Mengenal Penyakit Insufisiensi Vena Kronis yang Diidap Donald Trump
18 July 2025 |
14:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump didiagnosis mengidap insufisiensi vena kronis setelah menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG). Diagnosis ini muncul di tengah spekulasi publik soal kondisi kesehatannya, terutama setelah kemunculannya di ajang FIFA Club World Cup di New Jersey beberapa waktu yang lalu.
Kala itu, publik melihat pergelangan kaki Trump tampak bengkak dan bagian tangannya juga seperti memar. Dalam beberapa waktu terakhir, memar di tangan dan kaki Trump memang sudah beberapa kali terlihat.
Baca juga: Waspada, Generasi Muda Makin Rentan Alami Penyakit Ginjal & Cuci Darah
Meski begitu, awalnya Gedung Putih masih enggan memberikan penjelasan terkait hal itu. Kini, pihak kepresidenan akhirnya telah berbicara soal kondisi kesehatan sang Presiden secara terbuka. Namun, kondisi ini dinilai tak terlalu berpengaruh pada kesehatan Trump secara umum. Dia dalam kondisi yang sehat.
Lantas, apa sebenarnya insutiensi vena kronis? Mengutip Cleveland Clinic, Insufisiensi vena kronis (CVI) adalah salah satu bentuk penyakit vena yang terjadi ketika vena di kaki seseorang rusak. Normalnya, katup vena di kaki berfungsi menjaga darah mengalir kembali ke jantung. Namun, karena rusak, darah di kaki menjadi lebih sulit untuk kembali ke jantung.
Kondisi ini menyebabkan darah mengumpul di vena kaki. Hal ini pada akhirnya meningkatkan tekanan vena di kaki. Kondisi tersebut kemudian dapat menyebabkan gejala seperti pembengkakan.
Penyakit pada pembuluh vena tergolong cukup umum. Diperkirakan setiap tahunnya sekitar 1 dari 50 orang dewasa yang memiliki varises umumnya akan mengalami insufisiensi vena kronis.
Kondisi ini lebih sering dialami oleh individu berusia di atas 50 tahun, dengan tingkat risiko yang meningkat seiring bertambahnya usia. Secara keseluruhan, sekitar 1 dari 20 orang dewasa diketahui mengidap insufisiensi vena kronis.
Ada beberapa tahapan dan gejala yang terlihat sebelum orang terkena CVI. Dalam konteks penyakit di pembuluh vena, umumnya dokter membaginya ke dalam 6 tingkatan gangguan
Pada stadium 0, belum ada tanda fisik yang tampak, meskipun kaki bisa terasa pegal atau lelah. Stadium 1 ditandai dengan munculnya pembuluh darah kecil di permukaan kulit, seperti spider veins. Memasuki stadium 2, varises mulai terlihat jelas dengan diameter minimal 3 milimeter.
Pada stadium 3, pembengkakan atau edema mulai terjadi, tetapi belum disertai perubahan pada kulit. Stadium 4 menunjukkan adanya perubahan warna maupun tekstur kulit. Sementara itu, stadium 5 menandakan adanya luka (ulkus) yang sudah sembuh. Lalu, stadium 6 merupakan kondisi paling parah, yaitu ketika ulkus masih aktif dan belum sembuh.
Seseorang akan dinyatakan mengidap insufisiensi vena kronis jika telah mencapai stadium 3 atau lebih. Kondisi ini terjadi ketika gejala fisik sudah cukup jelas dan memerlukan penanganan medis yang lebih serius
Ketika katup ini rusak, darah cenderung mengalir balik atau tertahan di kaki. Hal tersebut menyebabkan pembengkakan, nyeri, dan berbagai gejala lain. Oleh karena itu, orang yang pernah mengalami TVD memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk terkena CVI kemudian hari.
Namun, tak semua kasus CVI berasal dari TVD. Dalam banyak kasus, kerusakan katup vena dapat bersifat bawaan (kongenital), primer, maupun sekunder. Penyebab kongenital melibatkan kelainan struktural yang sudah ada sejak lahir, misalnya beberapa orang terlahir tanpa katup vena di kaki mereka sehingga sistem peredaran darahnya sudah lemah sejak awal. Kondisi ini jarang terjadi, tetapi bisa sangat memengaruhi sirkulasi darah dan memicu gejala CVI lebih cepat di usia muda.
Sementara itu, penyebab primer biasanya terjadi akibat pelebaran vena yang membuat katup tidak dapat menutup rapat dan mengakibatkan kebocoran aliran darah. Adapun penyebab sekunder merupakan kerusakan vena akibat kondisi medis lain, dengan TVD sebagai contoh paling umum.
Dalam kasus ini, bekuan darah yang terbentuk bisa meninggalkan jaringan parut yang secara permanen mengganggu kerja katup vena. Baik faktor bawaan, primer, maupun sekunder, semuanya bisa berujung pada gangguan aliran darah kronis jika tidak ditangani dengan tepat.
Diagnosis insufisiensi vena kronis umumnya dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan fisik dan pencitraan menggunakan ultrasonografi. Dalam pemeriksaan fisik, dokter akan mengamati kondisi kaki secara detail untuk mencari tanda-tanda khas CVI, seperti luka terbuka (ulkus) atau perubahan warna kulit yang mengindikasikan gangguan sirkulasi darah.
Selain pemeriksaan visual, dokter biasanya akan melakukan ultrasonografi vaskular, yakni prosedur non-invasif yang memanfaatkan gelombang suara untuk menampilkan gambaran pembuluh darah. Tes ini tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi justru akan membantu menunjukkan bagian-bagian vena mana yang mengalami kerusakan atau gangguan fungsi.
Di samping memastikan adanya CVI, tenaga medis juga perlu menyingkirkan kemungkinan gangguan medis lain yang mungkin menyebabkan gejala serupa. Untuk itu, pemeriksaan tambahan seperti MRI dapat dilakukan guna memperoleh gambaran yang lebih mendalam dan memastikan diagnosis yang tepat.
Baca juga: Waspadai Trigliserida, Lemak Darah yang Bisa Memicu Penyakit Jantung dan Strok
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kala itu, publik melihat pergelangan kaki Trump tampak bengkak dan bagian tangannya juga seperti memar. Dalam beberapa waktu terakhir, memar di tangan dan kaki Trump memang sudah beberapa kali terlihat.
Baca juga: Waspada, Generasi Muda Makin Rentan Alami Penyakit Ginjal & Cuci Darah
Meski begitu, awalnya Gedung Putih masih enggan memberikan penjelasan terkait hal itu. Kini, pihak kepresidenan akhirnya telah berbicara soal kondisi kesehatan sang Presiden secara terbuka. Namun, kondisi ini dinilai tak terlalu berpengaruh pada kesehatan Trump secara umum. Dia dalam kondisi yang sehat.
Lantas, apa sebenarnya insutiensi vena kronis? Mengutip Cleveland Clinic, Insufisiensi vena kronis (CVI) adalah salah satu bentuk penyakit vena yang terjadi ketika vena di kaki seseorang rusak. Normalnya, katup vena di kaki berfungsi menjaga darah mengalir kembali ke jantung. Namun, karena rusak, darah di kaki menjadi lebih sulit untuk kembali ke jantung.
Kondisi ini menyebabkan darah mengumpul di vena kaki. Hal ini pada akhirnya meningkatkan tekanan vena di kaki. Kondisi tersebut kemudian dapat menyebabkan gejala seperti pembengkakan.
Penyakit pada pembuluh vena tergolong cukup umum. Diperkirakan setiap tahunnya sekitar 1 dari 50 orang dewasa yang memiliki varises umumnya akan mengalami insufisiensi vena kronis.
Kondisi ini lebih sering dialami oleh individu berusia di atas 50 tahun, dengan tingkat risiko yang meningkat seiring bertambahnya usia. Secara keseluruhan, sekitar 1 dari 20 orang dewasa diketahui mengidap insufisiensi vena kronis.
Ada beberapa tahapan dan gejala yang terlihat sebelum orang terkena CVI. Dalam konteks penyakit di pembuluh vena, umumnya dokter membaginya ke dalam 6 tingkatan gangguan
Pada stadium 0, belum ada tanda fisik yang tampak, meskipun kaki bisa terasa pegal atau lelah. Stadium 1 ditandai dengan munculnya pembuluh darah kecil di permukaan kulit, seperti spider veins. Memasuki stadium 2, varises mulai terlihat jelas dengan diameter minimal 3 milimeter.
Pada stadium 3, pembengkakan atau edema mulai terjadi, tetapi belum disertai perubahan pada kulit. Stadium 4 menunjukkan adanya perubahan warna maupun tekstur kulit. Sementara itu, stadium 5 menandakan adanya luka (ulkus) yang sudah sembuh. Lalu, stadium 6 merupakan kondisi paling parah, yaitu ketika ulkus masih aktif dan belum sembuh.
Seseorang akan dinyatakan mengidap insufisiensi vena kronis jika telah mencapai stadium 3 atau lebih. Kondisi ini terjadi ketika gejala fisik sudah cukup jelas dan memerlukan penanganan medis yang lebih serius
Penyebab CVI
Trombosis vena dalam (TVD) adalah salah satu pemicu utama terjadinya insufisiensi vena kronis (CVI). Kondisi ini terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di vena dalam, biasanya di kaki, lalu merusak katup vena yang seharusnya menjaga agar aliran darah tetap mengarah ke atas menuju jantung.Ketika katup ini rusak, darah cenderung mengalir balik atau tertahan di kaki. Hal tersebut menyebabkan pembengkakan, nyeri, dan berbagai gejala lain. Oleh karena itu, orang yang pernah mengalami TVD memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk terkena CVI kemudian hari.
Namun, tak semua kasus CVI berasal dari TVD. Dalam banyak kasus, kerusakan katup vena dapat bersifat bawaan (kongenital), primer, maupun sekunder. Penyebab kongenital melibatkan kelainan struktural yang sudah ada sejak lahir, misalnya beberapa orang terlahir tanpa katup vena di kaki mereka sehingga sistem peredaran darahnya sudah lemah sejak awal. Kondisi ini jarang terjadi, tetapi bisa sangat memengaruhi sirkulasi darah dan memicu gejala CVI lebih cepat di usia muda.
Sementara itu, penyebab primer biasanya terjadi akibat pelebaran vena yang membuat katup tidak dapat menutup rapat dan mengakibatkan kebocoran aliran darah. Adapun penyebab sekunder merupakan kerusakan vena akibat kondisi medis lain, dengan TVD sebagai contoh paling umum.
Dalam kasus ini, bekuan darah yang terbentuk bisa meninggalkan jaringan parut yang secara permanen mengganggu kerja katup vena. Baik faktor bawaan, primer, maupun sekunder, semuanya bisa berujung pada gangguan aliran darah kronis jika tidak ditangani dengan tepat.
Diagnosis insufisiensi vena kronis umumnya dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan fisik dan pencitraan menggunakan ultrasonografi. Dalam pemeriksaan fisik, dokter akan mengamati kondisi kaki secara detail untuk mencari tanda-tanda khas CVI, seperti luka terbuka (ulkus) atau perubahan warna kulit yang mengindikasikan gangguan sirkulasi darah.
Selain pemeriksaan visual, dokter biasanya akan melakukan ultrasonografi vaskular, yakni prosedur non-invasif yang memanfaatkan gelombang suara untuk menampilkan gambaran pembuluh darah. Tes ini tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi justru akan membantu menunjukkan bagian-bagian vena mana yang mengalami kerusakan atau gangguan fungsi.
Di samping memastikan adanya CVI, tenaga medis juga perlu menyingkirkan kemungkinan gangguan medis lain yang mungkin menyebabkan gejala serupa. Untuk itu, pemeriksaan tambahan seperti MRI dapat dilakukan guna memperoleh gambaran yang lebih mendalam dan memastikan diagnosis yang tepat.
Baca juga: Waspadai Trigliserida, Lemak Darah yang Bisa Memicu Penyakit Jantung dan Strok
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.