Ingat 2 Hal ini Saat Orang Terdekat Mengalami Serangan Jantung
19 July 2025 |
20:14 WIB
Serangan jantung bisa terjadi kapan saja, bahkan pada orang yang tampaknya sehat. Saat momen genting itu terjadi, tindakan cepat dan tepat bisa menjadi penentu antara hidup dan mati nyawa seseorang. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang mengetahui langkah dasar pertolongan pertama dalam situasi darurat seperti ini.
Jika melihat seseorang di lingkungan terdekat mengalami serangan jantung, Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Ismail Dilawar menyebut ada dua langkah penting yang harus segera dilakukan.
Menurutnya, kedua langkah tersebut tidak bisa dipilih salah satu, melainkan harus dijalankan secara bersamaan karena kondisi ini benar-benar berkejaran dengan waktu.
"Pertama adalah hubungi layanan gawat darurat. Kedua adalah beri bantuan pertama pada korban," ucap dokter Ismail dalam diskusi The Good, The Bad, and The Ugly Jalan Menuju Jantung Sehat Lewat Gaya Hidup Sehat dan Gizi yang Tepat di RS Jantung Jakarta, Sabtu (19/7/2025).
Baca juga: Sederet Kebiasaan Kecil yang Bikin Orang Rentan Sakit Jantung, Salah Satunya Mager
Dokter Ismail mengatakan langkah pertama tersebut, yakni segera menghubungi layanan gawat darurat, merupakan bentuk bantuan yang sangat krusial. Tindakan ini dinilainya sangat penting karena bisa mempercepat penanganan medis yang dibutuhkan.
Dia juga mengimbau masyarakat untuk selalu menyimpan nomor darurat medis, informasi rumah sakit terdekat, atau kontak dokter yang bisa dihubungi, sehingga dalam situasi mendesak tidak perlu membuang waktu.
Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa serangan jantung umumnya disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah ke otot jantung. Jika kondisi ini tidak segera ditangani dalam periode emas atau golden period, maka risiko kerusakan permanen pada otot jantung akan meningkat secara signifikan.
"Jangan tunda, segera telpon dan meminta pertolongan medis," imbuhnya.
Namun, melakukan langkah pertama saja tidak cukup. Dokter Ismail menyebut setelah menelpon petugas medis, seseorang di dekat korban harus melakukan tindakan pertolongan pertama, yakni dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR).
Ini adalah tindakan darurat yang dilakukan untuk mempertahankan sirkulasi darah dan oksigenasi ke organ vital saat seseorang mengalami henti jantung atau henti napas.
Di banyak negara, penguasaan Resusitasi Jantung Paru atau Cardiopulmonary Resuscitation oleh masyarakat umum sangat dianjurkan dan menjadi hal wajar. Di Indonesia, tahapan melakukan resusitasi ini mestinya juga terus disosialisasikan agar makin banyak orang yang bisa melakukannya.
"Sebenarnya, resusitasi itu semua orang harus bisa. Bukan hanya petugas medis, semua orang," tegasnya.
Dokter Ismail mengatakan jika masyarakat belum mengetahui cara Resusitasi Jantung Paru, sebaiknya segera mengikuti pelatihan-pelatihan yang biasanya digelar oleh rumah sakit. Ilmu ini sangat penting agar orang-orang di sekitar korban dapat memberikan pertolongan pertama yang cepat dan tepat sebelum tenaga medis profesional tiba.
Secara umum, resusitasi jantung paru dapat dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan beberapa tahapan. Pertama ialah memastikan lokasi korban dan penolong berada dalam kondisi aman. Misalnya, jika korban ditemukan di tengah jalan, sebaiknya pindahkan korban ke trotoar atau tepi jalan terlebih dahulu sebelum diberikan RJP.
Setelah itu, periksa tingkat kesadaran korban. Hal ini bisa dilakukan dengan memanggilnya dengan suara keras dan menepuk bahunya secara perlahan. "Cek kesadaran korban. Panggil namanya. Kalau dia tidak menjawab atau pingsan, lakukan resusitasi," tuturnya.
Kemudian, lakukan resusitasi salah satunya dengan cara compression. Compression dilakukan dengan cara meletakkan salah satu telapak tangan di bagian tengah dada korban dan tangan lainnya di atas tangan pertama. Berikan tekanan di dada korban sebanyak 100–120 kali per menit.
Saat melakukan kompresi dada, posisikan pangkal telapak tangan tepat di tengah dada korban. Tempatkan tangan satunya di atas tangan pertama, lalu kaitkan jari-jari kedua tangan atau cukup letakkan tangan kedua di atas tangan pertama dengan mantap.
"Jaga siku tetap lurus dan posisikan bahu tepat di atas tangan yang diletakkan di dada," tambah dokter Ismail.
Kemudian, jika tenaga medis tiba di lokasi, mereka akan langsung mengambil alih penanganan. Selanjutnya, paramedik akan melakukan penilaian kondisi pasien dan menentukan langkah lanjutan yang diperlukan, termasuk melakukan kategorisasi atau tindakan medis lainnya sesuai situasi.
Berdasarkan data dari American Heart Association, lebih dari 350.000 kasus serangan jantung terjadi di luar rumah sakit setiap tahunnya. Sebagian besar kasus henti jantung di luar rumah sakit berlangsung di rumah atau tempat tinggal, yakni sebesar 73,4 persen, disusul di area publik 16,3 persen, dan di panti jompo 10,3 persen.
Tindakan CPR yang dilakukan segera setelah kejadian dapat menggandakan hingga tiga kali lipat peluang seseorang untuk selamat. Akan tetapi, kenyataannya angka bantuan awal saat serangan jantung masih sedikit. Statistik Penyakit Jantung dan Stroke 2023 mencatat bahwa dari lebih dari 356.000 kasus OHCA, hanya 40,2 persen yang mendapatkan CPR dari orang di sekitarnya.
Baca juga: Bisa Terjadi pada Siapa Saja, Kenali Gejala dan Langkah Pertolongan Henti Jantung
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Jika melihat seseorang di lingkungan terdekat mengalami serangan jantung, Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Ismail Dilawar menyebut ada dua langkah penting yang harus segera dilakukan.
Menurutnya, kedua langkah tersebut tidak bisa dipilih salah satu, melainkan harus dijalankan secara bersamaan karena kondisi ini benar-benar berkejaran dengan waktu.
"Pertama adalah hubungi layanan gawat darurat. Kedua adalah beri bantuan pertama pada korban," ucap dokter Ismail dalam diskusi The Good, The Bad, and The Ugly Jalan Menuju Jantung Sehat Lewat Gaya Hidup Sehat dan Gizi yang Tepat di RS Jantung Jakarta, Sabtu (19/7/2025).
Baca juga: Sederet Kebiasaan Kecil yang Bikin Orang Rentan Sakit Jantung, Salah Satunya Mager
Dokter Ismail mengatakan langkah pertama tersebut, yakni segera menghubungi layanan gawat darurat, merupakan bentuk bantuan yang sangat krusial. Tindakan ini dinilainya sangat penting karena bisa mempercepat penanganan medis yang dibutuhkan.
Dia juga mengimbau masyarakat untuk selalu menyimpan nomor darurat medis, informasi rumah sakit terdekat, atau kontak dokter yang bisa dihubungi, sehingga dalam situasi mendesak tidak perlu membuang waktu.
Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa serangan jantung umumnya disebabkan oleh tersumbatnya aliran darah ke otot jantung. Jika kondisi ini tidak segera ditangani dalam periode emas atau golden period, maka risiko kerusakan permanen pada otot jantung akan meningkat secara signifikan.
"Jangan tunda, segera telpon dan meminta pertolongan medis," imbuhnya.
Namun, melakukan langkah pertama saja tidak cukup. Dokter Ismail menyebut setelah menelpon petugas medis, seseorang di dekat korban harus melakukan tindakan pertolongan pertama, yakni dengan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR).
Ini adalah tindakan darurat yang dilakukan untuk mempertahankan sirkulasi darah dan oksigenasi ke organ vital saat seseorang mengalami henti jantung atau henti napas.
Di banyak negara, penguasaan Resusitasi Jantung Paru atau Cardiopulmonary Resuscitation oleh masyarakat umum sangat dianjurkan dan menjadi hal wajar. Di Indonesia, tahapan melakukan resusitasi ini mestinya juga terus disosialisasikan agar makin banyak orang yang bisa melakukannya.
"Sebenarnya, resusitasi itu semua orang harus bisa. Bukan hanya petugas medis, semua orang," tegasnya.
Dokter Ismail mengatakan jika masyarakat belum mengetahui cara Resusitasi Jantung Paru, sebaiknya segera mengikuti pelatihan-pelatihan yang biasanya digelar oleh rumah sakit. Ilmu ini sangat penting agar orang-orang di sekitar korban dapat memberikan pertolongan pertama yang cepat dan tepat sebelum tenaga medis profesional tiba.
Secara umum, resusitasi jantung paru dapat dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan beberapa tahapan. Pertama ialah memastikan lokasi korban dan penolong berada dalam kondisi aman. Misalnya, jika korban ditemukan di tengah jalan, sebaiknya pindahkan korban ke trotoar atau tepi jalan terlebih dahulu sebelum diberikan RJP.
Setelah itu, periksa tingkat kesadaran korban. Hal ini bisa dilakukan dengan memanggilnya dengan suara keras dan menepuk bahunya secara perlahan. "Cek kesadaran korban. Panggil namanya. Kalau dia tidak menjawab atau pingsan, lakukan resusitasi," tuturnya.
Kemudian, lakukan resusitasi salah satunya dengan cara compression. Compression dilakukan dengan cara meletakkan salah satu telapak tangan di bagian tengah dada korban dan tangan lainnya di atas tangan pertama. Berikan tekanan di dada korban sebanyak 100–120 kali per menit.
Saat melakukan kompresi dada, posisikan pangkal telapak tangan tepat di tengah dada korban. Tempatkan tangan satunya di atas tangan pertama, lalu kaitkan jari-jari kedua tangan atau cukup letakkan tangan kedua di atas tangan pertama dengan mantap.
"Jaga siku tetap lurus dan posisikan bahu tepat di atas tangan yang diletakkan di dada," tambah dokter Ismail.
Kemudian, jika tenaga medis tiba di lokasi, mereka akan langsung mengambil alih penanganan. Selanjutnya, paramedik akan melakukan penilaian kondisi pasien dan menentukan langkah lanjutan yang diperlukan, termasuk melakukan kategorisasi atau tindakan medis lainnya sesuai situasi.
Berdasarkan data dari American Heart Association, lebih dari 350.000 kasus serangan jantung terjadi di luar rumah sakit setiap tahunnya. Sebagian besar kasus henti jantung di luar rumah sakit berlangsung di rumah atau tempat tinggal, yakni sebesar 73,4 persen, disusul di area publik 16,3 persen, dan di panti jompo 10,3 persen.
Tindakan CPR yang dilakukan segera setelah kejadian dapat menggandakan hingga tiga kali lipat peluang seseorang untuk selamat. Akan tetapi, kenyataannya angka bantuan awal saat serangan jantung masih sedikit. Statistik Penyakit Jantung dan Stroke 2023 mencatat bahwa dari lebih dari 356.000 kasus OHCA, hanya 40,2 persen yang mendapatkan CPR dari orang di sekitarnya.
Baca juga: Bisa Terjadi pada Siapa Saja, Kenali Gejala dan Langkah Pertolongan Henti Jantung
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.