Libby Heaney Eksplorasi Lukisan Gua lewat Fisika Kuantum & Seni di Museum MACAN
26 July 2025 |
16:00 WIB
Apa yang terjadi saat teknologi kuantum dan lukisan gua prasejarah bertemu dalam satu karya seni? Momen inilah yang ditawarkan kolaborasi unik antara Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) dan Libby Heaney, perupa asal Inggris yang juga seorang fisikawan kuantum.
Didukung British Council, proyek lintas zaman ini menggali bagaimana masa lalu dan masa depan bisa saling memantul lewat medium seni. Proyek ini menjadi bagian dari International Year of Quantum Science and Technology 2025 (IYQ 2025).
Libby Heaney, adalah perupa, dan fisikawan kuantum pertama yang menggunakan komputasi kuantum sebagai medium kreatif. Dalam proyek terbarunya, dia mengeksplorasi perspektif baru dalam sains untuk membentuk ulang pemahaman kita tentang sejarah.
Baca juga: Dua Wajah Ingatan Perang Jawa: Dari Arsip ke Kanvas di Perpusnas & Galnas
Menariknya, dalam proyek ini dia akan mengeksplorasi simbolisme kuno dan makna lokal dengan pendekatan imersif. Bersama program Digital Innovation dari British Council, inisiatif ini mendorong pendekatan teknologi yang lebih manusiawi, spekulatif, dan terhubung dengan akar budaya
Berangkat dari situs lukisan gua purba di Sulawesi—salah satu karya visual tertua dunia—Heaney merancang proyek seni yang menghubungkan warisan budaya leluhur dengan pemikiran kuantum. Dia juga menyentuh ranah yang jarang disentuh: titik temu seni, teknologi, dan spiritualitas kuno.
Venus Lau, Direktur Museum MACAN, menyebut bahwa proyek ini mengajak publik memikirkan ulang cara kita memandang pengetahuan. Dengan menjembatani seni gua Indonesia dan spekulasi kuantum, publik diajak masuk ke ranah yang imajinatif namun sangat relevan dengan isu masa kini.
Dia menjelaskan proyek ini juga dapat mendorong publik untuk meninjau kembali sistem dan batasan dalam memahami pengetahuan dan persepsi. Venus pun bangga dapat mendukung riset perupa yang mengajak publik untuk terlibat dengan isu-isu global seperti perubahan iklim.
"Dengan membangun dialog antara lukisan gua prasejarah Indonesia dan potensi spekulatif teknologi kuantum, proyek ini mendorong kita untuk meninjau kembali sistem dan batasan kita dalam memahami pengetahuan dan persepsi," katanya.
Heaney pun melihat proyek ini sebagai upaya menyelami kesadaran pra-simbolik manusia. Menurutnya, estetika kuantum membuka kemungkinan untuk membebaskan seni dari representasi kaku—di mana makna dan materi bersifat cair dan saling beresonansi.
Sebelum manusia mulai menggambarkan apa yang dirasakan, menurutnya kita hidup dalam ruang pra-simbolik yang menyatu dengan semesta. Namun, estetika kuantum berhasil menawarkan jalan melampaui representasi, di mana makna dan materi bersifat cair, saling terkait, dan dapat dirasakan—tidak kaku.
"Penelitian ini penting karena bertujuan mengungkap bagaimana kesadaran pra-simbolik dan pasca representasional dapat membongkar kebiasaan untuk mengendalikan, membuka ruang bagi cara mengetahui dan berelasi yang lebih etis, berwujud, dan saling terhubung," katanya.
Selaras, Summer Xia dari British Council menambahkan, kolaborasi ini adalah contoh kuat bagaimana pertukaran budaya dan inovasi digital bisa berjalan beriringan. Praktik seni yang berani seperti ini memperlihatkan bahwa kreativitas dapat menghubungkan zaman, konteks, dan cara berpikir.
Adapun, rangkaian program publik bertajuk Sensing the Multiverses akan digelar di Museum MACAN pada Kamis, 24 Juli 2025. Dimulai dari lokakarya pukul 14.00–17.00 tentang komputasi kuantum dalam seni, lalu dilanjutkan pemutaran film dan diskusi bersama Heaney.
Salah satu film yang akan diputar adalah Q is for Climate (?), karya spekulatif yang menyatukan sains, fiksi, dan suara kuantum. Film ini menanyakan: bagaimana teknologi kuantum di masa depan dapat mengubah respons manusia terhadap krisis iklim.
Dengan pendekatan berani dan reflektif, kolaborasi ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pameran. Haney mengusulkan cara baru untuk mendengar masa lalu, menyelami masa depan, dan menyentuh semesta di antara keduanya.
Baca juga: Eksplorasi Kenangan dan Hujan, Ugo Untoro Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Didukung British Council, proyek lintas zaman ini menggali bagaimana masa lalu dan masa depan bisa saling memantul lewat medium seni. Proyek ini menjadi bagian dari International Year of Quantum Science and Technology 2025 (IYQ 2025).
Libby Heaney, adalah perupa, dan fisikawan kuantum pertama yang menggunakan komputasi kuantum sebagai medium kreatif. Dalam proyek terbarunya, dia mengeksplorasi perspektif baru dalam sains untuk membentuk ulang pemahaman kita tentang sejarah.
Baca juga: Dua Wajah Ingatan Perang Jawa: Dari Arsip ke Kanvas di Perpusnas & Galnas
Menariknya, dalam proyek ini dia akan mengeksplorasi simbolisme kuno dan makna lokal dengan pendekatan imersif. Bersama program Digital Innovation dari British Council, inisiatif ini mendorong pendekatan teknologi yang lebih manusiawi, spekulatif, dan terhubung dengan akar budaya
Berangkat dari situs lukisan gua purba di Sulawesi—salah satu karya visual tertua dunia—Heaney merancang proyek seni yang menghubungkan warisan budaya leluhur dengan pemikiran kuantum. Dia juga menyentuh ranah yang jarang disentuh: titik temu seni, teknologi, dan spiritualitas kuno.
Venus Lau, Direktur Museum MACAN, menyebut bahwa proyek ini mengajak publik memikirkan ulang cara kita memandang pengetahuan. Dengan menjembatani seni gua Indonesia dan spekulasi kuantum, publik diajak masuk ke ranah yang imajinatif namun sangat relevan dengan isu masa kini.
Dia menjelaskan proyek ini juga dapat mendorong publik untuk meninjau kembali sistem dan batasan dalam memahami pengetahuan dan persepsi. Venus pun bangga dapat mendukung riset perupa yang mengajak publik untuk terlibat dengan isu-isu global seperti perubahan iklim.
"Dengan membangun dialog antara lukisan gua prasejarah Indonesia dan potensi spekulatif teknologi kuantum, proyek ini mendorong kita untuk meninjau kembali sistem dan batasan kita dalam memahami pengetahuan dan persepsi," katanya.
Heaney pun melihat proyek ini sebagai upaya menyelami kesadaran pra-simbolik manusia. Menurutnya, estetika kuantum membuka kemungkinan untuk membebaskan seni dari representasi kaku—di mana makna dan materi bersifat cair dan saling beresonansi.
Sebelum manusia mulai menggambarkan apa yang dirasakan, menurutnya kita hidup dalam ruang pra-simbolik yang menyatu dengan semesta. Namun, estetika kuantum berhasil menawarkan jalan melampaui representasi, di mana makna dan materi bersifat cair, saling terkait, dan dapat dirasakan—tidak kaku.
"Penelitian ini penting karena bertujuan mengungkap bagaimana kesadaran pra-simbolik dan pasca representasional dapat membongkar kebiasaan untuk mengendalikan, membuka ruang bagi cara mengetahui dan berelasi yang lebih etis, berwujud, dan saling terhubung," katanya.
Selaras, Summer Xia dari British Council menambahkan, kolaborasi ini adalah contoh kuat bagaimana pertukaran budaya dan inovasi digital bisa berjalan beriringan. Praktik seni yang berani seperti ini memperlihatkan bahwa kreativitas dapat menghubungkan zaman, konteks, dan cara berpikir.
Adapun, rangkaian program publik bertajuk Sensing the Multiverses akan digelar di Museum MACAN pada Kamis, 24 Juli 2025. Dimulai dari lokakarya pukul 14.00–17.00 tentang komputasi kuantum dalam seni, lalu dilanjutkan pemutaran film dan diskusi bersama Heaney.
Salah satu film yang akan diputar adalah Q is for Climate (?), karya spekulatif yang menyatukan sains, fiksi, dan suara kuantum. Film ini menanyakan: bagaimana teknologi kuantum di masa depan dapat mengubah respons manusia terhadap krisis iklim.
Dengan pendekatan berani dan reflektif, kolaborasi ini menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pameran. Haney mengusulkan cara baru untuk mendengar masa lalu, menyelami masa depan, dan menyentuh semesta di antara keduanya.
Baca juga: Eksplorasi Kenangan dan Hujan, Ugo Untoro Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.