Still photo film Kitab Sijjin & Illiyyin (Sumber gambar: Rapi Films)

Review Film Kitab Sijjin & Illiyyin: Dendam Keluarga Disfungsional

17 July 2025   |   05:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Alih-alih sekadar menghadirkan teror melalui ritual santet, film Kitab Sijjin & Illiyyin garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu ini justru menggali dalam-dalam akar psikologis dari rasa sakit dan dendam sang pelaku. Keseraman dari film ini bukan muncul dari entitas gaib seperti setan, melainkan justru hati manusia yang telah dilingkupi dendam.

Namun, film ini jelas tak hadir untuk menggurui siapa pun. Sesuai judulnya, Kitab Sijjin & Illiyyin merujuk pada dua kitab catatan amal yang disebut dalam Surah Al-Muthaffifin dalam Al-Qur’an. 

Sijjin mencatat perbuatan orang-orang durhaka, sedangkan Illiyyin mencatat amal mereka yang saleh. Dua kitab ini menjadi simbol kontras moral manusia, antara yang memilih jalan kebaikan dan yang larut dalam kejahatan.

Baca Juga: Produser Manoj Punjabi Pastikan Film La Tahzan Tidak Mengulang Formula Ipar Adalah Maut

Film ini akan mengikuti potret getir seorang perempuan bernama Yuli (Yunita Siregar) yang perlahan dilucuti kemanusiaannya oleh lingkungan terdekatnya. Ketika cinta dan keikhlasan yang ia berikan tak pernah dihargai, yang tumbuh adalah amarah yang terpendam, lalu membusuk menjadi dendam. 

Dengan pendekatan yang lebih meditatif ketimbang reaktif, film ini mempertanyakan batas antara korban dan pelaku, dan bagaimana keputusasaan bisa menjelma menjadi kejahatan lintas generasi yang mungkin, sama sekali tak dipikirkan oleh generasi sebelumnya yang melakukan.

Yuli, awalnya adalah anak perempuan baik yang masih polos. Namun, dunianya berubah ketika ibu dan ayahnya mendadak mengalami kejadian ganjil sampai membuat mereka meninggal. Yuli kemudian harus tinggal bersama keluarga ibu Ambar (Djenar Mahesa). Saat dewasa, Yuli baru mengetahui bahwa ibu Ambar dahulu punya hubungan dengan ayahnya.

Di rumah barunya ini, dia tinggal bersama anak bu Ambar, Laras (Dinda Kanya Dewi) dan suaminya Rudi (Tarra Budiman), serta dua anaknya, Dean (Sulthan Hamonangan) dan Tika (Kawai Labiba). Namun, hidup bersama mereka bak neraka bagi Yuli.

Yuli adalah korban dari keluarga disfungsional yang tidak berbentuk secara biologis, melainkan struktural. Dia bukan anggota keluarga inti dari keluarga Ambar sehingga sering kali terjebak dalam relasi kuasa. Hidupnya dicap dipenuhi utang budi yang tidak berujung karena dia dibesarkan di keluarga ini. Sehari-hari, Yuli bahkan dicap anak selingkuhan.

Peranannya sebagai “kerabat tak setara” membuatnya diperlakukan sebagai pembantu, bukan manusia utuh. Pola relasi tidak sehat seperti ini, dari dominasi, manipulasi emosional, sampai pengabaian peran, pada akhirnya pelan-pelan mengubah cara pandang Yuli soal identitas, harga diri, dan arah moral. 
 

Still photo film Kitab Sijjin & Illiyyin (Sumber gambar: Rapi Films)

Still photo film Kitab Sijjin & Illiyyin (Sumber gambar: Rapi Films)


Kitab Sijjin & Illiyyin kemudian menunjukkan dengan apik bagaimana kekerasan dalam keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk sistemik, seperti pengucilan, penghinaan, dan pengabaian terus-menerus.

Fenomena semacam ini tak asing dalam konteks Indonesia, ketika struktur keluarga besar sering kali mencampuradukkan solidaritas dengan penindasan terselubung. Mereka yang "menumpang hidup" kerap dipaksa membayar dengan kerja tanpa upah, loyalitas buta, dan penyangkalan atas diri mereka sendiri.

Oleh karena itu, ketika Yuli akhirnya memilih jalan santet sebagai jalan untuk membalas, keputusan itu tidak muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi penderitaan yang selama ini ditekan. Hal menariknya, benar dan salah di film ini tampak cukup kompleks.

Yuli dan Laras, sebenarnya adalah korban dari orang tua mereka. Namun, karena masalah yang tak kunjung selesai, polemik itu masih terbawa. Bagaikan bara dalam sekam, dendam keduanya akhirnya mengantarkan mereka pada kehidupan yang mengenaskan.

Hadrah Daeng Ratu menyuguhkan situasi ini bukan untuk menyudutkan satu hidung. Dia justru menghadirkan dilema moral, apakah seseorang masih bisa dianggap ‘salah’ jika seluruh hidupnya hanya diisi oleh luka? Baik Yuli dan Tika, keduanya penuh luka dan trauma.


Naskah yang Berfokus Pada Mengapa, bukan Siapa

Salah satu kekuatan utama dalam Kitab Sijjin & Illiyyin terletak pada naskahnya yang ditulis oleh Lele Laila. Dalam genre horor yang kerap mengandalkan kejutan dan twist sebagai perangkat utama, naskah ini justru mengambil jalur yang tak biasa.

Alih-alih menyembunyikan pelaku sampai akhir sebagai senjata pamungkas, film ini sudah mengungkap identitas pelaku santet di sepertiga awal film. Mulanya, ini cukup mengagetkan. Sebab, jika pelaku sudah diketahui sejak awal, untuk apa adegan-adegan selanjutnya di film ini ada?

Namun, di situlah menariknya. Film ini justru ingin mengajak penonton fokus pada bagian 'mengapa' dan 'bagaimana', alih-alih terjebak pada persoalan 'siapa' yang rawan dijadikan formula plotwist murahan.

Keputusan untuk mengungkap pelaku lebih awal bukan tanpa risiko. Ia bisa membunuh rasa penasaran, menurunkan tensi, dan membuat penonton kehilangan arah. Namun, Lele Laila secara cerdas membalikkan ekspektasi itu menjadi daya tarik utama. 
 

Still photo film Kitab Sijjin & Illiyyin (Sumber gambar: Rapi Films)

Still photo film Kitab Sijjin & Illiyyin (Sumber gambar: Rapi Films)


Setelah kebenaran diungkap, naskah ini bergeser ke lapisan yang lebih dalam, yakni psikologi para tokohnya dan luka-luka masa lalu yang tak pernah sembuh. Pergolakan batin inilah yang perlahan-lahan menjerumuskan tokohnya ke jurang kehancuran bukan hanya secara spiritual, tapi juga fisik.

Alur cerita dibangun dengan ritme yang terukur. Tidak terburu-buru, tetapi juga tidak berlarut-larut dalam melodrama. Tidak ada yang terasa dilebih-lebihkan dalam dialognya. Sebalinya, justru dari sana ketegangan muncul lewat hal-hal yang sederhana, dari tatapan, gestur, bisikan, dan keheningan yang menyimpan banyak kemarahan.

Yang paling menarik dari naskah ini adalah kemampuannya menciptakan simpati ganda. Penonton tahu siapa pelaku, tapi tidak bisa serta-merta mengutuknya. Sebaliknya, penonton justru diajak memahami luka dan latar belakang yang membentuknya. 

Pengkarakteran di film ini memang berjalan menarik. Setiap karakter dibekali layer kehidupan yang cukup dan dimunculkan secara perlahan. Namun, sorotan utama tentu akan mengarah pada Tika, anak dari Laras, yang menjadi representasi apik dari generasi yang tidak membawa warisan dendam.


Set Produksi yang Menawan

Salah satu elemen menarik dalam Kitab Sijjin & Illiyyin ialah artistiknya. Semua desain set dan properti dibuat dengan pendekatan yang realistis dan fungsional terhadap cerita.

Rumah tempat tinggal keluarga Ambar, misalnya, digarap dengan sangat cermat. Tata ruang dan desain interiornya menggambarkan suasana dingin, jauh dari kesan rumah yang hangat dan melindungi. Desain ruangan hingga kamar dari masing-masing anggota keluarga terasa membeku, seperti relasi mereka.

Set rumah dukun menjadi elemen artistik lain yang layak diapresiasi. Alih-alih tampil teatrikal atau berlebihan seperti yang sering muncul di film horor konvensional, rumah dukun dalam film ini ditampilkan secara realistis, membumi, dan justru karena itu terasa mengerikan. Bau dupa seolah bisa dirasakan, kelembaban ruangnya tampak nyata, dan benda-benda ritual juga autentik.
 

Still photo film Kitab Sijjin & Illiyyin (Sumber gambar: Rapi Films)

Still photo film Kitab Sijjin & Illiyyin (Sumber gambar: Rapi Films)


Namun, pencapaian paling mencolok dari tim artistik adalah dalam penanganan properti mayat. Riasan tubuh yang rusak, tekstur kulit yang mengelupas, hingga detail luka dan perubahan warna tubuh ditampilkan dengan tingkat realisme yang apik. 

Setiap perlakuan terhadap mayat di film ini terasa nyata dan bikin merinding. Adegan-adegan yang melibatkan mayat adalah momen-momen paling mengganggu penonton sepanjang film. Sebab, tampilannya tak terasa seperti sekadar prostetik murahan

Mayat dalam film ini juga bukan sekadar alat penggugah ketakutan, tetapi menjadi simbol dari penderitaan dan kekerasan yang membekas bahkan setelah kematian sekali pun.

Film produksi Rapi Films, Sky Media, Rhaya Flicks, Legacy Pictures dan Narasi Semesta ini sudah mulai bisa ditonton di bioskop mulai 17 Juli 2025.

Baca Juga: Kitab Sijjin & Illiyyin Resmi Go Internasional, Film Horor Indonesia Dilirik Korea Selatan

SEBELUMNYA

Camilan Sehat Rissois, Bermula dari Resep Keluarga Hingga Raup Omzet Rp80 Juta per Bulan

BERIKUTNYA

Ilustrator Emte Luncurkan Buku Life As I Know It, Eksplorasi Soal Perayaan Kesendirian

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: