Buku (Sumber gambar: Unsplash/Aditya Sethia)

Hypereport: Menilik Timeline Buku Sejarah Nasional Indonesia dari Masa ke Masa

15 July 2025   |   17:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Sejarah adalah cermin sebuah bangsa. Keberadaannya bukan hanya sebagai pijakan untuk memahami masa lalu, melainkan juga untuk merancang masa depan. Di Indonesia, upaya merekam jejak perjalanan bangsa dalam bentuk buku sejarah nasional terus dilakukan dari waktu ke waktu. 

Belakangan, kebutuhan akan narasi sejarah yang lebih inklusif, berimbang, dan terbarukan makin mengemuka. Bukan hanya karena munculnya data dan temuan baru dari dunia akademik, tetapi juga karena tuntutan zaman yang menuntut cara pandang yang lebih kritis terhadap sejarah itu sendiri. 

Baca juga laporan terkait:  Namun, seperti halnya sejarah itu sendiri yang terus bergerak dan berubah, penulisannya pun perlu diperbarui secara berkala agar tetap relevan dan akurat. Sejauh ini, setidaknya sudah ada dua buku babon atau rujukan utama dalam penulisan sejarah Indonesia yang telah terbit. Satu lagi tengah disusun dan akan terbit tahun ini.

Hal menariknya, ketiganya disusun dalam rentang waktu dan pendekatan berbeda. Ketiga buku ini juga punya cakupan tema yang luas. Lantas apa saja yang melandasi buku tersebut terbit dan apa saja perbedaannya? Berikut ulasannya: 


1. Sejarah Nasional Indonesia

Buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) pertama kali diterbitkan pada 1975 dan sejak itu dikenal luas sebagai “buku standar” dalam kajian sejarah Indonesia. Karena statusnya tersebut, SNI sering dijadikan acuan utama, baik secara eksplisit maupun implisit, dalam berbagai tulisan dan diskusi tentang sejarah bangsa. 

Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka dan memiliki keistimewaan sebagai hasil karya para peneliti Indonesia sendiri. Sebelumnya, buku-buku tentang Indonesia ditulis oleh negara lain, termasuk Belanda yang pernah menjajah Indonesia.

Buku SNI lahir dari sejarah panjang. Sebelumnya, pemerintah sempat membentuk Panitia Sedjarah Nasional pada 1951, yang terdiri dari tokoh-tokoh seperti Mohammad Yamin, Husein Djajadiningrat, dan R.M. Ngabehi Poerbatjaraka. Akan tetapi, panitia ini tidak berhasil mencetak capaian berarti akibat lemahnya koordinasi. 

Titik balik penting datang beberapa tahun kemudian, ketika Seminar Sejarah Nasional I diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 14–18 Desember 1957. Seminar ini menandai langkah awal dalam merumuskan pendekatan penulisan sejarah Indonesia yang lebih ilmiah dan berpijak pada semangat nasionalisme, sekaligus memperkuat fondasi historiografi nasional.

Dalam perkembangannya, sejarawan Sartono Kartodirdjo memperkenalkan pendekatan Indonesiasentris, yang menjadi dasar penyusunan SNI. Hal ini ditindaklanjuti dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0173/1970 yang menetapkan pembentukan tim penyusun SNI.  

Tim tersebut, yang dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Sartono, terdiri atas para sejarawan dan akademisi terkemuka. Hasil kerja mereka diterbitkan dalam enam jilid pada 1975. Buku ini sempat dilakukan pemutakhiran dalam beberapa kali. Dalam perkembangannya, buku ini tak lepas dari kontroversi karena dianggap sebagai alat legitimasi kekuasaan dan adanya penyederhanaan sejarah serta ketidakseimbangan narasi dari Orde Baru.


2. Indonesia dalam Arus Sejarah 

Indonesia dalam Arus Sejarah merupakan buku babon selanjutnya yang dimiliki Indonesia. Buku yang diterbitkan oleh PT Ichtiar Baru van Hoeve ini terdiri atas sembilan jilid dengan total sekitar 4.500 halaman. 

Penjilidan di buku ini dilakukan secara tematis, yakni Jilid 1 membahas masa prasejarah (380 halaman), Jilid 2 mengulas kerajaan Hindu-Buddha (372 halaman), Jilid 3 membahas masuknya Islam dan peradabannya (452 halaman), Jilid 4 menyoroti kolonialisme dan perlawanan (690 halaman), Jilid 5 mengangkat masa pergerakan nasional (436 halaman), Jilid 6 mencakup masa perang dan revolusi (579 halaman), Jilid 7 membahas periode pascarevolusi (547 halaman), Jilid 8 mengulas era Orde Baru dan Reformasi (684 halaman), dan Jilid 9 berisi fakta tambahan serta indeks (109 halaman).

Buku ini digagas oleh Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai upaya menyusun narasi sejarah yang utuh dan mendalam tentang perjalanan bangsa Indonesia. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang komunikatif dan diperkaya dengan ilustrasi warna, karya ini ditujukan agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca. 

Tugas penyuntingan umum dikoordinasi oleh dua tokoh utama: Prof. Dr. Taufik Abdullah dan almarhum Prof. Dr. A.B. Lapian. Setiap jilid juga dikawal oleh editor khusus sesuai bidang keahliannya, yang menentukan struktur isi dan memilih penulis untuk tiap bab. Misalnya, jilid prasejarah diedit oleh Prof. Dr. Truman Simanjuntak dan Dr. Harry Widianto; jilid Hindu-Buddha oleh Prof. Dr. Edi Sedyawati dan Dr. Hasan Djafar; dan seterusnya hingga jilid Reformasi yang diedit oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdi.

Struktur setiap jilid dimulai dari pengantar oleh editor, kemudian baru masuk ke bab-bab yang disusun secara tematik dan mendalam. Setiap bab disertai catatan kaki serta daftar pustaka untuk menunjukkan sumber rujukannya.

Dalam pengantar bukunya, Prof. Dr. Taufik Abdullah yang juga menyusun buku tersebut menegaskan bahwa karya ini bukan revisi dari Sejarah Nasional Indonesia, melainkan buku baru yang berdiri sendiri. Dengan demikian, kedua buku tersebut bisa digunakan sebagai referensi sejarah yang saling melengkapi.

Meski tampak seperti ensiklopedia, buku ini bukanlah ensiklopedia karena penyusunannya mengikuti kronologi sejarah, bukan alfabetis. Penyusunan buku ini memakan waktu sepuluh tahun, dari 2002 hingga 2012, dengan melibatkan hampir 100 penulis yang merupakan pakar sejarah dan arkeologi Indonesia. 

Buku ini terkenal karena isinya dinilai sangat menyeluruh, mencakup sejarah dari prasejarah hingga era reformasi. Kemudian, terdapat semangat kuat untuk meninjau ulang narasi sejarah, khususnya yang dibentuk di era Orde Baru. Buku ini hadir di masa yang tepat, ketika bangsa Indonesia tengah giat membangun jati diri dan karakter nasional melalui pemahaman sejarah yang lebih jernih.


3. Project Penulisan Ulang Sejarah Indonesia 2025

Penulisan ulang Sejarah Nasional Indonesia dilakukan kembali pada tahun 2025. Inisiatif ini digerakkan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia dan mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan. Sekitar 113 orang yang terdiri dari sejarawan, editor, dan akademisi lintas disiplin terlibat dalam proyek ini.

Berbeda dari dua karya sejarah sebelumnya—yakni Sejarah Nasional Indonesia dalam enam jilid dan Indonesia dalam Arus Sejarah yang terdiri dari delapan jilid—versi terbaru ini akan diterbitkan dalam sebelas jilid. Topik yang dibahas mencakup Sejarah Awal Nusantara, Nusantara dalam Jaringan Global: India dan China, Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah, Interaksi dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi, Respons Terhadap Penjajahan, Pergerakan Kebangsaan, Perang Kemerdekaan Indonesia, Masa Bergejolak dan Ancaman Integrasi, Orde Baru (1967–1998), Era Reformasi (1999–2024), dan Faktaneka dan Indeks

Penulisan ulang ini dimaksudkan sebagai bentuk pemutakhiran, mengingat terakhir kali buku sejarah nasional besar diterbitkan adalah pada 2012. Peluncurannya direncanakan bertepatan dengan peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus mendatang.

Buku ini akan mengakomodasi banyak temuan baru dari disertasi dan riset-riset mutakhir yang sebelumnya belum tercantum dalam buku SNI. Isi pembahasan dimulai dari periode awal peradaban, masa kejayaan kerajaan, era penjajahan dan dampak kolonialisme, hingga periode pascakemerdekaan. Penutup buku akan memuat babak transisi kepemimpinan dari Presiden Joko Widodo ke Presiden Prabowo Subianto.

Pendekatan penulisan tetap menggunakan sudut pandang Indonesia-sentris—sebuah perspektif yang sudah dirintis oleh Sartono Kartodirdjo. Namun, pendekatan ini kini diperluas dengan beragam sudut pandang baru, termasuk upaya memperkuat narasi sejarah yang lebih mandiri, tanpa mengabaikan konteks hubungan Indonesia dengan dunia luar.

Secara umum, naskah buku ini tidak bersifat menyalin ulang dari karya sebelumnya. Buku ini lebih difokuskan pada pembaruan isi, sehingga isi SNI dan IDAS hanya dijadikan pengantar di bagian-bagian tertentu yang relevan. Dengan begitu, buku ini tetap menghargai keberadaan Sejarah Nasional Indonesia dan Indonesia dalam Arus Sejarah. 

Baca juga: Hypereport: Hal-hal yang Direvisi dalam Buku Sejarah Nasional Terbaru 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Perfume Pop Market Kembali Hadir, Soroti Tren dan Industri Parfum Lokal

BERIKUTNYA

Moms, Cek 5 Tips Sederhana yang Bisa Maksimalkan Kesehatan Toddler

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: