan 112 penulis dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam, seperti arkeologi, sejarah, epigrafi, filologi, geografi, hingga ilmu sosial-humaniora. Para penulis berasal dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia dan delapan lembaga non-akademik, dengan memperhatikan keterwakilan wilayah serta keseimbangan gender.
Saat ini, naskah buku tersebut tengah berada dalam proses penyelarasan oleh para editor jilid. Setelah mendapatkan masukan dari uji publik, naskah akan dilengkapi sebelum kemudian masuk pada tahap penyuntingan oleh tim editor umum.
Tiga editor umum yang memimpin penyusunan buku ini adalah Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum dari Universitas Diponegoro, dan Prof. Jajat Burhanudin, M.A dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sementara itu, setiap jilid ditangani oleh satu hingga dua editor khusus, antara lain Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, M.Si, Dr. Ninie Susanti Tejowasono, M.Hum, Zacky Khairul Umam, Ph.D, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, M.Hum, Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D, Nur Aini Setiawati, Ph.D, Dr. Didik Pradjoko, M.Hum, dan Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, M.Hum.
Dalam diskusi publik ini, para editor juga mulai membuka gambaran dari masing-masing jilid yang ada di buku ini. Berikut adalah draft terbaru dari Buku Sejarah Indonesia:
Jilid 1 - Akar Peradaban Nusantara
Jilid ini menelusuri fondasi awal yang membentuk peradaban di kawasan Nusantara sebelum adanya perjumpaan dengan peradaban besar dunia. Pembahasan mencakup aspek ekologis, antropologis, dan kultural yang membentuk pola hidup masyarakat, termasuk perkembangan teknologi sederhana, kepercayaan animisme-dinamisme, serta pola permukiman yang menyesuaikan dengan kondisi geografis kepulauan.
Selain itu, jilid ini menguraikan proses panjang pembentukan identitas budaya yang bersumber dari interaksi manusia dengan alam serta hubungan antarkelompok di wilayah kepulauan. Nilai-nilai yang lahir dari periode ini menjadi dasar bagi struktur sosial, kepercayaan, dan praktik budaya yang kelak berpengaruh pada perkembangan peradaban berikutnya.
Jilid 2 - Nusantara dalam Jaringan Global: India, Tiongkok dan Persia
Jilid ini membahas masa ketika Nusantara mulai memasuki jaringan global melalui hubungan dengan India, Tiongkok, dan Persia. Persentuhan budaya melahirkan peradaban baru yang memadukan unsur lokal dengan pengaruh luar, termasuk hadirnya agama Hindu-Buddha yang mendominasi struktur sosial dan pemerintahan.
Selain agama, pengaruh asing juga terlihat dalam lahirnya aksara, sistem penanggalan, konsep kekuasaan, dan nilai-nilai religius yang mengakar dalam birokrasi kerajaan. Semua ini menciptakan pondasi baru bagi tata pemerintahan dan kebudayaan Nusantara pada masa tersebut.
Jilid 3 - Nusantara Dalam Jaringan Global: Asia Barat
Sebagai kelanjutan dari interaksi sebelumnya, jilid ini memaparkan peran penting jaringan perdagangan maritim yang menghubungkan Nusantara dengan Asia Barat sejak abad ke-7. Perdagangan rempah menjadi motor utama yang menempatkan kepulauan ini sebagai simpul strategis dalam jalur niaga internasional.
Arus barang dan manusia melintasi Samudra Hindia membawa pengaruh budaya, agama, serta teknologi baru yang memperkaya masyarakat Nusantara. Perdagangan ini juga menjadi pintu masuk bagi Islam yang kemudian memengaruhi struktur sosial, politik, dan budaya setempat.
Jilid 4 - Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi
Jilid ini menguraikan periode awal kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara. Portugis dan Spanyol menjadi pihak pertama yang memasuki jaringan perdagangan lokal, diikuti Belanda dengan VOC sejak 1602, serta bangsa Barat lainnya.
Kehadiran mereka memicu persaingan dagang, perubahan pola kekuasaan, dan pembentukan aliansi politik dengan kerajaan-kerajaan lokal. Masa ini menjadi titik awal keterlibatan intensif Eropa dalam dinamika politik dan ekonomi Nusantara.
Jilid 5 - Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial
Pembahasan pada jilid ini berfokus pada transformasi dari dominasi dagang menjadi kekuasaan kolonial penuh oleh Belanda. VOC yang semula berperan sebagai perusahaan dagang berubah menjadi penguasa teritorial hingga lahirnya struktur negara kolonial Hindia Belanda.
Pemerintahan kolonial membentuk sistem administrasi, hukum, dan ekonomi yang terpusat, sekaligus menciptakan imajinasi kesatuan wilayah yang kelak memengaruhi konsep Indonesia modern. Dampaknya terasa pada kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat lokal.
Jilid 6 - Pergerakan Kebangsaan
Jilid ini memaparkan munculnya kaum intelegensia yang mulai memiliki kesadaran kebangsaan di tengah modernisasi kota kolonial, berkembangnya pendidikan, dan meluasnya media massa.
Berbagai organisasi berbasis ideologi, agama, etnis, pemuda, hingga perempuan bermunculan untuk menyuarakan kemerdekaan, persamaan hak, dan keadilan sosial. Periode ini menjadi fondasi awal pergerakan nasional Indonesia.
Jilid 7 - Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Masa 1945–1949 menjadi fokus utama jilid ini, yaitu periode ketika Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan melalui jalur diplomasi, perang bersenjata, dan pembentukan pemerintahan yang stabil.
Konflik bersenjata dengan Belanda, agresi militer, hingga berbagai perundingan internasional menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia mengkonsolidasikan kemerdekaannya di tengah tekanan global.
Jilid 8 - Konsolidasi Negara Bangsa: Konflik, Integrasi, dan Kepemimpinan Internasional, 1950–1965
Jilid ini menyoroti upaya Indonesia membangun sistem kenegaraan pasca-perang kemerdekaan. Tantangan datang dari konflik internal, pergolakan daerah, dan dinamika politik yang menguji integrasi nasional.
Selain itu, Indonesia mulai menunjukkan peran di kancah internasional, termasuk melalui Konferensi Asia-Afrika dan keterlibatan dalam Gerakan Non-Blok, yang memperlihatkan ambisi diplomatik negara muda ini.
Jilid 9 - Pembangunan dan Stabilitas Nasional Era Orde Baru 1967–1998
Era Orde Baru ditandai dengan konsolidasi kekuasaan di bawah Presiden Suharto, yang berfokus pada pembangunan ekonomi, stabilitas politik, dan modernisasi lembaga negara.
Namun, periode ini juga disertai dengan pembatasan kebebasan politik, sentralisasi kekuasaan, dan kontrol ketat terhadap masyarakat. Stabilitas nasional dicapai, tetapi dengan biaya sosial dan politik yang besar.
Jilid 10 - Dari Reformasi ke Konsolidasi Demokrasi, 1998–2024
Jilid terakhir membahas runtuhnya Orde Baru dan lahirnya era Reformasi yang membawa perubahan besar dalam struktur politik, termasuk desentralisasi, demokratisasi, dan amandemen konstitusi.
Periode ini mencakup perkembangan sistem multipartai, pemilu langsung, penguatan masyarakat sipil, serta dinamika politik yang terus membentuk proses konsolidasi demokrasi Indonesia hingga masa kini.
Baca juga: Hypereport: Urgensi & Konsep Proyek Penulisan Ulang Sejarah Nasional
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Diskusi publik pertama dimulai pada 25 Juli 2025 lalu di Universitas Indonesia (UI). Setelah itu, kegiatan serupa dijadwalkan berlangsung di Universitas Lambung Mangkurat pada 28 Juli 2025, Universitas Negeri Padang pada 31 Juli 2025, serta Universitas Negeri Makassar pada 4 Agustus 2025.
Baca juga: Uji Publik Penulisan Buku Sejarah Nasional Indonesia Mulai Digelar
Tahap uji publik ini bertujuan memberi kesempatan bagi masyarakat akademik maupun umum untuk memberikan saran dan masukan yang bersifat konstruktif terhadap rancangan naskah buku tersebut.
Menurut Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, hingga saat ini penyusunan Buku Sejarah Indonesia telah menghasilkan naskah setebal 5.536 halaman yang terbagi dalam sepuluh jilid.
Proses ini melibatkan 112 penulis dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam, seperti arkeologi, sejarah, epigrafi, filologi, geografi, hingga ilmu sosial-humaniora. Para penulis berasal dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia dan delapan lembaga non-akademik, dengan memperhatikan keterwakilan wilayah serta keseimbangan gender.
Saat ini, naskah buku tersebut tengah berada dalam proses penyelarasan oleh para editor jilid. Setelah mendapatkan masukan dari uji publik, naskah akan dilengkapi sebelum kemudian masuk pada tahap penyuntingan oleh tim editor umum.
Tiga editor umum yang memimpin penyusunan buku ini adalah Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum dari Universitas Diponegoro, dan Prof. Jajat Burhanudin, M.A dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sementara itu, setiap jilid ditangani oleh satu hingga dua editor khusus, antara lain Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, M.Si, Dr. Ninie Susanti Tejowasono, M.Hum, Zacky Khairul Umam, Ph.D, Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, M.Hum, Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D, Nur Aini Setiawati, Ph.D, Dr. Didik Pradjoko, M.Hum, dan Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, M.Hum.
Dalam diskusi publik ini, para editor juga mulai membuka gambaran dari masing-masing jilid yang ada di buku ini. Berikut adalah draft terbaru dari Buku Sejarah Indonesia:
Jilid 1 - Akar Peradaban Nusantara
Jilid ini menelusuri fondasi awal yang membentuk peradaban di kawasan Nusantara sebelum adanya perjumpaan dengan peradaban besar dunia. Pembahasan mencakup aspek ekologis, antropologis, dan kultural yang membentuk pola hidup masyarakat, termasuk perkembangan teknologi sederhana, kepercayaan animisme-dinamisme, serta pola permukiman yang menyesuaikan dengan kondisi geografis kepulauan.
Selain itu, jilid ini menguraikan proses panjang pembentukan identitas budaya yang bersumber dari interaksi manusia dengan alam serta hubungan antarkelompok di wilayah kepulauan. Nilai-nilai yang lahir dari periode ini menjadi dasar bagi struktur sosial, kepercayaan, dan praktik budaya yang kelak berpengaruh pada perkembangan peradaban berikutnya.
Jilid 2 - Nusantara dalam Jaringan Global: India, Tiongkok dan Persia
Jilid ini membahas masa ketika Nusantara mulai memasuki jaringan global melalui hubungan dengan India, Tiongkok, dan Persia. Persentuhan budaya melahirkan peradaban baru yang memadukan unsur lokal dengan pengaruh luar, termasuk hadirnya agama Hindu-Buddha yang mendominasi struktur sosial dan pemerintahan.
Selain agama, pengaruh asing juga terlihat dalam lahirnya aksara, sistem penanggalan, konsep kekuasaan, dan nilai-nilai religius yang mengakar dalam birokrasi kerajaan. Semua ini menciptakan pondasi baru bagi tata pemerintahan dan kebudayaan Nusantara pada masa tersebut.
Jilid 3 - Nusantara Dalam Jaringan Global: Asia Barat
Sebagai kelanjutan dari interaksi sebelumnya, jilid ini memaparkan peran penting jaringan perdagangan maritim yang menghubungkan Nusantara dengan Asia Barat sejak abad ke-7. Perdagangan rempah menjadi motor utama yang menempatkan kepulauan ini sebagai simpul strategis dalam jalur niaga internasional.
Arus barang dan manusia melintasi Samudra Hindia membawa pengaruh budaya, agama, serta teknologi baru yang memperkaya masyarakat Nusantara. Perdagangan ini juga menjadi pintu masuk bagi Islam yang kemudian memengaruhi struktur sosial, politik, dan budaya setempat.
Jilid 4 - Interaksi Awal dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi
Jilid ini menguraikan periode awal kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara. Portugis dan Spanyol menjadi pihak pertama yang memasuki jaringan perdagangan lokal, diikuti Belanda dengan VOC sejak 1602, serta bangsa Barat lainnya.
Kehadiran mereka memicu persaingan dagang, perubahan pola kekuasaan, dan pembentukan aliansi politik dengan kerajaan-kerajaan lokal. Masa ini menjadi titik awal keterlibatan intensif Eropa dalam dinamika politik dan ekonomi Nusantara.
Jilid 5 - Masyarakat Indonesia dan Terbentuknya Negara Kolonial
Pembahasan pada jilid ini berfokus pada transformasi dari dominasi dagang menjadi kekuasaan kolonial penuh oleh Belanda. VOC yang semula berperan sebagai perusahaan dagang berubah menjadi penguasa teritorial hingga lahirnya struktur negara kolonial Hindia Belanda.
Pemerintahan kolonial membentuk sistem administrasi, hukum, dan ekonomi yang terpusat, sekaligus menciptakan imajinasi kesatuan wilayah yang kelak memengaruhi konsep Indonesia modern. Dampaknya terasa pada kehidupan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat lokal.
Jilid 6 - Pergerakan Kebangsaan
Jilid ini memaparkan munculnya kaum intelegensia yang mulai memiliki kesadaran kebangsaan di tengah modernisasi kota kolonial, berkembangnya pendidikan, dan meluasnya media massa.
Berbagai organisasi berbasis ideologi, agama, etnis, pemuda, hingga perempuan bermunculan untuk menyuarakan kemerdekaan, persamaan hak, dan keadilan sosial. Periode ini menjadi fondasi awal pergerakan nasional Indonesia.
Jilid 7 - Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Masa 1945–1949 menjadi fokus utama jilid ini, yaitu periode ketika Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan melalui jalur diplomasi, perang bersenjata, dan pembentukan pemerintahan yang stabil.
Konflik bersenjata dengan Belanda, agresi militer, hingga berbagai perundingan internasional menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia mengkonsolidasikan kemerdekaannya di tengah tekanan global.
Jilid 8 - Konsolidasi Negara Bangsa: Konflik, Integrasi, dan Kepemimpinan Internasional, 1950–1965
Jilid ini menyoroti upaya Indonesia membangun sistem kenegaraan pasca-perang kemerdekaan. Tantangan datang dari konflik internal, pergolakan daerah, dan dinamika politik yang menguji integrasi nasional.
Selain itu, Indonesia mulai menunjukkan peran di kancah internasional, termasuk melalui Konferensi Asia-Afrika dan keterlibatan dalam Gerakan Non-Blok, yang memperlihatkan ambisi diplomatik negara muda ini.
Jilid 9 - Pembangunan dan Stabilitas Nasional Era Orde Baru 1967–1998
Era Orde Baru ditandai dengan konsolidasi kekuasaan di bawah Presiden Suharto, yang berfokus pada pembangunan ekonomi, stabilitas politik, dan modernisasi lembaga negara.
Namun, periode ini juga disertai dengan pembatasan kebebasan politik, sentralisasi kekuasaan, dan kontrol ketat terhadap masyarakat. Stabilitas nasional dicapai, tetapi dengan biaya sosial dan politik yang besar.
Jilid 10 - Dari Reformasi ke Konsolidasi Demokrasi, 1998–2024
Jilid terakhir membahas runtuhnya Orde Baru dan lahirnya era Reformasi yang membawa perubahan besar dalam struktur politik, termasuk desentralisasi, demokratisasi, dan amandemen konstitusi.
Periode ini mencakup perkembangan sistem multipartai, pemilu langsung, penguatan masyarakat sipil, serta dinamika politik yang terus membentuk proses konsolidasi demokrasi Indonesia hingga masa kini.
Baca juga: Hypereport: Urgensi & Konsep Proyek Penulisan Ulang Sejarah Nasional
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.