Musisi Ozzy Osbourne. (Sumber gambar: Ozzy Osbourne/Instagram)

Gejala & Penyebab Parkinson, Penyakit Ozzy Osbourne Sebelum Meninggal

23 July 2025   |   13:59 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Dunia musik berduka atas meninggalnya musisi sekaligus vokalis Ozzy Osbourne pada Selasa (22/7/2025). Belum diketahui secara pasti penyebab kematian penyanyi yang dijuluki Prince of Darkness itu. Namun, kesehatannya diketahui menurun selama beberapa tahun terakhir akibat berbagai penyakit, salah satunya Parkinson.

Osbourne pertama kali mengungkap bahwa dirinya tengah berjuang melawan penyakit Parkinson stadium 2 pada 2020 di acara televisi Good Morning America. Namun, beberapa media menyebut bahwa sang musisi sebenarnya sudah mengidap penyakit tersebut sejak 2003. "Saya tidak akan mati karena Parkinson. Saya sudah berjuang melawan penyakit itu hampir sepanjang hidup saya," kata Osbourne dikutip dari Page Six.

Baca juga: Asal-Usul Vokalis Black Sabbath Ozzy Osbourne Dijuluki Prince of Darkness

Osbourne juga menyebut bahwa masa-masa berjuang melawan Parkinson ialah lima tahun yang sangat berat baginya. "Lima tahun ini benar-benar seperti neraka bagi saya dan keluarga. Keluarga saya sangat mendukung. Saya tidak mungkin bisa melewatinya tanpa mereka. Sungguh situasi yang buruk," ungkapnya.

Pada Februari 2025, Osbourne membeberkan kondisi kesehatannya di acara radio SiriusXM miliknya dan mengungkap bahwa dia tidak bisa berjalan akibat penyakit Parkinson yang dideritanya. "Saya berhasil mencapai tahun 2025. Saya tidak bisa berjalan, tapi tahukah Anda apa yang saya pikirkan selama liburan? Terlepas dari semua keluhan saya, saya masih hidup," ucap dia.

Apa Itu Parkinson?
Dikutip dari Cleveland Clinic, parkinson merupakan kondisi dimana sebagian otak memburuk, dimana gejalanya akan semakin parah seiring waktu. Meskipun kondisi ini paling dikenal karena memengaruhi kontrol otot, keseimbangan, dan gerakan, parkinson juga dapat menyebabkan berbagai efek lain pada indera, kemampuan berpikir, kesehatan mental, dan banyak lagi.

Risiko terkena penyakit parkinson meningkat secara alami seiring bertambahnya usia, dimana rata-rata pengidapnya berusia mulai 60 tahun dan kebanyakan terjadi pada pria. Kendati begitu, parkinson bisa terjadi pada orang dewasa berusia 20-an, meskipun sangat jarang dan biasanya karena faktor keturunan.

Penyakit parkinson sangat umum terjadi, menempati peringkat kedua di antara penyakit otak degeneratif terkait usia. Penyakit ini juga merupakan penyakit motorik atau berkaitan dengan gerakan otak yang paling umum. Para ahli memperkirakan penyakit ini memengaruhi setidaknya 1 persen orang berusia di atas 60 tahun di seluruh dunia.

Sementara itu, menurut data WHO, prevalensi penyakit parkinson telah meningkat dua kali lipat dalam 25 tahun terakhir. Estimasi global tahun 2019 menunjukkan lebih dari 8,5 juta orang mengalami parkinson. Angka tersebut meningkat sebesar 81 persen sejak tahun 2000, dan menyebabkan 329.000 kematian, atau meningkat lebih dari 100 persen sejak tahun 2000.


Gejala Parkinson

Gejala parkinson yang paling umum ialah hilangnya kontrol otot. Secara motorik, penderita parkinson akan mengalami beberapa gejala sebagai berikut.
  • Gerakan melambat (bradikinesia)
  • Tremor saat otot istirahat
  • Tubuh kaku
  • Postur tubuh atau gaya berjalan tidak stabil
  • Lebih jarang berkedip dari biasanya
  • Kesulitan berjalan
  • Kesulitan dalam keseimbangan
  • Melakukan gerakan tak sadar
  • Kesulitan menelan
  • Suara yang sangat lembut (hipofonia)

Selain motorik, gejala parkinson juga meliputi non-motorik seperti berikut ini.
  • Gejala sistem saraf otonom
  • Gangguan kognitif
  • Gangguan kesehatan mental
  • Demensia
  • Depresi
  • Hilangnya indra penciuman (anosmia)
  • Gangguan tidur
  • Nyeri
  • Gangguan sensorik
  • Kesulitan berpikir dan fokus

Penyebab & Pencegahan Parkinson
Parkinson terjadi ketika sel-sel saraf di otak yang disebut neuron perlahan-lahan rusak atau mati. Dilansir dari Mayo Clinic, banyak gejala penyakit parkinson disebabkan oleh hilangnya neuron yang menghasilkan zat pembawa pesan kimiawi di otak. Zat pembawa pesan ini disebut dopamin.

Penurunan dopamin menyebabkan aktivitas otak menjadi tidak teratur, hingga menyebabkan masalah pergerakan dan gejala penyakit parkinson lainnya. Penderita penyakit parkinson juga kehilangan zat kimia pembawa pesan yang disebut norepinefrin yang mengendalikan banyak fungsi tubuh, seperti tekanan darah.

Meski tidak diketahui secara pasti terkait penyakit penyebab parkinson, ada dua faktor yang dapat menimbulkan risiko tersebut. Pertama, gen. Perubahan genetik tertentu dapat menyebabkan penyakit parkinson. Namun, perubahan ini jarang terjadi, kecuali jika banyak anggota keluarga yang menderita penyakit parkinson.

Baca juga: 6 Aksi Kontroversial Ozzy Osbourne, Pernah Gigit Kelelawar

Kedua, faktor lingkungan. Paparan racun tertentu atau faktor lingkungan lainnya dapat meningkatkan risiko penyakit parkinson di kemudian hari. Salah satu contohnya adalah MPTP, zat yang dapat ditemukan dalam obat-obatan terlarang dan terkadang dijual secara ilegal sebagai "heroin sintetis". Contoh lain termasuk pestisida dan air sumur yang digunakan untuk minum. Namun, belum ada faktor lingkungan yang terbukti menjadi penyebabnya.

Untuk melindungi diri dari parkinson, ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti olahraga aerobik, mengonsumsi minuman berkafein seperti kopi dan teh hijau, hingga mengonsumsi beberapa obat seperti ibuprofen dan statin sesuai dengan anjuran atau resep dokter.
 

SEBELUMNYA

Melukis Ingatan Masa Kecil, Ugo Untoro Siap Gelar Pameran di Nadi Gallery

BERIKUTNYA

Momen 123 Tahun Sekali, Cek Tur Eksklusif untuk Melihat Gerhana Matahari Total

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: