Hypereport: Hal-hal yang Direvisi dalam Buku Sejarah Nasional Terbaru
14 July 2025 |
17:05 WIB
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan tengah menggarap proyek penulisan ulang sejarah Nasional. Proyek ini ditargetkan rampung dan akan secara resmi diluncurkan pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia.
Penulisan ulang sejarah nasional ini didasarkan pada anggapan bahwa dibutuhkan pemutakhiran sejarah, sebagaimana dikutip dari draft Kerangka Konsep Penulisan Sejarah Indonesia per 16 Januari 2025. Selama ini, telah terbit dua buku "sejarah resmi" yang disusun oleh pemerintah yakni Sejarah Nasional Indonesia sebanyak 6 jilid, dan Indonesia Dalam Arus Sejarah sebanyak 8 jilid.
Baca juga: Fadli Zon Janji Penulisan Sejarah Nasional Lebih Terbuka & Berbasis Temuan Baru
Baca juga: Fadli Zon Janji Penulisan Sejarah Nasional Lebih Terbuka & Berbasis Temuan Baru
Seri buku Sejarah Nasional Indonesia terbit pertama kali tahun 1977 dan terakhir 1984, sementara seri buku Indonesia Dalam Arus Sejarah diterbitkan pada 2012 meski proses penggarapannya dimulai tahun 2002.
Setelah dua dekade lebih, telah banyak karya tulis sejarah seperti disertasi dan tesis dari sejarawan Indonesia, yang memuat temuan baru berupa fakta, interpretasi dan perspektif yang memperkaya sejarah Indonesia.
Atas dasar itulah, maka dianggap perlu dan segera untuk menulis kembali perjalanan sejarah Indonesia dalam suatu buku resmi (official history), yang didanai oleh Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI).
"Tujuan penulisan ini untuk menghasilkan buku yang merupakan sejarah resmi [official history] dengan orientasi dan kepentingan nasional, untuk meningkatkan rasa kebangsaan [nasionalisme] dan cinta Tanah Air tanpa bersifat nasionalistik," demikian tulis dokumen kerangka tersebut.
Buku Sejarah Indonesia yang disusun akan terdiri dari 11 jilid yang disusun oleh 113 penulis. Mereka terdiri dari sejarawan, akademisi sejarah, arkeolog, ahli arsitektur dan geografi hingga ilmuwan humaniora lainnya dari 34 perguruan tinggi dan 8 institusi. Adapun, dilibatkan juga sebanyak 20 editor jilid dan 3 editor umum untuk menyusun buku tersebut.
Lantas, apa saja perubahan atau revisi yang akan tersaji dalam buku Sejarah Nasional terbaru? Berikut adalah informasinya.
1. Hadir Sebanyak 11 Jilid
Berbeda dengan dua buku seri sejarah pendahulunya, Sejarah Nasional Indonesia sebanyak 6 jilid dan Indonesia Dalam Arus Sejarah sebanyak 8 jilid, buku sejarah Nasional terbaru akan hadir dalam 11 jilid mencakup:
- Sejarah Awal Nusantara
- Nusantara dalam Jaringan Global: India dan China
- Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah
- Interaksi dengan Barat: Kompetisi dan Aliansi
- Respons Terhadap Penjajahan
- Pergerakan Kebangsaan
- Perang Kemerdekaan Indonesia
- Masa Bergejolak dan Ancaman Integrasi
- Orde Baru (1967-1998)
- Era Reformasi (1999-2024)
- Faktaneka dan Indeks
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menjelaskan terdapat beberapa pembaruan dalam tiap jilid yang akan disajikan di buku sejarah Nasional, berdasarkan temuan-temuan dari para akademisi. Misalnya di jilid Nusantara dalam Jaringan Global: Timur Tengah, akan dimasukkan beberapa temuan baru terkait masuknya Islam ke Indonesia dengan ditemukannya Situs Bongal beberapa tahun lalu di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
"Ternyata Islam masuk lebih awal. Di catatan sejarah kita [saat ini], Islam masuk pada abad ke-13, tetapi dengan adanya temuan-temuan di Situs Bongal, ternyata Islam masuk lebih awal pada abad ke-7 masehi atau awal abad Hijriah," katanya dalam rapat dengan Komisi X DPR RI, belum lama ini.
Perubahan lainnya juga terdapat pada jilid Perang Kemerdekaan Indonesia. Fadli mengatakan dalam buku sejarah versi perspektif Belanda, era tahun 1945-1950 disebut sebagai revolusi. Tapi, dalam perspektif Indonesia adalah perang mempertahankan kemerdekaan.
2. Istilah Prasejarah Berubah Menjadi Sejarah Awal
Fadli juga menjelaskan bahwa pihaknya akan mengubah istilah 'prasejarah' yang selama ini tertulis dalam buku-buku sejarah nasional. Menurutnya, prasejarah merupakan istilah yang selama ini sudah baku dalam bidang arkeologi, yang seiring waktu memunculkan perdebatan antara penggunaan istilah prasejarah atau sejarah awal (early history).
Dia menuturkan penggunaan istilah prasejarah dalam buku-buku sejarah menciptakan anggapan bahwa sejarah Indonesia dimulai sejak abad ke-4 ketika adanya tradisi tulis-menulis dalam bentuk prasasti. Terlebih, katanya, prasejarah merupakan istilah yang dibuat oleh para pemikir Belanda.
"Kita ingin mengembalikan istilah kepada early history [sejarah awal]. Sejarah awal itu dimulai dari 1,8 juta tahun yang lalu, yaitu dari penemuan Pitecantropus Erectus, Homo Erectus, yang ternyata jumlahnya dalam temuan terakhir setelah dikompilasi mencapai 50 persen-60 persen, jumlah Homo Erectus yang ada di dunia itu ditemukan itu di Nusantara. Sehingga bisa dikatakan Indonesia adalah salah satu peradaban tertua di dunia," paparnya.
3. Tekankan Perspektif Indonesia-Sentris
Hal lain yang menjadi unsur pembaru dalam buku sejarah Nasional yang tengah disusun ialah ditulis dengan menekankan perspektif Indonesia-Sentris. Fadli menjelaskan hal ini menjadi penting lantaran selama ini seri buku sejarah yang pernah diterbitkan pada masa Hindia Belanda, yakni Geschiedenis Van Nederlandsch Indie karya F.W. Stapel, kerap dijadikan rujukan.
Padahal, menurutnya, buku yang terbit pada 1939-1940 sebanyak 5 jilid itu disusun oleh pemerintah kolonial, sehingga dinilai telah melahirkan historiografi kolonial, yang membuat pilihan fakta sejarah dan perspektif yang digunakan sesuai dengan kepentingan kolonialisme. Demikian juga penokohannya, lebih menonjolkan tokoh-tokoh kolonial, sementara tokoh-tokoh pribumi hanya sebagai pemeran pelengkap.
Fadli memberikan contoh, dalam buku tersebut tidak menceritakan Belanda menjajah Indonesia, tetapi tentang berdirinya United East Hindia Company, perusahaan Hindia Belanda Timur, lalu kemudian Republik Baataf, penjelasan aspek sejarah Hindia Belanda, termasuk periode kolonial dan perkembangan politik masa itu. Tidak ada cerita bahwa Belanda menjajah Indonesia.
Selain itu, buku sejarah Nasional yang baru juga hendak melanjutkan perspektif Indonesia-Sentris yang telah dibangun oleh seri buku Sejarah Nasional Indonesia, seiring upaya dekolonisasi historiografi. Hal itu membuat terciptanya historiografi nasionalistis yang membalikkan dari perspektif kolonial ke perspektif nasional.
"Itu adalah buku lima jilid yang ditulis oleh pihak Belanda, yang dipakai sampai tahun 1950-an. Tentu versi kolonialis, perspektifnya kolonialis. Nah, yang ingin kita buat dan perbarui adalah Indonesia-Sentris, jadi perspektif Indonesia. Yang ingin kita buat ini adalah sejarah versi Indonesia," ucapnya.
4. Ditulis dengan "Nada" Positif
Selain disusun dengan perspektif Indonesia-Sentris, buku sejarah Nasional juga ditulis dengan tone atau nada yang lebih netral dan positif. Terutama, narasi sejarah terkait jasa para tokoh pemimpin bangsa yang diharapkan bisa lebih netral dan positif, mulai dari era kepimpinan Presiden ke-1 RI Sukarno hingga Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
"Ini [sejarah nasional] akan berhenti hingga pelantikan Presiden Prabowo, dan tone yang akan kita harapkan lebih netral dan positif. Setiap pemimpin bangsa itu pasti ada kebaikan dan kekurangan, tetapi yang kita harapkan tone-nya itu lebih netral dan positif," ujar Fadli.
5. Tidak Detail & Dari Nol
Fadli menegaskan penulisan ulang sejarah nasional tidak dilakukan dari nol atau tanpa acuan buku sejarah sebelumnya. Buku yang sedang disusun akan menjadikan literatur sejarah sebelumnya seperti seri buku Indonesia dalam Arus Sejarah sebanyak 8 jilid, serta Sejarah Nasional Indonesia sebanyak 6 jilid, sebagai salah satu acuan utamanya. Adapun, buku seri sejarah Geschiedenis Van Nederlandsch Indie karya F.W. Stapel tidak dijadikan acuan.
Adapun, sejarah yang akan ditulis lebih bersifat garis besar (highlight), alih-alih disajikan secara detail. Buku sejarah Nasional mendatang akan menghadirkan narasi sejarah secara garis besar (highlight) dari berbagai aspek kehidupan mulai dari aspek politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya.
"Sejarah yang ditulis ini adalah sejarah yang sifatnya highlight, garis besar. Tidak menulis secara terlalu detail. Jadi kita tentu saja tidak bisa menuliskan sejarah itu secara keseluruhan detail. Jadi sepuluh jilid itu hanyalah highlight. Karena kalau terlalu detail mungkin kita memerlukan lebih dari 100 jilid," ucap Fadli.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.