Ilustrasi ginjal (Sumber gambar: Freepik)

Waspada, Generasi Muda Makin Rentan Alami Penyakit Ginjal & Cuci Darah

31 May 2025   |   07:00 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Penyakit ginjal kronis yang selama ini identik dengan usia lanjut, kini makin banyak menyerang kalangan muda. Gaya hidup yang tidak sehat seperti konsumsi berlebihan minuman energi, makanan tinggi natrium, kurang tidur, serta malas minum air putih menjadi pemicu utama kerusakan ginjal yang berlangsung diam-diam.
 
Data BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa sepanjang 2024, lebih kurang 134.000 pasien gagal ginjal kronis harus menjalani praktik cuci darah atau hemodialisa. Prosedur cuci darah ini menjadi penopang hidup utama bagi pasien yang ginjalnya telah kehilangan sebagian besar fungsinya. Sementara yang menjalani transplantasi, pasien harus bergantung pada hemodialisa seumur hidup.

Baca juga: Kolesterol Mulai Menyerang Generasi Muda, Waspadai Penyakit Jantung dan Stroke

Dokter Penyakit Dalam Subspesialis Ginjal & Hipertensi Yenny Kandarini menyoroti kasus-kasus ginjal yang kini tampaknya tidak hanya menyerang lansia saja. Kini, pasien usia produktif bahkan dewasa muda mulai mendominasi jumlah penderita.  “Saat ini semakin meningkat ke arah yang dewasa muda, sudah cukup banyak sekarang. Lansia pun juga cukup banyak. Jadi datang dari berbagai umur,” katanya dalam Siaran Kesehatan Kemenkes RI.
 
Terapi cuci darah atau hemodialisis di usia muda pun menjadi jalan terakhir untuk mempertahankan fungsi tubuh ketika ginjal sudah tidak lagi dapat bekerja secara optimal, dengan kata lain menyentuh stadium akhir.
 
Menurut Yenny, untuk mencapai stadium akhir penyakit ginjal kronis ini dibutuhkan waktu yang panjang dan dipengaruhi banyak faktor. “Jadi sebenarnya seorang pasien untuk mencapai stadium akhir dari penyakit ginjal kronis itu perlu waktu yang cukup lama dan berbagai faktor mempengaruhi,” ujarnya.
 
Dia menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor risiko utama yang mendorong seseorang menuju gagal ginjal kronis. Beberapa di antaranya diawali dengan penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, “Mulainya dari yang sekarang cukup banyak adalah hipertensi, kemudian diabetes, dan penyakit-penyakit di saluran kemih seperti batu ginjal. Tapi ada juga faktor genetik dan penyakit radang ginjal,” jelasnya.
 
Peningkatan jumlah pasien gagal ginjal juga berdampak langsung pada kebutuhan fasilitas terapi. Saat ini, jelas Yenny, banyak sekali diperlukan pusat-pusat terapi yang bisa melakukan cuci darah atau hemodialisis. Tenaga medis juga mendapati pusat terapi hemodialysis juga selalu dipenuhi kalangan dewasa muda.
 
Sebagai informasi, hemodialisa merupakan prosedur medis yang digunakan untuk menggantikan sebagian fungsi ginjal, terutama fungsi ekskresi. Dalam prosedur ini, darah pasien dikeluarkan dari tubuh, disaring melalui mesin dialisis, lalu dikembalikan kembali ke tubuh.
 
Teknik ini membantu menggantikan sebagian dari fungsi ginjal. Fungsi ginjal yang bisa digantikan adalah membuang cairan yang berlebih, hasil sampah metabolik, toksik uremik, elektrolit yang berlebih, dan sebagainya.
 
Untuk menjalani prosedur ini, pasien membutuhkan akses vaskular atau saluran yang memungkinkan darah keluar dan masuk tubuh secara aman dan efektif. Satu sesi hemodialisis berlangsung sekitar 4–5 jam dan dilakukan 2–3 kali seminggu. “Ini bukan terapi satu kali jalan, melainkan berkelanjutan seumur hidup bila ginjal tidak kunjung pulih atau tidak dilakukan transplantasi,” jelasnya.
 
Sayangnya, cuci darah sering dianggap sebagai momok oleh sebagian masyarakat, padahal terapi ini sangat penting bagi pasien stadium akhir. “Kalau ginjal sudah tidak bisa bekerja, itu tidak ada cara lain. Kotoran itu harus dibuang. Jadi kalau dokter sudah menyarankan cuci darah, maka jalani,” tegas Yenny. Menurutnya, dengan cuci darah, metabolisme tubuh bisa kembali berjalan normal karena racun dan kelebihan cairan dapat dikeluarkan.

Baca juga: Waspadai Osteoporosis Menyerang Generasi Muda
 
Meski demikian, cuci darah juga memiliki risiko komplikasi sebagaimana setiap tindakan medis lainnya. Saat hemodialisis, Yenny menyebut bisa terjadi penurunan tekanan darah, gangguan irama jantung, penurunan gula darah, atau infeksi. Namun, keberhasilan terapi hemodialisis juga sangat tergantung pada ketersediaan fasilitas medis, mesin, serta kedisiplinan pasien dalam menjalani jadwal terapi.

SEBELUMNYA

Cek Lineup & Jadwal Lengkap BNI Java Jazz Festival 2025 Day 2, Ada Isyana Sarasvati & Danilla

BERIKUTNYA

100 Menit Penuh Eksplorasi Bersama Jacob Collier di BNI Java Jazz Festival 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga