Jilid 1 Buku Sejarah Indonesia Berubah, dari Sejarah Awal menjadi Akar Peradaban Nusantara
26 July 2025 |
15:30 WIB
Penamaan jilid pertama dalam penulisan ulang Buku Sejarah Indonesia kembali menjadi sorotan. Mulanya, jilid pertama yang membahas tentang Indonesia pada zaman prasejarah itu akan dinamai Sejarah Awal. Namun, istilah Sejarah Awal dikritik oleh sejumlah akademisi.
Para akademisi, terutama arkeolog dan ahli prasejarah menilai hal ini berpotensi meniadakan disiplin ilmu prasejarah yang memiliki peran penting dalam memahami masa sebelum adanya catatan tertulis.
Baca juga: Setelah UI, Uji Publik Buku Sejarah Digelar di 3 Kampus Lain
Selain itu, mereka juga menilai penggunaan istilah Sejarah Awal seolah-olah mengaburkan kontribusi penelitian prasejarah yang selama ini menjadi fondasi bagi rekonstruksi perjalanan manusia di kepulauan Nusantara.
Dalam diskusi publik pertama buku ini yang digelar di Universitas Indonesia pada Jumat (25/7/2025), tim penyusun akhirnya merespons hal tersebut. Mereka kemudian memberi nama baru untuk jilid ini menjadi Akar Peradaban Nusantara.
Perubahan ini dinilai lebih tepat karena menegaskan bahwa pembahasan tidak hanya mencakup urutan waktu, tetapi juga menjadi fondasi peradaban dari terbentuknya manusia Indonesia.
Ketua tim penulisan Susanto Zuhdi mengatakan penamaan buku jilid pertama ini memang menarik. Secara umum, buku ini akan membahas tentang sejarah Indonesia. Namun, menurutnya, menjadi tidak sinkron ketika jilid pertama ditulis dengan nama prasejarah.
Hal ini seolah-olah membuat apa yang terjadi dalam masa itu belum menjadi sejarah bagi manusia Indonesia. Padahal, menurutnya, ada kaitan erat dari masa itu sampai kemudian membentuk Indonesia modern.
Oleh karena itulah, dirinya mencoba mencari cara agar masa lampau tersebut, yang sudah jutaan tahun, tetap punya benang merah dengan sejarah Indonesia masa kini. Menurutnya, ini bukan karena dirinya ingin meniadaan disiplin ilmu prasejarah. Namun, demi menemukan konteks sejarah keindonesiaan.
"Kalau ditulis prasejarah, kok jadi kayak belum sejarah. Itu mengapa kami belum menggunakan prasejarah. Mungkin soal itu bisa nanti dibuat buku tersendiri soal prasejarah," ucap Susanto Zuhdi dalam diskusi Buku Sejarah Indonesia di UI, Jumat (26/7/2025).
Sementara itu, Editor Jilid 1 Cecep Eka Permana menyebut hadirnya jilid ini sebagai langkah penting dalam upaya memahami sekaligus menarasikan kembali perjalanan masa lalu bangsa Indonesia.
Buku ini merupakan penyegaran dari karya-karya sebelumnya, khususnya Sejarah Nasional Indonesia Edisi Pemutakhiran (terakhir terbit 2011) serta Indonesia dalam Arus Sejarah (terbit 2012).
Penulisan Jilid 1 banyak menggunakan referensi yang muncul setelah sumber terakhir penyusunan sejarah pada 2006. Dengan mengacu pada hasil penelitian terkini, temuan arkeologis terbaru, serta perspektif akademik yang berkembang selama sekitar dua dekade terakhir, jilid ini menyajikan sintesis yang lebih mutakhir tanpa mengabaikan arti penting karya-karya pendahulunya.
"Secara rentang waktu memang jilid ini jadi yang terpanjang, sampai jutaan tahun," ungkap Cecep.
Secara konsep, Jilid 1 diarahkan untuk menelusuri dan memetakan budaya serta akar peradaban Nusantara yang terbentuk jauh sebelum interaksi dengan kebudayaan luar, terutama India dan China. Pembahasan dimulai dari penjelasan mengenai proses terbentuknya fisik kepulauan Nusantara yang menghasilkan bentang geografis seperti yang ada saat ini.
Selanjutnya diuraikan pula hasil penelitian terbaru mengenai kehadiran manusia purba hingga kemunculan manusia modern. Interaksi panjang antara manusia dan lingkungan alam kepulauan ini melahirkan warisan budaya yang kaya, mencakup pengetahuan, teknologi, organisasi sosial, sistem kepercayaan, bahasa, hingga pola ekonomi.
Cecep menambahkan, kedatangan komunitas Penutur Austronesia sekitar 5.000–3.000 tahun lalu cukup membawa pengaruh signifikan, tidak hanya dalam aspek bahasa, tetapi juga dalam perkembangan sosial-budaya. Jejak keberadaannya dapat ditelusuri dari Sumatera hingga Papua.
Interaksi mereka dengan penduduk lokal melahirkan ragam bahasa lisan sekaligus teknologi pengolahan sumber daya alam, mulai dari batu, tanah liat, hingga logam. Berbagai artefak yang ditemukan menunjukkan adanya karya lokal maupun bentuk akulturasi dengan pengaruh luar.
Tradisi visual juga menjadi salah satu bukti kontinuitas budaya tersebut. Misalnya, gambar cadas berusia sekitar 50.000 tahun di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur yang sarat nilai religi dan seni. Tradisi ini berlanjut pada lukisan perahu, motif geometris, dan pola abstrak di Maluku serta Nusa Tenggara pada masa Penutur Austronesia (5.000–3.000 tahun lalu).
Di Pulau Muna, ditemukan lukisan kuda yang diperkirakan berasal dari 600–500 tahun lalu, sementara di Sumatra Barat terdapat “gambar gua besurek” yang masih bertahan hingga sekitar 300 tahun terakhir, bahkan terkait dengan tradisi tarekat Naqsyabandiyah.
Selain itu, pembangunan struktur megalitik untuk kepentingan religi menjadi bukti lain yang memperlihatkan kesinambungan budaya. Penelitian terbaru menunjukkan tradisi ini terus berkembang hingga memasuki periode sejarah.
Sebagai wilayah kepulauan, Nusantara sejak lama juga membentuk identitas kemaritiman. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan lukisan perahu pada dinding gua, temuan situs hunian nelayan dan pesisir, serta artefak yang mengindikasikan adanya aktivitas perdagangan dan pertukaran antarpulau.
Cecep mengatakan jilid 1 ini tidak hanya disajikan sebagai kumpulan data arkeologis atau catatan masa lalu, tetapi juga sebagai sebuah usaha untuk melakukan rekonstruksi sekaligus refleksi. Dengan memahami akar peradaban secara lebih menyeluruh, diharapkan pembaca dapat memperoleh pandangan yang lebih luas mengenai perjalanan sejarah serta identitas bangsa.
Sejak keberadaan Homo erectus sekitar 1,8 juta tahun lalu, manusia telah menjadi pelaku utama kebudayaan, hidup berkesinambungan sambil menciptakan dan mengembangkan berbagai keterampilan serta kearifan.
Melalui penelusuran ini, dirinya berharap akan muncul pemahaman yang lebih utuh tentang dasar-dasar peradaban, sehingga mampu memberikan perspektif yang lebih mendalam dalam melihat alur sejarah dan jati diri kita sebagai bangsa.
Baca juga: Terdiri dari 10 Jilid, Begini Isi Draft Terbaru Buku Sejarah Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Para akademisi, terutama arkeolog dan ahli prasejarah menilai hal ini berpotensi meniadakan disiplin ilmu prasejarah yang memiliki peran penting dalam memahami masa sebelum adanya catatan tertulis.
Baca juga: Setelah UI, Uji Publik Buku Sejarah Digelar di 3 Kampus Lain
Selain itu, mereka juga menilai penggunaan istilah Sejarah Awal seolah-olah mengaburkan kontribusi penelitian prasejarah yang selama ini menjadi fondasi bagi rekonstruksi perjalanan manusia di kepulauan Nusantara.
Dalam diskusi publik pertama buku ini yang digelar di Universitas Indonesia pada Jumat (25/7/2025), tim penyusun akhirnya merespons hal tersebut. Mereka kemudian memberi nama baru untuk jilid ini menjadi Akar Peradaban Nusantara.
Perubahan ini dinilai lebih tepat karena menegaskan bahwa pembahasan tidak hanya mencakup urutan waktu, tetapi juga menjadi fondasi peradaban dari terbentuknya manusia Indonesia.
Ketua tim penulisan Susanto Zuhdi mengatakan penamaan buku jilid pertama ini memang menarik. Secara umum, buku ini akan membahas tentang sejarah Indonesia. Namun, menurutnya, menjadi tidak sinkron ketika jilid pertama ditulis dengan nama prasejarah.
Hal ini seolah-olah membuat apa yang terjadi dalam masa itu belum menjadi sejarah bagi manusia Indonesia. Padahal, menurutnya, ada kaitan erat dari masa itu sampai kemudian membentuk Indonesia modern.
Oleh karena itulah, dirinya mencoba mencari cara agar masa lampau tersebut, yang sudah jutaan tahun, tetap punya benang merah dengan sejarah Indonesia masa kini. Menurutnya, ini bukan karena dirinya ingin meniadaan disiplin ilmu prasejarah. Namun, demi menemukan konteks sejarah keindonesiaan.
"Kalau ditulis prasejarah, kok jadi kayak belum sejarah. Itu mengapa kami belum menggunakan prasejarah. Mungkin soal itu bisa nanti dibuat buku tersendiri soal prasejarah," ucap Susanto Zuhdi dalam diskusi Buku Sejarah Indonesia di UI, Jumat (26/7/2025).
Sementara itu, Editor Jilid 1 Cecep Eka Permana menyebut hadirnya jilid ini sebagai langkah penting dalam upaya memahami sekaligus menarasikan kembali perjalanan masa lalu bangsa Indonesia.
Buku ini merupakan penyegaran dari karya-karya sebelumnya, khususnya Sejarah Nasional Indonesia Edisi Pemutakhiran (terakhir terbit 2011) serta Indonesia dalam Arus Sejarah (terbit 2012).
Penulisan Jilid 1 banyak menggunakan referensi yang muncul setelah sumber terakhir penyusunan sejarah pada 2006. Dengan mengacu pada hasil penelitian terkini, temuan arkeologis terbaru, serta perspektif akademik yang berkembang selama sekitar dua dekade terakhir, jilid ini menyajikan sintesis yang lebih mutakhir tanpa mengabaikan arti penting karya-karya pendahulunya.
"Secara rentang waktu memang jilid ini jadi yang terpanjang, sampai jutaan tahun," ungkap Cecep.
Secara konsep, Jilid 1 diarahkan untuk menelusuri dan memetakan budaya serta akar peradaban Nusantara yang terbentuk jauh sebelum interaksi dengan kebudayaan luar, terutama India dan China. Pembahasan dimulai dari penjelasan mengenai proses terbentuknya fisik kepulauan Nusantara yang menghasilkan bentang geografis seperti yang ada saat ini.
Selanjutnya diuraikan pula hasil penelitian terbaru mengenai kehadiran manusia purba hingga kemunculan manusia modern. Interaksi panjang antara manusia dan lingkungan alam kepulauan ini melahirkan warisan budaya yang kaya, mencakup pengetahuan, teknologi, organisasi sosial, sistem kepercayaan, bahasa, hingga pola ekonomi.
Cecep menambahkan, kedatangan komunitas Penutur Austronesia sekitar 5.000–3.000 tahun lalu cukup membawa pengaruh signifikan, tidak hanya dalam aspek bahasa, tetapi juga dalam perkembangan sosial-budaya. Jejak keberadaannya dapat ditelusuri dari Sumatera hingga Papua.
Interaksi mereka dengan penduduk lokal melahirkan ragam bahasa lisan sekaligus teknologi pengolahan sumber daya alam, mulai dari batu, tanah liat, hingga logam. Berbagai artefak yang ditemukan menunjukkan adanya karya lokal maupun bentuk akulturasi dengan pengaruh luar.
Tradisi visual juga menjadi salah satu bukti kontinuitas budaya tersebut. Misalnya, gambar cadas berusia sekitar 50.000 tahun di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur yang sarat nilai religi dan seni. Tradisi ini berlanjut pada lukisan perahu, motif geometris, dan pola abstrak di Maluku serta Nusa Tenggara pada masa Penutur Austronesia (5.000–3.000 tahun lalu).
Di Pulau Muna, ditemukan lukisan kuda yang diperkirakan berasal dari 600–500 tahun lalu, sementara di Sumatra Barat terdapat “gambar gua besurek” yang masih bertahan hingga sekitar 300 tahun terakhir, bahkan terkait dengan tradisi tarekat Naqsyabandiyah.
Selain itu, pembangunan struktur megalitik untuk kepentingan religi menjadi bukti lain yang memperlihatkan kesinambungan budaya. Penelitian terbaru menunjukkan tradisi ini terus berkembang hingga memasuki periode sejarah.
Sebagai wilayah kepulauan, Nusantara sejak lama juga membentuk identitas kemaritiman. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan lukisan perahu pada dinding gua, temuan situs hunian nelayan dan pesisir, serta artefak yang mengindikasikan adanya aktivitas perdagangan dan pertukaran antarpulau.
Cecep mengatakan jilid 1 ini tidak hanya disajikan sebagai kumpulan data arkeologis atau catatan masa lalu, tetapi juga sebagai sebuah usaha untuk melakukan rekonstruksi sekaligus refleksi. Dengan memahami akar peradaban secara lebih menyeluruh, diharapkan pembaca dapat memperoleh pandangan yang lebih luas mengenai perjalanan sejarah serta identitas bangsa.
Sejak keberadaan Homo erectus sekitar 1,8 juta tahun lalu, manusia telah menjadi pelaku utama kebudayaan, hidup berkesinambungan sambil menciptakan dan mengembangkan berbagai keterampilan serta kearifan.
Melalui penelusuran ini, dirinya berharap akan muncul pemahaman yang lebih utuh tentang dasar-dasar peradaban, sehingga mampu memberikan perspektif yang lebih mendalam dalam melihat alur sejarah dan jati diri kita sebagai bangsa.
Baca juga: Terdiri dari 10 Jilid, Begini Isi Draft Terbaru Buku Sejarah Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.