Tren Outdoor Playground Melejit, Balik Modal Bisa Kurang dari Setahun
28 July 2025 |
09:10 WIB
Bisnis taman bermain di Indonesia terus berkembang. Tak hanya di dalam mal, outdoor playground juga semakin diminati seiring minimnya fasilitas hiburan anak di banyak daerah. Hal ini tercermin dari meningkatnya permintaan yang diterima Happy Play, penyedia dan pengelola berbagai jenis taman bermain.
Supervisor Digital Marketing Happy Play Indonesia, Muhammad Azhar Munajat mengatakan dalam 5 tahun terakhir, permintaan pembuatan taman bermain yang ditangani perusahaannya cukup signifikan, terutama di area luar mal dan outdoor.
Semakin banyak pengusaha melirik potensi outdoor playground sebagai nilai tambah, bahkan untuk perumahan. Selain itu, tren stand-alone building juga semakin menjamur. Bisa dikatakan porsi antara playground di dalam dan luar mal yakni 30:70.
Baca juga: Manfaat Playground untuk Anak, Lebih dari Sekadar Tempat Bermain
Kondisi ini didorong dari kebutuhan masyarakat yang menginginkan adanya taman hiburan untuk anak-anak, terutama di luar kota besar atau wilayah terpencil dan perkampungan. Begitu pula dengan pertumbuhan pariwisata di daerah yang membuat permintaan taman bermain ikut meingkat.
“Kalau dipersentasekan, pertumbuhan playground di luar mal itu naik sekitar 20 persen setiap tahun,” ujar Azhar kepada Hypeabis.id beberapa waktu lalu.
Playground yang hadir di luar mal atau stand-alone terbilang lebih fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan tema yang ingin dibuat. Happy Play selaku konsultan bisnis taman bermain anak juga selalu memberi edukasi bahwa playground yang dibuat di luar mal juga cukup menguntungkan.
Meskipun Happy Play turut menerapkan sistem beli putus, Azhar menyebut pihaknya turut memberikan edukasi kepada kliennya agar bisnis playground yang dioperasikan bisa menguntungkan. Dari beberapa customer yang mengikuti saran bisnis Happy Play terutama di luar mal, katanya bisa balik modal hanya kurang dari satu tahun.
Misal, dari awal investasi sekitar Rp350 juta, pada bulan ke enam sudah bisa mencapai break event point (BEP) atau kondisi ketika jumlah pendapatan dan pengeluaran perusahaan sama. Kendati demikian, keuntungan yang didapat tentu juga melihat beberapa faktor seperti lokasi yang dipilih dan potensi pasar seperti daya beli masyarakat serta manajemen pengelolaan.
Sejauh ini, Happy Play katanya memiliki 4.390 proyek playground dari Sabang hingga Merauke. “Ini bukan kata-kata saja, bahkan proyek playground dari Happy Play ada di Pulau Sangihe, pulau terluar Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Azhar menilai kehadiran taman bermain sangat penting untuk tumbuh kembang anak di era digitalisasi. Playground bisa menjadi senjata ampuh untuk mengurangi ketergantungan anak pada gadget dan memperkuat ikatan antara anak dan orang tua.
Happy Play pun turut mendesain wahana di playground dengan menyesuaikan usia anak untuk melatih motorik dan sensorik. Mereka membagi wahana permainan berdasarkan kelompok usia yakni mulai dari 1-5 tahun, 5-10 tahun, dan 10-15 tahun untuk memastikan kesesuaian dan efektivitas dalam melatih perkembangan anak, tentu dengan menerapkan kualitas material yang aman sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).
Desain yang dihadirkan juga menarik dan tidak monoton, bahkan mempertimbangkan estetika untuk kebutuhan foto yang mengabadikan momen bersama keluarga. Desain pun dapat disesuaikan dengan permintaan klien yang kini berkolaborasi dengan bisnis kafe, restoran, hingga tempat wisata.
“Playgorund itu seperti traffic generator yang membantu bisnis lain,” sebutnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Supervisor Digital Marketing Happy Play Indonesia, Muhammad Azhar Munajat mengatakan dalam 5 tahun terakhir, permintaan pembuatan taman bermain yang ditangani perusahaannya cukup signifikan, terutama di area luar mal dan outdoor.
Semakin banyak pengusaha melirik potensi outdoor playground sebagai nilai tambah, bahkan untuk perumahan. Selain itu, tren stand-alone building juga semakin menjamur. Bisa dikatakan porsi antara playground di dalam dan luar mal yakni 30:70.
Baca juga: Manfaat Playground untuk Anak, Lebih dari Sekadar Tempat Bermain
Kondisi ini didorong dari kebutuhan masyarakat yang menginginkan adanya taman hiburan untuk anak-anak, terutama di luar kota besar atau wilayah terpencil dan perkampungan. Begitu pula dengan pertumbuhan pariwisata di daerah yang membuat permintaan taman bermain ikut meingkat.
“Kalau dipersentasekan, pertumbuhan playground di luar mal itu naik sekitar 20 persen setiap tahun,” ujar Azhar kepada Hypeabis.id beberapa waktu lalu.
Playground yang hadir di luar mal atau stand-alone terbilang lebih fleksibel sehingga bisa disesuaikan dengan tema yang ingin dibuat. Happy Play selaku konsultan bisnis taman bermain anak juga selalu memberi edukasi bahwa playground yang dibuat di luar mal juga cukup menguntungkan.
Meskipun Happy Play turut menerapkan sistem beli putus, Azhar menyebut pihaknya turut memberikan edukasi kepada kliennya agar bisnis playground yang dioperasikan bisa menguntungkan. Dari beberapa customer yang mengikuti saran bisnis Happy Play terutama di luar mal, katanya bisa balik modal hanya kurang dari satu tahun.
Misal, dari awal investasi sekitar Rp350 juta, pada bulan ke enam sudah bisa mencapai break event point (BEP) atau kondisi ketika jumlah pendapatan dan pengeluaran perusahaan sama. Kendati demikian, keuntungan yang didapat tentu juga melihat beberapa faktor seperti lokasi yang dipilih dan potensi pasar seperti daya beli masyarakat serta manajemen pengelolaan.
Sejauh ini, Happy Play katanya memiliki 4.390 proyek playground dari Sabang hingga Merauke. “Ini bukan kata-kata saja, bahkan proyek playground dari Happy Play ada di Pulau Sangihe, pulau terluar Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Azhar menilai kehadiran taman bermain sangat penting untuk tumbuh kembang anak di era digitalisasi. Playground bisa menjadi senjata ampuh untuk mengurangi ketergantungan anak pada gadget dan memperkuat ikatan antara anak dan orang tua.
Happy Play pun turut mendesain wahana di playground dengan menyesuaikan usia anak untuk melatih motorik dan sensorik. Mereka membagi wahana permainan berdasarkan kelompok usia yakni mulai dari 1-5 tahun, 5-10 tahun, dan 10-15 tahun untuk memastikan kesesuaian dan efektivitas dalam melatih perkembangan anak, tentu dengan menerapkan kualitas material yang aman sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).
Desain yang dihadirkan juga menarik dan tidak monoton, bahkan mempertimbangkan estetika untuk kebutuhan foto yang mengabadikan momen bersama keluarga. Desain pun dapat disesuaikan dengan permintaan klien yang kini berkolaborasi dengan bisnis kafe, restoran, hingga tempat wisata.
“Playgorund itu seperti traffic generator yang membantu bisnis lain,” sebutnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.