Pentingnya Edukasi Gizi Demi Mencegah Penyakit Sejak Usia Dini
19 July 2025 |
21:08 WIB
Tak ada artinya mendorong edukasi gizi jika dilakukan tanpa pendampingan. Konsep inilah yang melatarbelakangi program pendampingan gizi yang dijalankan Majelis Kesehatan (MaKes) PP Aisyiyah, dengan maksud mendampingi warga dalam mengenal pola konsumsi sehat.
Berbekal semangat itu, PP Aisyiyah menjangkau 3 wilayah Indonesia yakni Pamijahan (Bogor), Muaro Jambi, dan Kupang. Mereka menyoroti pentingnya edukasi gizi bagi keluarga, khususnya orang tua dengan balita. Selama 2 bulan terakhir, para kader Aisyiyah mendampingi dan memantau langsung pola makan anak-anak penerima manfaat guna mendorong kebiasaan konsumsi makanan sehat.
Salah satu fokus utama dari program ini adalah mengurangi kesalahan persepsi masyarakat tentang kental manis. Dalam praktiknya, banyak orang tua mengira bahwa kental manis merupakan susu biasa yang aman dikonsumsi balita. Padahal, kandungan gula yang tinggi dalam produk ini bisa berdampak buruk jika dikonsumsi rutin sejak dini.
“Masih banyak masyarakat yang belum paham bahwa kental manis bukan susu untuk anak. Edukasi ini menjadi langkah penting untuk mencegah kesalahan konsumsi sejak awal,” ungkap Koordinator Divisi Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat MaKes PP Aisyiyah Ekorini Listiowati.
Baca juga: Simak Fakta Jargon Susu Bikin Tubuh Tinggi Menurut Ahli Gizi
Program ini juga menekankan pentingnya penyuluhan yang tidak hanya bersifat satu arah. Pendekatan interaktif dan partisipatif menjadi kunci keberhasilan. Kegiatan seperti edukasi bahan pangan sehat, pengenalan alternatif pengganti kental manis, hingga pelatihan memasak dengan bahan lokal membantu membentuk pemahaman dan keterampilan baru di tingkat keluarga.
Sebanyak 72 pasangan orang tua dan anak mengikuti sesi pertemuan mingguan yang membahas tantangan sehari-hari terkait pemberian makan. Pendekatan ini terbukti efektif karena dilakukan secara berkelanjutan, serta membangun kedekatan emosional antara kader dan peserta. Hal ini tidak hanya mendorong perubahan perilaku, tetapi juga membentuk kepercayaan yang menjadi dasar dalam edukasi kesehatan masyarakat.
Ance, salah satu ibu dari Kupang yang mengikuti program, mengaku baru menyadari kekeliruan selama bertahun-tahun. “Saya pikir kental manis itu susu. Dulu bahkan ada lagu susu enak hingga tetes terakhir. Ternyata itu keliru,” ujarnya.
Pentingnya edukasi gizi sejak dini juga ditegaskan oleh pengamat kesehatan dari Universitas Pasundan Alma Lucyati. Menurutnya, edukasi yang dilakukan langsung di lingkungan rumah tangga memberi dampak lebih kuat. Dia menyoroti bahwa pola makan anak saat ini menjadi faktor risiko serius yang berpotensi menyebabkan penyakit kronis di usia muda.
“Sekarang ini kita melihat tren yang mengkhawatirkan. Penyakit-penyakit seperti diabetes dan gangguan ginjal bahkan sudah mulai muncul pada anak muda. Pola makan sejak balita sangat menentukan kondisi kesehatannya di masa depan,” jelas Alma.
Oleh karena itu, program seperti yang dijalankan oleh MaKes Aisyiyah dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat fondasi kesehatan masyarakat. Tak hanya berhenti pada individu penerima manfaat, semangat perubahan pola makan ini diharapkan dapat menyebar ke lingkungan sekitar secara berkelanjutan.
“Jika satu keluarga bisa berubah, mereka bisa jadi agen perubahan di komunitas. Itu target jangka panjangnya,” ujar Ekorini.
Lewat intervensi sederhana tapi konsisten, program pendampingan ini menjadi contoh bahwa edukasi gizi bukan sekadar menyampaikan informasi. Di dalamnya juga ada proses membentuk kebiasaan sehat yang dimulai dari rumah. Dalam jangka panjang, pendekatan ini menjadi salah satu strategi pencegahan penyakit yang paling efektif dan terjangkau.
Baca juga: Program Makan Bergizi Gratis Ditarget Capai 82,9 Juta Penerima per November 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Berbekal semangat itu, PP Aisyiyah menjangkau 3 wilayah Indonesia yakni Pamijahan (Bogor), Muaro Jambi, dan Kupang. Mereka menyoroti pentingnya edukasi gizi bagi keluarga, khususnya orang tua dengan balita. Selama 2 bulan terakhir, para kader Aisyiyah mendampingi dan memantau langsung pola makan anak-anak penerima manfaat guna mendorong kebiasaan konsumsi makanan sehat.
Salah satu fokus utama dari program ini adalah mengurangi kesalahan persepsi masyarakat tentang kental manis. Dalam praktiknya, banyak orang tua mengira bahwa kental manis merupakan susu biasa yang aman dikonsumsi balita. Padahal, kandungan gula yang tinggi dalam produk ini bisa berdampak buruk jika dikonsumsi rutin sejak dini.
“Masih banyak masyarakat yang belum paham bahwa kental manis bukan susu untuk anak. Edukasi ini menjadi langkah penting untuk mencegah kesalahan konsumsi sejak awal,” ungkap Koordinator Divisi Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat MaKes PP Aisyiyah Ekorini Listiowati.
Baca juga: Simak Fakta Jargon Susu Bikin Tubuh Tinggi Menurut Ahli Gizi
Program ini juga menekankan pentingnya penyuluhan yang tidak hanya bersifat satu arah. Pendekatan interaktif dan partisipatif menjadi kunci keberhasilan. Kegiatan seperti edukasi bahan pangan sehat, pengenalan alternatif pengganti kental manis, hingga pelatihan memasak dengan bahan lokal membantu membentuk pemahaman dan keterampilan baru di tingkat keluarga.
Sebanyak 72 pasangan orang tua dan anak mengikuti sesi pertemuan mingguan yang membahas tantangan sehari-hari terkait pemberian makan. Pendekatan ini terbukti efektif karena dilakukan secara berkelanjutan, serta membangun kedekatan emosional antara kader dan peserta. Hal ini tidak hanya mendorong perubahan perilaku, tetapi juga membentuk kepercayaan yang menjadi dasar dalam edukasi kesehatan masyarakat.
Ance, salah satu ibu dari Kupang yang mengikuti program, mengaku baru menyadari kekeliruan selama bertahun-tahun. “Saya pikir kental manis itu susu. Dulu bahkan ada lagu susu enak hingga tetes terakhir. Ternyata itu keliru,” ujarnya.

Kegiatan pendampingan gizi PP Aisyiyah (Sumber gambar: PP Aisyiyah)
“Sekarang ini kita melihat tren yang mengkhawatirkan. Penyakit-penyakit seperti diabetes dan gangguan ginjal bahkan sudah mulai muncul pada anak muda. Pola makan sejak balita sangat menentukan kondisi kesehatannya di masa depan,” jelas Alma.
Oleh karena itu, program seperti yang dijalankan oleh MaKes Aisyiyah dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat fondasi kesehatan masyarakat. Tak hanya berhenti pada individu penerima manfaat, semangat perubahan pola makan ini diharapkan dapat menyebar ke lingkungan sekitar secara berkelanjutan.
“Jika satu keluarga bisa berubah, mereka bisa jadi agen perubahan di komunitas. Itu target jangka panjangnya,” ujar Ekorini.
Lewat intervensi sederhana tapi konsisten, program pendampingan ini menjadi contoh bahwa edukasi gizi bukan sekadar menyampaikan informasi. Di dalamnya juga ada proses membentuk kebiasaan sehat yang dimulai dari rumah. Dalam jangka panjang, pendekatan ini menjadi salah satu strategi pencegahan penyakit yang paling efektif dan terjangkau.
Baca juga: Program Makan Bergizi Gratis Ditarget Capai 82,9 Juta Penerima per November 2025
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.